Duren Manis

Duren Manis
Kisah Dion


__ADS_3

Setelah mengunjungi


beberapa tempat di rumah kakek untuk pengambilan foto dan beberapa kali ganti


baju, Riri kebelet ingin ke toilet. Ia bertanya pada salah satu pelayan dimana


toilet terdekat dan pelayan mengantarnya kesana.


Riri menyelesaikan


urusannya di toilet sedikit lambat karena gaun yang dipakainya, ketika ia


keluar dari toilet, pelayan yang tadi mengantarnya sudah menghilang. Jreng!


Berganti jadi tante Dewi yang menatapnya dengan tajam.


Riri : “Halo, tante


Dewi.”


Riri mencoba bersikap


ramah, ia hanya ingin menyapa dengan sopan tanpa berharap akan dibalas. Sudah


cukup ia mendengar dirinya dikatai liar dan ******. Tapi ketika Riri berjalan


menjauh dari tante Dewi, lengannya di cekal mama Elena itu.


Tante Dewi : “Mau


kemana kamu? Gadis liar gak tau sopan santun.”


Riri : “Aduch...


Lepasin, tante.”


Tante Dewi menarik


Riri dengan kasar hingga tubuh Riri limbung dan nyaris jatuh membentur meja


besi di dekat toilet. Riri memejamkan matanya ketika merasakan tubuhnya akan


membentur meja itu.


Tapi Riri tidak


merasakan apa-apa. Seseorang sudah menahan tubuhnya, Riri membuka matanya dan


melihat Dion menatapnya. Dion dengan cepat menegakkan tubuh Riri dan tetap


memegangi lengannya sampai Riri bisa berdiri dengan seimbang.


Dion ganti menatap


tante Dewi yang histeris melihat wajahnya. Tante gila itu berjalan mundur


ketika Dion dengan iseng berjalan mendekatinya.


Tante Dewi : “Pergi


kau! Dasar pengawal gila!”


Tante Dewi lari


terbirit-birit dari hadapan Dion dan Riri. Dion tertawa ngakak melihat tante


Dewi ketakutan karenanya.


Dion : “Masih belum


kapok juga. Awas aja ntar malem.”


Riri : “Kak Dion,


makasih kak.”


Dion : “Sama-sama


Riri. Ayo, cepat balik. Dicariin Elo tuch.”


Riri berjalan


bersama Dion kembali ke tempat pemotretan Elo dan Riri. Elo yang melihat Riri


berjalan mendekatinya, mengulurkan tangan pada Riri.


Elo : “Kamu dari


mana?”


Riri : “Dari


toilet, mas. Tadi ketemu tante Dewi juga.”


Elo membolak-balik


tubuh Riri,


Riri : “Aduch, mas.


Aku gak pa-pa. Kak Dion bantuin aku tadi. Loh, mana orangnya?”


Elo : “Paling


sembunyi di balik korden.”


Riri jadi iseng, ia


mengendap-endap mendekati korden terdekat dan membukanya untuk mengagetkan


Dion. Tapi kosong, tidak ada di korden itu. Ia mencoba beberapa korden lagi,


tapi tetap nihil. Akhirnya Riri menyerah, dia kecapean dan duduk di sofa


mengipasi tubuhnya yang berkeringat.


Beberapa pelayan


yang berdiri disana, menahan senyumnya melihat tingkah Riri yang menggemaskan.


Elo saja sampai menahan tawanya, ia sempat melihat bayangan Dion berpindah dari


satu korden ke korden lain untuk menghindari Riri.


Elo : “Kamu


ngapain? Mau ngagetin Dion?”


Riri : “Hadeh,


emang susah ngagetin ninja. Aku haus, mas.”


Pelayan mendekat


membawakan minuman untuk Riri,


Pelayan : “Silakan,


nona.”


Riri : “Makasi ya,

__ADS_1


mb.”


Pelayan : “Nona mau


saya kipasi?”


Riri : “Tidak usah,


saya sendiri aja. Makasih minumannya.”


Elo : “Sayang,


ganti baju dulu sana. Sama Lili.”


Riri : “Oh, uda


selesai ya, mas?”


Elo : “Sudah. Malam


ini, kamu nginep sini ya?”


Riri : “Kenapa?”


Elo : “Pengen aja


kamu nginep sini.”


Riri : “Nggak, ach


mas. Takut.”


Elo : “Takut apa?


Disini aman kok. Kamu takut sama Dion?”


Riri : “Kak Dion


sich gak nakutin. Mas tuch yang nakutin.”


Elo : “Kok aku?”


Riri : “Iya,


menakutkan dan berbahaya. Ayo, Lili.”


Lili : “Baik,


nona.”


Saat Riri berjalan


menjauh bersama Lili, terdengar suara tawa ngakak dari balik korden. Dion


keluar dari sana dan berdiri di dekat Elo.


Elo : “Puas banget


kamu ketawa ya.”


Dion : “Baru kali


ini ada orang yang bilang kamu lebih menakutkan dari aku. Riri yang bilang lagi.”


