Duren Manis

Duren Manis
Nikah dulu baru...


__ADS_3

Hari Jumat sore, di


asrama putri, Riri sedang bersiap untuk pulang ke rumah. Hari Minggu besok, Elo


akan datang dengan keluarganya untuk melamar Riri secara resmi dan pernikahan


akan diadakan hari Minggu berikutnya.


Riri membaca lagi


surat kepindahannya ke universitas di negara A. Dua minggu setelah pernikahan,


ia dan Elo akan berangkat ke negara A dan menetap disana sampai kuliah Elo


selesai. Riri menarik nafas panjang, apa memang ini yang ia inginkan atau Elo inginkan.


Riri memejamkan


matanya sambil bersandar di ranjang asramanya. Riri mengingat saat ia pertama


kali bertemu Elo, ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Rasa yang hangat


setiap kali dirinya mengingat Elo kembali menjalar di seluruh tubuhnya.


Riri : “Ya, aku


ingin selalu bersama mas Elo. Meskipun aku harus jauh dari keluargaku.”


Riri mengusap air


matanya, ia tidak boleh menangis atau mamanya akan khawatir padanya. Dengan


cepat Riri berdiri, ia belum selesai mengemasi barang-barangnya.


Kaori : “Ri? Sudah


selesai? Rio memanggilmu.”


Kaori melongok dari


luar kamar, ia masuk ke dalam dan melihat Riri belum selesai mengepak barang-barangnya.


Kaori : “Masih


belum selesai juga? Kamu lagi ngapain sich?”


Riri : “Aku... Aku


bingung gimana bawa semuanya.”


Kaori melirik


tumpukan barang Riri yang bahkan mereka berdua bisa membawanya sekaligus. Ia


duduk di atas ranjang Riri dan menarik tangan Riri.


Kaori : “Sini dech,


duduk dulu. Kamu capek?”


Riri : “...”


Riri tidak tahan


juga, ia menangis sambil memeluk Kaori. Kaori dengan sabar mengelus punggung


Riri, menunggunya selesai menangis.


Kaori : “Kamu


kenapa, Ri?”


Riri : “Habis aku


nikah, kita masih sahabat kan?”


Kaori : “Astaga,


kenapa kamu nanya lagi? Kita tetap sahabat lah.”


Riri : “Janji ya,


masih mau denger curhatku.”


Kaori : “Iya janji.


Kamu kenapa sich? Galau?”


Riri : “Aku gak


kenal siapa-siapa disana, aku sedikit takut.”


Kaori : “Kan ada


calon suamimu, hehe...”


Riri : “Kalo dia


sibuk gimana?”


Kaori : “Masih ada


Lili? Atau aku nyusul kesana ya?”


Kaori seperti


bicara sendiri, ia membayangkan kuliah di luar negeri yang banyak bulenya.


Kaori : “Eh, nggak


dech. Ntar siapa yang jaga Rio disini.”


Riri : “Dia uda


besar, gak usah di jagain.”


Kaori : “Ntar


direbut orang, aku dong yang rugi.”


Riri : “Kamu sich,


mau aja di pegang-pegang.”


Kaori : “Rio tuch


yang maksa. Kamu gak lihat perbedaan besar badanku sama dia? Gimana aku bisa


ngelak kalo dia uda maksa.”


Riri : “Halah,


kalian sama aja.”


Kaori nyengir, ia


melihat Riri sudah berhenti menangis dan tingkah lakunya kembali seperti semula.


Kaori : “Aku akan


tetap jadi sahabatmu. Kamu bisa curhat kapan aja. 24 jam.”


Riri : “Ntar aku


curhat, kamunya molor. Perbedaan waktunya itu loh. Pagi malam.”

__ADS_1


Kaori : “Bisa


diatur, kan. Semangat dong, uda mau nikah masih aja ngambekan.”


Riri : “Aku gak


gitu.”


Kaori : “Iya, iya.


Sayangnya pak Elo.”


Riri tersenyum


cerah mendengar kata-kata Kaori.


Kaori : “Ayo cepat


selesaikan ini. Atau masku akan ngomel nanti.”


Riri : “Masku?”


Kaori : “Rio.”


Riri dan Kaori tertawa


ngakak bersamaan. Mereka segera mengemasi barang-barang Riri dan membawanya


keluar dari kamar asrama putri.


Sampai di bawah,


Rio yang sudah menunggu mengkerutkan keningnya melihat Riri.


Rio : “Kamu nangis?”


Riri : “Kamu tuch,


tau aja.”


Rio : “Kamu lupa


kita kembar? Kalau kamu nangis, aku juga ngrasa. Kenapa nangis?”


Riri : “Baper aja.


Aku mau pindah kuliah. Kamu gak sedih aku tinggal.”


Rio : “Nggak tuch.”


Riri terdiam, ia


menatap Rio yang terus memasukkan barang-barangnya ke dalam mobil.


Kaori : “Gak sedih


ya. Trus kenapa matamu merah.”


Rio : “Mana ada.”


Kaori memegang


kedua pipi Rio dan berniat menunjukkan matanya yang merah pada Riri, tapi Rio


keburu memeluknya. Ia menyembunyikan wajahnya yang sedih dengan memeluk Kaori.


Riri : “Aku tahu


kamu juga sedih, Rio.”


