Duren Manis

Duren Manis
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 26


__ADS_3

Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 26


“Melakukan apa? Oh, itu ya? Kenapa malah bahas


begituan sich?” sahut Kaori malu.


“Loh, kan salah satu tujuan pernikahan itu bisa


begituan dengan halal tanpa rasa takut. Iya kan?” tanya Ken balik.


Wajah Kaori merona merah, ia mengangguk malu-malu.


Seharusnya ia memikirkan lebih jauh lagi tentang malam pertama pernikahan. Tapi


mengingat sifat mesum Ken, percuma saja kalau Kaori minta menunda malam


pertama.


Kebersamaan mereka harus terganggu karena Rio


mengetuk dan membuka pintu ruang baca dengan cepat. Untung saja posisi duduk


mereka sedang tidak terlalu intim, kalau tidak, bisa dipastikan Ken akan sulit


bertemu Kaori lagi.


“Waktunya sudah habis. Ini sudah malam, Ken.


Sebaiknya kamu pulang,” usir Rio dingin.


“Iya, om. Kaori, aku pulang dulu ya. Jangan lupa


itu ya,” kata Ken ambigu.


“Lupa apa?” tanya Kaori bingung lagi.


“Jangan lupa mimpiin aku,” sahut Ken bucin.


Kaori tersipu malu mendengar gombalan Ken. Rio yang


mendengarnya, memutar bola matanya jengah. Pria kecil yang dulu ia kenal itu,


sudah tumbuh dewasa tapi sifatnya sejak kecil masih sama saja. Rio tidak


menyangka sama sekali kalau Ken akan jatuh cinta pada Kaori. Ia sempat berpikir


kalau Ken akan memilih Renata. Satu hal yang membuat Rio masih bersabar pada


Ken adalah karena ia melihat ketulusan Ken terhadap Kaori. Tapi sayangnya


mereka bersaudara sampai tes DNA nanti bisa membuktikan sebaliknya.


Ken menuntun Kaori berjalan keluar dari ruang baca lalu


berjalan bersama-sama menuju pintu keluar. Ken tersenyum pada Alex dan Mia saat


ia berdiri bersama Kaori, ia juga menatap seluruh keluarga Alex yang sudah


berkumpul kembali di ruang depan. Sudah cukup lama Ken tidak melihat mereka


semua. Diusapnya tangan Kaori sebelum ia menunduk dan mengecup kening Kaori.


“Ehem...!” Rio berdehem cukup keras.


“Ken, jangan cium sembarangan. Ada papa,” kata


Kaori malu.


“Aku cuma cium keningmu, Kaori. Kalau aku cium


bibirmu, baru namanya cium sembarangan. Lagian aku masih nunggu sesuatu dari


kamu,” kata Ken.


Kaori tersenyum lagi lalu meraba naik menyentuh


pipi Ken, “Selamat ulang tahun, Ken. Semoga kamu selalu sehat dan tampan. Aku


berharap kita bisa terus bersama merayakan ulang tahunmu setiap tahun,” ucap


Kaori.


“Terima kasih, sayang. Aku pulang dulu ya. Kita


akan segera bertemu lagi,” ucap Ken.


Ken tidak mau pergi secepat ini, tapi melihat


tatapan dingin Rio padanya membuat Ken memilih untuk pulang saja. Ketika Ken


hampir keluar dari mansion Steven, Renata tiba-tiba berlari mendekatinya.


“Ken, selamat ulang tahun!” teriak Renata dengan


semangat.


“Selamat ulang tahun, Renata,” ucap Ken sambil


tersenyum lebar.


Keduanya berjabat tangan dan Ken merentangkan


tangannya ingin memeluk Renata. Ia sengaja melakukan itu untuk membuat Reynold cemburu.


Senyum tengil Reynold langsung menghilang dari bibirnya ketika Renata memeluk


Ken dengan erat.


Ken sengaja membisikkan rasa terima kasihnya pada Renata


karena membawa Kaori ke penthouse dan juga mempersiapkan kejutan untuk ulang


tahunnya. Renata menepuk-nepuk punggung Ken dan mengatakan kalau ia hanya ingin


membantu Ken dan Kaori.


Saat Ken melirik Reynold, pria itu menatapnya tajam


dengan pandangan yang mengancam. Ken menaikkan salah satu alisnya sebelum merangkul


Renata sekali lagi. Reynold tidak tahan lama-lama melihat pria lain menyentuh

__ADS_1


Renata. Ia segera mendekati mereka bertiga dan menarik Renata dari pelukan Ken.


