
Rio menatap layar
ponselnya, sambungan telponnya dengan Kaori sudah terputus.
Rio : “Heh. Uda
berani ya.”
Rio memikirkan
tempat yang biasa didatangi Kaori, dirinya mulai merasa terganggu dengan Gadis
yang selalu bertanya padanya,
Gadis : “Rio, kita
makan yuk. Aku laper nich.”
Rio : “Aku gak
lapar, kamu makan duluan sana.”
Gadis : “Tapi aku
mau ditemenin sama kamu.”
Rio : “Aku sibuk.”
Gadis : “Ayo, Rio.”
Rio tidak melawan
saat tangannya ditarik Gadis yang berjalan ke arah kantin. Rio masih mengingat
kemana Kaori akan pergi.
Mereka sampai di
kantin dan kehadiran Gadis disamping Rio mulai memunculkan rumor kalau Rio sudah
putus dengan Kaori. Ya, satu kampus tahu kalau mereka pacaran.
Rio mengedarkan
pandangannya ke seluruh sudut kantin. Ia tidak melihat sosok Kaori dimanapun.
Sementara Gadis sudah menemukan tempat duduk untuk mereka dan memanggil
pelayan.
Gadis : “Mb, mau
pesan. Rio, kamu mau makan apa?”
Rio : “...”
Gadis : “Nasi
goreng aja sama es jeruk 2 ya, mb.”
Pelayan pergi
setelah men-scan kartu Gadis. Gadis kembali menatap Rio, pria tampan di
hadapannya yang membuatnya hampir mati penasaran.
Gadis : “Rio, kamu
ngliat kemana sich? Aku di depanmu loh.”
Rio sedang menatap
Kaori yang sedang duduk di taman, dan sepertinya akan segera pergi dari sana. Dia
menemukan sosok Kaori ketika Gadis sibuk memesan makanan untuk mereka.
Kaori sendiri masih
kesal dengan Rio, ia ingin kembali ke asrama, tapi tidak ada Riri disana. Akhirnya
Kaori memutuskan berjalan-jalan di sekitar taman, dan duduk di balik pohon yang
rindang.
Semilir angin dingin
bertiup melewati leher Kaori yang tidak tertutup kemejanya. Ia menggosok
lengannya yang terasa dingin. Apalagi ia melihat Rio dan Gadis tadi datang bersama-sama
ke kantin.
Kaori : “Rio bodoh!!
Nyebelin!”
Kaori mengeluarkan
unek-uneknya dengan cepat, mengomel pada tasnya, seolah tas itu adalah wajah Rio.
Ia mencubit tasnya dengan keras sampai tangannya sakit sendiri.
Kaori : “Aduch!
Sakit!”
Kaori menendang
tasnya, sampai tas malang itu terlempar sedikit jauh dari tempat ia duduk.
Kaori : “Hiih, kalo
ketemu aku bejek-bejek. Dasar playboy!”
Rio : “Sapa yang
playboy?”
Kaori terdiam, ia
menoleh dengan cepat ke asal suara. Rio berdiri di sampingnya dengan tangan
terlipat ke depan dada.
Kaori : “Ngapain
kamu kesini?”
Rio : “Suka-suka
aku dong. Ini kan taman milik kampus, aku bebas kemana aja.”
Kaori bangkit
dengan cepat, ia menyambar tasnya tapi sedetik kemudian, Rio sudah menarik
tangannya. Kaori tersudut di pohon besar yang ada disana dengan kedua tangan
dipegangi Rio diatas kepalanya.
Kaori menelan
salivanya, ia takut melihat sorot mata Rio. Tapi bayangan Rio berpegangan
tangan dengan Gadis, membuatnya mendongak dengan wajah cemberut.
Kaori : “Kamu mau
apa? Lepasin!”
__ADS_1
Rio : “Kamu masih
berani ngelawan? Kamu gak takut akibatnya?”
Kaori : “Buat apa
aku takut? Yang salah kamu!”
Rio : “Apa tepatnya
salahku? Hati-hati dengan jawabanmu.”
Kaori : “Dia yang
selingkuh, dia yang galak.”
Rio : “Siapa yang
selingkuh?”
Deg! *Deep voice*
Rio terdengar lagi, Kaori merinding mendengarnya.
Kaori : “Kamu...
Iya, kamu tuch sama Gadis.”
Rio : “Kapan aku
gitu?”
Kaori : “Tadi kamu
pegangan tangan sama dia. Kamu juga ke kantin sama dia.”
Rio : “Kapan lagi?”
Kaori : “Kemarin,
dia ngrangkul tangan kamu.”
Rio : “Kemarin hari
Minggu, kita seharian di rumahku.”
Kaori : “Kemarinnya
lagi.”
Rio : “Hari Sabtu,
kita juga di rumahku.”
Kaori : “Hari
Jumat, di depan kelas habis kuliah.” Kaori semakin kesal karena Rio terus
mengkoreksi kata-katanya.
Rio : “Detail juga
kamu ingetnya ya. Cuma itu?”
