
Setelah kembali dari makan, Rara dan mertuanya kembali ke ruang ICU. Kebetulan dokter sedang visit dan minta bertemu mereka.
Setelah sampai di ruang dokter,
Dokter : "Kondisi Arnold sudah mulai membaik. Tapi sepertinya kakinya tidak merespon rangsangan."
Rara : "Maksud dokter?"
Dokter : "Arnold mengalami kelumpuhan. Kita bisa mulai terapi setelah operasi."
Ronald mengkerutkan keningnya, tadi ia melihat sendiri Arnold bisa mengangkat kakinya. Tapi kenapa dokter mengatakan kalau Arnold tidak bisa jalan? Ronald bingung harus percaya telinganya atau matanya.
Ronald : "Tolong segera lakukan terapi, dokter. Agar anak saya bisa cepat pulang."
Dokter : "Baik kalau begitu, pak."
Rara berjalan bersama mertuanya keluar dari ruang dokter. Arnold akan dipindahkan dari ruang ICU ke kamar rawat inap.
Ronald : "Ra, kamu sama mama nunggu dikamar aja ya. Papa yang urus pindahnya Arnold."
Mama Arnold : "Ra, kamu kok keliatannya gak sedih atau kecewa dengan kondisi Arnold sekarang?"
Rara : "Rara uda iklas, mah. Tiga bulan ngliat mas Arnold koma, harapan Rara agar mas Arnold bisa sadar kembali. Itu sudah cukup."
Ronald : "Kamu gak kecewa? Arnold mungkin akan mengalami ini seumur hidupnya."
Rara : "Buat Rara yang penting mas Arnold hidup dan baik-baik aja. Kalau ditanya Rara sedih, Rara sedih kok. Tapi Rara gak bisa baper, ma, pa. Rara lagi hamil sekarang, dan Rara gak boleh tertekan. Rara harus bahagia demi kesehatan anak kami."
Ronald terharu melihat menantunya sangat mencintai anaknya. Rara bersedia menerima kondisi Arnold apapun yang terjadi padanya.
Ronald mengusap kepala Rara, ia menatap menantunya,
Ronald : "Papa bangga sama kamu. Papa harap kalian selalu bahagia."
Rara : "Makasi, pah."
Mama Arnold : "Ayo, kita ke kamar dulu."
Ronald menatap Rara yang berjalan menjauh bersama istrinya. Mereka berdiri di depan lift menunggu lift terbuka.
Dengan cepat Ronald berjalan ke ruang ICU, ia menanyakan administrasi kepindahan Arnold pada suster.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Alex berjalan di samping bed Mia yang didorong perawat menuju kamar rawat inap. Setelah sampai di kamar, Alex membantu perawat memindahkan Mia ke bed rumah sakit.
Ia memastikan kenyamanan Mia dulu sebelum duduk di sampingnya.
Mia : "Mas, aku mau ketemu bayi kita."
Alex : "Sebentar ya. Aku telpon dulu ya."
Alex beranjak ke dekat meja dan menelpon ke ruang bayi. Suster mengatakan anak mereka masih dimandikan dan belum bisa ke ruangan Mia. Mereka harus menunggu sampai bayi kembar itu selesai mandi dulu.
Alex : "Sayang, baby-nya masih mandi. Sabar ya."
Mia : "Aku mau ketemu mereka, mas."
Alex : "Tunggu sebentar lagi ya."
Alex menatap wajah Mia yang terlihat cantik meskipun sedikit pucat. Ia mengusap rambut Mia yang kusut.
Alex : "Sayang, rambutmu kusut nich. Aku sisirin ya."
Alex mengambil sisir dari dalam tas Mia. Ia menyisir rambut Mia pelan-pelan agar istrinya tidak kesakitan.
Mia : "Aduch, mas."
Alex : "Kenapa? Ketarik ya?"
Mia : "Nggak. Aku mau ke toilet. Kebelet."
Alex : "Ayo, aku bantu."
Mereka masuk ke dalam toilet.
Mia : "Mas keluar dulu ya. Aku bisa sendiri."
Alex : "Aku bantuin sini."
__ADS_1
Mia : "Aku masih pake pembalut, mas. Gak enak dilihat."
Alex : "Gak pa-pa. Sekalian aku ngecek."
Mia : "Ngecek apa?"
Alex : "Masih ada lubangnya apa gak."
Mia : "Iihh...!!" Alex tertawa ketika Mia memukul lengannya.
Mia tersenyum manis saat Alex membantunya melepas celananya. Sama sekali tidak terlihat jijik dengan apa yang dilihatnya, Alex bahkan membantu Mia mengganti pembalutnya.
Setelah mengeringkan luka jahitan Mia, Alex mengoleskan obat pengering luka.
Alex : "Jangan tegang, sayang."
Mia : "Rasanya aneh, mas. Geli tapi perih."
Alex : "Mau aku tiup?"
Mia : "Jangan...ssss...."
Alex beneran meniup luka jahitan Mia. Membuat Mia panas dingin.
Alex : "Kenapa mukamu merah?"
Alex tersenyum mesum, ia kembali mengoleskan obat pada luka Mia dan membantunya memakai celana kembali.
Saat mereka keluar dari kamar mandi, suster baru membuka pintu dan mendorong masuk box bayi khusus untuk bayi kembar.
