
Rara baru pulang dari kampus, ia melihat nenek dan mb Minah sibuk membuat kue. Harum kue yang sudah dipanggang membuat Rara duduk di meja makan,
Rara : “Tumben nenek buat kue banyak. Emangnya mau ada tamu ya, nek?”
Nenek : “Iya, papamu bilang ada rekan bisnisnya yang mampir nanti dan mau pulang ke kota M. Jadi nenek buatkan kue untuk oleh-oleh.”
Rara : “Rara boleh icip-icip gak? Kayaknya enak.”
Nenek : “Entar aja ya. Mandi dulu sana, dandan yang cantik. Ntar lagi mereka datang loh.”
Rara : “Kenapa Rara harus dandan?”
Nenek : “Rara bantu bawain kue ini nanti sama teh.”
Rara : “Ya, nek.”
Rara naik ke lantai 2 untuk mandi dan bersiap-siap. Sementara Mia baru saja tiba bersama Alex, mereka pulang cepat untuk menjamu Pak Roland, salah satu rekan bisnis Alex yang sudah lama bekerja sama sekaligus teman Alex saat kuliah dulu.
Alex meminta Mia mandi dulu di kamar Alex, nenek yang mendengarnya cuma senyum-senyum aja. Saat Alex mau masuk ke kamarnya juga, Mia melotot meminta Alex menunggu dia selesai mandi.
Alex : “Yah, kalo mandi berdua kan cepet selesai.”
Kata-kata Alex mendapat bantingan pintu kamar di depan wajahnya, nenek dan mb Minah terkikik melihat Alex
menempelkan badannya di pintu kamar.
------
Rara yang sudah selesai bersiap, turun dari lantai 2. Sebelumnya ia mengatakan pada si kembar untuk siap-siap juga menyambut tamu yang datang. Alex menatap putri sulungnya yang terlihat cantik dan manis, waktu terasa cepat berlalu putrid kecilnya yang manis telah tumbuh menjadi gadis remaja yang lembut dan dewasa.
Keadaan yang memaksa Rara menjadi dewasa sebelum waktunya dan itu membuat emosi Rara rapuh. Kalau saja ia tidak segera bertemu Mia, mungkin Rara akan terpuruk dengan cepat. Alex sudah terlalu sibuk mengurus perusahaannya, bahkan tidak jarang melewatkan liburan keluarga untuk menjaga stabilitas perusahaannya.
Mia juga keluar dari kamar Alex, terlihat lebih segar dan cantik. Rara memeluk Mia dan keduanya saling memuji.
Keluarga seperti apa lagi yang Alex harapkan, dengan kehadiran Mia bisa membuat keluarga kecilnya utuh. Si kembar menyusul Rara turun dan kini bergantian memeluk Mia. Alex mendecih kesal melihat Rio menempel pada Mia,
Alex : “Rio, lepasin mama dong.”
Rio : “Papa nich, kasi aja kenapa sich? Papa kan bisa ketemu mama tiap hari, Rio seminggu sekali, pah.”
Alex : “Tetep aja jangan peluk lama-lama.”
Mia kebingungan melihat Rio berdebat dengan papanya sambil menarik dirinya ke kanan ke kiri.
Mia : “Stop!! Mas cepat mandi! Rio cepat duduk!”
Keduanya menuruti perintah Mia dengan patuh membuat yang lainnya tersenyum menahan tawa. Mia bisa mengatasi segala bentuk keributan di dalam rumah itu.
------
Lewat setengah jam kemudian, sebuah mobil berhenti di depan rumah Alex. Alex yang sudah menunggu, segera berjalan keluar rumah melihat seseorang yang ia kenal berjalan memasuki pekarangan rumahnya bersama seseorang.
Alex : “Ronald, selamat datang di rumahku. Loh, Arnold?”
Ronald : “Kamu kenal Arnold? Ini anak keduaku, mirip aku kan?”
Alex : “Pantesan waktu ketemu aku merasa pernah melihatnya. Ayo masuk dulu.”
Ronald : “Rumahmu bagus, Lex. Kapan-kapan kau harus ke rumahku. Kita bisa berenang sepuasnya di sungai.”
__ADS_1
Alex : “Kau masih suka berenang? Aku sudah lama tidak melakukannya.”
Ronald : “Sepertinya kesempatanku untuk mengalahkanmu akhirnya tiba ya, aku sudah berlatih setiap hari.”
Alex : “Kita lihat nanti. Ayo duduk dulu.”
Mia dan Rara berjalan ke ruang tamu membawakan teh dan kue. Rara berkonsentrasi membawa nampan agar tidak jatuh, ia belum terlalu terbiasa melakukannya. Mia tersenyum pada Ronald dan Arnold, ia sedikit terkejut melihat Arnold duduk disana, tapi ia tidak mau mengganggu konsentrasi Rara.
Mia menyuguhkan teh dan kue untuk mereka bertiga dan Alex memperkenalkan Mia sebagai calon istrinya.
Ronald : “Wah, calon istrimu cantik sekali ya, Lex. Kapan kalian menikah?”
