Duren Manis

Duren Manis
Asisten Dosen


__ADS_3

Si kembar sudah mulai kuliah, diawal semester ini mereka masih bisa sekelas karena mata kuliah dasar.


Kelas Riri dan Rio pagi ini cukup ramai, ada desas desus yang mengatakan kalau ada asisten dosen muda yang akan mengajar mereka.


Dan asisten dosen ini lumayan ganteng. Riri duduk di dalam kelas menunggu dosen datang. Kaori yang terlambat datang, segera duduk di samping Riri.


Kaori : "Untung aja gak telat. Dosennya mana?"


Riri : "Uda telat kali, dosennya cuti. Tapi ada asdos katanya. Tunggu aja."


Rio yang duduk di belakang Riri, menarik ekor kuda Kaori tanpa rasa bersalah dan tertawa geli melihat wajah judes Kaori mengarah padanya.


Kaori : "Rese...!!"


Rio : "Hihihi... Itu rambut apa ekor kuda sich?"


Kaori : "Jangan tarik rambutku!"


Rio : "Ekor kuda maksudmu. Weekk..."


Rio memeletkan lidahnya ke arah Kaori dengan jahilnya.


Kaori : "Hmmmpp...!"


Kaori mendekap tangannya dengan wajah cemberut yang menggemaskan. Hati Rio berdesir melihat reaksi Kaori ketika ia mengganggu teman adiknya itu.


Rio : "Tuch kan lucu banget." Gumam Rio dalam hati.


Riri : "Eh, dosennya dateng."


Seorang laki-laki muda dan tampan memasuki ruang kelas pagi itu. Ia cukup menarik perhatian mahasiswa yang mengikuti kelas itu.


Elo : "Selamat pagi, semuanya. Saya Angelo, asisten dosen Husin. Untuk sebulan kedepan, saya akan menggantikan dosen Husin yang sedang cuti."


Gumaman mulai terdengar dari dalam kelas terutama dari mahasiswa perempuan. Mereka mengagumi wajah tampan Elo.


Elo mengedarkan pandangannya, wajahnya semakin tampan dengan kacamata yang sekarang bertengger di hidungnya. Ia menemukan sosok Riri yang duduk di bagian tengah kelas.


Riri tersenyum malu melihat Elo berdiri di depan kelas. Elo juga melakukan hal yang sama sambil sesekali melirik Riri.


Kaori yang merasa aneh, menoleh melihat Riri yang tersenyum manis. Ia merasa ada sesuatu antara keduanya.


Kaori : "Kamu kenapa sich dari tadi senyum-senyum terus?"


Riri tidak menjawab, ia terlalu fokus dengan Elo. Kaori mengikuti arah pandang Riri dan juga Elo. Tahulah dia kalau ada sesuatu diantara keduanya.


Kaori : "Riri, kamu suka sama asdos itu?"


Riri : "Eh, apa? Kelasnya mau mulai tuch."


Kaori tersenyum mendengar jawaban mengelak Riri. Ia kembali fokus mengikuti perkuliahan pagi itu. Sementara Rio sesekali melirik Kaori yang manis.


-----


Usai kuliah, Elo berjalan keluar dari ruang kuliah. Riri, Rio dan Kaori mengemasi barang-barang mereka bersiap ke kantin.


Kelas berikutnya akan dimulai satu jam lagi dan mereka sudah kelaparan. Keith yang tadi tidak dapat tempat duduk di samping Riri, mengimbangi langkah ketiganya.


Keith : "Ri, mau kemana?"

__ADS_1


Riri : "Kantin, kak."


Keith : "Aku ikut ya. Lapar juga."


Riri : "Ayo, kak."


Mau menolak juga Keith pasti maksa ikut, Riri beringsut diantara Kaori dan Rio. Ia tidak ingin jalan disebelah Keith.


Keith : "Ri, nanti buat tugas sama-sama ya."


Riri : "Tugas? Emang ada ya?"


Keith : "Maksudku kalau ada tugas, kita buat sama-sama."


Riri : "Oh gitu."


Riri tidak menolak juga tidak mengiyakan. Mereka sudah sampai di kantin yang hampir penuh. Tapi herannya selalu ada tempat kosong untuk mereka.


Mereka duduk bersama di satu meja. Pelayan segera datang membawa tab, dan mereka mulai memesan makanan.


-------


Usai makan disertai pertanyaan gak mutu dari Keith untuk Riri, mereka kembali ke kelas. Riri sudah bad mood, Rio juga sama kesalnya.


Untung saja kelas langsung dimulai tidak perlu waktu lama. Setidaknya Keith akan diam untuk beberapa saat.


Mungkin karena kekenyangan, kuliah dari dosen ini terasa sedikit membosankan dan juga bikin ngantuk. Dosen yang menyadari itu meminta semua mahasiswa berdiri dan menghadap ke kanan.