“Gantian dong. Aku juga mau ngucapin selamat buat


Ken,” kata Reynold lalu memeluk Ken.


“Lo, jangan pegang-pegang Renata, bocil,” bisik


Reynold.


“Mending bocil daripada pedofil, om,” sahut Ken


kejam.


Keduanya saling merangkul tapi makin lama makin


mirip dua orang yang sedang bergulat. Ken sudah tumbuh lebih besar dan kekar


dari sebelumnya. Meskipun usia mereka terpaut jauh, tapi tubuh mereka berdua


sama besar dan kekarnya.


“Lepasin, kita diliatin yang lain,” kata Ken yang


merasa tidak enak dipelototi Rio.


“Lo yang lepasin duluan,” sahut Reynold nggak mau


kalah.


“Kita lepasin sama-sama. Satu, dua, tiga...,” sahut


Ken sambil melepas cengkeramannya pada tubuh Reynold.


Gadis berbisik pada Mia melihat Reynold dan Ken


berpelukan akrab, “Melihat mereka pelukan, kok aku jadi gimana gitu, ya mah.”


“Iya, mama juga. Dua pria tampan dan kekar,


pelukan. Sweet banget, nggak sich?” bisik Mia dengan senyum mengembang.


“Jadi pengen ngerasain ditengah-tengah mereka, ya


mah,” sahut Gadis lagi.


“Ho-oh, mama juga mau kalo gitu,” kata Mia


semangat.


Percakapan kedua wanita cantik itu tentu saja


didengar para suami mereka. Alex dan Rio kompak berdehem di belakang Mia dan


Gadis. Mereka berdua tidak menyadari kalau di belakang mereka ada pria-pria


tampan yang sedang cemburu.


“Mia,” panggil Alex.


“Gadis,” panggil Rio.


pemandangan indah juga,” sahut Mia.


“Mah, dipanggil papa tuch,” ucap Gadis yang sudah


balik badan sambil nyengir. Gadis sibuk menoel-noel lengan Mia agar ikut


berbalik juga.


Sedetik kemudian, Gadis pasrah ditarik Rio ke dalam


kamar mereka. Sementara Alex masih tersenyum devil menatap Mia yang mulai salah


tingkah.


“Gitu, mau dipeluk brondong. Emangnya aku kurang


kekar?” tanya Alex.


“Yah, mas. Sekali-sekali kan pengen sama yang


mudaan dikit. Hehe... Ampun, mas.” Mia memeletkan lidahnya dan menggelayut


manja di lengan Alex.


“Iya, aku udah tua. Udah nggak menarik lagi,” sahut


Alex ngambek.


Mia sibuk menggoda dan merayu Alex yang pura-pura


ngambek. Mereka berdua masuk ke dalam kamar, meninggalkan Ken, Kaori, Reynold,


dan Renata masih berdiri di depan pintu keluar. Ken yang melihat ruang depan


itu sepi, menarik Kaori dengan cepat lalu menciumnya sekali lagi.


“Wow!” Renata tidak bisa menyembunyikan kekagumannya


pada keberanian Ken. Reynold langsung salah paham karena mengira Renata ingin


dicium seperti itu juga.


“Aunty juga mau dicium kayak gitu?” tanya Reynold


membuat Renata mundur selangkah dari sisi Reynold.


Reynold mulai mendekati Renata, mengejar gadis itu


yang kabur lebih dulu karena melihat seringai mesum Reynold. Renata terus


berlari sampai ke kamarnya dan hampir menutup pintu. Tapi Reynold menahan pintu


itu lalu ikut masuk ke dalam kamar Renata.


Ken dan Kaori tidak menyadari mereka berdua sudah


ditinggalkan begitu saja berduaan lagi. Keduanya terlalu asyik berciuman sampai


bodyguard Ken tidak sengaja memergoki mereka berdua.

__ADS_1


“Maaf, tuan muda. Mobilnya sudah siap,” kata


bodyguard itu sambil menunduk agar tidak bisa melihat tuan mudanya yang masih


asyik ciuman.


