
Setelah mengunjungi
beberapa tempat di rumah kakek untuk pengambilan foto dan beberapa kali ganti
baju, Riri kebelet ingin ke toilet. Ia bertanya pada salah satu pelayan dimana
toilet terdekat dan pelayan mengantarnya kesana.
Riri menyelesaikan
urusannya di toilet sedikit lambat karena gaun yang dipakainya, ketika ia
keluar dari toilet, pelayan yang tadi mengantarnya sudah menghilang. Jreng!
Berganti jadi tante Dewi yang menatapnya dengan tajam.
Riri : “Halo, tante
Dewi.”
Riri mencoba bersikap
ramah, ia hanya ingin menyapa dengan sopan tanpa berharap akan dibalas. Sudah
cukup ia mendengar dirinya dikatai liar dan ******. Tapi ketika Riri berjalan
menjauh dari tante Dewi, lengannya di cekal mama Elena itu.
Tante Dewi : “Mau
kemana kamu? Gadis liar gak tau sopan santun.”
Riri : “Aduch...
Lepasin, tante.”
Tante Dewi menarik
Riri dengan kasar hingga tubuh Riri limbung dan nyaris jatuh membentur meja
besi di dekat toilet. Riri memejamkan matanya ketika merasakan tubuhnya akan
membentur meja itu.
Tapi Riri tidak
merasakan apa-apa. Seseorang sudah menahan tubuhnya, Riri membuka matanya dan
melihat Dion menatapnya. Dion dengan cepat menegakkan tubuh Riri dan tetap
memegangi lengannya sampai Riri bisa berdiri dengan seimbang.
Dion ganti menatap
tante Dewi yang histeris melihat wajahnya. Tante gila itu berjalan mundur
ketika Dion dengan iseng berjalan mendekatinya.
Tante Dewi : “Pergi
kau! Dasar pengawal gila!”
Tante Dewi lari
terbirit-birit dari hadapan Dion dan Riri. Dion tertawa ngakak melihat tante
Dewi ketakutan karenanya.
Dion : “Masih belum
kapok juga. Awas aja ntar malem.”
Riri : “Kak Dion,
makasih kak.”
Dion : “Sama-sama
Riri. Ayo, cepat balik. Dicariin Elo tuch.”
Riri berjalan
bersama Dion kembali ke tempat pemotretan Elo dan Riri. Elo yang melihat Riri
berjalan mendekatinya, mengulurkan tangan pada Riri.
Elo : “Kamu dari
mana?”
Riri : “Dari
toilet, mas. Tadi ketemu tante Dewi juga.”
Elo membolak-balik
tubuh Riri,
Riri : “Aduch, mas.
Aku gak pa-pa. Kak Dion bantuin aku tadi. Loh, mana orangnya?”
Elo : “Paling
sembunyi di balik korden.”
Riri jadi iseng, ia
mengendap-endap mendekati korden terdekat dan membukanya untuk mengagetkan
Dion. Tapi kosong, tidak ada di korden itu. Ia mencoba beberapa korden lagi,
tapi tetap nihil. Akhirnya Riri menyerah, dia kecapean dan duduk di sofa
mengipasi tubuhnya yang berkeringat.
Beberapa pelayan
yang berdiri disana, menahan senyumnya melihat tingkah Riri yang menggemaskan.
Elo saja sampai menahan tawanya, ia sempat melihat bayangan Dion berpindah dari
satu korden ke korden lain untuk menghindari Riri.
Elo : “Kamu
ngapain? Mau ngagetin Dion?”
Riri : “Hadeh,
emang susah ngagetin ninja. Aku haus, mas.”
Pelayan mendekat
membawakan minuman untuk Riri,
Pelayan : “Silakan,
nona.”
Riri : “Makasi ya,
__ADS_1
mb.”
Pelayan : “Nona mau
saya kipasi?”
Riri : “Tidak usah,
saya sendiri aja. Makasih minumannya.”
Elo : “Sayang,
ganti baju dulu sana. Sama Lili.”
Riri : “Oh, uda
selesai ya, mas?”
Elo : “Sudah. Malam
ini, kamu nginep sini ya?”
Riri : “Kenapa?”
Elo : “Pengen aja
kamu nginep sini.”
Riri : “Nggak, ach
mas. Takut.”
Elo : “Takut apa?
Disini aman kok. Kamu takut sama Dion?”
Riri : “Kak Dion
sich gak nakutin. Mas tuch yang nakutin.”
Elo : “Kok aku?”
Riri : “Iya,
menakutkan dan berbahaya. Ayo, Lili.”
Lili : “Baik,
nona.”
Saat Riri berjalan
menjauh bersama Lili, terdengar suara tawa ngakak dari balik korden. Dion
keluar dari sana dan berdiri di dekat Elo.
Elo : “Puas banget
kamu ketawa ya.”
Dion : “Baru kali
ini ada orang yang bilang kamu lebih menakutkan dari aku. Riri yang bilang lagi.”
