
Hanya itu yang dikatakan Riri sebelum ia pingsan di
pelukan Elo. Elo langsung panik melihat Riri pingsan. Ia menggapai telpon di
atas nakas dan meminta Pak Kim memanggil dokter. Elo membaringkan Riri diatas
tempat tidur. Ia berlari ke pintu kamar untuk membuka kuncinya sambil memakai
bathrobe, Pak Kim sudah sampai di depan kamarnya.
Pak Kim : “Ada apa, tuan muda?”
Elo : “Riri pingsan, pak Kim!”
Pak Kim masuk ke kamar Elo, ia membawa kotak P3K
dan mengeluarkan minyak kayu putih. Elo membantu Pak Kim memberikan pertolongan
pertama pada Riri. Dokter pribadi keluarga datang dengan segera dan langsung
memeriksa Riri.
Dokter itu mengatakan tubuh Riri tidak apa-apa,
seharusnya tidak sampai pingsan. Dokter menanyakan apa yang terjadi sebelumnya.
Elo menunjukkan bekas lupa di jempol Riri dan tiba-tiba ia merasa kesakitan
terakhir menyebut nama kembarannya.
Dokter : “Ini mungkin terdengar tidak masuk akal,
tapi coba telpon kembarannya. Tanyakan apa dia baik-baik saja.”
Elo mengambil ponselnya, ia mencoba menelpon Rio,
tapi tidak ada yang mengangkat telponnya. Elo mengambil ponsel Riri, ia mencari
nomor kontak Kaori disana dan menelpon Kaori. Tetap tidak ada yang
mengangkatnya.
Elo : “Mungkin mereka masih sibuk, dokter. Kapan
istri saya akan bangun?”
Dokter : “Seharusnya dia sudah sadar sekarang.”
Benar saja, Riri perlahan membuka matanya, tapi ia
langsung menangis dengan sedih.
Riri : “Rio... Rio...”
Riri hampir bangun, tapi Elo keburu menahannya
tetap berbaring. Riri menarik-narik bathrobe Elo, ia merengek ingin bertemu Rio
sekarang. Lili yang mendengar nona-nya pingsan, segera berlari masuk ke kamar.
Lili : “No... nona.”
Hati Lili sakit melihat Riri menangis sangat sedih.
Ia seperti kehilangan sesuatu yang berharga.
Elo : “Lili, tolong hubungi Rio. Sampai dia
mengangkat telponnya.”
Lili : “Baik, tuan muda.”
Lili menerima ponsel Riri dan mulai menelpon Rio
terus menerus.
*****
Ponsel Rio terus berbunyi tapi pemiliknya tidak
menghiraukannya. Ia sedang diam terpaku di sudut kamar Kaori, menatap tubuh Kaori
__ADS_1
yang mulai kehilangan cahayanya. Mata Rio basah oleh air mata, sejak terbangun
dan mendapati tubuh kekasihnya tidak bergerak, air mata itu sudah jatuh.
Mama dan papanya terus memanggil-manggil nama Kaori
sambil sesekali mengguncang tubuh putri bungsu mereka. Tapi Kaori tidak
bergeming. Jodi berusaha menelpon dokter agar segera datang membawa ambulance
sambil memegangi Katty yang hampir pingsan.
Rio : “Ini salahku...”
Jodi mendengar gumaman Rio dan berteriak memanggil
namanya.
Jodi : “Rio!! Bangun! Buka pintu depan, ambulance
segera sampai! Bangun!”
Rio : “Ini salahku...”
Jodi terpaksa meninggalkan Katty yang terduduk di
lantai dekat lemari Kaori. Ia mencengkeram kaos Rio dan menariknya bangkit.
Jodi : “Kaori tidak apa-apa! Rio! Sadarkan dirimu!
Cepat buka pintu depan!”
Guncangan Jodi menyadarkan Rio, ia segera berlari
keluar kamar dan membuka lebar pintu depan. Tepat saat ambulance tiba dan
petugas medis masuk bersama dokter pribadi Jodi. Jodi mengangkat Katty dan
mendudukkannya di sofa depan.
Jodi : “Sayang... tegarlah. Demi anak kita.”
Jodi benar-benar takut saat mendengar teriakan Rio
karena bangun dengan buru-buru. Ketika mereka sampai di kamar Kaori, papa dan
mama Katty sedang berusaha membangunkan Kaori bersama Rio.