Mendengar tidak ada jawaban, bodyguard itu memberi


tanda dengan tangannya, mengusir bodyguard lainnya untuk kembali ke tempat


mereka berjaga di dekat mobil Ken. Para bodyguard itu kocar-kacir kembali ke


tempat mereka semula sebelum kena semprot Ken. Bodyguard yang tadi memberi laporan


pada Ken, pelan-pelan mundur dengan sangat pelan sampai cukup jauh dari Ken,


sebelum berbalik dan berlari kencang kembali ke dekat teman-temannya.


“Ken... peluk,” pinta Kaori manja.


Ken melihat sekeliling yang sepi, ia melongok


melihat bodyguard-nya dan memberi tanda untuk mendekat. Serentak para bodyguard


itu berlari mendekat, siap menerima perintah.


“Siapkan mobil. Kaori, mumpung sepi, kita


jalan-jalan bentar yuk,” ajak Ken.


“Mau kemana, Ken? Udah malem gini,” tolak Kaori.


“Yah, padahal aku mau peluk kamu sambil jalan-jalan


naik mobil.” Ken mengusir bodyguardnya dengan lambaian tangan.


“Disini juga bisa. Ada karpet deket TV, kita bisa


pelukan disana, sampai pagi,” bisik Kaori yang tidak mungkin ditolak Ken.


Meskipun dengan resiko diusir Rio, Ken akan tanggung semuanya. Ia menutup pintu


depan, lalu menggandeng tangan Kaori sampai ke ruang TV. Ada karpet yang cukup


tebal dan sangat nyaman untuk berbaring.


“Kamu nggak ganti baju dulu, Kaori? Pake yang lebih


tipis gitu,” bisik Ken jahil.


Kaori mencari-cari mulut Ken dan membekapnya


sebelum menarik tangan kekar Ken agar memeluknya. Kaori sudah mengantuk karena


waktu ternyata sudah menunjukkan jam setengah dua pagi. Ken memeluk tubuh


Kaori, menjaga gadis pujaannya itu agar tetap hangat. Perlahan, Ken juga mulai


memejamkan matanya dan mulai terlelap.


Satu jam kemudian, Rio yang merasa haus setelah


membuat Gadis tertidur pulas, keluar dari kamarnya. Ia memergoki Ken dan Kaori


tidur berpelukan di depan TV. Rio hampir mendekati Ken untuk membangunkannya,


tapi ia tidak tega juga melihat wajah tenang Kaori yang sudah tertidur.


Pelan-pelan, Rio kembali ke kamarnya lalu mengambil


bed cover tambahan. Rio kembali ke ruang TV, ia menyelimuti sepasang kekasih


itu lalu berjingkat menuju dapur. Perbuatan Rio itu rupanya dilihat Mia yang


juga keluar dari kamarnya untuk mengecek Kaori. Dalam hatinya, Mia berharap


kebahagiaan selalu menyertai Ken dan Kaori.


Bagaimana dengan Reynold dan Renata?


Setelah Reynold memaksa masuk ke dalam kamar


Renata, gadis itu memasang wajah cemberut. Renata meminta pada Reynold untuk


keluar dari kamarnya karena ia ingin segera tidur. Tapi Reynold mengatakan


kalau ia ingin meminjam laptop milik Renata. Pria itu duduk di meja belajar


Renata, membiarkan tante kecilnya itu untuk mengganti pakaian di kamar mandi.


Reynold hanya beralasan meminjam laptop milik


Renata karena masih ingin berduaan dengan gadis pujaannya itu. Ia ingin


mengambil kesempatan mengambil foto dan video mesra mereka berdua diatas tempat


tidur. Tentu saja dengan akal bulus Reynold yang tidak ada habisnya.


Ketika Renata keluar dari kamar mandi, ia melihat


Reynold sudah duduk setengah berbaring di atas tempat tidurnya. Laptop Renata


ada di depan Reynold, kening pria itu memang berkerut tampak serius menatap


layar laptop. Tapi matanya melirik menatap tubuh Renata yang sudah terbalut


piyama tipis yang cukup membuat darah Reynold berdesir.


“Kak Rey ngapain sich?” tanya Renata.


“Ada kerjaan dikit. Aunty udah ngantuk? Sini


baring. Aku cuma perlu waktu sedikit lagi,” kata Reynold pura-pura cuek.


Sebelum berbaring di samping Reynold, Renata


menyisir rambutnya, lalu duduk di pinggir tempat tidur. Gadis itu mengoleskan


lotion ke kaki dan tangannya. Sungguh, Reynold ingin sekali memeluk tubuh


mungil tante kecilnya itu.

__ADS_1


__ADS_2