
DM2 – Iklas melepas
“Aarrggghhh!! Hiks... Hiks...”Kucuran air
shower meredam teriakan Gadis. Ia ingin menghabiskan air matanya saat itu juga
agar tidak lagi menangis setelah Rio datang nanti.
Gadis mematikan kran shower, ia
mengeringkan tubuh dan membalut rambutnya dengan handuk kecil. Ketika ia keluar
dari kamar mandi, Gadis berpapasan dengan Rio. Ia menatap Rio dengan mata
sembab habis menangis, tapi senyuman manis yang tulus sudah keluar dari
bibirnya.
“Kamu udah pulang. Mau mandi? Aku siapin
air hangatnya dulu ya.”kata Gadis hampir berbalik masuk lagi ke kamar mandi
tapi Rio menahannya.
“Biar aku sendiri aja.”kata Rio.
Gadis mengangguk, “Kalo gitu aku pake baju
dulu ya. Udah mulai dingin.”saut Gadis.
Rio menatap Gadis yang berjalan perlahan
masuk ke kamar mereka. Ia tidak berniat menggodanya seperti biasa. Gadis memilih
daster dari bahas kaos yang nyaman untuk ia pakai saat itu. Rio masuk ke kamar
mereka ketika Gadis sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Masih memakai handuk melilit di
pinggangnya, Rio mendekati Gadis. Memeluk pinggang wanita yang sangat
dicintainya itu dari belakang.
“Kenapa sayang?”bisik Gadis mesra.
Perasaannya sudah bisa menerima kepergian bayi Kaori sekarang. Kesedihannya
sudah pergi melalui aliran air di kamar mandi tadi.
“Kamu habis nangis?”tanya Rio.
Gadis mengangguk, “Tapi udah gak pa-pa.
Pake baju sana. Kita turun, bentar lagi makan malam.”
Tangan Rio menyusup masuk ke bawah daster
Gadis, “Nakal.”bisik Gadis.
“Aku pengen. Sebentar aja yuk.”pinta Rio.
“Nanti kan bisa abis makan.”
“Maunya sekarang, kamu seksi banget.”bisik
Rio sambil menggigit daun telinga Gadis.
Gadis tersenyum manis, mendengar rayuan
Rio. Ia lantas terbuai dalam kenikmatan permainan yang diberikan Rio saat itu.
Walau hanya sebentar saja, cukup membuat Gadis melayang juga. Gadis berpegangan
pada meja riasnya, ia mengatur nafasnya yang tidak beraturan. Rio kembali
menciumi lehernya setelah permainan mereka berakhir.
“Kamu mau lagi?”tanya Gadis.
“Iya, tapi besok aja. Kasian bayi kita.”kata
Rio menjauhkan dirinya sedikit dari Gadis.
Mereka segera membersihkan diri lagi lalu
segera turun ke lantai bawah. Semua anggota keluarga sudah berkumpul di meja
makan. Kecuali mb Minah dan mb Roh yang biasanya sudah makan lebih dulu di
belakang.
Gadis duduk di kursi biasanya, ia
mengambilkan nasi dan lauk untuk Rio. Mia yang melihat Gadis, tersenyum
padanya.
“Gadis, rujaknya tadi sudah kamu makan?”tanya
Mia.
__ADS_1
“Sudah mah. Enak banget.”saut Gadis
mengacungkan jempolnya.
“Apanya yang enak, kak. Masa makan rujak
dicampur es krim.”kata Reva.
“Namanya juga ngidam, nak.”saut Mia.
“Ngidam tuch apa, mah?”tanya Rava.
Mia terpaksa menjelaskan apa itu ngidam
pada si kembar yang terlalu kepo. Mereka makan malam bersama seolah tidak
terjadi apa-apa. Gadis ingin bertanya keberadaan Kaori, tapi ia tidak mau
merusak makan malam yang menyenangkan itu. Rio sibuk menjawab pertanyaan Reva
dan Rava. Gadis terkagum meskipun pernah depresi, cara berpikir Rio masih tetap
kritis seperti dulu. Ia bisa menjawab pertanyaan adik kembarnya dengan cara
yang cerdas.
Usai makan malam, si kembar pindah ke ruang
keluarga bersama Alex dan Mia. Gadis masih duduk di meja makan, ia sedang
mengupas buah jeruk yang sangat asam karena masih muda. Rio duduk disampingnya
berusaha menahan liurnya tidak menetes mencium bau jeruk asam.
“Yank, kamu gak mau nanya sesuatu sama aku?”tanya
Rio.
“Nanya apa? Hmm...”tanya Gadis balik sambil
memasukkan sepotong jeruk asam ke mulutnya.
Rio merasa giginya ngilu melihat Gadis
menyesap jeruk dengan nikmat. “Aku pergi kemana tadi, gitu.”
“Emang kamu kemana tadi?”tanya Gadis
berusaha tidak terlihat kepo.
