
Hari Jumat sore, di
asrama putri, Riri sedang bersiap untuk pulang ke rumah. Hari Minggu besok, Elo
akan datang dengan keluarganya untuk melamar Riri secara resmi dan pernikahan
akan diadakan hari Minggu berikutnya.
Riri membaca lagi
surat kepindahannya ke universitas di negara A. Dua minggu setelah pernikahan,
ia dan Elo akan berangkat ke negara A dan menetap disana sampai kuliah Elo
selesai. Riri menarik nafas panjang, apa memang ini yang ia inginkan atau Elo inginkan.
Riri memejamkan
matanya sambil bersandar di ranjang asramanya. Riri mengingat saat ia pertama
kali bertemu Elo, ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Rasa yang hangat
setiap kali dirinya mengingat Elo kembali menjalar di seluruh tubuhnya.
Riri : “Ya, aku
ingin selalu bersama mas Elo. Meskipun aku harus jauh dari keluargaku.”
Riri mengusap air
matanya, ia tidak boleh menangis atau mamanya akan khawatir padanya. Dengan
cepat Riri berdiri, ia belum selesai mengemasi barang-barangnya.
Kaori : “Ri? Sudah
selesai? Rio memanggilmu.”
Kaori melongok dari
luar kamar, ia masuk ke dalam dan melihat Riri belum selesai mengepak barang-barangnya.
Kaori : “Masih
belum selesai juga? Kamu lagi ngapain sich?”
Riri : “Aku... Aku
bingung gimana bawa semuanya.”
Kaori melirik
tumpukan barang Riri yang bahkan mereka berdua bisa membawanya sekaligus. Ia
duduk di atas ranjang Riri dan menarik tangan Riri.
Kaori : “Sini dech,
duduk dulu. Kamu capek?”
Riri : “...”
Riri tidak tahan
juga, ia menangis sambil memeluk Kaori. Kaori dengan sabar mengelus punggung
Riri, menunggunya selesai menangis.
Kaori : “Kamu
kenapa, Ri?”
Riri : “Habis aku
nikah, kita masih sahabat kan?”
Kaori : “Astaga,
kenapa kamu nanya lagi? Kita tetap sahabat lah.”
Riri : “Janji ya,
masih mau denger curhatku.”
Kaori : “Iya janji.
Kamu kenapa sich? Galau?”
Riri : “Aku gak
kenal siapa-siapa disana, aku sedikit takut.”
Kaori : “Kan ada
calon suamimu, hehe...”
Riri : “Kalo dia
sibuk gimana?”
Kaori : “Masih ada
Lili? Atau aku nyusul kesana ya?”
Kaori seperti
bicara sendiri, ia membayangkan kuliah di luar negeri yang banyak bulenya.
Kaori : “Eh, nggak
dech. Ntar siapa yang jaga Rio disini.”
Riri : “Dia uda
besar, gak usah di jagain.”
Kaori : “Ntar
direbut orang, aku dong yang rugi.”
Riri : “Kamu sich,
mau aja di pegang-pegang.”
Kaori : “Rio tuch
yang maksa. Kamu gak lihat perbedaan besar badanku sama dia? Gimana aku bisa
ngelak kalo dia uda maksa.”
Riri : “Halah,
kalian sama aja.”
Kaori nyengir, ia
melihat Riri sudah berhenti menangis dan tingkah lakunya kembali seperti semula.
Kaori : “Aku akan
tetap jadi sahabatmu. Kamu bisa curhat kapan aja. 24 jam.”
Riri : “Ntar aku
curhat, kamunya molor. Perbedaan waktunya itu loh. Pagi malam.”
__ADS_1
Kaori : “Bisa
diatur, kan. Semangat dong, uda mau nikah masih aja ngambekan.”
Riri : “Aku gak
gitu.”
Kaori : “Iya, iya.
Sayangnya pak Elo.”
Riri tersenyum
cerah mendengar kata-kata Kaori.
Kaori : “Ayo cepat
selesaikan ini. Atau masku akan ngomel nanti.”
Riri : “Masku?”
Kaori : “Rio.”
Riri dan Kaori tertawa
ngakak bersamaan. Mereka segera mengemasi barang-barang Riri dan membawanya
keluar dari kamar asrama putri.
Sampai di bawah,
Rio yang sudah menunggu mengkerutkan keningnya melihat Riri.
Rio : “Kamu nangis?”
Riri : “Kamu tuch,
tau aja.”
Rio : “Kamu lupa
kita kembar? Kalau kamu nangis, aku juga ngrasa. Kenapa nangis?”
Riri : “Baper aja.
Aku mau pindah kuliah. Kamu gak sedih aku tinggal.”
Rio : “Nggak tuch.”
Riri terdiam, ia
menatap Rio yang terus memasukkan barang-barangnya ke dalam mobil.
Kaori : “Gak sedih
ya. Trus kenapa matamu merah.”
Rio : “Mana ada.”
Kaori memegang
kedua pipi Rio dan berniat menunjukkan matanya yang merah pada Riri, tapi Rio
keburu memeluknya. Ia menyembunyikan wajahnya yang sedih dengan memeluk Kaori.
Riri : “Aku tahu
kamu juga sedih, Rio.”
