
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 38
“Iya, boleh. Boleh milih juga mau tidur dimana,”
kata Mia menggoda Ken.
“Beneran, oma? Boleh sekamar sama Kaori?” tanya Ken
nggak yakin. Terlalu mudah untuk bisa menginap di rumah Alex tanpa rintangan.
Dulu saja saat Ken menginap di mansion Steven, Rio sempat marah-marah. Apalagi
lagi kalau sekarang Ken ingin menginap di kamar Kaori.
“Iya, boleh. Asal, Kaori nggak keberatan,” sahut
Gadis.
Ken menoleh menatap Kaori yang cuma bisa
senyum-senyum tanpa mengatakan apa-apa. Menyadari suasana hening di sekitarnya,
Kaori langsung mengangguk mengiyakan, kalau gadis itu tidak keberatan Ken tidur
di kamarnya. Mia memberikan piyama tidur untuk Ken pakai sebelum keluar dari
kamar Kaori bersama Gadis.
“Ken, aku mau ganti baju dulu ya. Kamu bisa balik
badan, nggak?” tanya Kaori.
“Aku keluar dulu ya. Mau ngecek bodyguard kakek
masih ada atau nggak,” sahut Ken sambil memakai piyama yang diberikan Mia.
Pria itu berjalan tertatih-tatih keluar dari kamar
Kaori dan melihat sebagian penghuni rumah masih ada di ruang keluarga. Alex
yang melihat Ken keluar dari kamar Kaori, lalu meminta Ken bergabung dengan
mereka. Reymond dan Reyna melirik Ken yang meringis kesakitan saat harus
menekuk lututnya.
“Kak Ken kenapa? Habis berantem ya?” tanya Reynold
sambil nyengir.
“Nggak. Cuma nggak sengaja jatuh. Kamu lagi
ngapain?” sahut Ken malas membahas kekerasan yang dialaminya.
Reynold dan Reyna sedang membuat PR mereka. Ken
menaikkan alisnya, ia bisa membantu si kembar mengerjakan PR dengan cepat. Ken
mengetik sesuatu di ponselnya dan men-scan PR si kembar.
“Nich, jawabannya,” ucap Ken sambil menyodorkan
ponselnya.
Si kembar kegirangan karena mereka tidak perlu
repot membolak-balik buku untuk mencari jawaban PR mereka. Rio cuma
geleng-geleng kepala melihat anak-anaknya cepat akrab dengan Ken.
“Opa, bodyguard kakek masih ada di depan nggak?”
tanya Ken pada Alex.
“Nggak ada. Udah pulang dari tadi. Kamu mau
pulang?” tanya Alex sambil mengupas jeruk untuk cucu-cucunya.
Ken menggeleng, ia mengambil jeruk yang masih belum
dikupas, lalu ikut mengupas jeruk itu bersama Alex. Gerakan mereka yang kompak
membuat Rio dan Gadis saling pandang. Mia yang menyadari itu, segera
mengalihkan perhatian dengan menanyakan apa yang ia perlukan. Ken hanya ingin
istirahat tapi Kaori masih mengganti pakaiannya di dalam kamar. Jadi dia
memilih keluar dulu agar Kaori bisa leluasa mengganti pakaiannya.
“Oh, kak Ken mau nginep ya? Kenapa tidurnya di
kamar kak Kaori?” tanya Reyna polos.
Ken menelan salivanya, ia harus menjawab pertanyaan
itu dengan baik agar tidak terjadi salah paham. Tapi saat Ken hampir menjawab
pertanyaan Reyna, Rio memanggil Ken agar mengikutinya ke ruang kerja. Ken
menarik nafas panjang sebelum bangkit dari duduknya. Ia berharap seseorang
mengikutinya ke dalam sana atau ia hanya akan berdua saja dengan Rio.
“Duduk,” pinta Rio setelah Ken masuk ke ruang
kerja.
Jantung Ken berdebar kencang, ia menebak-nebak apa
yang akan dikatakan Rio. Bisa jadi Rio akan mengusirnya sekarang juga dari
rumah ini. Tapi saat pria dihadapannya mulai bicara, Ken menarik nafas lega.
“Aku... papa, aku harus biasakan ini. Hanya saja
terdengar aneh. Dengar, Ken. Papa minta kamu jujur sekarang. Apa Kaori lebih
penting dari orang tua angkatmu?” tanya Rio.
