Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Rasa terpendam


__ADS_3

DM2 – Rasa terpendam


“Sebenarnya...”


Gadis menunggu jawaban Rio, tapi yang ia


rasakan hanya sentuhan Rio lagi, “Rio! Jangan lagi... Tunggu!”pekik Gadis


mencoba menghindari Rio, tapi tidak bisa.


Keduanya keluar dari kamar itu setelah


bersih-bersih. Semua orang yang sedang berkumpul di ruang tengah, menengok


melihat kedatangan mereka berdua dengan wajah merona.


“Kalian ngapain aja sich? Lama banget.”kata


Riri.


Mereka sudah tahu apa yang terjadi di dalam


kamar itu karena Riri mendengar suara Gadis di dalam sana ketika ingin


memanggil mereka untuk makan bersama. Riri ingin menggoda keduanya.


“Nggak ngapa-ngapain. Kepo sekali.”saut


Rio, duduk di samping Riri.


“Gadis, kenapa lehermu merah-merah


gitu?”tanya Katty tanpa di rem.


“Digigit nyamuk, kak.”jawab Gadis malu. Ia


merapikan rambutnya menutupi bekas perbuatan Rio.


“Masa sich? Kamu pikir kakak anak kecil?


Bisa dibohongin. Kalian ini kesini buat ngamar ya.”saut Katty lagi.


Wajah Gadis merona mendengar kata-kata


Katty. “Udah, dong. Rio tuch yang maksa, gak sabaran banget.”kata Gadis melirik


Rio.


Yang dilirik hanya diam melamun, Gadis


merasa sedih melihat kata-katanya tidak direspon Rio. Riri yang melihat reaksi


Rio, mengalihkan perhatian semua orang pada makanan di meja. Koki sudah


menyiapkan makanan yang banyak untuk mereka semua.


Suasana kembali hangat, semua orang


menghabiskan makanan itu kecuali Rio yang hanya makan sekedarnya saja. Gadis


beranjak ke ruang bermain anak-anak. Ia ingin melihat Rey yang masih asyik


bermain.


Riri mendekati Rio, mengajaknya bicara.


“Kamu kenapa, Rio?”


“Apa?”tanya Rio yang masih melamun.


“Kamu ada masalah? Cerita dong.”kata Riri


merapatkan duduknya pada Rio.


“Aku gak tau apa yang terjadi, Ri.


Sepertinya ada yang nggak beres, tapi aku gak ingat apa-apa.”bisik Rio sambil


melihat sekitarnya. Ia tidak ingin ada yang mendengar perbicaraan mereka.


“Maksudmu?”


“Tolong jangan keras-keras. Aku belum yakin


apa yang terjadi. Kemarin aku keluar kota sama sekretarisku. Kami meeting di


salah satu kamar hotel di pinggir kota. Padahal kami meeting hanya sekitar 1,5


jam, tapi aku merasa sangat lelah. Aku sempat ketiduran sampai malam baru


bangun. Dan aku gak merasakan apa-apa. Tapi perasaanku mengatakan kalau sudah

__ADS_1


ada yang terjadi dan aku gak tau apa itu.”


“Memang kamu minum apa?”tanya Riri.


“Hanya kopi. Tapi... entahlah, aku beneran


gak bisa inget. Kayak ada bagian ingatanku yang hilang.”


“Kamu sudah periksa CCTV di hotel?”tanya


Riri.


“Aku gak kepikiran, Ri. Sampai rumah aku


langsung tidur lagi, sampe sekarang aku masih gak tau apa yang terjadi.”


“Gadis udah tau?”tanya Riri sambil melirik


Gadis yang terlihat asyik bermain dengan Rey.


“Dia belum tahu, tapi sepertinya sudah


mulai curiga. Masalahnya aku gak bisa bilangnya karena belum pasti apa yang


terjadi. Aku takut mengira-ngira, ntar Gadis malah kepikiran.”


“Memangnya kalo kamu gak bilang kayak gini,


Gadis gak akan kepikiran? Filling istri itu paling bagus loh.”


“Aku akan kasih tau kalo semuanya sudah


jelas. Tapi untuk sekarang cukup kita berdua aja yang tau, Ri.”


“Kasi tau nama hotelnya, nanti aku coba


tanya mas Elo, bisa gak bantu ngecek CCTV.”


Rio hanya mengangguk, Riri menyodorkan


makanan ke mulut Rio yang terlihat malas makan. Ia memaksa kembarannya untuk


makan. “Makan gak? Atau aku gelitikin nich.”


