Duren Manis

Duren Manis
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 38


__ADS_3

Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 38


“Iya, boleh. Boleh milih juga mau tidur dimana,”


kata Mia menggoda Ken.


“Beneran, oma? Boleh sekamar sama Kaori?” tanya Ken


nggak yakin. Terlalu mudah untuk bisa menginap di rumah Alex tanpa rintangan.


Dulu saja saat Ken menginap di mansion Steven, Rio sempat marah-marah. Apalagi


lagi kalau sekarang Ken ingin menginap di kamar Kaori.


“Iya, boleh. Asal, Kaori nggak keberatan,” sahut


Gadis.


Ken menoleh menatap Kaori yang cuma bisa


senyum-senyum tanpa mengatakan apa-apa. Menyadari suasana hening di sekitarnya,


Kaori langsung mengangguk mengiyakan, kalau gadis itu tidak keberatan Ken tidur


di kamarnya. Mia memberikan piyama tidur untuk Ken pakai sebelum keluar dari


kamar Kaori bersama Gadis.


“Ken, aku mau ganti baju dulu ya. Kamu bisa balik


badan, nggak?” tanya Kaori.


“Aku keluar dulu ya. Mau ngecek bodyguard kakek


masih ada atau nggak,” sahut Ken sambil memakai piyama yang diberikan Mia.


Pria itu berjalan tertatih-tatih keluar dari kamar


Kaori dan melihat sebagian penghuni rumah masih ada di ruang keluarga. Alex


yang melihat Ken keluar dari kamar Kaori, lalu meminta Ken bergabung dengan


mereka. Reymond dan Reyna melirik Ken yang meringis kesakitan saat harus


menekuk lututnya.


“Kak Ken kenapa? Habis berantem ya?” tanya Reynold


sambil nyengir.


“Nggak. Cuma nggak sengaja jatuh. Kamu lagi


ngapain?” sahut Ken malas membahas kekerasan yang dialaminya.


Reynold dan Reyna sedang membuat PR mereka. Ken


menaikkan alisnya, ia bisa membantu si kembar mengerjakan PR dengan cepat. Ken


mengetik sesuatu di ponselnya dan men-scan PR si kembar.


“Nich, jawabannya,” ucap Ken sambil menyodorkan


ponselnya.


Si kembar kegirangan karena mereka tidak perlu


repot membolak-balik buku untuk mencari jawaban PR mereka. Rio cuma


geleng-geleng kepala melihat anak-anaknya cepat akrab dengan Ken.


“Opa, bodyguard kakek masih ada di depan nggak?”


tanya Ken pada Alex.


“Nggak ada. Udah pulang dari tadi. Kamu mau


pulang?” tanya Alex sambil mengupas jeruk untuk cucu-cucunya.


Ken menggeleng, ia mengambil jeruk yang masih belum


dikupas, lalu ikut mengupas jeruk itu bersama Alex. Gerakan mereka yang kompak


membuat Rio dan Gadis saling pandang. Mia yang menyadari itu, segera


mengalihkan perhatian dengan menanyakan apa yang ia perlukan. Ken hanya ingin


istirahat tapi Kaori masih mengganti pakaiannya di dalam kamar. Jadi dia


memilih keluar dulu agar Kaori bisa leluasa mengganti pakaiannya.


“Oh, kak Ken mau nginep ya? Kenapa tidurnya di


kamar kak Kaori?” tanya Reyna polos.


Ken menelan salivanya, ia harus menjawab pertanyaan


itu dengan baik agar tidak terjadi salah paham. Tapi saat Ken hampir menjawab


pertanyaan Reyna, Rio memanggil Ken agar mengikutinya ke ruang kerja. Ken


menarik nafas panjang sebelum bangkit dari duduknya. Ia berharap seseorang


mengikutinya ke dalam sana atau ia hanya akan berdua saja dengan Rio.


“Duduk,” pinta Rio setelah Ken masuk ke ruang


kerja.


Jantung Ken berdebar kencang, ia menebak-nebak apa


yang akan dikatakan Rio. Bisa jadi Rio akan mengusirnya sekarang juga dari


rumah ini. Tapi saat pria dihadapannya mulai bicara, Ken menarik nafas lega.


“Aku... papa, aku harus biasakan ini. Hanya saja


terdengar aneh. Dengar, Ken. Papa minta kamu jujur sekarang. Apa Kaori lebih


penting dari orang tua angkatmu?” tanya Rio.