Elo : “Apa juga
maksudnya Riri ngomong gitu?”
Dion : “Bukan
wajahmu maksud Riri tapi itu yang menakutkan dan berbahaya.”
yang ditunjuk Dion dengan sudut matanya, ia spontan memukul lengan Dion dan
balik menyudutkan Dion.
Elo : “Kau kalah
kan?”
Dion : “Ya, aku
kalah. Apa yang kau minta?”
Elo : “Kau harus
mengajak Lili dinner malam ini.”
Dion : “What! Nggak,
nggak... Ngaco namanya.”
Elo : “Aku selalu
mengikuti permintaanmu, trus kamu gak mau ngikutin permintaanku?”
Dion : “Bisa kau
bayangkan aku, lihat wajahku, dinner dengan Lili. Dia akan memuntahkan
makanannya bahkan ketika ia setuju untuk dinner denganku.”
Elo : “Lakukan
saja. Aku mau ke kamar Riri dulu.”
Elo meninggalkan
Dion yang sibuk menggaruk kepalanya. Tapi ia harus menuruti permintaan Elo.
*****
Riri dan Elo sedang
duduk di dalam kamar Elo. Mereka mengobrol sambil menikmati cemilan yang
diberikan Pak Kim.
Riri : “Mas, boleh
nanya gak?”
Elo : “Boleh. Apa?”
Riri : “Mas kenal
kak Dion dimana?”
Elo : “Itu... aku
cerita dari mana ya...”
Elo teringat
pertemuan pertamanya dengan Dion saat mereka berumur 12 tahun. Saat itu kakek dan
Elo sedang berkunjung ke sebuah kamp militer. Riri benar-benar mendengarkan
cerita Elo tanpa bertanya untuk apa Elo ke kamp militer.
Elo : “Aku berjalan
__ADS_1
terpisah dari kakek dan tidak sengaja masuk ke sebuah bangunan yang akan
dijadikan tempat uji coba granat terbaru.”
Kejadiannya saat
itu begitu cepat, saat kakek mulai kebingungan mencari Elo, bangunan itu mulai
dilempari granat dan mulai terbakar hebat. Elo yang terjebak, mencoba mencari
jalan keluar, tapi semua jalan sudah tertutup dengan api.
Elo : “Kau tahu,
Dion itu entah sangat bodoh atau memang baik hati. Dia masuk lewat jendela yang
belum terbakar dan membantuku keluar dari bangunan itu.”
Elo menatap Riri
yang mulai penasaran bagaimana Dion bisa mendapat luka bakar sementara Elo
tidak.
Elo : “Saat kami
sudah keluar dari bangunan itu, tiba-tiba terjadi ledakan lagi. Dion memelukku
dan membiarkan punggung dan kepalanya terkena api. Dion dibawa kakek ke rumah
sakit dalam kondisi kritis.”
Riri : “Kakak gak
kena luka bakar?”
Elo : “’Kalau Dion
tidak melindungiku, bisa saja sekarang aku tidak ada disini, Ri.”
Riri : “Kenapa kak
Dion baik sekali, mau menolong kakak?”
Elo : “Dia gak
pernah mau jawab pertanyaan itu. Tapi Pak Kim bilang kalau kakek pernah
menolong ibunya Dion yang sakit parah sebelum akhirnya ibunya meninggal.”
Riri : “Uh,
sedih... kasian kak Dion.”
Elo : “Mau tau yang
lebih seru gak?”
Riri : “Apaan, mas?”
Elo membawa Riri ke
balkon kamarnya. Ia menunjuk ke taman di bawah sana. Tampak Dion sedang bicara
dengan Lili.
Riri : “Mereka
bicara apa?”
Elo : “Sepertinya
Dion ingin mengajak Lili dinner.”
Riri : “Dinner? Kak
Dion suka sama Lili.”
Elo : “Begitulah
yang kulihat.”
Riri : “Oh,
romantis sekali kak Dion. Apa Lili akan setuju?”
Mereka berdua
menatap keduanya yang tampak berhadapan. Dion muncul di depan Lili yang baru
kembali dari kamarnya setelah mandi dan ganti pakaian.
Lili : “Ada apa?”
Dion : “Aku mau
mengajakmu dinner.”
Lili : “Dimana?”
Dion : “Restaurant
dekat sini.”
Lili : “Tidak bisa.
Aku harus mengantar nona Riri pulang.”
Dion : “Riri akan
menginap disini malam ini.”
Lili : “Aku harus
pastikan dulu.”
Dion : “Kalau
dinner di taman belakang?”
Lili : “Jam berapa?”
Dion : “Jam 7.”
Lili : “Ok.”
Lili berjalan
melewati Dion seolah pembicaraan tadi tidak ada. Dan saat Riri dan Elo kembali
melihat kearah mereka, keduanya sudah menghilang.
🌻🌻🌻🌻🌻
Apa yang ditunjuk
Dion pada Elo ya?
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).
__ADS_1