Kakak mereka, si kembar Riri dan Rio juga ikut masuk. Kaori juga ikut menjenguk si kembar.
Rio : "Mama!"
Rio berjalan cepat mendekati Mia dan memeluknya. Alex sampai menepuk lengan Rio agar melepaskan Mia.
Rio : "Bentar aja, pah. Pelit banget sich."
Alex : "Sana, peluk aja Kaori. Kan uda punya pacar, masa masih peluk-peluk mama."
Rio : "Kaori kan lain, pah. Bisa lebih... Aooww...!"
Kaori sudah mencubit lengan kekar Rio. Rio langsung melepaskan pelukannya pada Mia dan balik menatap Kaori yang sudah melotot padanya.
Kaori mencubit lengan Rio lagi. Ia malu dipanggil sayang di depan orang tua Rio.
Kaori : "Bisa diem gak sich."
Rio : "Apa salahku?"
Kaori : "Auk ach..."
Mia berjalan mendekati box bayinya. Ada dua bayi berbalut selimut biru di dalam sana.
Suster : "Ibu Mia sudah keluar air susunya?"
Mia : "Sepertinya sudah, suster."
Suster : "Coba dikasikan ke bayinya. Saya bantu ya, bu."
Mia duduk di atas ranjang, ia membuka kancing baju rumah sakit dan mengeluarkan payudaranya dari dalam bra.
Suster menggendong salah satu bayi Mia dan memberikannya pada Mia untuk di gendong.
Suster : "Tegakkan sedikit badannya. Coba masukkan ****** ibu ke mulut bayinya. Nah, pinter sekali minum ya."
Mia merasakan seluruh tubuhnya tersedot ke dalam mulut bayinya. Mia meneteskan air matanya, ia bahagia sekali bisa melihat dan menggendong bayi yang baru dilahirkannya.
Alex : "Sayang, kamu nangis."
Mia : "Akhirnya aku bisa ketemu si kembar, mas."
Riri : "Mama kangen sama kami?"
Rio : "Maksud mama, baby twin, Ri."
Mia : "Sama kalian juga, kangen."
Riri dan Rio tersenyum manis. Bayi kembar satu lagi juga ingin minum ASI, ia menangis dengan kencang, menarik perhatian semua orang.
__ADS_1
Suster menggendong bayi satunya dan meletakkan bayi itu di samping Mia. Dengan cepat suster mengambil dua bantal dan meletakkannya di sebelah Mia.
Bayi yang sedang menyusui kebingungan sejenak karena ****** Mia tiba-tiba lenyap dari mulutnya. Ia hampir menangis tapi suster kembali memasukkan ****** susu Mia ke dalam mulut bayi itu.
Suster : "Pegang disini."
Suster mengarahkan tangan Mia untuk memegang bayinya agar tidak jatuh.
Suster : "Bapaknya tolong keluarkan payudara ibunya lagi satu."
Alex semangat sekali melakukan perintah suster, membuat Rio mencibir kearahnya. Suster meletakkan bayi Mia ke atas bantal dan mengarahkan mulut bayi mendekati ****** Mia.
Mia tersenyum senang melihat kedua bayinya minum dengan lahap.
Suster : "Saya tinggal dulu ya. Nanti ditelpon saja ke ruang bayi kalau sudah selesai ya."
Mia : "Sus, kalau bayinya ngompol gimana?"
Suster : "Dibawah box bayinya ada perlengkapan untuk ganti. Nanti tolong diinfo sudah berapa kali buang air ya, bunda."
Mia : "Ya, suster. Makasih."
Si kembar mendekati Mia yang masih menyusui. Kedua bayi itu menyedot dengan kuat sampai dada Mia langsung terasa kosong.
Mia : "Mas, ambilin air. Haus nich."
Alex menyodorkan botol minuman yang langsung dihabiskan seluruh isinya oleh Mia.
Alex : "Mau lagi?"
Mia : "Nggak, mas. Udah."
Si kembar menoel pipi adik kembar mereka.
Rio : "Namanya siapa, pah?"
Alex dan Mia saling pandang. Mereka belum memilih nama untuk si kembar.
Alex : "Ntar, papa bertapa dulu nyari namanya."
Rio : "Gimana sih?"
Alex : "Tiara, Marie, Mario..."
Alex menggumamkan nama anak-anaknya dengan Selvi.
Mia : "Gimana kalau Koko Kiki?"
Rio : Upin Ipin aja, mah."
Jawaban Rio membuatnya dicubitin Riri.
Rio : "Kalian nich kenapa seneng banget ngubit sich. Sakit woi...!!"
Rio memilih melengos duduk di samping Kaori yang dari tadi asyik dengan ponselnya.
Rio : "Ngapain sich?"
Kaori : "Browsing nama bayi kembar."
Rio : "Nemu?"
Kaori : "Yang ini lucu..."
Rio mengucapkan dua nama yang langsung di acc Alex dan Mia.
Kira-kira siapa nama buat si kembar ya?
πΈπΈπΈπΈπΈ
Kk readers sekalian bantu author dong nama yang bagus buat baby kembar laki-laki nih.
π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain βMenantu untuk Ibuβ, βPerempuan IDOLβ, βJebakan Cintaβ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
π²π²π²π²π²