Alex : “Sekitar 2 bulan lagi…”
Mia melirik Alex malu, duda satu ini sudah tidak sabar mengganti status di KTP-nya. Bagaimana dengan Rara, setelah nampan yang dipegangnya kosong, ia mulai memperhatikan tamu yang duduk di ruang tamunya. Deg! Itu kak Arnold, Rara mulai salah tingkah. Lengannya menyenggol lengan Mia yang tetap berdiri di sampingnya.
Mia merasakan kode dari Rara dan bertanya pada Arnold,
Mia : “Arnold kok bisa disini juga?”
Ronald : “Ini anak keduaku, Mia. Kalian sudah saling kenal?”
Mia : “Kami kuliah di kampus yang sama, pak Ronald.”
Ronald : “Wah, wah banyak kejutan malam ini ya. Dan siapa gadis manis ini?”
Arnold : “Rara, apa kabar?”
Semua orang menatap Rara dan Arnold yang sudah saling menatap bahkan sejak saat Rara memberi kode pada Mia. Mia, Alex, dan Ronald senyum-senyum sendiri menyadari ada aura yang berbeda diantara Rara dan Arnold.
Ronald : “Ehhemm.. Kalian juga saling kenal ya.”
Arnold : “Kami kuliah di kampus yang sama.”
Rara : “Saya Rara, om. Kak Ronald senior di kampus Rara.”
Ronald : “Ah, bagus sekali. Kalian berdua bisa ngobrol, jadi kita bisa ngobrol tanpa gangguan, Lex.”
Mia : “Iya, kalian bisa ngobrol di teras. Rara, bawa tehnya ke teras ya. Mama ambilkan kue lagi.”
Rara mengikuti kata-kata Mia, dan Arnold sudah duluan keluar. Ia duduk di teras rumah Rara yang asri. Rara
meletakkan teh diatas meja.
Arnold : “Rumahmu bagus, Ra.”
Rara : “Makasi, kak. Kakak minum dulu tehnya.”
Arnold : “Dari sini ke kampus, jauh gak?” Arnold meraih cangkir teh dan meminumnya.
Rara : “Gak juga, kak. Sekitar 15 menit kalau macet.”
Arnold : “Dari sini enakan bawa motor apa mobil?”
Rara : “Rara biasanya naik ojol, kak. Lebih cepat. Kalo kakak tinggal dimana?”
Arnold : “Kemarin sich masih di hotel, papa baru beli apartment deket kantor. Mungkin lusa baru bisa ditempati.”
Rara : “Kakak ini senior di kampus, tapi kok Rara gak pernah lihat ya?”
__ADS_1
Arnold : “Aku habis kecelakaan, Ra. Jadi aku kuliah lewat video call, sambil kerja bantuin papa.”
Rara : “Parah banget ya kak?”
Arnold : “Lumayan lah. Kamu semester berapa?”
Rara : “Semester 4, kak. Kakak sendiri uda mau wisuda kan? Abis lulus, kakak mau kerja dimana?”
Arnold : “Aku mau nerusin perusahaan papa disini.”
Mia yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka dari balik pintu, segera keluar membawa teh dan kue untuk mereka.
Mia : “Ini teh sama kuenya, silakan dicoba. Lanjutkan ngobrolnya ya, mama mau kedalam dulu.”
Arnold mengucapkan terima kasih, begitu juga Rara yang terlihat malu-malu saat Mia mengambil nampan dari
tangannya.
Arnold : “Mamamu muda sekali ya.”
Rara : “Maksud kakak, mama Mia? Mama Mia itu mama tiriku, kalau mama kandungku sudah meninggal, kak.”
Arnold : “Ah, sorry. Aku gak tahu.”
Rara : “Gak pa-pa, kak. Silakan dimakan kuenya.” Rara menyerahkan piring kue pada Arnold.
Arnold : “Enak. Kau yang buat?”
Rara : “Bukan, kak. Nenek yang buat, Rara belum bisa.”
Arnold : “Harusnya kamu belajar membuatnya. Siapa tahu buatanmu lebih enak.”
Arnold dan Rara terus ngobrol sampai Ronald menginterupsi mereka karena jam sudah menunjukkan jam 9 malam. Mereka harus segera berangkat ke kota M.
Arnold menyerahkan ponselnya pada Rara,
Arnold : “Minta nomormu, kita belum selesai ngobrol tadi.”
Alex dan Mia cuma saling pandang, Arnold bahkan tidak malu-malu meminta nomor telpon Rara didepan orang tuanya. Setelah Rara menyerahkan ponselnya kembali, Arnold menelpon ke ponsel Rara,
Rara : “Kak, ponselku di kamar.”
Arnold : “Nomorku sudah masuk ya. Sampai jumpa, Rara. Om Alex, mama Mia terima kasih atas keramahannya.”
Ronald menerima kotak kue yang disodorkan Mia dan mereka masuk ke mobilnya. Rara melambaikan tangan pada
Arnold dan tetap berdiri di depan gerbang rumahnya sampai mobil Arnold menghilang di tikungan.
Mia : “Sayang, ayo masuk dulu. Mama pulang dulu ya.”
Rara memeluk Mia, menyembunyikan rona bahagia di wajahnya. Mia juga tersenyum melihat kemajuan dalam hubungan Rara dan Arnold.
-------
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.
Sama vote poin untuk karya author yang ini ya. Caranya lihat detail dan klik vote.
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
--------