Katty : “Kaori... Jodi, Kaori...”
Jodi : “Dokter sudah disini. Tenanglah.”
Dokter yang memeriksa Kaori tidak menemukan
tanda-tanda kehidupan pada tubuh Kaori. Ia memerintahkan untuk membawa Kaori ke
dalam ambulance. Rio mengangkat tubuh Kaori dan membawanya keluar dari kamar. Petugas
medis mengeluarkan bed rumah sakit dan memasukkan tubuh Kaori ke dalam
ambulance. Rio sudah menyusul masuk ke dalam ambulance.
Jodi berlari keluar dari rumah, ia membawa tas Kaori
yang berisi ponsel dan dompet mereka berdua.
Jodi : “Aku akan menyusul. Pergilah duluan.”
Ambulance segera berangkat disusul mobil dokter
pribadi Jodi. Rio melihat semua alat di ambulance itu dipasangkan ke tubuh
Kaori. Tidak ada detak jantung, itu yang didengar Rio. Ia menatap tubuh Kaori
yang bergerak seiring gerakan mobil ambulance. Rio memegangi tubuh Kaori agar
tidak jatuh dari bed.
Petugas medis yang mendengar suara ponsel Rio,
memberitahunya untuk mengangkat telponnya dulu. Rio mengambil ponselnya yang
__ADS_1
terus berdering, ia mengangkatnya.
Rio : “Halo?”
Riri : “Rio! Apa yang terjadi?”
Rio : “Kaori... dia... aku ke rumah sakit...”
Riri : “Rumah sakit mana?”
Petugas medis yang mendengar Rio menyebut rumah
sakit, menyebutkan nama rumah sakit yang akan mereka tuju. Semua orang di kamar
Riri mendengar nama rumah sakit itu. Dion mengangguk saat melihat Elo
menatapnya. Ia mencari alamat rumah sakit itu sambil berjalan cepat menuju
mobilnya.
Lili membantu Riri membersihkan dirinya dan
berpakaian sementara Elo membersihkan diri di kamar sebelah. Mereka bersiap
menuju rumah sakit yang dikatakan Rio.
Ambulance yang membawa Kaori dan Rio tiba di rumah
sakit. Kaori dibawa ke UGD untuk di cek lagi. Rio yang menunggu di balik tirai,
bisa melihat apa yang dilakukan dokter di dalam sana. Hati Rio hancur saat
dokter menunjukkan kertas panjang berisi garis lurus di tengahnya. Kaori sudah
pergi untuk selamanya.
Ia tidak mendengar kata-kata dokter lagi, kakinya
lemas hingga ia jatuh di sisi bed Kaori. Rio menangis dengan sangat sedih.
Orang tua Katty yang juga datang bersama Katty dan Jodi melihat Rio menangis
meraung-raung sambil menggenggam tangan Kaori yang mulai dingin.
Katty langsung pingsan mendengar kabar kematian
Kaori. Jodi mengangkat tubuh Katty dan meletakkannya di bed rumah sakit. Dokter
giliran memeriksa Katty. Papa dan mama Kaori menangis histeris bersama Rio. UGD
langsung kacau dengan tangisan mereka.
Riri yang saat itu masih di perjalanan, memegangi
dadanya yang sesak. Ia menangis histeris seperti Rio. Elo hanya bisa memeluk
tubuh Riri, mencoba menenangkannya.
Dokter yang menangani papa Katty meminta kedua
orang tua itu untuk duduk menenangkan diri. Ia mendekati Jodi dan memberikan
hasil pemeriksaan Kaori yang belum sempat diambil Kaori. Ia sudah melihat kekacauan
di UGD tadi dan langsung ke kantornya untuk mengambil hasil pemeriksaan Kaori.
Dokter : “Beberapa hari yang lalu, Kaori datang
untuk periksa kesini. Saya memintanya untuk melakukan tes darah. Hasilnya di
kepala Kaori ada kanker ganas.”
Papa Katty : “Kanker? Tapi anak itu tidak
menunjukkan gejala apa-apa, dokter.”
Dokter : “Ada beberapa kanker yang memang baru
ketahuan setelah semuanya terlambat. Maafkan saya.”
*****
__ADS_1
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk)