Duren Manis

Duren Manis
Extra part 47


__ADS_3

Extra part 47


Bilar tersenyum menatap Keira yang masih menatap


tajam ke arah Jordan, padahal adiknya itu sudah pergi. Mata mereka berdua


bertemu pandang untuk sesaat, sebelum Keira berpaling. Bilar menarik dagu Keira


menatap matanya lagi.


“Keira, lihat aku dong. Please. Aku kangen banget


sama kamu, Kei. Kangen kamu godain,” kata Bilar memelas.


“Bilar, nanti mamamu marah. Kita nggak akan


berhasil,” ucap Keira berusaha menahan dag, dig, dug jantungnya.


“Mama udah setuju. Malam ini, orang tuaku datang


untuk melamar kamu, Kei.” Bilar mengecup punggung tangan Keira.


“Beneran?” tanya Keira.


Bilar mengangguk, “Aku juga nggak nyangka, tadi


sore mama bilang kalau kami akan makan malam di luar. Aku udah nggak mau ikut.


Tapi X maksa aku ikut, disuruh pake baju bagus, biar keliatan ganteng. Taunya


ketemu kamu, trus mama bilang mau nglamar kamu sekalian,” jelas Bilar bersemangat.


“Nglamar? Nikah dong! Aku nggak mau nikah sekarang,”


tolak Keira.


“Tapi kenapa, Kei? Kita udah itu kan? Kalau kamu


hamil, gimana?” tanya Bilar.


Keira menggeleng, pelukan Bilar semakin erat sampai


Keira merasa sedikit sesak. Bilar menuntut penjelasan atas penolakan Keira.


Gadis itu masih ingin menikmati kebebasannya tanpa terikat pernikahan.


“Kalau aku nikah sekarang, nanti nggak bisa jalan


sama cowok lain. Aku kan belum nyoba cowok bule,” kata Keira kembali genit.


“Sayang, kalau kamu masih punya niat kayak gitu,


aku akan membuatmu hamil sekarang juga,” ancam Bilar.


Keira cemberut, ia memanyunkan bibirnya di depan


Bilar. Gadis itu memainkan telunjuknya di dada Bilar. Kemudian menunjuk-nunjuk


dada Bilar dengan kesal.


“Kamu nich! Bisanya ngancem kalo nggak, aku pasti


di gigit. Sakit tau! Aku nggak mau nikah sama kamu! Kamu kasar!” cerocos Keira


sebal.


Bilar menunduk lalu mengecup leher Keira dengan


lembut. Gadis itu meremas lengan Bilar, takut pria itu akan menggigitnya lagi.


Tapi Bilar hanya mengecup lehernya, lalu menatap mata Keira lagi.


“Kei, menikahlah denganku. Berhenti mencari pria


lain lagi. Kamu boleh melakukan apa saja padaku. Aku akan jadi apapun yang kamu


mau,” bisik Bilar berusaha menaklukkan hati Keira.


“Kamu janji? Mau melakukan apa saja? Nggak gigit


aku lagi?” tanya Keira dengan ekspresi wajah yang membuat Bilar menelan


salivanya.


‘Iya, sayang. Aku janji. Kei... cium aku,” pinta


Bilar.


“Jangan disini, nanti dilihat Jordan,” bisik Keira.


“Trus dimana?” tanya Bilar sambil melihat


sekeliling balkon.


“Ke kamarku, yuk,” bisik Keira menggoda Bilar.


Keira tahu kalau Bilar tidak akan berani melakukan


hal-hal seperti itu. Apalagi ada Jodi dan Katty disana. Keira hanya ingin


menggoda Bilar saja. Tanpa disangka Keira, Bilar menarik tangannya lalu memeluk


pinggang Keira. Mereka berjalan kembali ke ruang makan dan Bilar mengatakan


pada semua orang kalau Bilar ingin melihat kamar Keira.


Keira mencubit pinggang Bilar, ia merasa tidak enak

__ADS_1


dengan Bianca yang sudah menatapnya. Jodi mengijinkan Bilar dan Keira ke kamar


putrinya itu, bahkan menawarkan makan malam dibawa kesana juga. Keira menelan


salivanya, ia menatap Jordan, berharap adiknya itu mau membantunya.


“Jordan, temenin kakak ya,” pinta Keira dengan


senyuman manis.


Pria kecil itu malah menoleh menatap Bilar yang


sibuk menggeleng di belakang Keira. Entah apa yang dibicarakan batin keduanya


yang tiba-tiba nyambung hanya dengan tatapan mata. Keira menoleh curiga pada


Bilar yang langsung memasang wajah cool.


“Kak, kesana aja dech. Cuma liat kamar kakak kan?


Aku masih sibuk disini. Ada bisnis sama om Ilham,” alasan Jordan.


Keira berdecih, ia menatap tajam pada Bilar yang


pura-pura polos. Entah apa yang dijanjikan Bilar pada Jordan, sampai adiknya


itu berbalik mendukung Bilar.


“Setan kecil. Awas aja kalau kamu ketahuan ngejual kakak


ya,” ancam Keira menatap tajam Jordan.


Jordan menelan salivanya, kakaknya itu lebih


mengerikan dari mamanya kalau marah. Lebih baik ia mencari jalan aman sebelum


Keira menjewernya dihadapan semua orang.


“Kak, aku nggak ngejual kakak. Cuma mengambil


keuntungan sedikit. Nggak sampai sepuluhpersen. Bayar pajak aja kurang, kak,”


ucap Jordan polos.


Pak Jang, X, Jodi, Katty, Bianca, dan Ilham menahan


tawanya mendengar penjelasan Jordan. Keira merasa semua orang bekerja sama mendukung


Bilar. Dengan langkah tidak rela, Keira terpaksa berjalan bersama Bilar menaiki


tangga menuju kamarnya.


