Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Iklas melepas


__ADS_3

DM2 – Iklas melepas


“Aarrggghhh!! Hiks... Hiks...”Kucuran air


shower meredam teriakan Gadis. Ia ingin menghabiskan air matanya saat itu juga


agar tidak lagi menangis setelah Rio datang nanti.


Gadis mematikan kran shower, ia


mengeringkan tubuh dan membalut rambutnya dengan handuk kecil. Ketika ia keluar


dari kamar mandi, Gadis berpapasan dengan Rio. Ia menatap Rio dengan mata


sembab habis menangis, tapi senyuman manis yang tulus sudah keluar dari


bibirnya.


“Kamu udah pulang. Mau mandi? Aku siapin


air hangatnya dulu ya.”kata Gadis hampir berbalik masuk lagi ke kamar mandi


tapi Rio menahannya.


“Biar aku sendiri aja.”kata Rio.


Gadis mengangguk, “Kalo gitu aku pake baju


dulu ya. Udah mulai dingin.”saut Gadis.


Rio menatap Gadis yang berjalan perlahan


masuk ke kamar mereka. Ia tidak berniat menggodanya seperti biasa. Gadis memilih


daster dari bahas kaos yang nyaman untuk ia pakai saat itu. Rio masuk ke kamar


mereka ketika Gadis sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk.


Masih memakai handuk melilit di


pinggangnya, Rio mendekati Gadis. Memeluk pinggang wanita yang sangat


dicintainya itu dari belakang.


“Kenapa sayang?”bisik Gadis mesra.


Perasaannya sudah bisa menerima kepergian bayi Kaori sekarang. Kesedihannya


sudah pergi melalui aliran air di kamar mandi tadi.


“Kamu habis nangis?”tanya Rio.


Gadis mengangguk, “Tapi udah gak pa-pa.


Pake baju sana. Kita turun, bentar lagi makan malam.”


Tangan Rio menyusup masuk ke bawah daster


Gadis, “Nakal.”bisik Gadis.


“Aku pengen. Sebentar aja yuk.”pinta Rio.


“Nanti kan bisa abis makan.”


“Maunya sekarang, kamu seksi banget.”bisik


Rio sambil menggigit daun telinga Gadis.


Gadis tersenyum manis, mendengar rayuan


Rio. Ia lantas terbuai dalam kenikmatan permainan yang diberikan Rio saat itu.


Walau hanya sebentar saja, cukup membuat Gadis melayang juga. Gadis berpegangan


pada meja riasnya, ia mengatur nafasnya yang tidak beraturan. Rio kembali


menciumi lehernya setelah permainan mereka berakhir.


“Kamu mau lagi?”tanya Gadis.


“Iya, tapi besok aja. Kasian bayi kita.”kata


Rio menjauhkan dirinya sedikit dari Gadis.


Mereka segera membersihkan diri lagi lalu


segera turun ke lantai bawah. Semua anggota keluarga sudah berkumpul di meja


makan. Kecuali mb Minah dan mb Roh yang biasanya sudah makan lebih dulu di


belakang.


Gadis duduk di kursi biasanya, ia


mengambilkan nasi dan lauk untuk Rio. Mia yang melihat Gadis, tersenyum


padanya.


“Gadis, rujaknya tadi sudah kamu makan?”tanya


Mia.

__ADS_1


“Sudah mah. Enak banget.”saut Gadis


mengacungkan jempolnya.


“Apanya yang enak, kak. Masa makan rujak


dicampur es krim.”kata Reva.


“Namanya juga ngidam, nak.”saut Mia.


“Ngidam tuch apa, mah?”tanya Rava.


Mia terpaksa menjelaskan apa itu ngidam


pada si kembar yang terlalu kepo. Mereka makan malam bersama seolah tidak


terjadi apa-apa. Gadis ingin bertanya keberadaan Kaori, tapi ia tidak mau


merusak makan malam yang menyenangkan itu. Rio sibuk menjawab pertanyaan Reva


dan Rava. Gadis terkagum meskipun pernah depresi, cara berpikir Rio masih tetap


kritis seperti dulu. Ia bisa menjawab pertanyaan adik kembarnya dengan cara


yang cerdas.


Usai makan malam, si kembar pindah ke ruang


keluarga bersama Alex dan Mia. Gadis masih duduk di meja makan, ia sedang


mengupas buah jeruk yang sangat asam karena masih muda. Rio duduk disampingnya


berusaha menahan liurnya tidak menetes mencium bau jeruk asam.


“Yank, kamu gak mau nanya sesuatu sama aku?”tanya


Rio.


“Nanya apa? Hmm...”tanya Gadis balik sambil


memasukkan sepotong jeruk asam ke mulutnya.


Rio merasa giginya ngilu melihat Gadis


menyesap jeruk dengan nikmat. “Aku pergi kemana tadi, gitu.”


