
DM2 – Menguji atau test
Gadis tidak mau tidur lagi, ia menggelitiki
pinggang Rio agar bisa lepas dari pria itu. Gadis bangun dengan cepat dan
keluar dari ruang kerja. Ia langsung naik ke lantai atas menuju kamarnya, saat
ia membuka pintu matanya terbelalak melihat kejutan dari Rio.
Rio menghias kamar mereka dengan bunga
mawar dan juga banyak mainan unik yang diborong Rio dari pedagang kaki lima. Gadis
langsung duduk di atas karpet, ia mulai memainkan mainan-mainan itu dengan
senangnya.
Rio ikutan masuk ke dalam kamar. Dilihatnya
Gadis kebingungan memainkan sebuah permainan berbentuk cangkong dengan bola di
ujungnya.
“Kenapa? Gak bisa mainnya?”tanya Rio.
“Ini diapain?”tanya Gadis.
Rio meniup ujung cangkong itu dan bola
bergerak keatas. Rio berusaha menangkap bola itu dengan ujung cangkong tapi
bola itu terlempar ke dekat Gadis. Rio mengulurkan tangannya, ingin menangkap
bola itu tapi Gadis sudah menangkapnya duluan.
“Gitu cara mainnya. Harusnya ditangkep pake
ujungnya. Nich.”kata Rio menyerahkan mainan itu pada Gadis.
Gadis kembali asyik dengan mainan di
sekitarnya. Ia sudah tidak marah lagi pada Rio. Mereka asyik bermain seperti
anak kecil sampai Mia memanggil mereka dari depan pintu.
“Rio, Gadis, makan dulu. Kalian lagi
ngapain?”tanya Mia tanpa melongok ke dalam.
“Masuk aja, mah.”panggil Rio.
Mia terkejut melihat banyaknya mainan di
kamar Rio. Mainan jaman dahulu kala yang terbuat dari bambu dan plastik. Sudah
tentu harganya sangat murah. Mia yang baru pertama kali melihat mainan itu dari
dekat, jadi ingin memainkannya juga.
“Mama kan gak besar disini. Ini gimana cara
mainnya?”tanya Mia pada Rio.
Dirinya jadi ikutan main sampai lupa
tujuannya memanggil Rio dan Gadis. Alex yang menunggu Mia, ikutan menyusul ke
atas. Ia berdiri di depan pintu kamar Rio, melihat Mia asyik bermain ular
tangga dengan Gadis.
“Ya, ampun. Papa tungguin makan malam,
taunya malah main disini. Ayo, kita makan dulu. Rio, bawa mainannya ke bawah.
Adikmu pasti mau liat ntar.”
Mia dan Gadis nyengir kepergok Alex. Mereka
segera keluar dari kamar Rio, membiarkan Rio membereskan mainan yang
berantakan.
Keesokan harinya di kantor Alex,
__ADS_1
Melda datang terlambat. Setelah pernikahan
mereka kemarin, X benar-benar tidak melepaskannya. X membawanya ke apartment
langsung masuk ke kamar yang sudah dihias untuk malam pertama mereka. Melda
sempat protes karena perutnya terasa lapar. Mereka memesan makanan dan makan
bersama. Tapi saat Melda ingin mandi dulu, X merangsek masuk ikut mandi.
Setelah itu X sama sekali tidak memberinya kesempatan menghindar lagi.
Tring! Tring! Notif chat masuk ke ponsel
Melda. Ia sedang mencari Alex dan Romi di ruangan mereka tapi tidak ketemu.
Melda membaca chat dari X, “Sayang, harusnya kamu ijin kerja. Bisa jalan kan?”
“Iya, bisa. Bawel.”balas Melda cepat.
“Nanti sore aku jemput ya. Jangan lembur di
kantor. Kita lembur di rumah aja.”
“Iya, iya. Aku kerja dulu ya.”
Pintu lift terbuka, seorang pria keluar
dari sana. Melda berdiri dari duduknya, menyapa pria itu.
“Selamat pagi, pak. Ada yang bisa saya
bantu?”tanya Melda ramah.
“Pak Alex ada?”tanya Ronald.
“Maaf dengan bapak siapa ya? Saya Melda,
sekretarisnya Pak Alex.”
“Ronald. Saya sudah ada janji. Dia di ruang
kerjanya?”tanya Ronald. *”Yang lupa siapa Ronald\, dia ini papanya Arnold ya.”*
“Saya cek dulu sebentar ya, pak.Silakan
belum beranjak dari tempatnya berdiri. Ia melirik tumpukan dokumen penting di
meja Melda. Tangan Ronald terulur meraih salah satu dokumen itu.