“Iya, kak... papa, aku juga belum terbiasa. Aku
mencintai Kaori dan ingin bersama dia seumur hidupku. Mengenai kedua orang
__ADS_1
tuaku, aku bisa mengirim mereka jauh dari Kaori,” ucap Ken tanpa ragu.
“Sampai kapan kamu bisa melakukan itu? Kita tidak
tahu kapan Kaori bisa menerima kenyataan ini, dia tidak mau bertemu Endy dan
Kinanti lagi. Tapi kalian pasti bertemu di acara keluarga, kan?” tanya Rio
sedikit kuatir.
“Acara keluarga Wiranata tidak bisa dihadiri
sembarangan orang termasuk anak kandungnya sendiri kalau kakek Martin tidak
mengundang mereka. Nenek Almira juga tidak punya kuasa untuk melawan kakek
Martin. Peraturan itu sudah menjadi peraturan turun temurun, pa,” sahut Ken.
Rio terdiam, keluarga Wiranata memang bukan
sembarangan. Mereka bahkan harus mengirim undangan untuk sebuah acara keluarga.
Kalau di rumah Alex, anak-anak dan cucu-cucu bisa bebas keluar masuk rumah
tanpa undangan sekalipun. Setelah bertemu Mia, mereka akan menghabiskan waktu
dengan mamanya itu atau hanya sekedar berkumpul di ruang keluarga untuk
mengobrol, kalau Mia tidak ada di rumah.
“Ken, apa kamu tahu siapa orang tua kandungmu?”
tanya Rio lagi.
“Mereka sangat dekat, pa. Tapi rasanya sangat jauh
dariku. Aku hanya tidak mau merusak kebahagiaan mereka sekarang dengan
mengatakan yang sebenarnya. Mereka juga berhak bahagia, kan,” kata Ken tenang.
“Jadi mereka tidak akan diundang untuk datang ke
pernikahanmu dengan Kaori?” tanya Rio.
“Akan kucoba mengundang mereka. Entah apa
alasannya, aku akan memikirkan itu. Mungkin aku bisa pinjam opa Alex dan oma
Mia untuk duduk di kursi orang tuaku?” tanya Ken dengan senyum tengilnya.
Rio mengatakan kalau hal itu tidak mungkin
dilakukan tanpa persetujuan kakek Martin. Tapi Ken bisa mengatasinya, asalkan
Rio tidak keberatan. Keduanya terdiam untuk beberapa saat. Ken mulai menguap
karena ia sudah cukup lelah seharian ini. Rio yang masih ingin bertanya,
menghentikan kata-katanya.
“Pergilah tidur. Papa percaya kamu bisa menjaga
Kaori. Tapi awas saja kalau sampai putriku sedih. Kamu mengerti, Ken?” tanya
Rio.
dari ruang kerja tanpa menoleh lagi. Melewati ruang keluarga, Ken hanya
mengangguk sambil terus berjalan mendekati kamar Kaori. Melihat wajah tenang
Ken, Alex dan Mia tersenyum bahagia. Sepertinya Rio sudah mempercayai Ken
bersama Kaori.
Kaori menoleh sedikit saat pintu kamarnya terbuka.
Ken masuk ke dalam kamar itu lagi dan menutup pintu. Saat melihat Kaori yang
duduk di atas tempat tidurnya, Ken terkejut sampai hampir jatuh. Gadis itu
memakai piyama yang cukup membuat jakun Ken naik turun.
“K—Kaori, kamu nggak salah pake baju kan?” tanya
Ken salah tingkah sendiri.
“Biasanya juga begini, Ken. Kamu udah ngantuk? Sini
baring,” ajak Kaori sambil menepuk tempat tidurnya.
“Kaori, kalau nanti aku khilaf, nggak apa-apa kan?
Eh, aku ngomong apa sich?” ucap Ken sambil naik ke tempat tidur Kaori.
Kaori tersenyum manis, ia tidak keberatan sama
sekali. “Ken, kamu suka lampunya mati atau nggak?” tanya Kaori lagi.
Biasanya Kaori akan mematikan lampu kamarnya dan
membiarkan cahaya dari luar kamar masuk melalui jendela kamarnya. Ken memilih
membiarkan lampu tetap menyala, ia takut kalau cahaya remang-remang di kamar
itu membuatnya khilaf.
Kaori berbaring lebih dulu, ia mengatur bantal dan
mulai memeluk boneka Teddy Bear besar yang ada di sudut tempat tidur. “Selamat
malam, Ken. Aku mencintaimu,” ucap Kaori sebelum memejamkan matanya.
