
DM2 – Rasa terpendam
“Sebenarnya...”
Gadis menunggu jawaban Rio, tapi yang ia
rasakan hanya sentuhan Rio lagi, “Rio! Jangan lagi... Tunggu!”pekik Gadis
mencoba menghindari Rio, tapi tidak bisa.
Keduanya keluar dari kamar itu setelah
bersih-bersih. Semua orang yang sedang berkumpul di ruang tengah, menengok
melihat kedatangan mereka berdua dengan wajah merona.
“Kalian ngapain aja sich? Lama banget.”kata
Riri.
Mereka sudah tahu apa yang terjadi di dalam
kamar itu karena Riri mendengar suara Gadis di dalam sana ketika ingin
memanggil mereka untuk makan bersama. Riri ingin menggoda keduanya.
“Nggak ngapa-ngapain. Kepo sekali.”saut
Rio, duduk di samping Riri.
“Gadis, kenapa lehermu merah-merah
gitu?”tanya Katty tanpa di rem.
“Digigit nyamuk, kak.”jawab Gadis malu. Ia
merapikan rambutnya menutupi bekas perbuatan Rio.
“Masa sich? Kamu pikir kakak anak kecil?
Bisa dibohongin. Kalian ini kesini buat ngamar ya.”saut Katty lagi.
Wajah Gadis merona mendengar kata-kata
Katty. “Udah, dong. Rio tuch yang maksa, gak sabaran banget.”kata Gadis melirik
Rio.
Yang dilirik hanya diam melamun, Gadis
merasa sedih melihat kata-katanya tidak direspon Rio. Riri yang melihat reaksi
Rio, mengalihkan perhatian semua orang pada makanan di meja. Koki sudah
menyiapkan makanan yang banyak untuk mereka semua.
Suasana kembali hangat, semua orang
menghabiskan makanan itu kecuali Rio yang hanya makan sekedarnya saja. Gadis
beranjak ke ruang bermain anak-anak. Ia ingin melihat Rey yang masih asyik
bermain.
Riri mendekati Rio, mengajaknya bicara.
“Kamu kenapa, Rio?”
“Apa?”tanya Rio yang masih melamun.
“Kamu ada masalah? Cerita dong.”kata Riri
merapatkan duduknya pada Rio.
“Aku gak tau apa yang terjadi, Ri.
Sepertinya ada yang nggak beres, tapi aku gak ingat apa-apa.”bisik Rio sambil
melihat sekitarnya. Ia tidak ingin ada yang mendengar perbicaraan mereka.
“Maksudmu?”
“Tolong jangan keras-keras. Aku belum yakin
apa yang terjadi. Kemarin aku keluar kota sama sekretarisku. Kami meeting di
salah satu kamar hotel di pinggir kota. Padahal kami meeting hanya sekitar 1,5
jam, tapi aku merasa sangat lelah. Aku sempat ketiduran sampai malam baru
bangun. Dan aku gak merasakan apa-apa. Tapi perasaanku mengatakan kalau sudah
__ADS_1
ada yang terjadi dan aku gak tau apa itu.”
“Memang kamu minum apa?”tanya Riri.
“Hanya kopi. Tapi... entahlah, aku beneran
gak bisa inget. Kayak ada bagian ingatanku yang hilang.”
“Kamu sudah periksa CCTV di hotel?”tanya
Riri.
“Aku gak kepikiran, Ri. Sampai rumah aku
langsung tidur lagi, sampe sekarang aku masih gak tau apa yang terjadi.”
“Gadis udah tau?”tanya Riri sambil melirik
Gadis yang terlihat asyik bermain dengan Rey.
“Dia belum tahu, tapi sepertinya sudah
mulai curiga. Masalahnya aku gak bisa bilangnya karena belum pasti apa yang
terjadi. Aku takut mengira-ngira, ntar Gadis malah kepikiran.”
“Memangnya kalo kamu gak bilang kayak gini,
Gadis gak akan kepikiran? Filling istri itu paling bagus loh.”
“Aku akan kasih tau kalo semuanya sudah
jelas. Tapi untuk sekarang cukup kita berdua aja yang tau, Ri.”
“Kasi tau nama hotelnya, nanti aku coba
tanya mas Elo, bisa gak bantu ngecek CCTV.”
Rio hanya mengangguk, Riri menyodorkan
makanan ke mulut Rio yang terlihat malas makan. Ia memaksa kembarannya untuk
makan. “Makan gak? Atau aku gelitikin nich.”
