Duren Manis

Duren Manis
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 5


__ADS_3

Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 5


Melisa menarik kerah Ken, memaksa pria itu bangun


dari duduknya. Ia menunjukkan foto Kaori yang tersimpan di ponselnya.


“Apa kau tidak mau berjuang untuk dia? Semua


kebenaran ini akan terbuka, tapi kalau kau menyerah sekarang, perjuanganmu


selama ini akan sia-sia saja. Bangunlah!” Melisa menyadarkan Ken. “Tidak ada


waktu untuk berpikir sekarang. Lakukan tugasmu. Lepaskan emosi itu, tuan muda!”


Ken segera berganti pakaian lalu menyamar menjadi


petugas valet. Ia harus mengambil mobil Endy dan meninggalkan sidik jarinya


disana agar Endy tahu kalau Ken sudah lulus ujian penyamaran. Usaha terakhirnya


hampir gagal saat petugas lain sudah hampir berjalan mengambil kunci mobil


Endy.


Ken berpikir cepat, ia juga belajar caranya menukar


barang dengan cepat dari Melisa. Dalam sekejap, kunci mobil Endy sudah


berpindah ke tangan Ken. Melisa lagi-lagi mengambil fotonya saat masuk ke mobil


Endy dan membawa mobil itu ke lobby hotel.


Endy dan Kinanti sudah menunggu disana. Ken membuka


pintu untuk Endy kemudian berlari memutari mobil untuk membukakan pintu untuk


Kinanti. Selembar uang mendarat di tangan Ken setelah Kinanti masuk ke dalam


mobil. Ken tersenyum sinis, Kinanti tidak pernah memberikan uang secara


langsung padanya. Kalau tidak dititipkan ke pengasuh Ken, Kinanti akan


mentransfernya ke rekening pribadi Ken.


Setelah mobil Endy pergi dari hotel, Ken membuka


penyamarannya di dalam mobil pribadinya. Melisa bergabung dengan pria itu, lalu


mereka pergi bersama-sama.


“Dimana hasil tes DNA-nya? Seharusnya aku bisa


mendapatkannya sekarang,” kata Ken dingin.


“Aku akan memberikannya, tuan muda. Tapi sekarang


tujuan kita bukan pulang ke mansion. Ikuti jalan ini,” kata Melisa sambil


mengatur GPS di mobil Ken. Melisa memeriksa sekeliling, memastikan mereka tidak


diikuti siapapun.


Saat mereka hampir sampai di tempat tujuan, Melisa


meminta Ken menepi.


“Kita harus menyamar lagi. Tinggalkan mobilmu


disini. Kita akan berjalan kaki setelah ini,” kata Melisa sambil memakai mantel


panjang menutupi pakaiannya yang seksi. Udara cukup dingin di luar saat itu.


Ken keluar lebih dulu setelah memakai penyamaran baru.


Ia masuk ke mini market di dekat sana dan seorang pria mengikutinya masuk


kesana. Tadi Melisa meminta Ken untuk membeli roti dan juga susu. Tidak ada


keanehan yang terjadi, semuanya berjalan seperti biasanya. Ken membayar


belanjaannya, lalu membawa tas belanja itu keluar dari mini market.


Saat ia sampai di mobilnya lagi, Melisa sudah tidak


ada disana. Wanita itu hanya meninggalkan catatan agar Ken segera kembali ke


mansion dan membawa belanjaannya itu ke dalam kamarnya. Ken mengikuti perintah


Melisa, ia berharap akan bertemu wanita itu di mansion nanti.


Sampai di mansion, Ken yang sudah melepas


penyamarannya, membawa tas belanjaan itu ke dalam kamarnya. Ia tidak melihat


siapapun kecuali penjaga yang berjaga di depan mansion. Merasa sedikit aneh


dengan situasi di mansionnya, Ken berpura-pura mandi. Ia membawa tas belanjaan


itu bersamanya lalu menyembunyikan tas itu di belakang closet duduk.


Setelah menghidupkan air di dalam kamar mandi, Ken


menyelinap keluar lewat jendela lalu turun ke lantai bawah menggunakan tali


yang tersembunyi di antara dinding. Dilantai bawah, Ken melihat Endy dan


Kinanti di ruang kerja Alan. Alan juga ada disana bersama Ginara yang


sepertinya tertidur di sofa.


“Tuan Endy, istri saya sudah tidur. Silakan


bicara,” kata Alan setelah membuat Ginara pingsan. Akan lebih baik istrinya itu


tidak tahu apa yang dibicarakan oleh mereka bertiga nanti.


