Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Menguji atau test


__ADS_3

DM2 – Menguji atau test


Gadis tidak mau tidur lagi, ia menggelitiki


pinggang Rio agar bisa lepas dari pria itu. Gadis bangun dengan cepat dan


keluar dari ruang kerja. Ia langsung naik ke lantai atas menuju kamarnya, saat


ia membuka pintu matanya terbelalak melihat kejutan dari Rio.


Rio menghias kamar mereka dengan bunga


mawar dan juga banyak mainan unik yang diborong Rio dari pedagang kaki lima. Gadis


langsung duduk di atas karpet, ia mulai memainkan mainan-mainan itu dengan


senangnya.


Rio ikutan masuk ke dalam kamar. Dilihatnya


Gadis kebingungan memainkan sebuah permainan berbentuk cangkong dengan bola di


ujungnya.


“Kenapa? Gak bisa mainnya?”tanya Rio.


“Ini diapain?”tanya Gadis.


Rio meniup ujung cangkong itu dan bola


bergerak keatas. Rio berusaha menangkap bola itu dengan ujung cangkong tapi


bola itu terlempar ke dekat Gadis. Rio mengulurkan tangannya, ingin menangkap


bola itu tapi Gadis sudah menangkapnya duluan.


“Gitu cara mainnya. Harusnya ditangkep pake


ujungnya. Nich.”kata Rio menyerahkan mainan itu pada Gadis.


Gadis kembali asyik dengan mainan di


sekitarnya. Ia sudah tidak marah lagi pada Rio. Mereka asyik bermain seperti


anak kecil sampai Mia memanggil mereka dari depan pintu.


“Rio, Gadis, makan dulu. Kalian lagi


ngapain?”tanya Mia tanpa melongok ke dalam.


“Masuk aja, mah.”panggil Rio.


Mia terkejut melihat banyaknya mainan di


kamar Rio. Mainan jaman dahulu kala yang terbuat dari bambu dan plastik. Sudah


tentu harganya sangat murah. Mia yang baru pertama kali melihat mainan itu dari


dekat, jadi ingin memainkannya juga.


“Mama kan gak besar disini. Ini gimana cara


mainnya?”tanya Mia pada Rio.


Dirinya jadi ikutan main sampai lupa


tujuannya memanggil Rio dan Gadis. Alex yang menunggu Mia, ikutan menyusul ke


atas. Ia berdiri di depan pintu kamar Rio, melihat Mia asyik bermain ular


tangga dengan Gadis.


“Ya, ampun. Papa tungguin makan malam,


taunya malah main disini. Ayo, kita makan dulu. Rio, bawa mainannya ke bawah.


Adikmu pasti mau liat ntar.”


Mia dan Gadis nyengir kepergok Alex. Mereka


segera keluar dari kamar Rio, membiarkan Rio membereskan mainan yang


berantakan.


Keesokan harinya di kantor Alex,

__ADS_1


Melda datang terlambat. Setelah pernikahan


mereka kemarin, X benar-benar tidak melepaskannya. X membawanya ke apartment


langsung masuk ke kamar yang sudah dihias untuk malam pertama mereka. Melda


sempat protes karena perutnya terasa lapar. Mereka memesan makanan dan makan


bersama. Tapi saat Melda ingin mandi dulu, X merangsek masuk ikut mandi.


Setelah itu X sama sekali tidak memberinya kesempatan menghindar lagi.


Tring! Tring! Notif chat masuk ke ponsel


Melda. Ia sedang mencari Alex dan Romi di ruangan mereka tapi tidak ketemu.


Melda membaca chat dari X, “Sayang, harusnya kamu ijin kerja. Bisa jalan kan?”


“Iya, bisa. Bawel.”balas Melda cepat.


“Nanti sore aku jemput ya. Jangan lembur di


kantor. Kita lembur di rumah aja.”


“Iya, iya. Aku kerja dulu ya.”


Pintu lift terbuka, seorang pria keluar


dari sana. Melda berdiri dari duduknya, menyapa pria itu.


“Selamat pagi, pak. Ada yang bisa saya


bantu?”tanya Melda ramah.


“Pak Alex ada?”tanya Ronald.


“Maaf dengan bapak siapa ya? Saya Melda,


sekretarisnya Pak Alex.”