“Rese banget sich. Kamu uda punya anak
masih aja kayak gini. Suka gangguin.”
“Buka mulut!”bentak Riri galak.
yang galak. Belum lagi Rara sudah mendekat juga, memelototi dirinya agar mau
makan.
“Kalian nich harusnya kayak gini sama di
kembar. Hei! Stop!”
Riri menggelitiki pinggang Rio, sementara
Rara memegangi tangannya. Rio yang lemes digelitiki, cuma bisa ketawa geli. Ketiga
bersaudara itu saling memeluk sambil tertawa bahagia. Keakraban mereka membuat
semua orang di ruangan itu ikut tersenyum bahagia.
Gadis yang melihat Rio sudah mau makan dan
tertawa bersama Rara dan Riri, bernafas lega. Setidaknya Rio sudah bisa makan
dengan baik. Ia tidak akan gampang jatuh sakit kalau sudah mau makan.
Keesokan harinya, Rio dan Gadis berpamitan
pada Mia dan Alex untuk pergi liburan. Semalam Rio sudah melakukan reservasi di
sebuah private villa di pinggir kota. Mereka akan berangkat setelah mengantar
si kembar ke sekolah mereka.
“Kenapa mendadak sekali? Kalian mau pergi
kemana?”tanya Mia
“Ke private villa di pinggir pantai, mah.
Kayaknya mama pernah kesana dech sama papa.”
“Oh, kesana...”Wajah Mia merona mengingat
kejadian yang sudah terjadi bertahun-tahun lalu itu.
__ADS_1
Gadis menatap Rio, kepo dengan cerita
tentang private villa itu.
“Kamu mau tahu? Waktu mama sama papa belum
nikah, mereka nginep gitu di private villa yang aku booking. Nah, foto-foto
mereka masuk ke kamar, beredar tuch di kantor papa. Heboh banget waktu itu
sampe mama disiram air. Mama kan magang disana.”
“Emang mama sama papa ngapain disana?”tanya
Gadis.
“Cuma ngobrol kok.”kata Mia sedikit malu.
“Masa sich?”tanya Rio gak percaya.
“Ya, iyalah. Mama kan lepas perawan di
apartment papamu!”kata Mia keceplosan.
“Kok sama ya.”ujar Gadis tanpa sadar. Ia
melihat Mia dan Rio sudah menatapnya. Gadis menggeleng cepat dan tersenyum.
“Oh iya ya. Kejadian waktu itu disana
ya.”Mia bergumam sendiri.
Keduanya saling menatap dan tersenyum
canggung. Si kembar sudah selesai bersiap-siap. Mereka berangkat bersama
memakai mobil Rio. Setelah mengantar si kembar ke sekolahnya, Rio dan Gadis
lanjut ke tempat yang sudah mereka pesan untuk tiga hari ke depan.
Sampai disana, Gadis terpana melihat
indahnya pemandangan pantai yang terasa sejuk. Angin dingin mulai menerpa wajah
Gadis, pertengahan musim ini memang udara lebih dingin dari biasanya. “Hii,
dingin juga ya.”
“Ayo, masuk.”ajak Rio.
Mereka menuju tempat resepsionis, untuk
check in. Resepsionis memberikan kunci kamar mereka. Seorang staf villa
mengantar mereka sambil membawa koper. Gadis melihat 5 pintu berderet dan
mereka mendekati pintu kedua.
Staf villa membuka pintu dan mendorong
koper mereka masuk. Gadis melihat sekeliling villa yang sunyi tapi memiliki
pemandangan yang luar biasa bagusnya. Dari jendela mereka bisa melihat
pemandangan lepas pantai. Di depan sana juga ada kolam renang kecil dengan dua kursi
santai.
Gadis menoleh saat Rio memeluk pinggangnya
dari belakang. “Sayang, tiga hari ke depan, jangan memikirkan apapun. Kita
fokus ya.”bisik Rio.
“Fokus liburan kan?”
“Fokus buat anak.” Gadis hampir protes,
tapi Rio sudah memulai serangan pertamanya.
Gadis menatap punggung Rio yang sudah
tertidur di sebelahnya setelah Gadis mengibarkan bendera putih minta rehat. Ia
masih merasa ada yang tidak beres dengan Rio. Gadis melirik tas-nya. Didalam
sana ada ponselnya dan ponsel Rio. Rio tidak mengijinkan mereka memegang ponsel
selama liburan ini, tapi Gadis ingin menghubungi Riri untuk bertanya padanya.
*****
__ADS_1
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.