
Terus gimana?
Alex tersenyum penuh kemenangan saat Mia
hanya pasrah mengikuti kemauannya. Setelah selesai, Mia memakai baju tidurnya
dan beranjak ke luar kamar menuju dapur. Ia melihat Gadis berdiri di depan
kulkas. “Gadis, kamu belum tidur?”
“Mama juga belum tidur. Gadis mau minum
susu sambil nunggu Rio tidur.”
“Oh, emang kenapa?”tanya Mia. Ia mengambil
panci untuk memanaskan susu segar.
“Itu, mah. Rio suka mancing-mancing,
pegang-pegang sembarangan. Gadis gak bisa ngelawan kalau uda pengennya.”
“Kok sama ya. Papanya juga gitu.”
Kedua wanita itu terkikik geli sendiri
menyadari kemesuman pasangan mereka. Setelah susu cukup panas, Mia
menuangkannya ke dalam dua gelas.
“Gadis, apa kamu bahagia sama Rio?”
“Iya, mah. Kenapa mama nanya gitu?”
“Kamu harus lebih sabar menghadapi dia ya.
Anak itu lebih emosian setelah kepergian Kaori. Dia juga jadi lebih tertutup.
Kalau gak dipaksa, gak mau bilang kalau punya masalah. “
Gadis menatap sosok Mia sementara wanita
didepannya itu terus bercerita tentang awal dirinya mengenai Rio. Usia Mia memang
masih muda tapi kedewasaannya sangat jelas dirasakan Gadis. Gadis berharap
suatu saat nanti ia bisa jadi ibu yang baik seperti Mia.
Gadis masuk kembali ke kamar Riri. Ia
melirik Rio yang sepertinya sudah tidur. Ketika Gadis berbaring di sampingnya,
Rio tiba-tiba membalik tubuhnya. “Kamu darimana?”
“Kamu belum tidur? Aku habis minum susu
tadi.”
Rio menatap Gadis lekat-lekat membuat wanita
itu mulai takut akan diserang lagi. “Rio, ki...kita tidur aja ya. Aku udah ngantuk.”
“Gadis, nanti kalau kita udah sah, aku mau
tiap hari ya.”
“Iya.”Gadis mengangguk agar dia bisa cepat
tidur.
“Trus, kalau kamu habis halangan, aku boleh
minta jatah double ya.”
“Iya.”
“Beneran?”
“He-eh.”
Entah permintaan aneh apalagi yang
dilontarkan Rio, Gadis hanya bisa mengiyakan semuanya tanpa berpikir. Ia sudah
sangat mengantuk dan akhirnya ketiduran juga. Rio menatap wajah Gadis yang
tidak lagi menjawab pertanyaannya. Ia mengusap kepala Gadis sebentar dan
mencium keningnya. “Selamat tidur, Gadis. Mimpiin aku ya.” Entah mendengar atau
tidak, Gadis tersenyum dalam tidurnya.
*****
__ADS_1
Dibelahan bumi yang lain, Lili sudah
didudukkan di tempat tidur kamar pengantinnya dengan Dion. Jantungnya berdetak
tak beraturan, bahkan melihat kamar itu dihias dengan sangat indah, tidak mampu
membuat Lili berhenti gelisah.
Lili tersentak saat pintu kamar Dion
terbuka. Dion masuk ke sana sambil membawa jasnya yang ia sampirkan ke bahunya.
Mereka saling bertatapan sebelum Dion menutup pintu kamar dan menguncinya. Dion
melangkah dengan santai mendekati Lili. Ia merebahkan tubuhnya yang sedikit
lelah diatas tempat tidur, membuat kelopak mawar yang memenuhi tempat tidur
saat itu berhamburan mengenai Lili.
“Dion, kamu gak mandi?”bisik Lili sambil
meremas-remas tangannya.
“Iya, bentar. Kamu kok belum mandi?”
Tubuh Lili menegang saat Dion menyentuh
punggungnya. “Apa kamu gak bisa buka bajunya? Mau kubantu?”bisikan lirih Dion
di telinga Lili membuatnya semakin gugup. “Jangan takut, sayang. Aku gak akan
maksa kalau kamu belum siap. Sekarang mandi dulu ya. Kamu harus istirahat.”
Lili jelas merasa bersalah kalau sampai
Dion tidak mendapatkan haknya malam ini. Ia menarik nafas panjang
berulang-ulang sebelum meminta Dion membantunya melepaskan baju pengantinnya.
“Dion, gendong aku ke kamar mandi.”pinta
Lili malu-malu.
