
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 5
Melisa menarik kerah Ken, memaksa pria itu bangun
dari duduknya. Ia menunjukkan foto Kaori yang tersimpan di ponselnya.
“Apa kau tidak mau berjuang untuk dia? Semua
kebenaran ini akan terbuka, tapi kalau kau menyerah sekarang, perjuanganmu
selama ini akan sia-sia saja. Bangunlah!” Melisa menyadarkan Ken. “Tidak ada
waktu untuk berpikir sekarang. Lakukan tugasmu. Lepaskan emosi itu, tuan muda!”
Ken segera berganti pakaian lalu menyamar menjadi
petugas valet. Ia harus mengambil mobil Endy dan meninggalkan sidik jarinya
disana agar Endy tahu kalau Ken sudah lulus ujian penyamaran. Usaha terakhirnya
hampir gagal saat petugas lain sudah hampir berjalan mengambil kunci mobil
Endy.
Ken berpikir cepat, ia juga belajar caranya menukar
barang dengan cepat dari Melisa. Dalam sekejap, kunci mobil Endy sudah
berpindah ke tangan Ken. Melisa lagi-lagi mengambil fotonya saat masuk ke mobil
Endy dan membawa mobil itu ke lobby hotel.
Endy dan Kinanti sudah menunggu disana. Ken membuka
pintu untuk Endy kemudian berlari memutari mobil untuk membukakan pintu untuk
Kinanti. Selembar uang mendarat di tangan Ken setelah Kinanti masuk ke dalam
mobil. Ken tersenyum sinis, Kinanti tidak pernah memberikan uang secara
langsung padanya. Kalau tidak dititipkan ke pengasuh Ken, Kinanti akan
mentransfernya ke rekening pribadi Ken.
Setelah mobil Endy pergi dari hotel, Ken membuka
penyamarannya di dalam mobil pribadinya. Melisa bergabung dengan pria itu, lalu
mereka pergi bersama-sama.
“Dimana hasil tes DNA-nya? Seharusnya aku bisa
mendapatkannya sekarang,” kata Ken dingin.
“Aku akan memberikannya, tuan muda. Tapi sekarang
tujuan kita bukan pulang ke mansion. Ikuti jalan ini,” kata Melisa sambil
mengatur GPS di mobil Ken. Melisa memeriksa sekeliling, memastikan mereka tidak
diikuti siapapun.
Saat mereka hampir sampai di tempat tujuan, Melisa
meminta Ken menepi.
“Kita harus menyamar lagi. Tinggalkan mobilmu
disini. Kita akan berjalan kaki setelah ini,” kata Melisa sambil memakai mantel
panjang menutupi pakaiannya yang seksi. Udara cukup dingin di luar saat itu.
Ken keluar lebih dulu setelah memakai penyamaran baru.
Ia masuk ke mini market di dekat sana dan seorang pria mengikutinya masuk
kesana. Tadi Melisa meminta Ken untuk membeli roti dan juga susu. Tidak ada
keanehan yang terjadi, semuanya berjalan seperti biasanya. Ken membayar
belanjaannya, lalu membawa tas belanja itu keluar dari mini market.
Saat ia sampai di mobilnya lagi, Melisa sudah tidak
ada disana. Wanita itu hanya meninggalkan catatan agar Ken segera kembali ke
mansion dan membawa belanjaannya itu ke dalam kamarnya. Ken mengikuti perintah
Melisa, ia berharap akan bertemu wanita itu di mansion nanti.
Sampai di mansion, Ken yang sudah melepas
penyamarannya, membawa tas belanjaan itu ke dalam kamarnya. Ia tidak melihat
siapapun kecuali penjaga yang berjaga di depan mansion. Merasa sedikit aneh
dengan situasi di mansionnya, Ken berpura-pura mandi. Ia membawa tas belanjaan
itu bersamanya lalu menyembunyikan tas itu di belakang closet duduk.
Setelah menghidupkan air di dalam kamar mandi, Ken
menyelinap keluar lewat jendela lalu turun ke lantai bawah menggunakan tali
yang tersembunyi di antara dinding. Dilantai bawah, Ken melihat Endy dan
Kinanti di ruang kerja Alan. Alan juga ada disana bersama Ginara yang
sepertinya tertidur di sofa.
“Tuan Endy, istri saya sudah tidur. Silakan
bicara,” kata Alan setelah membuat Ginara pingsan. Akan lebih baik istrinya itu
tidak tahu apa yang dibicarakan oleh mereka bertiga nanti.
