Duren Manis

Duren Manis
Gak romantis


__ADS_3

Rio menatap layar


ponselnya, sambungan telponnya dengan Kaori sudah terputus.


Rio : “Heh. Uda


berani ya.”


Rio memikirkan


tempat yang biasa didatangi Kaori, dirinya mulai merasa terganggu dengan Gadis


yang selalu bertanya padanya,


Gadis : “Rio, kita


makan yuk. Aku laper nich.”


Rio : “Aku gak


lapar, kamu makan duluan sana.”


Gadis : “Tapi aku


mau ditemenin sama kamu.”


Rio : “Aku sibuk.”


Gadis : “Ayo, Rio.”


Rio tidak melawan


saat tangannya ditarik Gadis yang berjalan ke arah kantin. Rio masih mengingat


kemana Kaori akan pergi.


Mereka sampai di


kantin dan kehadiran Gadis disamping Rio mulai memunculkan rumor kalau Rio sudah


putus dengan Kaori. Ya, satu kampus tahu kalau mereka pacaran.


Rio mengedarkan


pandangannya ke seluruh sudut kantin. Ia tidak melihat sosok Kaori dimanapun.


Sementara Gadis sudah menemukan tempat duduk untuk mereka dan memanggil


pelayan.


Gadis : “Mb, mau


pesan. Rio, kamu mau makan apa?”


Rio : “...”


Gadis : “Nasi


goreng aja sama es jeruk 2 ya, mb.”


Pelayan pergi


setelah men-scan kartu Gadis. Gadis kembali menatap Rio, pria tampan di


hadapannya yang membuatnya hampir mati penasaran.


Gadis : “Rio, kamu


ngliat kemana sich? Aku di depanmu loh.”


Rio sedang menatap


Kaori yang sedang duduk di taman, dan sepertinya akan segera pergi dari sana. Dia


menemukan sosok Kaori ketika Gadis sibuk memesan makanan untuk mereka.


Kaori sendiri masih


kesal dengan Rio, ia ingin kembali ke asrama, tapi tidak ada Riri disana. Akhirnya


Kaori memutuskan berjalan-jalan di sekitar taman, dan duduk di balik pohon yang


rindang.


Semilir angin dingin


bertiup melewati leher Kaori yang tidak tertutup kemejanya. Ia menggosok


lengannya yang terasa dingin. Apalagi ia melihat Rio dan Gadis tadi datang bersama-sama


ke kantin.


Kaori : “Rio bodoh!!


Nyebelin!”


Kaori mengeluarkan


unek-uneknya dengan cepat, mengomel pada tasnya, seolah tas itu adalah wajah Rio.


Ia mencubit tasnya dengan keras sampai tangannya sakit sendiri.


Kaori : “Aduch!


Sakit!”


Kaori menendang


tasnya, sampai tas malang itu terlempar sedikit jauh dari tempat ia duduk.


Kaori : “Hiih, kalo


ketemu aku bejek-bejek. Dasar playboy!”


Rio : “Sapa yang


playboy?”


Kaori terdiam, ia


menoleh dengan cepat ke asal suara. Rio berdiri di sampingnya dengan tangan


terlipat ke depan dada.


Kaori : “Ngapain


kamu kesini?”


Rio : “Suka-suka


aku dong. Ini kan taman milik kampus, aku bebas kemana aja.”


Kaori bangkit


dengan cepat, ia menyambar tasnya tapi sedetik kemudian, Rio sudah menarik


tangannya. Kaori tersudut di pohon besar yang ada disana dengan kedua tangan


dipegangi Rio diatas kepalanya.


Kaori menelan


salivanya, ia takut melihat sorot mata Rio. Tapi bayangan Rio berpegangan


tangan dengan Gadis, membuatnya mendongak dengan wajah cemberut.


Kaori : “Kamu mau


apa? Lepasin!”

__ADS_1


Rio : “Kamu masih


berani ngelawan? Kamu gak takut akibatnya?”


Kaori : “Buat apa


aku takut? Yang salah kamu!”


Rio : “Apa tepatnya


salahku? Hati-hati dengan jawabanmu.”


Kaori : “Dia yang


selingkuh, dia yang galak.”


Rio : “Siapa yang


selingkuh?”


Deg! *Deep voice*


Rio terdengar lagi, Kaori merinding mendengarnya.


Kaori : “Kamu...


Iya, kamu tuch sama Gadis.”


Rio : “Kapan aku


gitu?”


Kaori : “Tadi kamu


pegangan tangan sama dia. Kamu juga ke kantin sama dia.”


Rio : “Kapan lagi?”


Kaori : “Kemarin,


dia ngrangkul tangan kamu.”


Rio : “Kemarin hari


Minggu, kita seharian di rumahku.”


Kaori : “Kemarinnya


lagi.”


Rio : “Hari Sabtu,


kita juga di rumahku.”


Kaori : “Hari


Jumat, di depan kelas habis kuliah.” Kaori semakin kesal karena Rio terus


mengkoreksi kata-katanya.


Rio : “Detail juga


kamu ingetnya ya. Cuma itu?”


Kaori : “...Iya!


Lepasin aku! Rio jelek.”


Rio : “Kamu berani ngatain


aku? Hah?!”


Rio mendekatkan


wajahnya sampai Kaori bisa melihat bayangannya di bola mata Rio. Jantung Kaori


berdebar kencang, ia tidak kuat ditatap begitu oleh Rio. Saat Kaori memalingkan


Rio : “Aku...


mencintaimu,... Kaori...”


Kaori : “... Rio jelek...”


Rio : “Kau...”


Rio kembali mencium


Kaori, menaklukkan keraguan dihati gadis itu. Pria ini masih pria yang sama


yang berjanji akan menikahinya kelak.


*****


Kaori menarik


kemejanya menutup, Rio selalu tidak bisa menahan dirinya kalau mereka sudah


mulai berciuman. Tangannya akan ikut sibuk bersama bibirnya, Kaori terpaksa


menggigit tangan Rio.


Rio : “Kamu nich


ngapain gigit tanganku?”


Kaori : “Kamu


duluan yang gigit pundakku. Sakit nich.”


Rio : “Mana?”


Kaori : “Hais, kamu


tuch makin hari makin mesum.”


Rio : “Emang kamu


tahu apa artinya mesum?”


Kaori : “Itu...”


Rio : “Gak tau kan?


Makanya jangan asal nyebut.”


Rio menyentil


kening Kaori yang langsung memegangi keningnya yang terasa sakit. Kaori melirik


saat tangan Rio terulur menyentuh rambutnya yang tergerai. Bahkan ikat


rambutnya ditahan Rio.


Kaori : “Kamu


kenapa sich suka banget ngelepas ikat rambutku?”


Rio : “Biar aku gak


tergoda.”


Kaori : “Maksudmu?”


Rio : “Coba kamu


angkat rambutmu, sini duduk lebih dekat.”


Kaori nurut aja

__ADS_1


dengan kata-kata Rio yang langsung mencium tengkuk Kaori ketika Kaori selesai


mengangkat rambutnya.


Kaori : “Hiii...”


Rasa merinding


menjalar di seluruh tubuh Kaori saat Rio melakukan itu. Tangan Rio menahan


tangan Kaori agar tetap mengangkat rambutnya. Ia kembali mencium tengkuk Kaori,


Kaori : “Rio,


stop... Geli banget... Rio!”


Rio : “Kamu uda


liat sendiri kan. Aku aja tergoda, gimana laki-laki lain?”


Kaori : “Cuma kamu


yang berani lakuin itu. Dasar...”


Rio : “Apa? Mau


bilang aku mesum?”


Kaori nyengir, ia


melepaskan rambutnya dan mengumpulkannya ke satu sisi pundaknya. Rio duduk


mendekat, memeluk pinggang Kaori.


Rio : “Kamu masih


marah?”


Kaori : “Masih lah.”


Rio : “Trus kenapa


mau dicium?”


Kaori : “Kamu tuch


gak sadar ya. Badan gede, tapi...”


Rio : “Ngatain aku


lagi, aku bikin bengkak bibirmu.”


Kaori manyun, ia


kenapa juga mau dicium Rio. Kaori tidak bisa mengatakan alasannya, apa karena


cinta?


Rio : “Kok diem?”


Kaori : “Diem


salah, ngomong salah. Aku mesti gimana?”


Rio tertawa, ia


mencubit hidung Kaori dengan gemas.


Kaori : “Aduch,


sakit. Kamu nich, aku masih marah, bujuk kek.”


Rio : “Ogah, aku


gak bakat bujuk orang.”


Kaori : “Apa


bakatmu?”


Rio mencium bibir


Kaori sekilas.


Rio : “Itu bakatku.”


Kaori : “Itu mah


kamu mesum!”


Kaori tertawa dalam


pelukan Rio,


Rio : “Nah, gitu


dong ketawa. Cemberut aja.”


Kaori : “Aku kan


kesal sama kamu. Mau aja dipegang-pegang Gadis.”


Rio : “Cewek tadi


namanya Gadis?”


Kaori : “Kamu gak


ingat?”


Rio : “Ngapain aku


harus ingat nama dia? Cukup ingat namamu aja...”


Hati Kaori berbunga


mendengar gombalan Rio,


Kaori : “Gombal.”


Rio : “Loh, kok


gombal?”


Kaori : “Masa cuma


inget namaku aja sich.”


Rio : “Kalo aku gak


inget namamu, kan aneh. Masa nama pacar sendiri gak inget.”


Kaori kehilangan


kata-katanya, entah ia harus senang atau sedih mengingat Rio memang gak


romantis orangnya. Ia tipe laki-laki yang menunjukkan langsung perasaannya,


bukan lewat kata-kata manis.


🌻🌻🌻🌻🌻


Kayaknya ada yang


aneh, trus Gadis kemana ya? Penasaran? Tunggu up-up selanjutnya.


Vote dong kk reader,


please...

__ADS_1


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).


__ADS_2