Pak Jang menyusul keduanya menaiki tangga bersama


pelayan yang membawakan makan malam dengan porsi tiga orang. Bianca yang


ngobrol lama kalau porsi makannya besar.


Keira membuka pintu kamarnya lebih lebar agar Bilar


bisa masuk. Pria itu langsung melihat-lihat foto yang banyak terpasang di salah


satu dinding kamar Keira. Pak Jang dan pelayan ikut masuk, lalu menghidangkan


makanan diatas meja dekat sofa.


“Opa Jang...,” panggil Keira ketika pria paruh baya


itu hampir berjalan keluar dari kamar.


“Ya, nona muda? Ada yang bisa saya bantu?” tanya


Pak Jang.


“Opa, tetap disini ya. Aku mau rubah dekorasi kamar


ini,” pinta Keira beralasan.


Pak Jang membungkuk sebentar, dengan polosnya ia


mengatakan kalau Keira paling tidak suka dekorasi kamarnya dirubah. Pria itu


bahkan bertanya, kenapa Keira berubah pikiran sekarang. Keira menahan emosinya,


ia hanya bisa nyengir sambil mempersilakan Pak Jang keluar dari kamarnya.


Berdua saja dengan Bilar di dalam kamar, membuat


Keira extra waspada. Ia memilih duduk di sofa, lalu membuka penutup makanan


yang terhidang di depannya. Harum masakan menguar memenuhi kamar Keira.


“Wah, baunya enak. Aku sudah lapar. Ayo kita makan.”


Bilar sudah duduk di samping Keira.


Pria itu hanya menikmati makanannya tanpa


mengganggu Keira yang juga sedang makan. Sesekali keduanya bertukar saling


mencicipi makanan satu sama lain. Keira tersenyum saat Bilar memintanya mencoba


wortel rebus. Ia tidak suka makan wortel.


“Kenapa?” tanya Bilar.


“Aku nggak suka. Rasanya pahit.” Keira menutup

__ADS_1


mulutnya dengan tangan.


“Padahal enak. Wortel kan bagus untuk mata,” kata Bilar


sambil mengunyah potongan wortel rebus.


“Kamu suka makan wortel, trus kenapa matamu minus?”


tanya Keira.


Bilar nyengir lebar, “Ya karena aku kebanyakan main


game di komputer. Nggak mempan makan wortel.”


Keira memutar matanya malas, selain wortel, Keira


juga tidak suka makan batang sayur. Ia sibuk menyingkirkan batang sayur dari


piringnya. Dari beberapa menu makanan yang terhidang di meja, Keira hanya makan


ayam, beberapa jenis sayur tertentu, dan sedikit nasi.


Bilar memperhatikan betul makanan yang tidak


disukai Keira. Ia ingin membuat Keira nyaman dengan mengingat hal-hal yang


tidak disukai gadis itu.


“Kei, kalau kita nikah tahun depan, mau nggak?”


tanya Bilar.


Keira menggeleng. Ia baru ingin menikah setidaknya


tiga tahun lagi. Selama itu, Keira ingin bekerja lagi.


“Trus yang di hotel gimana?” tanya Bilar.


“Hotel apa?” tanya Keira pura-pura lupa.


Bilar meminta Keira menceritakan apa yang dilakukan


Keira padanya di kamar hotel itu. Keira mengelak dengan mengatakan kalau ia


sudah lupa dengan apa yang terjadi. Ketika Bilar hampir memaksanya bicara, Keira


menatap Bilar.


“Bilar, kenapa kamu kepo sekali? Yang penting kan


kamu sudah sehat lagi. Kamu mau nambah lagi?” kata Keira berusaha mengalihkan


pembicaraan.


“Kei, di hotel itu perjakaku hilang. Aku harus tahu


apa kamu juga kehilangan... itu,” kata Bilar berusaha sabar.


“Kalau aku memang sudah kehilangan sebelumnya, apa


kamu nggak mau menikah sama aku?” tanya Keira mengetes Bilar.


“Kita kan sudah melakukannya, tentu saja kita harus


menikah. Tapi kamu harus fokus sama aku kalo kita udah nikah nanti. Jangan


lihat pria lain lagi.” Bilar menarik Keira dalam pelukannya.


Keira tersenyum senang, Bilar menjawabnya tanpa


ragu-ragu. Pelukan pria itu terasa hangat dan menenangkan. Untuk sesaat mereka


hanya diam dalam posisi saling memeluk.


“Kei, boleh aku tahu dengan siapa? Pertama kali kau


melakukannya? Kalau nggak mau jawab, juga nggak apa-apa,” ucap Bilar.


“Tentu saja sama suamiku. Meskipun aku nakal, tetap


saja yang satu itu harus diberikan untuk suami,” ucap Keira.


Bilar mendorong Keira menjauh sedikit darinya.


“K—kamu udah punya suami?” tanya Bilar gugup.


“Ya belum lah. Bodoh. Masa kamu nggak ngerti


maksudku?” tanya Keira sambil mengelus pipi Bilar.


Bilar benar-benar blank, ia mencoba berpikir dengan


tenang. Tapi tetap saja ia tidak menemukan jawabannya. Keira tertawa ngakak


melihat wajah bodoh Bilar. Ia ingin menggoda Bilar lagi tapi kesulitan bergerak


dengan gaun yang dipakainya.


“Bi, bantuin aku ganti baju dong,” goda Keira


sambil mencolek dagu Bilar.


“Kei, ntar aku khilaf, gimana?” tanya Bilar tapi


mau juga.


“Jangan sampe, dong. Bentar doang,” sahut Keira.

__ADS_1


__ADS_2