Duren Manis

Duren Manis
Ketahuan kan


__ADS_3

Arnold mengkerutkan keningnya membaca chat dari Jodi.


Arnold : "Kucing liar?"


Rara : "Apa, mas? Kucing? Di club malam ada kucing?"


Arnold : "Maksudnya ada perempuan gak bener gitu. Dibawa sama Pak Brian, trus mabuk dan Jodi disuruh ngurusin."


Rara : "Oh gitu. Pak Brian kok gitu sich?"


Arnold : "Kita gak tau, Ra. Biarin aja. Kabar baiknya Pak Brian minta perpanjangan kontrak kerja sama kita."


Rara : "Syukurlah, mas."


Arnold : "Loh, kok kamu bangun?"


Rara : "Aku laper, mas. Dedek bayi mau makan lagi."


Arnold : "Waduh, makan apa malem gini."


Rara : "Kita ke dapur yuk, mas."


Keduanya bangun dari atas ranjang dan berjalan keluar kamar. Sampai di ruang makan, lampu dapur masih menyala.


Rio tampak berdiri di depan kulkas, mengambil sesuatu dari dalam sana.


Rara : "Rio ngapain?"


Rio : "Loh, mb kok bangun? Aku laper maunya ngangetin rendang tadi."


Rara : "Hehe, mb juga laper. Sekalian dong."


Rio : "Ok."


Rara membantu Rio mengambil teflon untuk menghangatkan rendang. Sementara Arnold masih chat sama Jodi.


Rio : "Mb mau pake nasi?"


Rara : "Iya tapi dikit aja. Kamu makan malem gini gak takut gendut?"


Rio : "Daripada gak bisa tidur, mb. Mending diisi dikit."


Rara : "Oh ya. Kaori mana?"


Rio : "Uda tidur kali."


Rara : "Loh, kok gak yakin gitu?"


Rio : "Aku mana tau, mb. Kan tidurnya sama Riri. Ya kali tidur sama aku. Bisa heboh papa sama nenek."


Rara : "Ya kirain. Hehe... Kebayang kumis papa numbuh dua centi kalau kejadian gitu."


Rio : "Alamat kena sunat lagi dah, mb. Atau mungkin malah di nikahin ya."


Rara : "Lulus dulu, kerja yang bener. Baru mikirin nikah. Emangnya gampang nikah muda."


Rio : "Iya sich, mb. Rio masih mau nyicil mobil dulu."


Rara : "Yang penting kamu punya tanggung jawab. Nunjukin kalau kamu serius sama Kaori dan siap tanggung jawab sama dia."


Rio : "Ya, ini Rio juga mulai nabung sambil belajar kerja."


Rara : "Emang kamu kerja apa? Bisa gitu sambil kuliah."


Rio : "Jadi driver ojol, mb. Lumayan seratus ribu per hari."


Rara : "Wih, pasti capek tuch."


Rio : "Uda biasa, mb. Ayo, makan."

__ADS_1


Bau rendang menguar di dapur, menggoda hidung Mia yang sudah tertidur. Pelan-pelan ia bangun dari tidurnya.


Berjalan pelan-pelan keluar dari kamar agar tidak membangunkan Alex. Tubuh bulat Mia muncul dari ruang keluarga dan hampir mengagetkan Rio.


Rio : "Mama... Kenapa bangun?"


Rara : "Iya, mama gak tidur?"


Mia : "Kalian makan lagi? Baunya enak banget."


Rio : "Laper, mah. Mama mau?"


Mia : "Mama kan gak boleh makan berat kalo malam gini. Mau bikin susu aja ach."


Arnold : "Biar Arnold yang buat, mah. Sama kayak Rara kan?"


Mia : "Sama kayak Rara? Sejak kapan Rara minum susu? Bukannya kamu gak suka susu, Ra?"


Rara menatap Arnold yang keceplosan. Mau gak mau mereka harus berterus terang sekarang.


Rara : "Itu, mah. Rara hamil."


Mia : "Apa?" Rara berbisik sampai Mia harus mendekat untuk mendengarnya bicara.


Rara : "Rara hamil."


Mia : "Beneran? Kok gak bilang? Uda berapa minggu?"


Rara : "Baru sepuluh minggu, mah."


Rio : "Yei... Nambah bayi lagi. Selamat mb, kak Arnold."


Mia : "Kok baru cerita?"


Rara : "Rara gak mau mama kepikiran sama kehamilan Rara."


Mia : "Emang kenapa?"


Mia : "Ya ampun, sayang. Kalau Rara gitu kan kita bisa saling jaga. Mama juga harus bed rest kan."


Rara : "Maaf, mah."


Kedua ibu hamil itu berpelukan sampai menangis karena terharu. Arnold dan Rio sampai kebingungan karenanya.


