
Menikahi Aunty Renata – Reynold & Renata 13
Renata memukuli lengan Ken karena tidak berhenti menggodanya. Pria itu tergelak dengan keras sampai membuat Kaori menoleh. Istri Ken itu langsung berbalik dan menanyakan apa Renata baik-baik saja. Ken mengatakan kalau Renata kepo dengan malam pertama mereka, membuat wajah Kaori bersemu merah.
"Aku hanya katakan yang sebenarnya, sayang. Lanjut ngobrolnya," pinta Ken dengan cengiran isengnya yang membuat Alex ingin menabok putra kandungnya itu.
Ken menatap Renata lagi yang sibuk menghabiskan teh hangatnya. Ia bisa menebak kalau apa yang tadi ia katakan, benar adanya. Hubungan antara Renata dan Reynold sudah jauh.
"Aku percaya kalau aunty hafal bentuk tubuh Reynold. Pernah melihatnya juga kan?" tebak Ken iseng. Masih saja ingin menggoda Renata.
"Nggak!! Mana mungkin!!" jerit Renata membuat Kaori kaget lagi.
Tujuan Ken berubah sedikit, ia ingin tahu apa yang Renata rasakan pada diri Reynold. Kalau ternyata Renata sudah jatuh cinta, Ken akan semakin mudah mengerjai Reynold. Ia masih belum ingin memberitahu yang sebenarnya karena masih dendam pada Reynold. Dulu ketika mereka bertemu pertama kali, sikap Reynold padanya sama sekali tidak baik. Hanya gara-gara Ken mendekati Renata saat itu, Reynold memperlakukannya seperti anak kecil. Sampai saatnya tepat nanti, Ken akan merahasiakan ini dari Reynold.
"Jadi, itu benar?" tanya Ken ambigu.
"Apanya, Ken? Aku nggak pernah... Kita ngomongin apa sich? Ini kan tentang Reynold yang mirip bosku," sengit Renata kesal.
Ken cengengesan, sifat isengnya masih saja melekat meskipun sudah menikah dengan Kaori. Ia memasukkan sepotong cake buatan Mia ke dalam mulutnya. Lalu mulai menghabiskan cake itu sampai tersisa sepotong saja untuk Kaori. Renata menatap potongan terakhir cake diatas meja, ia sudah tidak ingin makan lagi.
"Ken, kamu niat nggak sich nanyanya. Gimana menurutmu?" tanya Renata minta pendapat.
"Kenapa tanya lagi? Aunty tahu kan wajah Reynold. Muka tengil nyebelin itu sama mukanya bos aunty. Tinggal dilihat mirip atau nggak kan? Mana ada dua orang yang sama di dunia ini kecuali memang kembar, kan? Memangnya tante Rara melahirkan Reynold, kembar? Atau jangan-jangan memang ada anak yang terbuang?" sahut Ken mencoba berteori ala sinetron.
Renata menimpuki Ken dengan bantal sofa, memintanya serius sedikit. Ken mengeluh kalau dirinya dianiaya Renata, pada Kaori. Istrinya menoleh sebentar sambil tersenyum manis. Ken yang tergoda melihat senyuman Kaori, menggombali istrinya lagi. "Yank, udahan ngobrolnya. Sini duduk, cium," pinta Ken memonyongkan bibirnya ke arah Kaori.Renata malah menimpuk Ken dengan bantal sofa lagi, lalu mendengus kesal dan berjalan ke kamarnya di mansion Ken.
"Aunty, belum selesai ceritanya ini. Kenapa bisa nggak tahu bedanya?" tanya Ken sambil mengejar Renata. Ia tidak mau kehilangan informasi sedikitpun.
"Bosku pakai topeng, Ken. Wajah aslinya nggak keliatan. Tapi mereka benar-benar mirip," ucap Renata menghentikan langkahnya.
“Kok bisa pakai topeng? Wajahnya kenapa?” tanya Ken kepo.
“Entahlah. Katanya pernah kecelakaan gitu. Wajahnya rusak. Jadinya pakai topeng. Ada kok beritanya bertahun-tahun lalu,” jelas Renata.
Bibir Ken membentuk huruf O tanpa suara. Ia memikirkan sesuatu untuk menguji dugaan Renata. Sedikit gila, Ken mengusulkan pada Renata untuk melukai salah satu dari mereka. Gadis itu ternganga tak percaya dengan usulan Ken yang menurutnya keterlaluan.
"Kau sudah gila. Bagaimana bisa aku membuat mereka terluka?" tanya Renata gemas.
"Hanya luka yang bisa membuktikan kalau mereka orang yang sama. Kecuali kembar ya," sahut Ken cerdas.