“Alan, sudah berapa lama kau disini?” tanya Endy.
__ADS_1
“Sudah hampir lima tahun, tuan.” Alan menjawab
dengan tatapan dingin yang belum pernah Ken lihat sebelumnya.
“Bagaimana Ken selama lima tahun ini?” tanya Endy
lagi. “Apa kau menemukan sesuatu yang mencurigakan?”
“Sepertinya tuan muda melakukan semacam tes di
rumah sakit, tuan. Saya rasa tuan sudah tahu ini tentang apa,” sahut Alan.
“Ya. Anak itu sama persis seperti Mia. Sangat
kepo,” kata Endy.
Mereka lantas membahas sesuatu yang lain, entah
tentang apa. Tapi yang jelas, Ken sudah tidak ada di tempatnya menguping tadi.
**
Sementara itu di rumah Alex, Mia dan Alex masih
tertidur di tempat tidur mereka. Posisi Mia terlentang, sementara Alex tampak
tidur membelakanginya. Kepala Mia mulai bergerak, ke kiri, ke kanan. Ia sedang
bermimpi buruk. Dalam mimpinya, Mia baru saja melahirkan Renata. Bayi cantik
itu tampak tertidur pulas di dalam gendongan Mia.
Lalu suasana gelap dan tiba-tiba bayi Renata
menghilang dari tangannya. Mia mulai kebingungan, ia mencari-cari bayi itu di
balik selimutnya, di bawah tempat tidur. Dan saat Mia menoleh, ia melihat Ken
dan Renata berdiri berdampingan. Ada Kaori juga disana sedang menatapnya. Kaori
menarik tangan Renata pergi menjauh dari Mia dan Ken malah berjalan mendekati
Mia.
“Ken? Kemana Renata dan Kaori?” tanya Mia dalam
mimpi itu tapi suaranya tercekat. Ia mencoba berteriak, tapi suaranya tidak
bisa keluar. Saat Mia melihat Kaori dan Renata menghilang dari hadapannya, Ken
malah memeluknya dengan erat.
“Renata! Kaori!” panggil Mia dalam tidurnya. Tangan
Mia terulur ke depan menggapai-gapai diudara.
Alex tersentak bangun lalu mengguncang tubuh Mia
yang mulai menangis histeris.
“Mia! Mia, bangun!” panggil Alex.
sambil menangis sesenggukan. Mia menggumamkan Renata dan Kaori yang pergi jauh.
Ia ketakutan karena tidak bisa melihat keduanya lagi.
“Sayang, itu cuma mimpi. Renata dan Kaori ada di
kamarnya. Ayo, kita lihat mereka,” kata Alex sambil menenangkan Mia yang masih
menangis.
Keduanya segera keluar dari kamar langsung menuju
kamar Kaori. Cucu kesayangan Alex itu tampak tertidur pulas sambil memeluk
boneka Teddy Bear yang hampir seukuran tubuhnya. Kehadiran Mia dan Alex di
kamarnya, langsung membangunkan Kaori yang bisa merasakan kehadiran seseorang
bahkan dalam tidurnya.
“Mmm... opa?” panggil Kaori. Bau parfum pria itu
sudah lebih dari cukup bagi Kaori untuk mengenali Alex.
“Iya, sayang. Opa cuma mau lihat Kaori. Tidur lagi
ya, sayang,” pinta Alex sambil mengelus kepala Kaori.
Gadis itu kembali terlelap dengan cepat. Alex
membawa Mia ke lantai dua menuju kamar Renata. Saat Alex membuka pintu kamar
putrinya itu, ia melihat laptop Renata yang menyala dan Reynold tampak di layar
laptop itu.
“Hai, opa, oma,” sapa Reynold santai. Ia tidak
terkejut dengan kehadiran keduanya karena SPIKE sudah mendeteksi kedatangan
Alex dan Mia ke kamar Renata.
“Hai, Rey. Dimana Renata?” tanya Alex heran. Mia
yang masih sesenggukan, menyembunyikan dirinya di belakang Alex.
“Lagi ngambil air wudhu, opa. Mau sholat katanya.
Opa belum tidur?” tanya Reynold. Seharusnya Alex yang bertanya begitu karena di
tempat Reynold seharusnya sudah tengah malam sekitar jam dua pagi.