“Emang kamu kemana tadi?”tanya Gadis


berusaha tidak terlihat kepo.


“Aku ketemu Kinanti sama Endy.”jawab Rio.


Gadis sudah tahu apa yang akan dikatakan Rio


asam di tangannya. Sesekali Gadis mencolekkan jeruk itu pada garam berisi cabe


yang sudah ia siapkan tadi. Rio menunggu reaksi Gadis tapi tidak ada reaksi


apa-apa lagi.


“Gadis, kamu gak mau tahu aku ngomong apa


sama Kinanti?”tanya Rio lagi.


“Kamu ngomong apa sama dia?”tanya Gadis


lagi.


“Aku bilang kalau dia gak boleh ambil Kaori


dari kamu apapun yang terjadi.”kata Rio.


“Oh...”saut Gadis belum ngeh.


Satu detik,


Dua detik,


Tiga detik,


Gadis merasa ada yang aneh dengan kata-kata


Rio, ketika ia menyadarinya, Gadis berpaling dengan cepat menatap Rio. “Apa


kamu bilang tadi?!”kata Gadis menarik kerah baju Rio dengan cepat.


“Woo... sabar dulu, sayang. Kamu denger kan


aku bilang apa.”kata Rio.


“Iya, tapi... Ini bukan prank kan?”tanya


Gadis mulai cemberut.


“Bukan, sayang. Tuch, dia lagi tidur di


kamar sama mb Roh.”


Tiba-tiba Gadis berdiri, membuat kursi yang


barusan ia duduki terjungkal ke belakang. “Gadis, pelan-pelan!”teriak Rio takut

__ADS_1


Gadis jatuh.


Gadis berjalan cepat ke kamar yang dimaksud


Rio. Ia membuka pintunya dengan terburu-buru sampai mb Roh kaget dibuatnya.


Senyum lebar Gadis menghiasi wajahnya ketika melihat bayi Kaori ada di atas


ranjang. Gadis masuk kesana, ia mendekati Kaori yang sudah tertidur pulas.  Digenggamnya tangan bayi itu lalu diciumnya


dengan sayang.


“Putri mama yang cantik. Kaori sayang.”kata


Gadis tidak bisa menahan kegembiraannya. “Anak mama.”


Gadis menangis terharu, ia ingin


menggendong Kaori tapi takut membangunkannya. Akhirnya Gadis berbaring di


samping Kaori, tidak melepaskan tangan bayi itu. Sesekali ia mengusap punggung


dan pipi Kaori. Rio masuk ke kamar itu, mb Roh keluar meninggalkan mereka


bertiga.


“Makasih, Rio. Aku sangat mencintaimu.”kata


Gadis senang.


“Aku juga mencintaimu, Gadis. Aku sudah


bilang kan, akan selalu membuatmu bahagia.”kata Rio.


Gadis mengangguk, “Aku udah iklas waktu Rey


kembali ke kak Rara. Aku juga iklas waktu Kaori mau kamu kembalikan ke Kinanti.


Aku pernah janji gak akan egois lagi, Rio. Tapi kamu... gak pa-pa?”tanya Gadis


hati-hati.


“Tujuanku yang sebenarnya tadi memang mau


mengembalikan Kaori ke Kinanti. Biar bagaimanapun, Kaori itu anak kandung


mereka. Tapi di tengah jalan, mama lihat penjual jeruk asem yang tadi. Waktu


mama turun, Kaori aku yang gendong. Kaori yang minta aku pulangin dia ke kamu.”kata


Rio.


“Gimana dia bisa minta gitu? Kaori kan


masih bayi.”kata Gadis bingung.


“Ada dech.”saut Rio.


“Bilang aja kamu terpesona sama kelucuan


dan keimutan bayi Kaori. Ya, kan sayangnya mama. Kaori anak yang cantik.”bisik


Gadis lembut.


Rio tersenyum melihat Gadis tersenyum


bahagia. Ia ikut berbaring di samping bayi Kaori. “Bentar lagi bakalan makin


rame ya.”kata Rio.


“Iya. Kalo gak salah umur Kaori satu tahun


tiga bulan, si kembar lahir.”saut Gadis.


“Sayang, makasih.”kata Rio menatap Gadis.


“Untuk apa?”tanya Gadis.


“Kamu mau terima keadaanku seperti ini. Selama


aku sakit, kamu gak ninggalin aku. Masih mau ngurus aku. Mama udah cerita


semuanya, pengorbanan seperti apa yang sudah kamu lakukan untuk aku. Maafkan


aku ya.”


“Kali ini buat apa minta maaf?”tanya Gadis


lagi.


“Maaf karena membiarkan kamu sendirian


menderita selama setahun belakangan ini. Membiarkan Kinanti menindasmu. Maaf


karena aku gak cukup kuat untuk menjagamu.”


“Ya, kamu cuma kuat di ranjang aja.”saut


Gadis mesem.


*****

__ADS_1


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2