Elo : “Apa juga


maksudnya Riri ngomong gitu?”


Dion : “Bukan


wajahmu maksud Riri tapi itu yang menakutkan dan berbahaya.”


yang ditunjuk Dion dengan sudut matanya, ia spontan memukul lengan Dion dan


balik menyudutkan Dion.


Elo : “Kau kalah


kan?”


Dion : “Ya, aku


kalah. Apa yang kau minta?”


Elo : “Kau harus


mengajak Lili dinner malam ini.”


Dion : “What! Nggak,


nggak... Ngaco namanya.”


Elo : “Aku selalu


mengikuti permintaanmu, trus kamu gak mau ngikutin permintaanku?”


Dion : “Bisa kau


bayangkan aku, lihat wajahku, dinner dengan Lili. Dia akan memuntahkan


makanannya bahkan ketika ia setuju untuk dinner denganku.”


Elo : “Lakukan


saja. Aku mau ke kamar Riri dulu.”


Elo meninggalkan


Dion yang sibuk menggaruk kepalanya. Tapi ia harus menuruti permintaan Elo.


*****


Riri dan Elo sedang


duduk di dalam kamar Elo. Mereka mengobrol sambil menikmati cemilan yang


diberikan Pak Kim.


Riri : “Mas, boleh


nanya gak?”


Elo : “Boleh. Apa?”


Riri : “Mas kenal


kak Dion dimana?”


Elo : “Itu... aku


cerita dari mana ya...”


Elo teringat


pertemuan pertamanya dengan Dion saat mereka berumur 12 tahun. Saat itu kakek dan


Elo sedang berkunjung ke sebuah kamp militer. Riri benar-benar mendengarkan


cerita Elo tanpa bertanya untuk apa Elo ke kamp militer.


Elo : “Aku berjalan

__ADS_1


terpisah dari kakek dan tidak sengaja masuk ke sebuah bangunan yang akan


dijadikan tempat uji coba granat terbaru.”


Kejadiannya saat


itu begitu cepat, saat kakek mulai kebingungan mencari Elo, bangunan itu mulai


dilempari granat dan mulai terbakar hebat. Elo yang terjebak, mencoba mencari


jalan keluar, tapi semua jalan sudah tertutup dengan api.


Elo : “Kau tahu,


Dion itu entah sangat bodoh atau memang baik hati. Dia masuk lewat jendela yang


belum terbakar dan membantuku keluar dari bangunan itu.”


Elo menatap Riri


yang mulai penasaran bagaimana Dion bisa mendapat luka bakar sementara Elo


tidak.


Elo : “Saat kami


sudah keluar dari bangunan itu, tiba-tiba terjadi ledakan lagi. Dion memelukku


dan membiarkan punggung dan kepalanya terkena api. Dion dibawa kakek ke rumah


sakit dalam kondisi kritis.”


Riri : “Kakak gak


kena luka bakar?”


Elo : “’Kalau Dion


tidak melindungiku, bisa saja sekarang aku tidak ada disini, Ri.”


Riri : “Kenapa kak


Dion baik sekali, mau menolong kakak?”


Elo : “Dia gak


pernah mau jawab pertanyaan itu. Tapi Pak Kim bilang kalau kakek pernah


menolong ibunya Dion yang sakit parah sebelum akhirnya ibunya meninggal.”


Riri : “Uh,


sedih... kasian kak Dion.”


Elo : “Mau tau yang


lebih seru gak?”


Riri : “Apaan, mas?”


Elo membawa Riri ke


balkon kamarnya. Ia menunjuk ke taman di bawah sana. Tampak Dion sedang bicara


dengan Lili.


Riri : “Mereka


bicara apa?”


Elo : “Sepertinya


Dion ingin mengajak Lili dinner.”


Riri : “Dinner? Kak


Dion suka sama Lili.”


Elo : “Begitulah


yang kulihat.”


Riri : “Oh,


romantis sekali kak Dion. Apa Lili akan setuju?”


Mereka berdua


menatap keduanya yang tampak berhadapan. Dion muncul di depan Lili yang baru


kembali dari kamarnya setelah mandi dan ganti pakaian.


Lili : “Ada apa?”


Dion : “Aku mau


mengajakmu dinner.”


Lili : “Dimana?”


Dion : “Restaurant


dekat sini.”


Lili : “Tidak bisa.


Aku harus mengantar nona Riri pulang.”


Dion : “Riri akan


menginap disini malam ini.”


Lili : “Aku harus


pastikan dulu.”


Dion : “Kalau


dinner di taman belakang?”


Lili : “Jam berapa?”


Dion : “Jam 7.”


Lili : “Ok.”


Lili berjalan


melewati Dion seolah pembicaraan tadi tidak ada. Dan saat Riri dan Elo kembali


melihat kearah mereka, keduanya sudah menghilang.


🌻🌻🌻🌻🌻


Apa yang ditunjuk


Dion pada Elo ya?


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).

__ADS_1


__ADS_2