“Selamat malam, Kaori. Ciumnya mana?” pinta Ken.
Kaori menoleh lalu memonyongkan bibirnya. Ken
tersenyum geli melihat tingkah Kaori. Dikecupnya bibir kekasihnya itu dengan
lembut. Ken memeluk pinggang Kaori setelah gadis itu memeluk boneka Teddy
bear-nya lagi. Keduanya mulai tertidur lelap melewati malam yang indah hanya berdua
saja.
__ADS_1
**
Beberapa jam kemudian, Kaori terbangun merasakan ditengkuknya
ada benda lembut yang menempel. Pundak gadis itu terangkat saat dinginnya udara
di dalam kamar Kaori menerpa tubuhnya.
“K—Ken... kamu belum tidur?” tanya Kaori.
“Ini hampir pagi, Kaori. Tidur aja lagi,” bisik
Ken.
“Tapi gimana aku bisa tidur kalo kamu nggak bisa
diem,” sahut Kaori.
“Habisnya aku gemes. Kaori, minggu depan aku mau ke
negara A ada perjalanan bisnis. Mungkin sekitar sebulan. Habis itu kita nikah
ya,” pinta Ken.
Kaori mengangguk, Ken membalik tubuh Kaori agar
menghadap padanya. Dikecupnya bibir pink Kaori dengan lembut. Perlahan Ken
menurunkan tali piyama yang dipakai Kaori. Pundak gadis itu kini bebas dari
penghalang. Tubuh Kaori bergetar saat Ken mengecup leher dan pundaknya.
“Hihi... geli banget...,” tawa kecil Kaori.
“Kaori, aku mencintaimu,” bisik Ken.
Kedua insan yang saling mencintai itu saling
menunjukkan perasaan cinta mereka satu sama lain. Helaian penutup yang masih melekat
di tubuh mereka, perlahan mulai terlepas satu persatu. Ken tidak memaksakan
dirinya pada Kaori, ia membelai Kaori dengan lembut, membuat gadis itu
tersenyum malu-malu.
Bisikan kata-kata cinta dari mulut manis Ken,
sentuhan jemarinya, dan kecupan bibirnya meloloskan desahan dari bibir Kaori. Gadis
itu membalasnya dengan kata cinta yang membuat Ken tersenyum lebar.
“Ken, aku mencintaimu,” bisik Kaori sambil
merangkul leher Ken.
Tring! Tring! Suara ponsel Ken bahkan tidak membuat
mereka berhenti. Saat suara ponsel itu mulai mengganggu, Kaori mendorong tubuh
Ken dan memintanya mengecek ponselnya.
“Biarkan saja, Kaori. Aku masih mau menciummu,”
rengek Ken manja.
“Siapa tahu penting, Ken. Jarang ada orang yang
menelpon di jam seperti ini kalau tidak penting,” ucap Kaori.
Dengan malas, Ken bangkit dari tempat tidur, ia
mencari asal suara yang ternyata dari kantong celananya. Pria itu bahkan
mengabaikan ponselnya karena terlalu sibuk bersama Kaori. Ken menatap dingin
layar ponselnya, ‘Papa calling’.
“Ini papa Endy. Ya, pa?” tanya Ken dengan nada
malas.
“Ken, mamamu... dia koma,” ucap Endy.
Sedetik kemudian, Ken mendengar suara bedebum yang
cukup keras. Sepertinya ada benda besar yang jatuh ke lantai dengan keras.
Terdengar suara-suara yang tidak dikenal Ken, sepertinya Endy ada di rumah
sakit.
“Pa? Papa?!” panggil Ken mulai panik karena tidak
mendengar suara Endy lagi.
Ken menjauhkan ponselnya, ia masih tersambung
dengan Endy tapi pria itu tidak mengatakan apa-apa lagi. Seseorang akhirnya
bicara di telpon dengan Ken.
“Maaf, tuan Endy pingsan, tuan,” kata seseorang di
seberang sana.
“Di rumah sakit mana?” tanya Ken cepat.
Orang itu mengatakan rumah sakit tempat dokter
Debora praktek. Ken segera mengganti pakaiannya dengan kemeja lagi, ia harus
secepatnya ke rumah sakit.
“Ken, apa yang terjadi?” tanya Kaori yang sudah
merapatkan selimut menutupi tubuhnya. Tangan gadis itu meraba ke sekitar tempat
tidurnya, mencoba mencari dimana piyamanya terjatuh.
Visual Kaori
__ADS_1
Visual Ken