__ADS_1
Renata mendengus setuju dengan usul Ken. Tapi tetap saja melukai Reynold atau bosnya, membuat Renata tidak tega. Ia balik lagi ke sofa lalu meminum tehnya sampai habis. Kaori yang sudah selesai bicara dengan opa Alex, bergabung dengan mereka. Ia bertanya apa yang terjadi karena melihat Renata cemberut. Ken yang masih ingin menggoda Renata, bercerita dengan sedikit dramatis. Renata semakin cemberut, bersidekap sambil melirik Ken dengan kesal.
"Aku rasa usulan Ken ada benarnya, aunty. Bisa jadi bukti juga kan?" kata Kaori sambil bersandar di pundak Ken.
"Trus, aku harus nglukain yang mana? Kalau bosku, aku bisa dipecat. Tapi kalau kak Rey, nggak tega. Gimana dong?" tanya Renata bingung.
Kaori dan Ken saling pandang, lalu kompak menjawab Renata harus melukai Reynold. Renata termenung lagi, memikirkan cara melukai Reynold tanpa terlihat sengaja. Matanya menatap Ken dan Kaori silih berganti, ia minta saran bagaimana cara melukai Reynold. Tidak mungkin dirinya membawa pisau atau benda tajam lalu menghunuskannya ke arah Reynold tanpa alasan.
Ken menepuk tangannya dengan keras, ia mengatakan kalau tidak berani melukai Reynold, Renata bisa menggigit leher pria itu. Renata bengong dengan ide ajaib Ken. Ia masih bingung bagaimana cara menggigit leher Reynold. Dirinya bukan vampir dan tidak punya pengalaman berbuat seperti itu.
“Gampang kok. Aunty cukup pakai baju seksi, deketin Reynold, trus gigit lehernya,” kata Ken dengan gampangnya.
“Nggak mau! Entar aku diapa-apain sama kak Rey... eh, maksudku... nggak ada cara lain ya?” tanya Renata semakin galau.
Ken dan Kaori kompak mengangkat kedua bahu mereka lalu tersenyum menatap Renata. Gadis itu semakin stress karena usulan Ken dan memilih memikirkan cara lain untuk menyelidiki kebenaran antara Reynold dan direktur FoRena Group.
**
Malam semakin larut, Ken dan Kaori kembali ke kamar mereka. Renata yang masih ingin duduk di depan televisi, melirik ponselnya yang berdengung sejak tadi. Reynold menelponnya tapi Renata tidak mengangkatnya, ia tidak ingin bicara dengan pria itu dulu. Dengungan ponsel mulai mengganggu gadis itu. Ia duduk bersandar pada sofa, lalu menekan icon hijau. Sambungan berubah menjadi video call. Wajah tampan Reynold muncul di layar ponsel Renata.
[]"Aunty, kemana aja sich? Aku telpon dari tadi, tapi nggak diangkat," protes Reynold.
[]"Kak Rey, diam. Ssttt! Jangan berisik kenapa sich. Aku cuma nggak ngangkat telpon. Bukannya menghilang, okey," ucap Renata malas.
[]"Atau apa? Apa yang bisa kakak lakukan? Apa? Kakak tidak bisa apa-apa kan. Kenapa aku harus selalu ada buat kakak? Aku juga punya kehidupan sendiri, kak," racau Renata.
[]"Ren, kamu kenapa? Apa yang terjadi? Tolong jangan menangis. Aku segera kesana," kata Reynold panik.
Renata melihat wajah Reynold yang panik ketika melihat dirinya meneteskan air mata. Pria itu tampak berjalan mendekati pintu keluar, mengambil kunci mobilnya. Lalu mengarahkan kamera ponsel ke wajahnya lagi.
[]"Tunggu, aku segera kesana," ucap Reynold tanpa mematikan sambungan telpon.
[]"Kak, ini sudah malam. Tidurlah. Kita ketemu besok ya," pinta Renata sambil beranjak ke kamarnya.
Reynold menatap wajah sendu Renata yang terlihat lelah. Sesungguhnya ia juga sibuk memeriksa program terbaru perusahaan, tapi Reynold kuatir pada Renata yang terlihat berbeda. Akhirnya pria itu minta agar sambungan video call tidak dimatikan. Renata meletakkan ponselnya di atas nakas, menghadap ke tempat tidurnya. Ia ingin mengganti pakaiannya dulu sebelum tidur.
[]"Ren, kamu lagi ngapain?" tanya Reynold saat tidak bisa melihat wajah Renata.
[]"Bentar, kak. Aku lagi ganti baju," sahut Renata.