“Ach, ini dokumen penawaran untuk besok ya?”tanya
Ronald.
Melda terkejut dengan tindakan Ronald, ia
meminta dokumen itu dikembalikan dengan sopan. Ronald memberikannya, tapi ia
menawarkan sesuatu pada Melda.
“Berikan dokumen itu dan kau bisa
mendapatkan cek ini.”kata Ronald sambil mengeluarkan selembar cek dari balik
sakunya.
Melda melirik nominal cek itu, satu milyar
rupiah. Itu artinya senilai sepuluh persen dari nilai penawaran yang dibuat
perusahaan Alex. Melda tersenyum masih menahan dirinya tidak mengusir Ronald
dari sana.
“Maaf, pak,. Saya tidak bisa menerimanya.
Terima kasih.”kata Melda.
“Atau kau mau rumah? Mobil? Bilang aja mau
apa. Akan kuberikan semuanya asal kau mau membantuku mendapatkan informasi
penawaran perusahaan ini.”goda Ronald.
Melda tersenyum ramah, “Maaf, pak.
__ADS_1
Sepertinya Pak Alex masih meeting. Sebaiknya pak Ronald kembali lagi lain hari.”
“Berani ngusir saya ya. Alex akan tahu hal
ini dan memecatmu.”ancam Ronald tapi Melda tidak takut.
“Silakan disana lift-nya, pak.”kata Melda
sopan.
Melda menunggu Ronald masuk ke dalam lift
dan ia segera membawa dokumen penawaran ke dalam ruangan Romi.
“Siapa sich yang ninggalin dokumen ini di
mejaku. Biasanya juga di meja pak Romi. Untung aja gak diambil sama bapak yang
tadi.”omel Melda seorang diri.
Melda balik lagi ke mejanya, ia mencoba
menelpon Romi tapi gak diangkat. Akhirnya Melda menelpon Rio yang mengangkat
telponnya. Melda menanyakan keberadaan Alex dan Romi. Rio mengatakan kalau
mereka ada meeting mendadak di luar kantor.
‘Trus kamu dimana? Kenapa gak ngantor? Aku
datang telat tadi. Kamu tau gak pak Ronald? Dia bilang ada janji sama pak Alex,
tapi aku gak inget ada janji itu. Trus pake ngambil dokumen penawaran lagi.
Kemarin bukannya dokumen penawaran ada di mejamu? Kenapa bisa pindah ke mejaku?
Kamu tahu kan pentingnya dokumen itu. Mana besok tendernya lagi. Kalau terjadi
apa-apa gimana? Kita gak bisa dapet proyek itu, gimana?”omel Melda panjang
lebar pada Rio.
“Iya, iya. Aku masih di rumah. Gadis pengen
makan martabak mini pake jengkol, aku harus nyari dulu muter-muter dari subuh.”
“Hais. Ya, udah sana urus Gadis dulu. Beli
jengkol di pasar sana. Trus masak martabak di rumah pake tepung crepes kan
bisa.”usul Gadis yang gak tau kalau martabak mini pake jengkol cuma alasan Rio.
“Iya, ntar aku buat di rumah. Baik-baik di
kantor ya. Bye.”
Melda meletakkan ponselnya lagi. Ia mulai mengerjakan
pekerjaannya sampai Alex menelponnya meminta Melda mengirimkan dokumen
penawaran untuk besok melalui e-mail. Ia juga meminta dikirimkan dokumen
penting dari meja Alex.
Alex sengaja memberi peluang untuk Melda
membongkar mejanya. Beberapa dokumen rahasia perusahaan ada disana. Melda terus
bertanya apa warna map yang dipakai Alex untuk dokumennya itu. Ketika Alex
menyebutkan merah, Melda mengeluarkan dan membuka semua map merah. Tapi ia
tidak menemukan dokumen yang dikatakan Alex.
Alex bisa melihat dari CCTV dan kamera
video yang dipasang di dekat mejanya kalau Melda memang hanya mencari map merah
dan membukanya. Ketika Melda menelpon Alex lagi untuk bertanya warna map-nya,
Alex mengatakan kalau ia sudah membawanya di tasnya. Melda langsung merapikan
kembali dokumen itu ke laci meja Alex.
*****
__ADS_1
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.