Duren Manis

Duren Manis
Menjebak


__ADS_3

Rara masih anteng duduk di sofa ruang kerja Arnold, sementara suaminya itu berkutat dengan pekerjaannya. Rara baru tahu kalau Arnold terlihat sangat keren saat bekerja.


Sesekali ia melirik ke arah Arnold sambil tersenyum malu. Setelah melewati malam pertama pernikahan, Rara merasa malu saat menatap Arnold.


Arnold yang merasa diperhatikan dari tadi, jadi gemas sendiri. Ia menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat sebelum asistennya datang untuk menagih dokumen yang sedang diperiksanya.


Rara memasang headset dan menyetel musik kesukaannya. Ia memejamkan matanya sambil merebahkan tubuhnya dengan santai di sofa.


Kepala dan tubuhnya bergerak seiring dentuman musik yang terdengar di telinganya. Mulutnya sesekali bersenandung riang mengikuti lirik lagu.


Tiba-tiba Rara merasakan seseorang duduk di sebelahnya, ia membuka mata dan melihat Arnold duduk di sampingnya. Arnold tersenyum manis, ia menarik headset dari telinga Rara,


Arnold : "Sayang, apa kau bosan?"


Rara : "Gak juga, mas. Kenapa? Apa ada sesuatu yang menarik?"


Arnold : "Kelakuanmu yang menarikku."


Rara : "Hmm??"


Arnold mendekati Rara, mulai mencium bibirnya. Tangan Arnold menggerayangi tubuh Rara yang ikut menggeliat kegelian.


Rara : "Maas... nanti ada yang masuk."


Arnold : "Biarkan saja, aku masih mau menciummu."


Rara memejamkan matanya mendapat perlakuan manis dari Arnold. Sampai-sampai mereka tidak menyadari ketukan pintu di ruang kerja Arnold.


Didepan pintu ruang kerja Arnold, Ronald saling menatap dengan asisten Arnold. Tidak ada jawaban dari dalam sana.


Ronald : "Menurutmu mereka berdua sedang apa?"


Ronald mengetahui kalau Rara sedang ada di dalam bersama Arnold. Ia jadi curiga dengan apa yang sedang dilakukan pengantin baru itu di dalam sana.


Asist. Arnold : "Mungkin sedang membuatkan bapak seorang cucu?"


Ronald : "Masa sich? Trus gimana nih?"


Asisten Arnold tersenyum lebar, miris dengan status jomblo akutnya. Pekerjaannya terlalu banyak sampai tidak punya waktu mengejar seorang gadis. Untung saja usianya masih cukup muda, setidaknya ia punya cukup waktu sebelum memutuskan menikah.


Ronald melirik jam tangannya, ia tidak bisa menunggu lagi. Akhirnya ia mengetuk pintu sekali lagi, dan membukanya perlahan.


Ronald : "Arnold, papa masuk ya."


Arnold : "Papa?! Tunggu bentar, pah. Ra, ke kamar mandi dulu sana."


Rara berlari ke kamar mandi, sambil membawa pakaiannya yang tadi dilucuti Arnold. Sementara Arnold kembali mengancingkan kemejanya yang terbuka sambil membelakangi pintu.


Arnold : "Masuk, pa."


Ronald berjalan masuk bersama asisten Arnold. Mereka sama-sama menahan senyum melihat penampilan Arnold. Ia salah mengancingkan kemejanya hingga penampilannya terlihat aneh.


Ronald : "Ehem... Arnold, kemejamu tuch."


Arnold menunduk melihat kemejanya dan segera membetulkannya sambil duduk di kursi kerjanya.


Asisten Arnold mengambil kertas-kertas yang berserakan di atas meja Arnold. Ronald menerima kertas-kertas itu dan menyimpannya di dalam tasnya.


Ronald : "Kalau kamu masih kurang, mending cuti dulu sana. Honeymoon kemana kek... Kan gak nyaman disini."


Arnold : "Apa sich, pah? Arnold gak ngapa-ngapain kok."


Ronald : "Trus kenapa Rara gak keluar-keluar?"


Arnold : "Bentar Arnold cek. Kebelet kali."

__ADS_1


Arnold mengetuk pintu kamar mandi dan memanggil Rara. Rara membuka pintu kamar mandi dan Arnold melongok ke dalam.


Arnold : "Kenapa? Kok gak keluar?"


Rara : "Malu, mas. Di leherku ada merah-merah."


Arnold : "Mana? Coba liat?"


Arnold ikut masuk ke kamar mandi, melupakan kalau papa dan asistennya sedang menunggunya.


Rara memperlihatkan lehernya pada Arnold, bukannya membantu menghilangkan bekas ciumannya, Arnold malah menambah bekas ciuman di tempat yang masih kosong.


Rara : "Maass...!!"


Arnold : "Tutupin aja pake rambutmu. Ayo keluar."


Rara menyampirkan rambutnya dengan cepat dan keluar mengikuti Arnold. Ronald masih menunggu mereka,


Rara : "Siang, pah."


Ronald : "Udah sore, Ra. Kamu baik-baik aja kan?"


Rara : "Baik, pah. Mmm... papa mau kopi?"


Ronald : "Ide bagus, kamu bisa buat kopi?"


Rara : "Bisa, pah. Bentar ya."


Rara mendekati meja kopi di sudut ruangan. Ia tahu cara membuat kopi karena terbiasa membuatnya untuk Alex.