Terdengar suara gemericik air di kamar mandi. Di
lantai juga tampak tergelar sajadah dan mukena pink milik Renata. Alex dan Mia
__ADS_1
saling pandang tersenyum satu sama lain. Putri mereka itu memang paling taat
beribadah. Pintu kamar mandi terbuka, Renata terkejut melihat orang tuanya ada
di dalam kamar.
“Papa, mama. Kenapa mama nangis?” tanya Renata
sambil menghampiri Mia.
“Nggak apa-apa, sayang. Mama cuma mimpi buruk. Kamu
belum tidur ya?” tanya Mia lembut.
“Tadi udah tidur, mah. Ini dibangunin kak Rey,
katanya disuruh belajar buat ujian masuk universitas.” Renata memeletkan
lidahnya ke arah laptopnya, yang dibalas Reynold dengan mendorong hidungnya
naik memakai telunjuk.
“Jangan lupa istirahat, sayang. Mama sama papa
balik ke kamar dulu ya,” kata Mia sambil mengecup kening Renata.
Alex dan Mia keluar dari kamar Renata setelah
melambaikan tangan mereka pada Reynold. Keduanya menuruni tangga menuju kamar
mereka. Tapi saat hampir masuk ke dalam kamar, Mia merasakan kehadiran
seseorang di luar.
“Mas, sepertinya ada seseorang di luar. Ayo kita
lihat, mas.” Mia menarik-narik tangan Alex yang bingung dengan permintaannya.
Kalaupun ada tamu di pagi buta seperti itu, seharusnya sudah menekan bel dari
tadi. Tapi demi menenangkan Mia yang tampak kuatir, Alex akhirnya mengecek
keluar rumah.
Mia dan Alex saling pandang saat melihat seseorang
berdiri di depan gerbang rumah mereka. Penjaga tampak sedang bicara dengan
orang itu dari bagian dalam gerbang. Alex memanggil penjaga itu dan menanyakan
siapa orang yang berdiri di depan gerbang.
Mia tanpa sadar berjalan menuruni tangga lalu
menyusuri halaman menuju pintu gerbang. Alex segera mengejarnya untuk
menghentikan langkah Mia, saat orang di luar gerbang memanggil nama Mia.
“Tante Mia... Mama...,” lirih Ken. Bruk! Pria itu terjatuh
dengan keras dan langsung tidak sadarkan diri.
**
Beberapa jam sebelumnya,
Setelah Ken mendengar kata-kata Endy tentang Mia
yang mirip dirinya, Ken segera naik kembali ke kamarnya. Ia mengambil tas
belanja, lalu mematikan shower yang masih mengalirkan air. Dibukanya tas
belanja itu hingga isinya berserakan di lantai.
Sejenak Ken menatap roti dan susu di lantai. Ia
meremas tas belanja ditangannya dan menyadari ada yang aneh dengan tas belanja
itu. Sesuatu tampak terselip di dalam tas belanja, sesuatu seperti kertas. Ken
mencari cutter, ia menghidupkan air di wastafel dan juga alat cukurnya.
Dengan cepat Ken mengeluarkan kertas putih sebanyak
dua lembar itu dan membaca isinya. Di lembar pertama tampak namanya dan nama
Mia dengan hasil negatif. Ken mendadak lemas melihat hasil tes DNA yang
negatif. Perasaannya mengatakan kalau itu tidak benar.
Pasti ada sesuatu yang disembunyikan papanya.
Rahasia besar yang hanya diketahui oleh papa, mama, dan juga Alan. Atau mungkin
hanya dirinya saja yang tidak tahu. Endy tidak akan mengatakan sesuatu seperti
itu kalau memang tidak ada apa-apa.
Seseorang tampak berjalan melewati kamar mandinya.
Ken bisa melihat bayangan orang itu dari bawah celah pintu kamar mandi. Ia
segera membuka pakaiannya lalu membasahi rambut dan juga tubuhnya dengan air
beraroma sabun mandi dan sampo. Ken sudah menyiapkan itu untuk keadaan darurat
seperti ini.
Ceklek! Ken membuka pintu kamar mandinya setelah
menyimpan pakaian dan hasil tes itu di tempat tersembunyi dan mendapati Kinanti
berdiri di dekat tempat tidurnya.
“Mama? Kapan dateng?” tanya Ken berbasa-basi.
“Ken. Mama cuma mampir bentar, mau langsung balik
__ADS_1
pulang. Mama kira kamu udah tidur,” kata Kinanti.
“Oh, dimana papa, mah?” tanya Ken lagi.