“Iya, kak... papa, aku juga belum terbiasa. Aku


mencintai Kaori dan ingin bersama dia seumur hidupku. Mengenai kedua orang

__ADS_1


tuaku, aku bisa mengirim mereka jauh dari Kaori,” ucap Ken tanpa ragu.


“Sampai kapan kamu bisa melakukan itu? Kita tidak


tahu kapan Kaori bisa menerima kenyataan ini, dia tidak mau bertemu Endy dan


Kinanti lagi. Tapi kalian pasti bertemu di acara keluarga, kan?” tanya Rio


sedikit kuatir.


“Acara keluarga Wiranata tidak bisa dihadiri


sembarangan orang termasuk anak kandungnya sendiri kalau kakek Martin tidak


mengundang mereka. Nenek Almira juga tidak punya kuasa untuk melawan kakek


Martin. Peraturan itu sudah menjadi peraturan turun temurun, pa,” sahut Ken.


Rio terdiam, keluarga Wiranata memang bukan


sembarangan. Mereka bahkan harus mengirim undangan untuk sebuah acara keluarga.


Kalau di rumah Alex, anak-anak dan cucu-cucu bisa bebas keluar masuk rumah


tanpa undangan sekalipun. Setelah bertemu Mia, mereka akan menghabiskan waktu


dengan mamanya itu atau hanya sekedar berkumpul di ruang keluarga untuk


mengobrol, kalau Mia tidak ada di rumah.


“Ken, apa kamu tahu siapa orang tua kandungmu?”


tanya Rio lagi.


“Mereka sangat dekat, pa. Tapi rasanya sangat jauh


dariku. Aku hanya tidak mau merusak kebahagiaan mereka sekarang dengan


mengatakan yang sebenarnya. Mereka juga berhak bahagia, kan,” kata Ken tenang.


“Jadi mereka tidak akan diundang untuk datang ke


pernikahanmu dengan Kaori?” tanya Rio.


“Akan kucoba mengundang mereka. Entah apa


alasannya, aku akan memikirkan itu. Mungkin aku bisa pinjam opa Alex dan oma


Mia untuk duduk di kursi orang tuaku?” tanya Ken dengan senyum tengilnya.


Rio mengatakan kalau hal itu tidak mungkin


dilakukan tanpa persetujuan kakek Martin. Tapi Ken bisa mengatasinya, asalkan


Rio tidak keberatan. Keduanya terdiam untuk beberapa saat. Ken mulai menguap


karena ia sudah cukup lelah seharian ini. Rio yang masih ingin bertanya,


menghentikan kata-katanya.


“Pergilah tidur. Papa percaya kamu bisa menjaga


Kaori. Tapi awas saja kalau sampai putriku sedih. Kamu mengerti, Ken?” tanya


Rio.


dari ruang kerja tanpa menoleh lagi. Melewati ruang keluarga, Ken hanya


mengangguk sambil terus berjalan mendekati kamar Kaori. Melihat wajah tenang


Ken, Alex dan Mia tersenyum bahagia. Sepertinya Rio sudah mempercayai Ken


bersama Kaori.


Kaori menoleh sedikit saat pintu kamarnya terbuka.


Ken masuk ke dalam kamar itu lagi dan menutup pintu. Saat melihat Kaori yang


duduk di atas tempat tidurnya, Ken terkejut sampai hampir jatuh. Gadis itu


memakai piyama yang cukup membuat jakun Ken naik turun.


“K—Kaori, kamu nggak salah pake baju kan?” tanya


Ken salah tingkah sendiri.


“Biasanya juga begini, Ken. Kamu udah ngantuk? Sini


baring,” ajak Kaori sambil menepuk tempat tidurnya.


“Kaori, kalau nanti aku khilaf, nggak apa-apa kan?


Eh, aku ngomong apa sich?” ucap Ken sambil naik ke tempat tidur Kaori.


Kaori tersenyum manis, ia tidak keberatan sama


sekali. “Ken, kamu suka lampunya mati atau nggak?” tanya Kaori lagi.


Biasanya Kaori akan mematikan lampu kamarnya dan


membiarkan cahaya dari luar kamar masuk melalui jendela kamarnya. Ken memilih


membiarkan lampu tetap menyala, ia takut kalau cahaya remang-remang di kamar


itu membuatnya khilaf.


Kaori berbaring lebih dulu, ia mengatur bantal dan


mulai memeluk boneka Teddy Bear besar yang ada di sudut tempat tidur. “Selamat


malam, Ken. Aku mencintaimu,” ucap Kaori sebelum memejamkan matanya.