Tak lama, Rara membawa secangkir kopi untuk Ronald.


Rara : "Ini, pah. Mas, mau minum sesuatu juga?"


Arnold : "Tolong ambilkan air putih ya."


Ronald : "Kalian gak mau honeymoon?"


Rara : "Honeymoon, pah?"


Arnold : "Pah, untuk sekarang kami belum bisa honey moon. Nanti saja habis Rara wisuda."


Rara mengangguk, ia belum bisa punya anak sekarang sebelum lulus kuliah.


Ronald : "Jadi kalian akan menunda punya momongan?"


Arnold : "Bisa dibilang gitu, pah. Kami mau menikmati pacaran dulu setelah nikah."


Ronald : "Hais... Ya sudahlah, terserah kalian saja. Papa harus pergi sekarang. Sampai jumpa."


Rara : "Sampai jumpa, pah."


------


Mia mengendarai mobil Alex keluar dari kantornya. Mobil hitam kembali mengikuti Mia, sementara Alex mengikuti mereka dengan mobil lain.


Alex sudah menelpon kenalannya di kepolisian untuk ikut mengintai mobil hitam yang mencurigakan itu.


Mia sengaja berhenti di sebuah supermarket untuk memancing pengendara mobil hitam itu keluar. Lagi-lagi seorang pria mendekati Mia, pura-pura sok kenal. Mia bertindak cepat mengarahkan pria itu ke dekat Alex.


Anehnya, pria itu seperti mengenali Alex dan bergerak menyingkir. Tapi Alex sudah menyiapkan seseorang untuk membekuk pria itu.


Mia dan Alex bergegas ke tempat parkir. Orang yang ditugaskan Alex sudah menangkap orang yang mengendarai mobil hitam itu.


Langkah Alex terhenti ketika melihat orang yang berdiri di dekat mobil hitam yang parkir di dekat mobilnya.

__ADS_1


Alex : "Stella?"


Mia : "Mas, dia kan yang ada dikantormu?"


Alex : "Apa maksud semua ini?"


Alex tidak habis pikir dengan apa yang ia lihat, bagaimana bisa rekan kerja yang ia percaya selama ini bisa melakukan hal kotor seperti ini.


Mereka berjalan lebih mendekat, Stella menatap Alex dan Mia dengan tatapan benci.


Alex : "Kenapa, Stella?"


Stella : "Harusnya kamu tanya dirimu, Lex. Sudah berapa kali kubilang aku suka sama kamu. Tapi kenapa kamu malah nikah sama dia!!"


Alex : "Aku cinta sama Mia, Ste. Aku hanya anggap kamu rekan bisnis, selama ini aku sudah cukup jelas mengatakan aku tidak punya perasaan apa-apa sama kamu."


Stella : "Kenapa kamu gak bisa suka sama aku? Apa kurangnya aku?"


Mia jadi kasihan melihat penderitaan Stella. Ia bisa merasakan hal yang sama saat terluka karena perasaan cinta yang tidak berbalas atau cinta yang terhalang restu. Sama-sama menyakitkan.


Meskipun akhirnya Mia dan Alex bisa bersatu, perjalanan cinta mereka bukan tanpa halangan.


Mia : "Mas, sudah... kasian dia..."


Alex : "Stella, aku tegaskan sekali lagi. Tolong jangan ganggu keluargaku, dan kerja sama kita berakhir sekarang juga. Aku tidak mau bertemu kamu lagi."


Stella : "Alex!! Kamu gak bisa melakukan ini, aku sayang sama kamu..."


Alex : "Itu urusanmu. Aku sudah punya istri dan aku gak mau rumah tanggaku hancur cuma gara-gara pihak ketiga."


Alex menarik tangan Mia agar menjauh dari Stella. Untuk selanjutnya, Stella tidak bisa mengganggu mereka lagi atau Alex akan melaporkannya ke polisi.


Mereka pergi naik mobil Alex kembali ke rumah. Selama dalam perjalanan, Alex lebih banyak diam. Mia ingin menanyakan sejak kapan ia kenal dengan Stella, tapi urung melihat ekspresi wajah Alex.


Mia mengalihkan pandangannya keluar jendela. Mungkin memang benar Alex mencintainya, tapi ia mulai merasa banyak rahasia yang disimpan Alex untuk dirinya sendiri.


Alex : "Tolong jangan berpaling..."


Mia : "Apa mas?"


Alex menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang cukup aman.


Alex : "Aku tidak menyimpan rahasia apapun darimu. Aku hanya tidak ingin menceritakan apapun yang kuanggap tidak penting."


Mia : "Mas, tidak penting buatmu tapi bisa menjadi ancaman untuk rumah tangga kita. Aku berharap ini yang terakhir, tapi aku jadi ragu tidak akan ada Stella yang lain lagi."


Alex : "Ada beberapa wanita seperti Stella, aku akan cerita saat mereka muncul lagi. Aku janji, oke?"


Mia diam tidak merespon apa-apa, ia sedikit kecewa pada suaminya itu. Alex mendekatkan dirinya, ia menunduk ingin mencium Mia tapi Mia malah mendorongnya.


Mia : "Mas, di rumah aja. Ntar dilihat orang."


Alex : "Ayo pulang..."


Mereka melanjutkan perjalanan sampai ke rumah.


------


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.

__ADS_1


--------


__ADS_2