“Alan, sudah berapa lama kau disini?” tanya Endy.

__ADS_1


“Sudah hampir lima tahun, tuan.” Alan menjawab


dengan tatapan dingin yang belum pernah Ken lihat sebelumnya.


“Bagaimana Ken selama lima tahun ini?” tanya Endy


lagi. “Apa kau menemukan sesuatu yang mencurigakan?”


“Sepertinya tuan muda melakukan semacam tes di


rumah sakit, tuan. Saya rasa tuan sudah tahu ini tentang apa,” sahut Alan.


“Ya. Anak itu sama persis seperti Mia. Sangat


kepo,” kata Endy.


Mereka lantas membahas sesuatu yang lain, entah


tentang apa. Tapi yang jelas, Ken sudah tidak ada di tempatnya menguping tadi.


**


Sementara itu di rumah Alex, Mia dan Alex masih


tertidur di tempat tidur mereka. Posisi Mia terlentang, sementara Alex tampak


tidur membelakanginya. Kepala Mia mulai bergerak, ke kiri, ke kanan. Ia sedang


bermimpi buruk. Dalam mimpinya, Mia baru saja melahirkan Renata. Bayi cantik


itu tampak tertidur pulas di dalam gendongan Mia.


Lalu suasana gelap dan tiba-tiba bayi Renata


menghilang dari tangannya. Mia mulai kebingungan, ia mencari-cari bayi itu di


balik selimutnya, di bawah tempat tidur. Dan saat Mia menoleh, ia melihat Ken


dan Renata berdiri berdampingan. Ada Kaori juga disana sedang menatapnya. Kaori


menarik tangan Renata pergi menjauh dari Mia dan Ken malah berjalan mendekati


Mia.


“Ken? Kemana Renata dan Kaori?” tanya Mia dalam


mimpi itu tapi suaranya tercekat. Ia mencoba berteriak, tapi suaranya tidak


bisa keluar. Saat Mia melihat Kaori dan Renata menghilang dari hadapannya, Ken


malah memeluknya dengan erat.


“Renata! Kaori!” panggil Mia dalam tidurnya. Tangan


Mia terulur ke depan menggapai-gapai diudara.


Alex tersentak bangun lalu mengguncang tubuh Mia


yang mulai menangis histeris.


“Mia! Mia, bangun!” panggil Alex.


sambil menangis sesenggukan. Mia menggumamkan Renata dan Kaori yang pergi jauh.


Ia ketakutan karena tidak bisa melihat keduanya lagi.


“Sayang, itu cuma mimpi. Renata dan Kaori ada di


kamarnya. Ayo, kita lihat mereka,” kata Alex sambil menenangkan Mia yang masih


menangis.


Keduanya segera keluar dari kamar langsung menuju


kamar Kaori. Cucu kesayangan Alex itu tampak tertidur pulas sambil memeluk


boneka Teddy Bear yang hampir seukuran tubuhnya. Kehadiran Mia dan Alex di


kamarnya, langsung membangunkan Kaori yang bisa merasakan kehadiran seseorang


bahkan dalam tidurnya.


“Mmm... opa?” panggil Kaori. Bau parfum pria itu


sudah lebih dari cukup bagi Kaori untuk mengenali Alex.


“Iya, sayang. Opa cuma mau lihat Kaori. Tidur lagi


ya, sayang,” pinta Alex sambil mengelus kepala Kaori.


Gadis itu kembali terlelap dengan cepat. Alex


membawa Mia ke lantai dua menuju kamar Renata. Saat Alex membuka pintu kamar


putrinya itu, ia melihat laptop Renata yang menyala dan Reynold tampak di layar


laptop itu.


“Hai, opa, oma,” sapa Reynold santai. Ia tidak


terkejut dengan kehadiran keduanya karena SPIKE sudah mendeteksi kedatangan


Alex dan Mia ke kamar Renata.


“Hai, Rey. Dimana Renata?” tanya Alex heran. Mia


yang masih sesenggukan, menyembunyikan dirinya di belakang Alex.


“Lagi ngambil air wudhu, opa. Mau sholat katanya.


Opa belum tidur?” tanya Reynold. Seharusnya Alex yang bertanya begitu karena di


tempat Reynold seharusnya sudah tengah malam sekitar jam dua pagi.