Alex : "Loh, loh ini pada kenapa nangis? Arnold? Rio?"


Arnold : "Arnold gak ngerti, pah. Arnold mau buat susu dulu."


Rio : "Jangan tanya, Rio. Itu mungkin karena hormon kehamilan, pah."


Alex : "Iya, trus Rara kenapa ikutan nangis?"


Rio : "Ya karena lagi hamil juga."


Alex : "Apa!! Sejak kapan? Kenapa gak cerita?"


Kedua wanita hamil di depannya hanya menoleh sekilas dan lanjut menangis sambil berpelukan.


Alex menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal. Alamat numbuh uban lagi deh ini.


๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ


Keesokan harinya, Alex, Mia, Rio, Rara, dan Arnold bangun kesiangan. Rara sampai dituntun Arnold keluar kamar karena hampir jatuh kesandung.


Mereka berlima sarapan sambil memejamkan mata membuat nenek, Riri dan Kaori kebingungan. Apa yang terjadi sebenarnya.


Nenek : "Kalian kenapa? Kurang tidur?"


Mia hanya mengangguk sambil mengunyah roti bakarnya. Nenek melihat mata bengkak Rara dan Mia seperti habis menangis semalaman.

__ADS_1


Nenek : "Ya sudah, tidur lagi abis sarapan."


Rara, Arnold, Mia dan Alex berjalan seperti zombie balik ke kamar mereka. Sementara Rio malah sudah tertidur di kursi meja makan.


Kaori : "Rio? Rio? Bangun, kok malah tidur disini."


Rio : "Hmm..."


Kaori menarik Rio bangun dari tidurnya. Ia sedikit terhuyun saat harus menahan tubuh Rio yang lebih besar darinya.


Kaori : "Rio, pindah tidur. Ayo."


Perlahan Kaori membantu Rio berjalan ke ruang keluarga dan mereka terjatuh diatas bantal besar. Kaori ingin menggeser tubuh Rio yang setengah menindih tubuhnya tapi ia tidak kuat.


Rio sudah tertidur pulas memeluk Kaori seolah memeluk bantal guling. Riri yang melihat itu hanya tersenyum.


Ia ada janji dengan Elo pagi ini, mereka akan berjalan-jalan ke musium kota dan mungkin mampir sebentar ke rumah kakek Elo lagi.


Ting! Tong! Riri menoleh melihat ke arah pintu. Ia berjalan kesana sambil melirik Kaori yang masih mencoba mendorong Rio,


Kaori : "Ri, tolong dong."


Riri : "Maaf, ya. Aku harus pergi. Mungkin kamu coba gelitikin dia."


Kaori : "Dimananya?"


Riri : "Paha sama perutnya."


Kaori mau bicara lagi kalau itu bukan sesuatu yang tepat, tapi Riri keburu pergi membukakan pintu. Wajah tampan Elo muncul di depan pintu.


Elo : "Hai, Ri. Sudah siap?"


Riri : "Udah, kak. Ayo."


Elo : "Papa sama mamamu mana?"


Riri : "Mereka tidur lagi. Sepertinya semalam begadang. Kita pergi aja, kak. Aku uda ijin tadi."


Elo : "Ayo kalo gitu."


Elo menuntun Riri ke mobilnya yang parkir di depan rumah Alex. Mobil Elo lebih murah dari mobil Alex karena ia membelinya sendiri.


Elo hampir mirip dengan Riri, tidak terlalu tertarik pada kemewahan yang mereka miliki sejak lahir. Makanya sejak mulai bisa mengumpulkan uang, Elo berhenti memakai fasilitas dari mama dan papanya.


Riri sudah duduk manis di kursi penumpang. Ia mencoba menarik sabuk pengaman yang sedikit macet.


Elo : "Biar aku bantu. Agak macet."


Elo mengulurkan tangan kanannya mengambil ujung sabuk pengaman dan menariknya perlahan melewati tubuh Riri


Riri menatap mata Elo sambil tersenyum malu. Elo tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Riri.


Riri : "Kak, ayo jalan."


Elo : "Eh, iya. Ayo."


Elo mengendarai mobilnya menuju musium kota. Mereka sampai 30 menit kemudian.


Di musium kota hari itu diadakan acara pelelangan buku-buku langka untuk amal. Elo diundang ke acara itu dan ia mengajak Riri ikut kesana.


Elo memarkir mobilnya di tempat yang sudah disediakan. Ia membantu Riri turun dan mereka berjalan beriringan menuju tempat acara.


๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain โ€˜Menantu untuk Ibuโ€™, โ€˜Perempuan IDOLโ€™, โ€˜Jebakan Cintaโ€™ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


๐ŸŒฒ๐ŸŒฒ๐ŸŒฒ๐ŸŒฒ๐ŸŒฒ


__ADS_2