Dosen : "Pegang pundak teman di depan kalian. Dan mulai pijat pundaknya."


Kegiatan itu mengundang gelak tawa seisi kelas yang ternyata ada mahasiswa yang tertawa kegelian ketika pundaknya dipijat.


Riri yang memijat bahu Keith tampak enggan sementara Rio yang punya kesempatan memijat bahu Kaori, malah meniup tengkuk gadis itu.


Kaori : "Hii..."


Tubuh Kaori merinding ketika Rio melakukan itu. Ia mengangkat kakinya ingin menginjak kaki Rio, tapi Rio keburu menghindarinya.


Kaori menatap sebal pada Rio, ia mengusap tengkuknya. Perutnya terasa geli dan tidak nyaman. Rio cuma senyam-senyum gak jelas sambil melirik Kaori.


Ketika mereka duduk kembali, Rio merendahkan tubuhnya dan berbisik pada Kaori,


Rio : "Makanya jangan ikat rambutmu setinggi itu."


Kaori : "Rese banget sich kamu..."


Kaori berbisik juga, karena kelas dalam keadaan tenang kembali.


Rio : "Kamu cantik..."


Blush! Wajah Kaori merona mendengar kata-kata Rio. Ia bingung dari tadi Rio mengganggunya dan sekarang mengatakan dirinya cantik. Uda gila kayaknya.


Rio hampir ketawa ngakak melihat reaksi polos Kaori. Ternyata wajah merona Kaori membuatnya terlihat lebih cantik di mata Rio. Ini bocah sudah jatuh cinta mati pada Kaori.


Riri yang melihat saudara kembarnya semakin gencar menggoda Kaori cuma bisa diam mengamati. Ia malas menanggapi Keith yang mulai absurb.


Keith : "Ri, nanti jalan yuk."


Riri : "Emang mau kemana?" Saat itu dosen mereka sedang menjelaskan sebuah bagan yang sudah dipelajari Riri sebelum lulus SMA.

__ADS_1


Keith : "Nonton. Yuk, ada film bagus."


Riri : "Naik apa kesana?"


Sebenarnya Riri gak ingin jalan sama Keith. Ia hanya ingin tahu, apa sifat anak ini sudah berubah.


Keith : "Naik mobilku lah. Mau ya."


Riri : "Mobilmu?"


Keith : "Iya, mamaku baru beli mobil, aku dikasi mobil lamanya."


Tuch kan mulai sombongnya, padahal nada suara Keith terdengar biasa saja tapi Riri menganggap Keith sombong. Ia tidak nyaman berteman dengan orang yang suka mengatakan kekayaan orang tuanya sebagai miliknya.


Sebenarnya Keith itu baik banget, ia sering membantu Riri. Tapi Riri hanya menganggapnya sebagai teman. Kalau untuk lebih dari itu ia belum memikirkannya.


Membayangkannya saja ia tidak mau, karena ia melihat Keith terlalu manja dan bergantung pada orang tuanya.


Dosen di depan kelas berdehem, meminta perhatian mahasiswa yang mulai sibuk ngobrol sendiri.


Dosen : "Kalau ada yang bisa menjelaskan hubungan antara kedua bagian ini, kalian boleh pulang."


Beberapa mahasiswa mengangkat tangan termasuk Riri dan Rio. Satu persatu jawaban mereka berguguran dan ketika giliran Rio, ia menoleh pada Riri sejenak dan menjawab pertanyaan dosen dengan benar.


Dosen : "Siapa nama kamu?"


Rio : "Mario, pak."


Kaori : "Mario bros, tepatnya pak." Bisik Kaori membuat senyum Rio semakin mengembang.


Dosen : "Kalian boleh pulang. Sampai ketemu minggu depan."


Sorakan lega memenuhi seluruh kelas. Beberapa mahasiswa menepuk bahu Rio yang menyelamatkan mereka dari kelas yang membosankan.


Rio : "Ri, jawabanku benar kan?"


Riri : "Seharusnya kau tambahkan penjelasan bagan diatasnya, biar sekalian A+."


Rio menoleh menatap ke papan dan mengayunkan tinjunya ke depan.


Rio : "Ach, benar. Kenapa bisa luput?"


Kaori terkikik geli melihat Rio menggaruk kepalanya seperti gorila. Rio yang melihat reaksi Kaori menarik ekor kuda gadis itu.


Kaori : "Aduch! Iihhh... Nyebelin banget...!!"


Kaori yang kesal, memukul-mukul lengan Rio. Ia memonyongkan bibirnya, menunjukkan wajah jeleknya pada Rio. Hampir saja Rio menangkup kedua pipi Kaori dengan kedua tangannya.


Ia ingin mencium gadis manis yang sudah menawan hatinya itu.


----


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.

__ADS_1


--------


__ADS_2