“Ronald. Saya sudah ada janji. Dia di ruang


kerjanya?”tanya Ronald. *”Yang lupa siapa Ronald\, dia ini papanya Arnold ya.”*


“Saya cek dulu sebentar ya, pak.Silakan


belum beranjak dari tempatnya berdiri. Ia melirik tumpukan dokumen penting di


meja Melda. Tangan Ronald terulur meraih salah satu dokumen itu.


“Ach, ini dokumen penawaran untuk besok ya?”tanya


Ronald.


Melda terkejut dengan tindakan Ronald, ia


meminta dokumen itu dikembalikan dengan sopan. Ronald memberikannya, tapi ia


menawarkan sesuatu pada Melda.


“Berikan dokumen itu dan kau bisa


mendapatkan cek ini.”kata Ronald sambil mengeluarkan selembar cek dari balik


sakunya.


Melda melirik nominal cek itu, satu milyar


rupiah. Itu artinya senilai sepuluh persen dari nilai penawaran yang dibuat


perusahaan Alex. Melda tersenyum masih menahan dirinya tidak mengusir Ronald


dari sana.


“Maaf, pak,. Saya tidak bisa menerimanya.


Terima kasih.”kata Melda.


“Atau kau mau rumah? Mobil? Bilang aja mau


apa. Akan kuberikan semuanya asal kau mau membantuku mendapatkan informasi


penawaran perusahaan ini.”goda Ronald.


Melda tersenyum ramah, “Maaf, pak.

__ADS_1


Sepertinya Pak Alex masih meeting. Sebaiknya pak Ronald kembali lagi lain hari.”


“Berani ngusir saya ya. Alex akan tahu hal


ini dan memecatmu.”ancam Ronald tapi Melda tidak takut.


“Silakan disana lift-nya, pak.”kata Melda


sopan.


Melda menunggu Ronald masuk ke dalam lift


dan ia segera membawa dokumen penawaran ke dalam ruangan Romi.


“Siapa sich yang ninggalin dokumen ini di


mejaku. Biasanya juga di meja pak Romi. Untung aja gak diambil sama bapak yang


tadi.”omel Melda seorang diri.


Melda balik lagi ke mejanya, ia mencoba


menelpon Romi tapi gak diangkat. Akhirnya Melda menelpon Rio yang mengangkat


telponnya. Melda menanyakan keberadaan Alex dan Romi. Rio mengatakan kalau


mereka ada meeting mendadak di luar kantor.


‘Trus kamu dimana? Kenapa gak ngantor? Aku


datang telat tadi. Kamu tau gak pak Ronald? Dia bilang ada janji sama pak Alex,


tapi aku gak inget ada janji itu. Trus pake ngambil dokumen penawaran lagi.


Kemarin bukannya dokumen penawaran ada di mejamu? Kenapa bisa pindah ke mejaku?


Kamu tahu kan pentingnya dokumen itu. Mana besok tendernya lagi. Kalau terjadi


apa-apa gimana? Kita gak bisa dapet proyek itu, gimana?”omel Melda panjang


lebar pada Rio.


“Iya, iya. Aku masih di rumah. Gadis pengen


makan martabak mini pake jengkol, aku harus nyari dulu muter-muter dari subuh.”


“Hais. Ya, udah sana urus Gadis dulu. Beli


jengkol di pasar sana. Trus masak martabak di rumah pake tepung crepes kan


bisa.”usul Gadis yang gak tau kalau martabak mini pake jengkol cuma alasan Rio.


“Iya, ntar aku buat di rumah. Baik-baik di


kantor ya. Bye.”


Melda meletakkan ponselnya lagi. Ia mulai mengerjakan


pekerjaannya sampai Alex menelponnya meminta Melda mengirimkan dokumen


penawaran untuk besok melalui e-mail. Ia juga meminta dikirimkan dokumen


penting dari meja Alex.


Alex sengaja memberi peluang untuk Melda


membongkar mejanya. Beberapa dokumen rahasia perusahaan ada disana. Melda terus


bertanya apa warna map yang dipakai Alex untuk dokumennya itu. Ketika Alex


menyebutkan merah, Melda mengeluarkan dan membuka semua map merah. Tapi ia


tidak menemukan dokumen yang dikatakan Alex.


Alex bisa melihat dari CCTV dan kamera


video yang dipasang di dekat mejanya kalau Melda memang hanya mencari map merah


dan membukanya. Ketika Melda menelpon Alex lagi untuk bertanya warna map-nya,


Alex mengatakan kalau ia sudah membawanya di tasnya. Melda langsung merapikan


kembali dokumen itu ke laci meja Alex.


*****

__ADS_1


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2