Terdengar suara gemericik air di kamar mandi. Di


lantai juga tampak tergelar sajadah dan mukena pink milik Renata. Alex dan Mia

__ADS_1


saling pandang tersenyum satu sama lain. Putri mereka itu memang paling taat


beribadah. Pintu kamar mandi terbuka, Renata terkejut melihat orang tuanya ada


di dalam kamar.


“Papa, mama. Kenapa mama nangis?” tanya Renata


sambil menghampiri Mia.


“Nggak apa-apa, sayang. Mama cuma mimpi buruk. Kamu


belum tidur ya?” tanya Mia lembut.


“Tadi udah tidur, mah. Ini dibangunin kak Rey,


katanya disuruh belajar buat ujian masuk universitas.” Renata memeletkan


lidahnya ke arah laptopnya, yang dibalas Reynold dengan mendorong hidungnya


naik memakai telunjuk.


“Jangan lupa istirahat, sayang. Mama sama papa


balik ke kamar dulu ya,” kata Mia sambil mengecup kening Renata.


Alex dan Mia keluar dari kamar Renata setelah


melambaikan tangan mereka pada Reynold. Keduanya menuruni tangga menuju kamar


mereka. Tapi saat hampir masuk ke dalam kamar, Mia merasakan kehadiran


seseorang di luar.


“Mas, sepertinya ada seseorang di luar. Ayo kita


lihat, mas.” Mia menarik-narik tangan Alex yang bingung dengan permintaannya.


Kalaupun ada tamu di pagi buta seperti itu, seharusnya sudah menekan bel dari


tadi. Tapi demi menenangkan Mia yang tampak kuatir, Alex akhirnya mengecek


keluar rumah.


Mia dan Alex saling pandang saat melihat seseorang


berdiri di depan gerbang rumah mereka. Penjaga tampak sedang bicara dengan


orang itu dari bagian dalam gerbang. Alex memanggil penjaga itu dan menanyakan


siapa orang yang berdiri di depan gerbang.


Mia tanpa sadar berjalan menuruni tangga lalu


menyusuri halaman menuju pintu gerbang. Alex segera mengejarnya untuk


menghentikan langkah Mia, saat orang di luar gerbang memanggil nama Mia.


“Tante Mia... Mama...,” lirih Ken. Bruk! Pria itu terjatuh


dengan keras dan langsung tidak sadarkan diri.


**


Beberapa jam sebelumnya,


Setelah Ken mendengar kata-kata Endy tentang Mia


yang mirip dirinya, Ken segera naik kembali ke kamarnya. Ia mengambil tas


belanja, lalu mematikan shower yang masih mengalirkan air. Dibukanya tas


belanja itu hingga isinya berserakan di lantai.


Sejenak Ken menatap roti dan susu di lantai. Ia


meremas tas belanja ditangannya dan menyadari ada yang aneh dengan tas belanja


itu. Sesuatu tampak terselip di dalam tas belanja, sesuatu seperti kertas. Ken


mencari cutter, ia menghidupkan air di wastafel dan juga alat cukurnya.


Dengan cepat Ken mengeluarkan kertas putih sebanyak


dua lembar itu dan membaca isinya. Di lembar pertama tampak namanya dan nama


Mia dengan hasil negatif. Ken mendadak lemas melihat hasil tes DNA yang


negatif. Perasaannya mengatakan kalau itu tidak benar.


Pasti ada sesuatu yang disembunyikan papanya.


Rahasia besar yang hanya diketahui oleh papa, mama, dan juga Alan. Atau mungkin


hanya dirinya saja yang tidak tahu. Endy tidak akan mengatakan sesuatu seperti


itu kalau memang tidak ada apa-apa.


Seseorang tampak berjalan melewati kamar mandinya.


Ken bisa melihat bayangan orang itu dari bawah celah pintu kamar mandi. Ia


segera membuka pakaiannya lalu membasahi rambut dan juga tubuhnya dengan air


beraroma sabun mandi dan sampo. Ken sudah menyiapkan itu untuk keadaan darurat


seperti ini.


Ceklek! Ken membuka pintu kamar mandinya setelah


menyimpan pakaian dan hasil tes itu di tempat tersembunyi dan mendapati Kinanti


berdiri di dekat tempat tidurnya.


“Mama? Kapan dateng?” tanya Ken berbasa-basi.


“Ken. Mama cuma mampir bentar, mau langsung balik

__ADS_1


pulang. Mama kira kamu udah tidur,” kata Kinanti.


“Oh, dimana papa, mah?” tanya Ken lagi.


__ADS_2