Kaori : “...Iya!
Lepasin aku! Rio jelek.”
Rio : “Kamu berani ngatain
aku? Hah?!”
Rio mendekatkan
wajahnya sampai Kaori bisa melihat bayangannya di bola mata Rio. Jantung Kaori
berdebar kencang, ia tidak kuat ditatap begitu oleh Rio. Saat Kaori memalingkan
Rio : “Aku...
mencintaimu,... Kaori...”
Kaori : “... Rio jelek...”
Rio : “Kau...”
Rio kembali mencium
Kaori, menaklukkan keraguan dihati gadis itu. Pria ini masih pria yang sama
yang berjanji akan menikahinya kelak.
*****
Kaori menarik
kemejanya menutup, Rio selalu tidak bisa menahan dirinya kalau mereka sudah
mulai berciuman. Tangannya akan ikut sibuk bersama bibirnya, Kaori terpaksa
menggigit tangan Rio.
Rio : “Kamu nich
ngapain gigit tanganku?”
Kaori : “Kamu
duluan yang gigit pundakku. Sakit nich.”
Rio : “Mana?”
Kaori : “Hais, kamu
tuch makin hari makin mesum.”
Rio : “Emang kamu
tahu apa artinya mesum?”
Kaori : “Itu...”
Rio : “Gak tau kan?
Makanya jangan asal nyebut.”
Rio menyentil
kening Kaori yang langsung memegangi keningnya yang terasa sakit. Kaori melirik
saat tangan Rio terulur menyentuh rambutnya yang tergerai. Bahkan ikat
rambutnya ditahan Rio.
Kaori : “Kamu
kenapa sich suka banget ngelepas ikat rambutku?”
Rio : “Biar aku gak
tergoda.”
Kaori : “Maksudmu?”
Rio : “Coba kamu
angkat rambutmu, sini duduk lebih dekat.”
Kaori nurut aja
__ADS_1
dengan kata-kata Rio yang langsung mencium tengkuk Kaori ketika Kaori selesai
mengangkat rambutnya.
Kaori : “Hiii...”
Rasa merinding
menjalar di seluruh tubuh Kaori saat Rio melakukan itu. Tangan Rio menahan
tangan Kaori agar tetap mengangkat rambutnya. Ia kembali mencium tengkuk Kaori,
Kaori : “Rio,
stop... Geli banget... Rio!”
Rio : “Kamu uda
liat sendiri kan. Aku aja tergoda, gimana laki-laki lain?”
Kaori : “Cuma kamu
yang berani lakuin itu. Dasar...”
Rio : “Apa? Mau
bilang aku mesum?”
Kaori nyengir, ia
melepaskan rambutnya dan mengumpulkannya ke satu sisi pundaknya. Rio duduk
mendekat, memeluk pinggang Kaori.
Rio : “Kamu masih
marah?”
Kaori : “Masih lah.”
Rio : “Trus kenapa
mau dicium?”
Kaori : “Kamu tuch
gak sadar ya. Badan gede, tapi...”
Rio : “Ngatain aku
lagi, aku bikin bengkak bibirmu.”
Kaori manyun, ia
kenapa juga mau dicium Rio. Kaori tidak bisa mengatakan alasannya, apa karena
cinta?
Rio : “Kok diem?”
Kaori : “Diem
salah, ngomong salah. Aku mesti gimana?”
Rio tertawa, ia
mencubit hidung Kaori dengan gemas.
Kaori : “Aduch,
sakit. Kamu nich, aku masih marah, bujuk kek.”
Rio : “Ogah, aku
gak bakat bujuk orang.”
Kaori : “Apa
bakatmu?”
Rio mencium bibir
Kaori sekilas.
Rio : “Itu bakatku.”
Kaori : “Itu mah
kamu mesum!”
Kaori tertawa dalam
pelukan Rio,
Rio : “Nah, gitu
dong ketawa. Cemberut aja.”
Kaori : “Aku kan
kesal sama kamu. Mau aja dipegang-pegang Gadis.”
Rio : “Cewek tadi
namanya Gadis?”
Kaori : “Kamu gak
ingat?”
Rio : “Ngapain aku
harus ingat nama dia? Cukup ingat namamu aja...”
Hati Kaori berbunga
mendengar gombalan Rio,
Kaori : “Gombal.”
Rio : “Loh, kok
gombal?”
Kaori : “Masa cuma
inget namaku aja sich.”
Rio : “Kalo aku gak
inget namamu, kan aneh. Masa nama pacar sendiri gak inget.”
Kaori kehilangan
kata-katanya, entah ia harus senang atau sedih mengingat Rio memang gak
romantis orangnya. Ia tipe laki-laki yang menunjukkan langsung perasaannya,
bukan lewat kata-kata manis.
🌻🌻🌻🌻🌻
Kayaknya ada yang
aneh, trus Gadis kemana ya? Penasaran? Tunggu up-up selanjutnya.
Vote dong kk reader,
please...
__ADS_1
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).