
Extra part 34
Sejam lebih Keira belum keluar kamar juga, Bilar
hampir ketiduran di sofa, menunggu Keira. Ketika pintu kamar Keira terbuka, mata
Bilar langsung terbelalak melihat penampilan hot Keira. Tank top hitam dan rok
mini putih menutup bagian tubuh Keira. Sebuah tas kecil tergantung di
pundaknya. Bagian yang menarik perhatian Bilar adalah kaki jenjang Keira yang
terbalut heels. Seksi dan sangat memikat.
“Kamu mau pake baju kurang bahan gitu?” tanya Bilar
malu sendiri.
“Lo masih disini?! Pulang sana!” usir Keira lagi.
Melihat penampilan Keira, Bilar malah semakin ingin
ikut menemani gadis itu. Keira melihat pria itu sangat keras kepala. Akhirnya
Keira menyerah mengusir Bilar. Ia meminta pria itu mandi dulu. Mereka masih
punya waktu sebelum jam sebelas malam.
“Aku nggak bawa baju ganti, nggak pa-pa pake baju
ini lagi ya,” tanya Bilar menunjuk kemejanya.
Keira membuka lemarinya, ia mengambil paper bag dan
membuka isinya. Ada kaos dan celana pria di dalam paper bag itu. Keira
mendekatkan pakaian itu ke tubuh Bilar, kebetulan ukurannya sangat pas dengan
tubuh Bilar. Ia juga mengambilkan kotak sepatu yang sepertinya masih baru.
“Ini punya siapa? Pacarmu?” tanya Bilar sedikit
enggan.
“Reynold yang beli, tapi nggak pernah dipakai. Tiap
dia pulang kesini, pasti beli perlengkapan cowok tapi selalu dikirim kesini.
Alasannya nggak suka modelnya.” Keira memperlihatkan isi lemarinya yang penuh
paper bag dan kotak sepatu untuk cowok.
“Dia pacarmu? Nanti kalo dia nanyain bajunya,
gimana?” tanya Bilar ragu.
“Lo nggak usah banyak nanya dech. Mau ikut apa
nggak, terserah lo. Gue tunggu di luar,” putus Keira sambil keluar dari
kamarnya.
Keira duduk di sofa, ia membalas chat dari
teman-teman clubbingnya yang sudah dalam perjalanan. Lima belas menit kemudian,
pintu kamar Keira terbuka. Keira melirik penampilan baru Bilar yang lebih keren
dengan kaos dan celana jeans. Meskipun kacamata masih bertengger di hidungnya
dan tatanan rambut culun, setidaknya Bilar tidak terlalu memalukan kalau dibawa
ke club.
“Rambutmu kurang style. Tunggu. Duduk sini.” Keira
masuk ke kamarnya dan keluar membawa sisir dan pomade. Keira berdiri di depan
Bilar, hingga dada Keira tepat berada di depan wajah pria itu. Bilar merasakan
rambutnya sedikit basah dan ditata dengan gaya yang berbeda. Keira meminta
Bilar melepas kacamatanya, tapi Bilar menolak. Matanya tidak bisa jelas melihat
tanpa kacamata.
Sekali lagi, Keira merapikan penampilan Bilar dan
tersenyum puas. Lebih baik daripada pakaian kerjanya tadi. Meskipun kacamata
masih mengganggu.
Keduanya segera berangkat menuju club yang biasa
dikunjungi Keira. Bilar mengendarai mobil Keira mengikuti petunjuk arah yang
diberikan GPS mobil itu. Mereka sampai di club yang parkirannya sudah cukup
ramai. Beberapa laki-laki yang berjalan di parkiran, sempat melirik tubuh Keira
yang turun lebih dulu dari mobil. Bilar cepat-cepat turun, lalu menghalangi
pandangan laki-laki lain.
__ADS_1
Dentuman musik mulai terdengar ketika keduanya
sudah masuk ke dalam club. Keira melihat club itu cukup ramai dan ia terpaksa
menarik tangan Bilar agar merangkul pinggangnya.
“Kei...,” panggil Bilar di telinga Keira.
“Lo harus ikutin gue. Clubnya rame banget,” sahut
Keira di telinga Bilar.
Keira berjalan duluan mencoba menerobos padatnya
pengunjung club malam itu. Sesekali Keira menarik tangan Bilar untuk memeluknya
lebih erat. Berdesakan dengan banyak orang membuat tubuh mereka menempel satu
sama lain.
Rona merah samar muncul di pipi Bilar, ia tidak
bohong kalau menikmati sentuhan Keira. Meskipun tidak sengaja, tetap saja bikin
jantung mulai ikut berdisko. Keira menarik Bilar menuju kursi tempat teman-temannya
berkumpul. Mereka akan aman kalau sudah duduk disana. Hanya orang-orang
tertentu yang bisa duduk disitu tanpa diganggu pengunjung lain.
“Hai, girls, sory telat. Gue pesen yang biasa,
dong. Dua ya.” Keira berteriak pada pelayan yang mendekatinya. Tentu saja dia
harus teriak atau pelayan itu tidak akan bisa mendengar kata-katanya.
Teman-teman Keira saling sikut membicarakan pria
luar biasa aneh yang duduk di samping Keira. Jelas sekali, pria itu bukan
selera Keira. Jadi apa yang membuat mereka bisa bersama.
Seolah mengetahui apa yang dibicarakan teman-temannya,
Keira langsung mengenalkan Bilar sebagai rekan kerjanya.
“Dia pengganti gue di kantor. Namanya Bilar. Bentar
lagi gue ujian dan bisa pergi dari sini. Bye, kalian semua.” Keira bicara cukup
keras untuk didengar mereka semua.
