Duren Manis

Duren Manis
Terus gimana?


__ADS_3

Terus gimana?


Alex tersenyum penuh kemenangan saat Mia


hanya pasrah mengikuti kemauannya. Setelah selesai, Mia memakai baju tidurnya


dan beranjak ke luar kamar menuju dapur. Ia melihat Gadis berdiri di depan


kulkas. “Gadis, kamu belum tidur?”


“Mama juga belum tidur. Gadis mau minum


susu sambil nunggu Rio tidur.”


“Oh, emang kenapa?”tanya Mia. Ia mengambil


panci untuk memanaskan susu segar.


“Itu, mah. Rio suka mancing-mancing,


pegang-pegang sembarangan. Gadis gak bisa ngelawan kalau uda pengennya.”


“Kok sama ya. Papanya juga gitu.”


Kedua wanita itu terkikik geli sendiri


menyadari kemesuman pasangan mereka. Setelah susu cukup panas, Mia


menuangkannya ke dalam dua gelas.


“Gadis, apa kamu bahagia sama Rio?”


“Iya, mah. Kenapa mama nanya gitu?”


“Kamu harus lebih sabar menghadapi dia ya.


Anak itu lebih emosian setelah kepergian Kaori. Dia juga jadi lebih tertutup.


Kalau gak dipaksa, gak mau bilang kalau punya masalah. “


Gadis menatap sosok Mia sementara wanita


didepannya itu terus bercerita tentang awal dirinya mengenai Rio. Usia Mia memang


masih muda tapi kedewasaannya sangat jelas dirasakan Gadis. Gadis berharap


suatu saat nanti ia bisa jadi ibu yang baik seperti Mia.


Gadis masuk kembali ke kamar Riri. Ia


melirik Rio yang sepertinya sudah tidur. Ketika Gadis berbaring di sampingnya,


Rio tiba-tiba membalik tubuhnya. “Kamu darimana?”


“Kamu belum tidur? Aku habis minum susu


tadi.”


Rio menatap Gadis lekat-lekat membuat wanita


itu mulai takut akan diserang lagi. “Rio, ki...kita tidur aja ya. Aku udah ngantuk.”


“Gadis, nanti kalau kita udah sah, aku mau


tiap hari ya.”


“Iya.”Gadis mengangguk agar dia bisa cepat


tidur.


“Trus, kalau kamu habis halangan, aku boleh


minta jatah double ya.”


“Iya.”


“Beneran?”


“He-eh.”


Entah permintaan aneh apalagi yang


dilontarkan Rio, Gadis hanya bisa mengiyakan semuanya tanpa berpikir. Ia sudah


sangat mengantuk dan akhirnya ketiduran juga. Rio menatap wajah Gadis yang


tidak lagi menjawab pertanyaannya. Ia mengusap kepala Gadis sebentar dan


mencium keningnya. “Selamat tidur, Gadis. Mimpiin aku ya.” Entah mendengar atau


tidak, Gadis tersenyum dalam tidurnya.


*****

__ADS_1


Dibelahan bumi yang lain, Lili sudah


didudukkan di tempat tidur kamar pengantinnya dengan Dion. Jantungnya berdetak


tak beraturan, bahkan melihat kamar itu dihias dengan sangat indah, tidak mampu


membuat Lili berhenti gelisah.


Lili tersentak saat pintu kamar Dion


terbuka. Dion masuk ke sana sambil membawa jasnya yang ia sampirkan ke bahunya.


Mereka saling bertatapan sebelum Dion menutup pintu kamar dan menguncinya. Dion


melangkah dengan santai mendekati Lili. Ia merebahkan tubuhnya yang sedikit


lelah diatas tempat tidur, membuat kelopak mawar yang memenuhi tempat tidur


saat itu berhamburan mengenai Lili.


“Dion, kamu gak mandi?”bisik Lili sambil


meremas-remas tangannya.


“Iya, bentar. Kamu kok belum mandi?”


Tubuh Lili menegang saat Dion menyentuh


punggungnya. “Apa kamu gak bisa buka bajunya? Mau kubantu?”bisikan lirih Dion


di telinga Lili membuatnya semakin gugup. “Jangan takut, sayang. Aku gak akan


maksa kalau kamu belum siap. Sekarang mandi dulu ya. Kamu harus istirahat.”


Lili jelas merasa bersalah kalau sampai


Dion tidak mendapatkan haknya malam ini. Ia menarik nafas panjang


berulang-ulang sebelum meminta Dion membantunya melepaskan baju pengantinnya.


“Dion, gendong aku ke kamar mandi.”pinta


Lili malu-malu.