Dion ikutan melepas baju pengantinnya.
Mereka menghabiskan waktu setengah jam di kamar mandi untuk membersihkan diri. Keduanya
mengeringkan rambut masing-masing.
Dion tidak banyak bicara seperti biasanya,
ia hanya mengeringkan rambutnya sambil menunduk. Lili merasakan Dion sedikit
berubah setelah mereka masuk ke dalam kamar. Ia duduk di samping Dion, mencuri
pandang ke arah suaminya.
”Apa yang harus kulakukan? Ini pertama
kalinya kami sekamar setelah sah sebagai suami istri, tapi sepertinya Dion
tidak ingin menyentuhku. Jadi buat apa kami menikah kalau gini akhirnya.”
Lili menahan tangisannya, ia menarik nafas
panjang agar isak tangisannya tidak terdengar Dion. Dirinya memang sudah kotor,
seharusnya Dion tidak perlu menikahinya hanya karena kasihan. Dion yang
menyadari tubuh Lili menggigil, menyentuh pundak istrinya itu. “Sayang? Kamu
kedinginan?”
Betapa terkejutnya ia ketika melihat wajah
Lili penuh dengan air mata yang terus mengalir dari pelupuk matanya. “Kamu
kenapa? Dimana yang sakit?”
Dion memeluk Lili dengan erat, wanita itu
menangis tersedu-sedu meluapkan emosinya tanpa berkata apa-apa. Setelah
beberapa saat, Lili tenang kembali. Dion memberinya minum air, “Kamu kenapa,
sayang? Kenapa nangis?”
“Kita seharusnya gak usah nikah, Dion. Aku
gak perlu kamu kasihani karena kondisiku begini. Hiks.”
“Kamu ngomong apa?!”bentak Dion gusar. Ia
__ADS_1
mendorong tubuh Lili hingga terbaring ke atas ranjang. Kelopak bunga mawar
mengenai wajah Lili dan menempel di wajahnya yang basah.
“Buat apa kita nikah kalau kamu tidak mau
menyentuhku!”bentak Lili juga.
Dion terperangah, jadi karena itu, “Aku bukannya
gak mau nyentuh kamu, tapi aku gak tau gimana caranya.”
Lili bengong mendengar jawaban Dion, “Apa?”
”Pria paling mesum yang selalu ingin tidur
dengannya ini, gak tahu caranya bercinta? Omong kosong!”
“Bukannya kamu udah pernah?”
“Sama siapa? Kucing? Sejak umurku 12 tahun
wajahku sudah hancur begini, siapa juga wanita yang mau bercinta denganku.”
“Tapi caramu nyentuh aku selama ini
terlihat sangat profesional.”Lili juga ikutan bingung.
“Ya, aku cuma tahu sampe sana. Habis itu
gimana?”
“Masa kamu gak pernah nonton film gituan
sich?”tanya Lili penasaran, jadi selama ini Dion kemana aja.
“Pernah sich, tapi sampe pemanasan doang.
Aku takut kecanduan main sendiri.”
“Trus gimana sekarang?”
“Aku sering denger Riri cerita sama kamu
soal dia sama Elo. Coba kamu praktekin.”
Wajah Lili langsung merah semerah-merahnya.
Ia mengibaskan tangannya dengan kecepatan penuh karena sekitarnya tiba-tiba
terasa sangat panas. Apalagi Dion sudah membuka bathrobe-nya.
“Ayo, cepat. Mumpung masih bugar.”
“Bentar aku mau ambil minum dulu. Ntar
haus, malu kalau keluar kamar.”
Lili berjalan keluar dari kamar menuju
dapur. Ia tidak melihat kalau Elo dan Riri masih menonton TV di ruang tengah. “Eh,
pengantin baru kenapa keluar kamar?”tanya Riri.
“Anu... Nona, saya mau ambil air dulu.”
“Bawa teko sekalian, Li. Biar puas
minumnya.”goda Elo sambil nyengir. “Kita aja ampe habis satu teko kan, yank.”Riri
ikutan senyum-senyum mengingat malam pertama mereka yang panas.
Lili cuma bisa senyum malu. Ia beneran
membawa teko dan satu gelas air.
Di dalam kamar, Dion masih setia
menunggunya diatas ranjang pengantin mereka dengan pose yang sensual. Lili
menatap Dion yang juga menatapnya. Ia melepas bathrobe-nya juga dan bergabung
dengan Dion.
Selanjutnya silakan bayangin masing-masing
ya. Author juga gak tau mereka ngapain.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.
__ADS_1