“Rese banget sich. Kamu uda punya anak


masih aja kayak gini. Suka gangguin.”


“Buka mulut!”bentak Riri galak.


yang galak. Belum lagi Rara sudah mendekat juga, memelototi dirinya agar mau


makan.


“Kalian nich harusnya kayak gini sama di


kembar. Hei! Stop!”


Riri menggelitiki pinggang Rio, sementara


Rara memegangi tangannya. Rio yang lemes digelitiki, cuma bisa ketawa geli. Ketiga


bersaudara itu saling memeluk sambil tertawa bahagia. Keakraban mereka membuat


semua orang di ruangan itu ikut tersenyum bahagia.


Gadis yang melihat Rio sudah mau makan dan


tertawa bersama Rara dan Riri, bernafas lega. Setidaknya Rio sudah bisa makan


dengan baik. Ia tidak akan gampang jatuh sakit kalau sudah mau makan.


Keesokan harinya, Rio dan Gadis berpamitan


pada Mia dan Alex untuk pergi liburan. Semalam Rio sudah melakukan reservasi di


sebuah private villa di pinggir kota. Mereka akan berangkat setelah mengantar


si kembar ke sekolah mereka.


“Kenapa mendadak sekali? Kalian mau pergi


kemana?”tanya Mia


“Ke private villa di pinggir pantai, mah.


Kayaknya mama pernah kesana dech sama papa.”


“Oh, kesana...”Wajah Mia merona mengingat


kejadian yang sudah terjadi bertahun-tahun lalu itu.

__ADS_1


Gadis menatap Rio, kepo dengan cerita


tentang private villa itu.


“Kamu mau tahu? Waktu mama sama papa belum


nikah, mereka nginep gitu di private villa yang aku booking. Nah, foto-foto


mereka masuk ke kamar, beredar tuch di kantor papa. Heboh banget waktu itu


sampe mama disiram air. Mama kan magang disana.”


“Emang mama sama papa ngapain disana?”tanya


Gadis.


“Cuma ngobrol kok.”kata Mia sedikit malu.


“Masa sich?”tanya Rio gak percaya.


“Ya, iyalah. Mama kan lepas perawan di


apartment papamu!”kata Mia keceplosan.


“Kok sama ya.”ujar Gadis tanpa sadar. Ia


melihat Mia dan Rio sudah menatapnya. Gadis menggeleng cepat dan tersenyum.


“Oh iya ya. Kejadian waktu itu disana


ya.”Mia bergumam sendiri.


Keduanya saling menatap dan tersenyum


canggung. Si kembar sudah selesai bersiap-siap. Mereka berangkat bersama


memakai mobil Rio. Setelah mengantar si kembar ke sekolahnya, Rio dan Gadis


lanjut ke tempat yang sudah mereka pesan untuk tiga hari ke depan.


Sampai disana, Gadis terpana melihat


indahnya pemandangan pantai yang terasa sejuk. Angin dingin mulai menerpa wajah


Gadis, pertengahan musim ini memang udara lebih dingin dari biasanya. “Hii,


dingin juga ya.”


“Ayo, masuk.”ajak Rio.


Mereka menuju tempat resepsionis, untuk


check in. Resepsionis memberikan kunci kamar mereka. Seorang staf villa


mengantar mereka sambil membawa koper. Gadis melihat 5 pintu berderet dan


mereka mendekati pintu kedua.


Staf villa membuka pintu dan mendorong


koper mereka masuk. Gadis melihat sekeliling villa yang sunyi tapi memiliki


pemandangan yang luar biasa bagusnya. Dari jendela mereka bisa melihat


pemandangan lepas pantai. Di depan sana juga ada kolam renang kecil dengan dua kursi


santai.


Gadis menoleh saat Rio memeluk pinggangnya


dari belakang. “Sayang, tiga hari ke depan, jangan memikirkan apapun. Kita


fokus ya.”bisik Rio.


“Fokus liburan kan?”


“Fokus buat anak.” Gadis hampir protes,


tapi Rio sudah memulai serangan pertamanya.


Gadis menatap punggung Rio yang sudah


tertidur di sebelahnya setelah Gadis mengibarkan bendera putih minta rehat. Ia


masih merasa ada yang tidak beres dengan Rio. Gadis melirik tas-nya. Didalam


sana ada ponselnya dan ponsel Rio. Rio tidak mengijinkan mereka memegang ponsel


selama liburan ini, tapi Gadis ingin menghubungi Riri untuk bertanya padanya.


*****

__ADS_1


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2