“Lo masih mau kerja sama Rey? Mending lo kerja
disini. Perusahaan papa lo kan lumayan bagus juga,” komentar teman Keira.
sibuk. Biarin Jordan yang ngwarisin semua bisnis papa,” sahut Keira enggan.
Bilar menatap Keira yang sibuk bergerak seiring
musik yang diputar. Minuman yang mereka pesan, mulai berdatangan memenuhi meja
di depan mereka. Bilar mengkerutkan keningnya melihat minuman yang diletakkan
pelayan di depan Keira.
“Lo minum aja. Itu nggak tinggi alkoholnya. Masih
aman untuk kita nyetir.” Keira menunjuk gelas aneh di depan Bilar.
“Aku mau minum softdrink aja,” pinta Bilar.
“Nggak ada disini. Minum itu aja. Gue jamin, lo
nggak bakalan kenapa-napa,” sahut Keira.
Bilar mencoba minuman tanpa warna itu, rasanya
manis dan kemudian berubah sedikit menyengat di pangkal lidah. Keira tertawa
melihat reaksi Bilar.
Teman-teman Keira meminta gadis itu untuk minum
yang lebih strong, tapi Keira menolak. Ia tahu maksud teman-temannya ingin
membuat dirinya mabuk, jadi mereka bisa menggoda Bilar. Kali ini, Keira harus
menahan ejekan teman-temannya yang mengatai dirinya sudah mulai lembek.
Meskipun tidak mengandung kadar alkohol yang
tinggi, tetap saja minuman yang diminum Bilar mengandung kadar alkohol. Pria
itu belum pernah minum dan mulai merasa pusing. Tanpa disadari Keira yang asyik
ngobrol dengan temannya, Bilar sudah menghabiskan minuman di gelasnya dan di
gelas Keira.
Tubuh Bilar mulai bergerak mengikuti irama musik
yang menghentak. Tanpa sadar ia bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju kerumunan
__ADS_1
orang yang asyik bergerak mengikuti irama musik. Ketika Keira sadar, ia
kebingungan mencari Bilar.
Teman-teman Keira ikut mencari keberadaan Bilar dan
salah satu dari mereka melihat Bilar. Dari jauh, Keira melihat Bilar berdiri di
depan DJ. Sedikit tergesa, Keira menembus kerumunan orang lalu menghampiri
Bilar.
“Lo ngapain disini sich?! Bikin orang pusing
nyariin lo! Bilar! Woi!” teriak Keira mengimbangi suara musik yang memekakkan
telinganya.
Bilar malah memeluk pinggang Keira, memaksa gadis
itu menari bersamanya. Keira mengikuti tarian Bilar yang sepertinya belajar
dari game yang ada di pusat perbelanjaan. Tidak ingin mempermalukan dirinya,
Keira menarik Bilar ke pinggir agar mereka bisa kembali ke tempat duduk. Tapi
Bilar yang sudah mabuk malah menarik Keira lalu memeluk pinggang gadis itu
lagi.
“Kei, jangan kemana-mana. Temenin aku,” pinta
Bilar.
“Kamu mabuk, Bi. Kita pulang ya,” ucap Keira.
Bilar tetap diam di tempat, tidak mau kemana-mana
lagi. Walaupun sedang mabuk, tenaga Bilar tetap kuat untuk menahan tubuh Keira.
Akhirnya mereka berdua menari mengikuti irama musik. Tangan Bilar tidak bisa diam
masuk ke balik tank top Keira.
Keira merangkul leher Bilar, keduanya saling
menatap sangat dalam. Sedikit terbawa suasana, Keira mengecup sudut bibir
Bilar. Senyum mengembang di bibir gadis itu.
“Lo manis. Bilar, kalau malam ini gue khilaf, nggak
pa-pa ya.” Keira hampir mencium Bilar tapi dorongan pengunjung club membuatnya
tersadar.
Keira menuntun Bilar keluar dari club itu. Waktu
bahkan sudah menunjukkan jam satu dini hari, tapi keramaian justru semakin
bertambah. Saat mereka berdua hampir sampai di mobil Keira, beberapa pria
berpakaian hitam, mengepung mereka.
“Pak, kami menemukannya,” ucap salah satu pria itu.
”Bawa pulang
sekarang,” perintah seseorang dari alat seperti HT yang dibawa pria itu.
“Nona, silakan ikut kami,” pinta pria yang bicara
tadi.
Keira melihat Bilar dituntun masuk ke dalam sebuah
mobil hitam. Biar bagaimanapun, Keira yang membawa Bilar ke club itu. Ia
terpaksa ikut hanya untuk memastikan Bilar akan baik-baik saja.
“Sebelum saya ikut, kita mau kemana?” tanya Keira waspada.
“Kerumah tuan muda Bilar, nona,” sahut pria tadi
ramah.
Keira diminta masuk ke dalam mobil, duduk di
samping Bilar yang sudah bersandar di kursi belakang. Seorang pria meminta
kunci mobil Keira agar bisa membawa mobil Keira bersama mereka.
Selama dalam perjalanan, Bilar yang masih belum
tertidur sepenuhnya, memegang tangan Keira. Bahkan tidak segan merangkul
pinggang gadis itu.
“Bilar, lepasin tanganmu. Sana duduknya jauhin,”
pinta Keira enggan.
Tapi Bilar malah memojokkan Keira sampai ke pinggir
__ADS_1
mobil lalu mulai tertidur. Dengan posisi begitu, mereka akhirnya memasuki rumah
mewah milik orang tua Bilar.