“Aku ketemu Kinanti sama Endy.”jawab Rio.
Gadis sudah tahu apa yang akan dikatakan Rio
asam di tangannya. Sesekali Gadis mencolekkan jeruk itu pada garam berisi cabe
yang sudah ia siapkan tadi. Rio menunggu reaksi Gadis tapi tidak ada reaksi
apa-apa lagi.
“Gadis, kamu gak mau tahu aku ngomong apa
sama Kinanti?”tanya Rio lagi.
“Kamu ngomong apa sama dia?”tanya Gadis
lagi.
“Aku bilang kalau dia gak boleh ambil Kaori
dari kamu apapun yang terjadi.”kata Rio.
“Oh...”saut Gadis belum ngeh.
Satu detik,
Dua detik,
Tiga detik,
Gadis merasa ada yang aneh dengan kata-kata
Rio, ketika ia menyadarinya, Gadis berpaling dengan cepat menatap Rio. “Apa
kamu bilang tadi?!”kata Gadis menarik kerah baju Rio dengan cepat.
“Woo... sabar dulu, sayang. Kamu denger kan
aku bilang apa.”kata Rio.
“Iya, tapi... Ini bukan prank kan?”tanya
Gadis mulai cemberut.
“Bukan, sayang. Tuch, dia lagi tidur di
kamar sama mb Roh.”
Tiba-tiba Gadis berdiri, membuat kursi yang
barusan ia duduki terjungkal ke belakang. “Gadis, pelan-pelan!”teriak Rio takut
__ADS_1
Gadis jatuh.
Gadis berjalan cepat ke kamar yang dimaksud
Rio. Ia membuka pintunya dengan terburu-buru sampai mb Roh kaget dibuatnya.
Senyum lebar Gadis menghiasi wajahnya ketika melihat bayi Kaori ada di atas
ranjang. Gadis masuk kesana, ia mendekati Kaori yang sudah tertidur pulas. Digenggamnya tangan bayi itu lalu diciumnya
dengan sayang.
“Putri mama yang cantik. Kaori sayang.”kata
Gadis tidak bisa menahan kegembiraannya. “Anak mama.”
Gadis menangis terharu, ia ingin
menggendong Kaori tapi takut membangunkannya. Akhirnya Gadis berbaring di
samping Kaori, tidak melepaskan tangan bayi itu. Sesekali ia mengusap punggung
dan pipi Kaori. Rio masuk ke kamar itu, mb Roh keluar meninggalkan mereka
bertiga.
“Makasih, Rio. Aku sangat mencintaimu.”kata
Gadis senang.
“Aku juga mencintaimu, Gadis. Aku sudah
bilang kan, akan selalu membuatmu bahagia.”kata Rio.
Gadis mengangguk, “Aku udah iklas waktu Rey
kembali ke kak Rara. Aku juga iklas waktu Kaori mau kamu kembalikan ke Kinanti.
Aku pernah janji gak akan egois lagi, Rio. Tapi kamu... gak pa-pa?”tanya Gadis
hati-hati.
“Tujuanku yang sebenarnya tadi memang mau
mengembalikan Kaori ke Kinanti. Biar bagaimanapun, Kaori itu anak kandung
mereka. Tapi di tengah jalan, mama lihat penjual jeruk asem yang tadi. Waktu
mama turun, Kaori aku yang gendong. Kaori yang minta aku pulangin dia ke kamu.”kata
Rio.
“Gimana dia bisa minta gitu? Kaori kan
masih bayi.”kata Gadis bingung.
“Ada dech.”saut Rio.
“Bilang aja kamu terpesona sama kelucuan
dan keimutan bayi Kaori. Ya, kan sayangnya mama. Kaori anak yang cantik.”bisik
Gadis lembut.
Rio tersenyum melihat Gadis tersenyum
bahagia. Ia ikut berbaring di samping bayi Kaori. “Bentar lagi bakalan makin
rame ya.”kata Rio.
“Iya. Kalo gak salah umur Kaori satu tahun
tiga bulan, si kembar lahir.”saut Gadis.
“Sayang, makasih.”kata Rio menatap Gadis.
“Untuk apa?”tanya Gadis.
“Kamu mau terima keadaanku seperti ini. Selama
aku sakit, kamu gak ninggalin aku. Masih mau ngurus aku. Mama udah cerita
semuanya, pengorbanan seperti apa yang sudah kamu lakukan untuk aku. Maafkan
aku ya.”
“Kali ini buat apa minta maaf?”tanya Gadis
lagi.
“Maaf karena membiarkan kamu sendirian
menderita selama setahun belakangan ini. Membiarkan Kinanti menindasmu. Maaf
karena aku gak cukup kuat untuk menjagamu.”
“Ya, kamu cuma kuat di ranjang aja.”saut
Gadis mesem.
*****
__ADS_1
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.