Dion ikutan melepas baju pengantinnya.


Mereka menghabiskan waktu setengah jam di kamar mandi untuk membersihkan diri. Keduanya


mengeringkan rambut masing-masing.


Dion tidak banyak bicara seperti biasanya,


ia hanya mengeringkan rambutnya sambil menunduk. Lili merasakan Dion sedikit


berubah setelah mereka masuk ke dalam kamar. Ia duduk di samping Dion, mencuri


pandang ke arah suaminya.


”Apa yang harus kulakukan? Ini pertama


kalinya kami sekamar setelah sah sebagai suami istri, tapi sepertinya Dion


tidak ingin menyentuhku. Jadi buat apa kami menikah kalau gini akhirnya.”


Lili menahan tangisannya, ia menarik nafas


panjang agar isak tangisannya tidak terdengar Dion. Dirinya memang sudah kotor,


seharusnya Dion tidak perlu menikahinya hanya karena kasihan. Dion yang


menyadari tubuh Lili menggigil, menyentuh pundak istrinya itu. “Sayang? Kamu


kedinginan?”


Betapa terkejutnya ia ketika melihat wajah


Lili penuh dengan air mata yang terus mengalir dari pelupuk matanya. “Kamu


kenapa? Dimana yang sakit?”


Dion memeluk Lili dengan erat, wanita itu


menangis tersedu-sedu meluapkan emosinya tanpa berkata apa-apa. Setelah


beberapa saat, Lili tenang kembali. Dion memberinya minum air, “Kamu kenapa,


sayang? Kenapa nangis?”


“Kita seharusnya gak usah nikah, Dion. Aku


gak perlu kamu kasihani karena kondisiku begini. Hiks.”


“Kamu ngomong apa?!”bentak Dion gusar. Ia

__ADS_1


mendorong tubuh Lili hingga terbaring ke atas ranjang. Kelopak bunga mawar


mengenai wajah Lili dan menempel di wajahnya yang basah.


“Buat apa kita nikah kalau kamu tidak mau


menyentuhku!”bentak Lili juga.


Dion terperangah, jadi karena itu, “Aku bukannya


gak mau nyentuh kamu, tapi aku gak tau gimana caranya.”


Lili bengong mendengar jawaban Dion, “Apa?”


”Pria paling mesum yang selalu ingin tidur


dengannya ini, gak tahu caranya bercinta? Omong kosong!”


“Bukannya kamu udah pernah?”


“Sama siapa? Kucing? Sejak umurku 12 tahun


wajahku sudah hancur begini, siapa juga wanita yang mau bercinta denganku.”


“Tapi caramu nyentuh aku selama ini


terlihat sangat profesional.”Lili juga ikutan bingung.


“Ya, aku cuma tahu sampe sana. Habis itu


gimana?”


“Masa kamu gak pernah nonton film gituan


sich?”tanya Lili penasaran, jadi selama ini Dion kemana aja.


“Pernah sich, tapi sampe pemanasan doang.


Aku takut kecanduan main sendiri.”


“Trus gimana sekarang?”


“Aku sering denger Riri cerita sama kamu


soal dia sama Elo. Coba kamu praktekin.”


Wajah Lili langsung merah semerah-merahnya.


Ia mengibaskan tangannya dengan kecepatan penuh karena sekitarnya tiba-tiba


terasa sangat panas. Apalagi Dion sudah membuka bathrobe-nya.


“Ayo, cepat. Mumpung masih bugar.”


“Bentar aku mau ambil minum dulu. Ntar


haus, malu kalau keluar kamar.”


Lili berjalan keluar dari kamar menuju


dapur. Ia tidak melihat kalau Elo dan Riri masih menonton TV di ruang tengah. “Eh,


pengantin baru kenapa keluar kamar?”tanya Riri.


“Anu... Nona, saya mau ambil air dulu.”


“Bawa teko sekalian, Li. Biar puas


minumnya.”goda Elo sambil nyengir. “Kita aja ampe habis satu teko kan, yank.”Riri


ikutan senyum-senyum mengingat malam pertama mereka yang panas.


Lili cuma bisa senyum malu. Ia beneran


membawa teko dan satu gelas air.


Di dalam kamar, Dion masih setia


menunggunya diatas ranjang pengantin mereka dengan pose yang sensual. Lili


menatap Dion yang juga menatapnya. Ia melepas bathrobe-nya juga dan bergabung


dengan Dion.


Selanjutnya silakan bayangin masing-masing


ya. Author juga gak tau mereka ngapain.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.

__ADS_1


__ADS_2