Duren Manis

Duren Manis
Jalinan kembar


__ADS_3

Hanya itu yang dikatakan Riri sebelum ia pingsan di


pelukan Elo. Elo langsung panik melihat Riri pingsan. Ia menggapai telpon di


atas nakas dan meminta Pak Kim memanggil dokter. Elo membaringkan Riri diatas


tempat tidur. Ia berlari ke pintu kamar untuk membuka kuncinya sambil memakai


bathrobe, Pak Kim sudah sampai di depan kamarnya.


Pak Kim : “Ada apa, tuan muda?”


Elo : “Riri pingsan, pak Kim!”


Pak Kim masuk ke kamar Elo, ia membawa kotak P3K


dan mengeluarkan minyak kayu putih. Elo membantu Pak Kim memberikan pertolongan


pertama pada Riri. Dokter pribadi keluarga datang dengan segera dan langsung


memeriksa Riri.


Dokter itu mengatakan tubuh Riri tidak apa-apa,


seharusnya tidak sampai pingsan. Dokter menanyakan apa yang terjadi sebelumnya.


Elo menunjukkan bekas lupa di jempol Riri dan tiba-tiba ia merasa kesakitan


terakhir menyebut nama kembarannya.


Dokter : “Ini mungkin terdengar tidak masuk akal,


tapi coba telpon kembarannya. Tanyakan apa dia baik-baik saja.”


Elo mengambil ponselnya, ia mencoba menelpon Rio,


tapi tidak ada yang mengangkat telponnya. Elo mengambil ponsel Riri, ia mencari


nomor kontak Kaori disana dan menelpon Kaori. Tetap tidak ada yang


mengangkatnya.


Elo : “Mungkin mereka masih sibuk, dokter. Kapan


istri saya akan bangun?”


Dokter : “Seharusnya dia sudah sadar sekarang.”


Benar saja, Riri perlahan membuka matanya, tapi ia


langsung menangis dengan sedih.


Riri : “Rio... Rio...”


Riri hampir bangun, tapi Elo keburu menahannya


tetap berbaring. Riri menarik-narik bathrobe Elo, ia merengek ingin bertemu Rio


sekarang. Lili yang mendengar nona-nya pingsan, segera berlari masuk ke kamar.


Lili : “No... nona.”


Hati Lili sakit melihat Riri menangis sangat sedih.


Ia seperti kehilangan sesuatu yang berharga.


Elo : “Lili, tolong hubungi Rio. Sampai dia


mengangkat telponnya.”


Lili : “Baik, tuan muda.”


Lili menerima ponsel Riri dan mulai menelpon Rio


terus menerus.


*****


Ponsel Rio terus berbunyi tapi pemiliknya tidak


menghiraukannya. Ia sedang diam terpaku di sudut kamar Kaori, menatap tubuh Kaori

__ADS_1


yang mulai kehilangan cahayanya. Mata Rio basah oleh air mata, sejak terbangun


dan mendapati tubuh kekasihnya tidak bergerak, air mata itu sudah jatuh.


Mama dan papanya terus memanggil-manggil nama Kaori


sambil sesekali mengguncang tubuh putri bungsu mereka. Tapi Kaori tidak


bergeming. Jodi berusaha menelpon dokter agar segera datang membawa ambulance


sambil memegangi Katty yang hampir pingsan.


Rio : “Ini salahku...”


Jodi mendengar gumaman Rio dan berteriak memanggil


namanya.


Jodi : “Rio!! Bangun! Buka pintu depan, ambulance


segera sampai! Bangun!”


Rio : “Ini salahku...”


Jodi terpaksa meninggalkan Katty yang terduduk di


lantai dekat lemari Kaori. Ia mencengkeram kaos Rio dan menariknya bangkit.


Jodi : “Kaori tidak apa-apa! Rio! Sadarkan dirimu!


Cepat buka pintu depan!”


Guncangan Jodi menyadarkan Rio, ia segera berlari


keluar kamar dan membuka lebar pintu depan. Tepat saat ambulance tiba dan


petugas medis masuk bersama dokter pribadi Jodi. Jodi mengangkat Katty dan


mendudukkannya di sofa depan.


Jodi : “Sayang... tegarlah. Demi anak kita.”