__ADS_1
Terdengar suara air dari dalam kamar mandi. Tangan Reynold sudah gatal ingin mengaktifkan SPIKE, tapi ia berubah pikiran. Reynold memilih menunggu Renata keluar dari kamar mandi. Ia harus tahu apa yang sudah terjadi ketika Renata tidak ada bersamanya.
Renata tampak sudah duduk di atas tempat tidur. Ia merapikan rambutnya sambil menatap Reynold di layar ponselnya. Keduanya saling pandang, menatap tanpa kata. Entah apa yang ingin dikatakan Renata, gadis itu tidak punya keberanian untuk mengatakan apa-apa setelah tingkahnya tadi. Sesungguhnya, Renata hanya stress karena memikirkan perasaannya yang mulai berubah terhadap Reynold.
[]”Aunty, ada apa? Kenapa nangis? Aku ada salah?” tanya Reynold bertubi-tubi.
[]”Aku nggak tahu, kak. Aku mau tidur dulu ya,” kata Renata sambil berbaring membelakangi Reynold.
[]”Ya, sudah. Istirahat ya, Ren,” ucap Reynold sendu.
Tiba-tiba Renata berbalik, menatap sengit pada Reynold yang masih menatapnya lewat layar ponsel. []”Ren, Ren. Aku ini tantemu, kak. Bisa nggak sich tetap panggil aku aunty Renata!” pinta Renata.
Reynold terdiam, ia benar-benar bingung dengan sikap Renata yang galak dan sensitif. Gadis itu sudah melewati masa-masa PMS bulan ini. Jadi apa yang membuat Renata marah-marah padanya.
[]”Aunty, aku minta maaf,” ucap Reynold lalu mematikan sambungan video.
Renata panik melihat layar ponselnya menghitam, ia mengambil ponsel itu lalu mengecek baterainya. Masih tersisa delapanpuluh persen. Tidak mungkin sambungan video call bisa terputus begitu saja.
“Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan?” sesal Renata. Dirinya cukup stress dengan godaan Ken dan rasa penasarannya hingga melampiaskan amarahnya pada Reynold yang tidak tahu apa-apa. “Hubungan seperti apa yang kamu harapkan, Ren. Lebih baik belajarlah menjauh sekarang.”
Renata menatap layar ponselnya, ia membuka aplikasi chat lalu melihat beberapa chat masuk dari temannya, Merry, dan juga nomor asing yang tidak dikenal. Keningnya mengerut membuka chat tanpa nama itu.
[M]”Malam, Renata. Aku Abdi. Boleh kita ngobrol sebentar?” Abdi masih saja belum menyerah meskipun Renata sudah menghindar darinya.
Renata menimbang ingin membalas chat itu, tapi ia memilih mengabaikannya. Terus terang, Renata tidak suka dengan laki-laki yang ingin mendekatinya lebih dari sekedar teman. Ia ingin memilih pasangannya sendiri yang benar-benar ia cintai dan mencintainya. Apalagi saat ini ia sedang fokus meniti karirnya yang bahkan belum dimulai. Helaan nafas berat menemani Renata kembali keatas tempat tidurnya.
“Mungkin bu Merry bisa membantuku,” lirih Renata sambil membuka chat dari Merry.
[M]”Ren, apa aku mengganggu malam-malam begini? Aku ingin curhat,” ketik Merry.
[M]”Ada apa, bu? Kenapa gawat sekali? Apa terjadi sesuatu dengan pak Alfian?” balas Renata cepat.
Ponsel Renata berdering, ibu Merry calling. Renata segera mengangkatnya dan mendengar suara Merry yang nyaris tercekat. Hal yang mengejutkan Renata adalah permintaan maaf Merry yang terdengar sangat menyedihkan. Apa salah wanita itu padanya? Renata bahkan tidak menemukan hal yang bisa membuat Merry meminta maaf seperti itu.
[]”Saya nggak paham, bu. Ada apa sebenarnya?”
Merry terdengar menarik nafas panjang sebelum mulai bercerita. Kemarin ia mendapatkan memo dari direktur tentang mutasi untuk Abdi. Pria itu akan dimutasi ke kantor cabang yang cukup jauh letaknya dari negara A. Abdi tidak terima dengan surat mutasi itu dan mengancam Merry.
[]”Apa?! Mengancam bagaimana, bu? Apa ibu baik-baik saja?” tanya Renata kuatir.
__ADS_1
[]”Iya, aku nggak apa-apa, Ren. Tapi Abdi minta agar aku membantunya membatalkan surat mutasi itu atau... foto dan video... akan tersebar di kantor,” kata Merry terbata-bata.
Renata menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung mendengar kata-kata Merry. Foto apa? Video apa?