“Selamat malam, Kaori. Ciumnya mana?” pinta Ken.


Kaori menoleh lalu memonyongkan bibirnya. Ken


tersenyum geli melihat tingkah Kaori. Dikecupnya bibir kekasihnya itu dengan


lembut. Ken memeluk pinggang Kaori setelah gadis itu memeluk boneka Teddy


bear-nya lagi. Keduanya mulai tertidur lelap melewati malam yang indah hanya berdua


saja.

__ADS_1


**


Beberapa jam kemudian, Kaori terbangun merasakan ditengkuknya


ada benda lembut yang menempel. Pundak gadis itu terangkat saat dinginnya udara


di dalam kamar Kaori menerpa tubuhnya.


“K—Ken... kamu belum tidur?” tanya Kaori.


“Ini hampir pagi, Kaori. Tidur aja lagi,” bisik


Ken.


“Tapi gimana aku bisa tidur kalo kamu nggak bisa


diem,” sahut Kaori.


“Habisnya aku gemes. Kaori, minggu depan aku mau ke


negara A ada perjalanan bisnis. Mungkin sekitar sebulan. Habis itu kita nikah


ya,” pinta Ken.


Kaori mengangguk, Ken membalik tubuh Kaori agar


menghadap padanya. Dikecupnya bibir pink Kaori dengan lembut. Perlahan Ken


menurunkan tali piyama yang dipakai Kaori. Pundak gadis itu kini bebas dari


penghalang. Tubuh Kaori bergetar saat Ken mengecup leher dan pundaknya.


“Hihi... geli banget...,” tawa kecil Kaori.


“Kaori, aku mencintaimu,” bisik Ken.


Kedua insan yang saling mencintai itu saling


menunjukkan perasaan cinta mereka satu sama lain. Helaian penutup yang masih melekat


di tubuh mereka, perlahan mulai terlepas satu persatu. Ken tidak memaksakan


dirinya pada Kaori, ia membelai Kaori dengan lembut, membuat gadis itu


tersenyum malu-malu.


Bisikan kata-kata cinta dari mulut manis Ken,


sentuhan jemarinya, dan kecupan bibirnya meloloskan desahan dari bibir Kaori. Gadis


itu membalasnya dengan kata cinta yang membuat Ken tersenyum lebar.


“Ken, aku mencintaimu,” bisik Kaori sambil


merangkul leher Ken.


Tring! Tring! Suara ponsel Ken bahkan tidak membuat


mereka berhenti. Saat suara ponsel itu mulai mengganggu, Kaori mendorong tubuh


Ken dan memintanya mengecek ponselnya.


“Biarkan saja, Kaori. Aku masih mau menciummu,”


rengek Ken manja.


“Siapa tahu penting, Ken. Jarang ada orang yang


menelpon di jam seperti ini kalau tidak penting,” ucap Kaori.


Dengan malas, Ken bangkit dari tempat tidur, ia


mencari asal suara yang ternyata dari kantong celananya. Pria itu bahkan


mengabaikan ponselnya karena terlalu sibuk bersama Kaori. Ken menatap dingin


layar ponselnya, ‘Papa calling’.


“Ini papa Endy. Ya, pa?” tanya Ken dengan nada


malas.


“Ken, mamamu... dia koma,” ucap Endy.


Sedetik kemudian, Ken mendengar suara bedebum yang


cukup keras. Sepertinya ada benda besar yang jatuh ke lantai dengan keras.


Terdengar suara-suara yang tidak dikenal Ken, sepertinya Endy ada di rumah


sakit.


“Pa? Papa?!” panggil Ken mulai panik karena tidak


mendengar suara Endy lagi.


Ken menjauhkan ponselnya, ia masih tersambung


dengan Endy tapi pria itu tidak mengatakan apa-apa lagi. Seseorang akhirnya


bicara di telpon dengan Ken.


“Maaf, tuan Endy pingsan, tuan,” kata seseorang di


seberang sana.


“Di rumah sakit mana?” tanya Ken cepat.


Orang itu mengatakan rumah sakit tempat dokter


Debora praktek. Ken segera mengganti pakaiannya dengan kemeja lagi, ia harus


secepatnya ke rumah sakit.


“Ken, apa yang terjadi?” tanya Kaori yang sudah


merapatkan selimut menutupi tubuhnya. Tangan gadis itu meraba ke sekitar tempat


tidurnya, mencoba mencari dimana piyamanya terjatuh.


Visual Kaori


__ADS_1


Visual Ken



__ADS_2