Rio berbalik


memeluk Riri dengan erat sampai mereka hampir jatuh di trotoar. Riri dan Rio


menangis bersama-sama, Kaori juga ikut menangis melihat keduanya. Kejadian itu


*****


Ketiganya baru


sampai di depan rumah Alex, Rio menghadap Riri yang duduk di sampingnya.


Rio : “Kalau uda


nikah nanti, jangan lupa jaga kesehatanmu. Jangan baca buku aja, belajar masak


juga.”


Rio : “Kamu bawel,


Rio. Kamu juga jaga semuanya disini ya. Nenek uda semakin tua, mulai


sakit-sakitan juga. Jangan bertengkar terus sama papa.”


Rio : “Kalo yang


terakhir aku gak janji. Mungkin aku akan berhenti bertengkar dengan papa kalau


aku sudah menikahi gadis dibelakangku ini.”


Kaori : “Nikah,


nikah. Kamu, aku harus lulus kuliah dulu trus kerja. Lagian aku belum yakin


sama kamu.”


Rio : “Mulai dech.


Apalagi sich salahku?”


Kaori : “Penggemarmu


tambah banyak sekarang, belum lagi cewek itu, siapa namanya?”


Rio : “Cewek yang


mana?”


Kaori : “Gadis.”


Rio : “Cewek sama


gadis apa bedanya?”


Riri melihat kedua


pasangan kekasih itu mulai berdebat dan memilih keluar mobil duluan sambil membawa


barang-barangnya masuk ke dalam rumah.


Riri : “Riri


pulang. Huft...”


Riri melihat


tumpukan album di ruang keluarga. Ia mengambil satu sambil melihat sekeliling


yang cukup sepi. Seorang wanita tiba-tiba menghampirinya,


Mb Roh : “Siang,


non Riri.”


Riri : “Mb kenal

__ADS_1


saya? Mb siapa?”


Mb Roh : “Saya mb


Roh, pengasuh si kembar.”


Riri : “Oh, mb


Minah sama nenek mana, mb?”


Mb Roh : “Ada di


kamar mb Mia, lagi memandikan si kembar. Saya tadi kebelet, saya kesana dulu ya


non.”


Riri hanya


mengangguk, ia lupa menanyakan keberadaan Mia dan Alex. Matanya tertuju pada


album di tangannya. Riri membuka album itu dan melihat fotonya memakai baju


pengantin berwarna putih, lengkap dengan aksesorisnya.


Riri : “Wow! Kapan aku


foto gini ya. Bagus sekali.”


Kaori dan Rio


bergiliran masuk ke dalam rumah juga. Mereka meletakkan barang-barang Riri di


ruang keluarga dan duduk di samping Riri. Riri melirik sekilas keduanya yang


ngos-ngosan.


Riri : “Kalian


habis ngapain? Lari?”


Wajah Rio memerah, ia


mengeluh haus dan lari ke dapur.


Kaori : “Kabur dah


trus. Dasar gak mau tanggung jawab.”


Riri : “Ada apa


sich?”


Kaori : “Dia nyium


aku di mobil, gak inget tempat lagi. Kami hampir di grebek ibu-ibu kompleks


sini.


Untung aja aku


lihat gerombolan si berat... eh, ibu-ibu itu. Kalau gak gimana jadinya.”


Riri : “Bakalan ada


yang dikawinin duluan dong.”


Kaori : “Nikah dulu


dong, kawin, kawin. Kamu tuch yang kebelet kawin.”


Riri : “Enak aja.


Aku cuma mau nikah dulu, kawinnya kalo mas Elo uda lulus kuliah.”


Kaori : “Kasian


amat pak Elo.”


Riri : “Kenapa


kasian?”


Kaori : “Nunggunya


lama. Emang kamu tahu kawin itu ngapain?”


Riri : “Gak tau.


Kamu?”


Kaori : “Sama juga


gak tau. Apa kayak mamamu itu ya? Lama banget di kamar sama papamu, trus jeng,


jeng, jeng, lahir adik kembarmu.”


Riri : “Waduh, kalo


gitu aku gak mau sekamar sama mas Elo dech.”


Kaori : “Kalian kan


udah nikah, kenapa gak sekamar? Kakakmu juga gitu kan? Hamil.”


Riri : “Nanti aku


hamil, gimana?”


Kaori : “Emang kamu


tahu caranya bisa hamil?”


Riri : “Gak tahu.


Kamu?”


Kaori : “Mana aku


tau. Aku uda nanya Rio, malah aku dibilang mesum. Nanya baik-baik loh.”


Riri : “Kalo dari


teori kan harus kawin dulu baru bisa hamil. Masalahnya dibuku gak ditunjukkan


gimana caranya.”


Kaori : “Lah, kalo


ditunjukin di buku, namanya ngajarin anak-anak kawin di usia muda dong.”


Riri : “Hehe, iya


ya.”


Kedua gadis polos


itu terus mengobrol tanpa sadar kalau pembicaraan mereka di dengar satu-satunya


pria dewasa di rumah itu (si kembar Rava dan Reva juga pria tapi pria kecil).


Rio meneguk habis ketiga gelas sirup yang dibawanya saat mendengar pembicaraan Riri


dan Kaori, ia kepanasan sendiri.


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).


__ADS_2