Rio berbalik
memeluk Riri dengan erat sampai mereka hampir jatuh di trotoar. Riri dan Rio
menangis bersama-sama, Kaori juga ikut menangis melihat keduanya. Kejadian itu
*****
Ketiganya baru
sampai di depan rumah Alex, Rio menghadap Riri yang duduk di sampingnya.
Rio : “Kalau uda
nikah nanti, jangan lupa jaga kesehatanmu. Jangan baca buku aja, belajar masak
juga.”
Rio : “Kamu bawel,
Rio. Kamu juga jaga semuanya disini ya. Nenek uda semakin tua, mulai
sakit-sakitan juga. Jangan bertengkar terus sama papa.”
Rio : “Kalo yang
terakhir aku gak janji. Mungkin aku akan berhenti bertengkar dengan papa kalau
aku sudah menikahi gadis dibelakangku ini.”
Kaori : “Nikah,
nikah. Kamu, aku harus lulus kuliah dulu trus kerja. Lagian aku belum yakin
sama kamu.”
Rio : “Mulai dech.
Apalagi sich salahku?”
Kaori : “Penggemarmu
tambah banyak sekarang, belum lagi cewek itu, siapa namanya?”
Rio : “Cewek yang
mana?”
Kaori : “Gadis.”
Rio : “Cewek sama
gadis apa bedanya?”
Riri melihat kedua
pasangan kekasih itu mulai berdebat dan memilih keluar mobil duluan sambil membawa
barang-barangnya masuk ke dalam rumah.
Riri : “Riri
pulang. Huft...”
Riri melihat
tumpukan album di ruang keluarga. Ia mengambil satu sambil melihat sekeliling
yang cukup sepi. Seorang wanita tiba-tiba menghampirinya,
Mb Roh : “Siang,
non Riri.”
Riri : “Mb kenal
__ADS_1
saya? Mb siapa?”
Mb Roh : “Saya mb
Roh, pengasuh si kembar.”
Riri : “Oh, mb
Minah sama nenek mana, mb?”
Mb Roh : “Ada di
kamar mb Mia, lagi memandikan si kembar. Saya tadi kebelet, saya kesana dulu ya
non.”
Riri hanya
mengangguk, ia lupa menanyakan keberadaan Mia dan Alex. Matanya tertuju pada
album di tangannya. Riri membuka album itu dan melihat fotonya memakai baju
pengantin berwarna putih, lengkap dengan aksesorisnya.
Riri : “Wow! Kapan aku
foto gini ya. Bagus sekali.”
Kaori dan Rio
bergiliran masuk ke dalam rumah juga. Mereka meletakkan barang-barang Riri di
ruang keluarga dan duduk di samping Riri. Riri melirik sekilas keduanya yang
ngos-ngosan.
Riri : “Kalian
habis ngapain? Lari?”
Wajah Rio memerah, ia
mengeluh haus dan lari ke dapur.
Kaori : “Kabur dah
trus. Dasar gak mau tanggung jawab.”
Riri : “Ada apa
sich?”
Kaori : “Dia nyium
aku di mobil, gak inget tempat lagi. Kami hampir di grebek ibu-ibu kompleks
sini.
Untung aja aku
lihat gerombolan si berat... eh, ibu-ibu itu. Kalau gak gimana jadinya.”
Riri : “Bakalan ada
yang dikawinin duluan dong.”
Kaori : “Nikah dulu
dong, kawin, kawin. Kamu tuch yang kebelet kawin.”
Riri : “Enak aja.
Aku cuma mau nikah dulu, kawinnya kalo mas Elo uda lulus kuliah.”
Kaori : “Kasian
amat pak Elo.”
Riri : “Kenapa
kasian?”
Kaori : “Nunggunya
lama. Emang kamu tahu kawin itu ngapain?”
Riri : “Gak tau.
Kamu?”
Kaori : “Sama juga
gak tau. Apa kayak mamamu itu ya? Lama banget di kamar sama papamu, trus jeng,
jeng, jeng, lahir adik kembarmu.”
Riri : “Waduh, kalo
gitu aku gak mau sekamar sama mas Elo dech.”
Kaori : “Kalian kan
udah nikah, kenapa gak sekamar? Kakakmu juga gitu kan? Hamil.”
Riri : “Nanti aku
hamil, gimana?”
Kaori : “Emang kamu
tahu caranya bisa hamil?”
Riri : “Gak tahu.
Kamu?”
Kaori : “Mana aku
tau. Aku uda nanya Rio, malah aku dibilang mesum. Nanya baik-baik loh.”
Riri : “Kalo dari
teori kan harus kawin dulu baru bisa hamil. Masalahnya dibuku gak ditunjukkan
gimana caranya.”
Kaori : “Lah, kalo
ditunjukin di buku, namanya ngajarin anak-anak kawin di usia muda dong.”
Riri : “Hehe, iya
ya.”
Kedua gadis polos
itu terus mengobrol tanpa sadar kalau pembicaraan mereka di dengar satu-satunya
pria dewasa di rumah itu (si kembar Rava dan Reva juga pria tapi pria kecil).
Rio meneguk habis ketiga gelas sirup yang dibawanya saat mendengar pembicaraan Riri
dan Kaori, ia kepanasan sendiri.
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).