Jodi benar-benar takut saat mendengar teriakan Rio


karena bangun dengan buru-buru. Ketika mereka sampai di kamar Kaori, papa dan


mama Katty sedang berusaha membangunkan Kaori bersama Rio.


Katty : “Kaori... Jodi, Kaori...”


Jodi : “Dokter sudah disini. Tenanglah.”


Dokter yang memeriksa Kaori tidak menemukan


tanda-tanda kehidupan pada tubuh Kaori. Ia memerintahkan untuk membawa Kaori ke


dalam ambulance. Rio mengangkat tubuh Kaori dan membawanya keluar dari kamar. Petugas


medis mengeluarkan bed rumah sakit dan memasukkan tubuh Kaori ke dalam


ambulance. Rio sudah menyusul masuk ke dalam ambulance.


Jodi berlari keluar dari rumah, ia membawa tas Kaori


yang berisi ponsel dan dompet mereka berdua.


Jodi : “Aku akan menyusul. Pergilah duluan.”


Ambulance segera berangkat disusul mobil dokter


pribadi Jodi. Rio melihat semua alat di ambulance itu dipasangkan ke tubuh


Kaori. Tidak ada detak jantung, itu yang didengar Rio. Ia menatap tubuh Kaori


yang bergerak seiring gerakan mobil ambulance. Rio memegangi tubuh Kaori agar


tidak jatuh dari bed.


Petugas medis yang mendengar suara ponsel Rio,


memberitahunya untuk mengangkat telponnya dulu. Rio mengambil ponselnya yang

__ADS_1


terus berdering, ia mengangkatnya.


Rio : “Halo?”


Riri : “Rio! Apa yang terjadi?”


Rio : “Kaori... dia... aku ke rumah sakit...”


Riri : “Rumah sakit mana?”


Petugas medis yang mendengar Rio menyebut rumah


sakit, menyebutkan nama rumah sakit yang akan mereka tuju. Semua orang di kamar


Riri mendengar nama rumah sakit itu. Dion mengangguk saat melihat Elo


menatapnya. Ia mencari alamat rumah sakit itu sambil berjalan cepat menuju


mobilnya.


Lili membantu Riri membersihkan dirinya dan


berpakaian sementara Elo membersihkan diri di kamar sebelah. Mereka bersiap


menuju rumah sakit yang dikatakan Rio.


Ambulance yang membawa Kaori dan Rio tiba di rumah


sakit. Kaori dibawa ke UGD untuk di cek lagi. Rio yang menunggu di balik tirai,


bisa melihat apa yang dilakukan dokter di dalam sana. Hati Rio hancur saat


dokter menunjukkan kertas panjang berisi garis lurus di tengahnya. Kaori sudah


pergi untuk selamanya.


Ia tidak mendengar kata-kata dokter lagi, kakinya


lemas hingga ia jatuh di sisi bed Kaori. Rio menangis dengan sangat sedih.


Orang tua Katty yang juga datang bersama Katty dan Jodi melihat Rio menangis


meraung-raung sambil menggenggam tangan Kaori yang mulai dingin.


Katty langsung pingsan mendengar kabar kematian


Kaori. Jodi mengangkat tubuh Katty dan meletakkannya di bed rumah sakit. Dokter


giliran memeriksa Katty. Papa dan mama Kaori menangis histeris bersama Rio. UGD


langsung kacau dengan tangisan mereka.


Riri yang saat itu masih di perjalanan, memegangi


dadanya yang sesak. Ia menangis histeris seperti Rio. Elo hanya bisa memeluk


tubuh Riri, mencoba menenangkannya.


Dokter yang menangani papa Katty meminta kedua


orang tua itu untuk duduk menenangkan diri. Ia mendekati Jodi dan memberikan


hasil pemeriksaan Kaori yang belum sempat diambil Kaori. Ia sudah melihat kekacauan


di UGD tadi dan langsung ke kantornya untuk mengambil hasil pemeriksaan Kaori.


Dokter : “Beberapa hari yang lalu, Kaori datang


untuk periksa kesini. Saya memintanya untuk melakukan tes darah. Hasilnya di


kepala Kaori ada kanker ganas.”


Papa Katty : “Kanker? Tapi anak itu tidak


menunjukkan gejala apa-apa, dokter.”


Dokter : “Ada beberapa kanker yang memang baru


ketahuan setelah semuanya terlambat. Maafkan saya.”


*****

__ADS_1


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk)


__ADS_2