
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 26
“Melakukan apa? Oh, itu ya? Kenapa malah bahas
begituan sich?” sahut Kaori malu.
“Loh, kan salah satu tujuan pernikahan itu bisa
begituan dengan halal tanpa rasa takut. Iya kan?” tanya Ken balik.
Wajah Kaori merona merah, ia mengangguk malu-malu.
Seharusnya ia memikirkan lebih jauh lagi tentang malam pertama pernikahan. Tapi
mengingat sifat mesum Ken, percuma saja kalau Kaori minta menunda malam
pertama.
Kebersamaan mereka harus terganggu karena Rio
mengetuk dan membuka pintu ruang baca dengan cepat. Untung saja posisi duduk
mereka sedang tidak terlalu intim, kalau tidak, bisa dipastikan Ken akan sulit
bertemu Kaori lagi.
“Waktunya sudah habis. Ini sudah malam, Ken.
Sebaiknya kamu pulang,” usir Rio dingin.
“Iya, om. Kaori, aku pulang dulu ya. Jangan lupa
itu ya,” kata Ken ambigu.
“Lupa apa?” tanya Kaori bingung lagi.
“Jangan lupa mimpiin aku,” sahut Ken bucin.
Kaori tersipu malu mendengar gombalan Ken. Rio yang
mendengarnya, memutar bola matanya jengah. Pria kecil yang dulu ia kenal itu,
sudah tumbuh dewasa tapi sifatnya sejak kecil masih sama saja. Rio tidak
menyangka sama sekali kalau Ken akan jatuh cinta pada Kaori. Ia sempat berpikir
kalau Ken akan memilih Renata. Satu hal yang membuat Rio masih bersabar pada
Ken adalah karena ia melihat ketulusan Ken terhadap Kaori. Tapi sayangnya
mereka bersaudara sampai tes DNA nanti bisa membuktikan sebaliknya.
Ken menuntun Kaori berjalan keluar dari ruang baca lalu
berjalan bersama-sama menuju pintu keluar. Ken tersenyum pada Alex dan Mia saat
ia berdiri bersama Kaori, ia juga menatap seluruh keluarga Alex yang sudah
berkumpul kembali di ruang depan. Sudah cukup lama Ken tidak melihat mereka
semua. Diusapnya tangan Kaori sebelum ia menunduk dan mengecup kening Kaori.
“Ehem...!” Rio berdehem cukup keras.
“Ken, jangan cium sembarangan. Ada papa,” kata
Kaori malu.
“Aku cuma cium keningmu, Kaori. Kalau aku cium
bibirmu, baru namanya cium sembarangan. Lagian aku masih nunggu sesuatu dari
kamu,” kata Ken.
Kaori tersenyum lagi lalu meraba naik menyentuh
pipi Ken, “Selamat ulang tahun, Ken. Semoga kamu selalu sehat dan tampan. Aku
berharap kita bisa terus bersama merayakan ulang tahunmu setiap tahun,” ucap
Kaori.
“Terima kasih, sayang. Aku pulang dulu ya. Kita
akan segera bertemu lagi,” ucap Ken.
Ken tidak mau pergi secepat ini, tapi melihat
tatapan dingin Rio padanya membuat Ken memilih untuk pulang saja. Ketika Ken
hampir keluar dari mansion Steven, Renata tiba-tiba berlari mendekatinya.
“Ken, selamat ulang tahun!” teriak Renata dengan
semangat.
“Selamat ulang tahun, Renata,” ucap Ken sambil
tersenyum lebar.
Keduanya berjabat tangan dan Ken merentangkan
tangannya ingin memeluk Renata. Ia sengaja melakukan itu untuk membuat Reynold cemburu.
Senyum tengil Reynold langsung menghilang dari bibirnya ketika Renata memeluk
Ken dengan erat.
Ken sengaja membisikkan rasa terima kasihnya pada Renata
karena membawa Kaori ke penthouse dan juga mempersiapkan kejutan untuk ulang
tahunnya. Renata menepuk-nepuk punggung Ken dan mengatakan kalau ia hanya ingin
membantu Ken dan Kaori.
Saat Ken melirik Reynold, pria itu menatapnya tajam
dengan pandangan yang mengancam. Ken menaikkan salah satu alisnya sebelum merangkul
Renata sekali lagi. Reynold tidak tahan lama-lama melihat pria lain menyentuh
__ADS_1
Renata. Ia segera mendekati mereka bertiga dan menarik Renata dari pelukan Ken.
“Gantian dong. Aku juga mau ngucapin selamat buat
Ken,” kata Reynold lalu memeluk Ken.
“Lo, jangan pegang-pegang Renata, bocil,” bisik
Reynold.
“Mending bocil daripada pedofil, om,” sahut Ken
kejam.
Keduanya saling merangkul tapi makin lama makin
mirip dua orang yang sedang bergulat. Ken sudah tumbuh lebih besar dan kekar
dari sebelumnya. Meskipun usia mereka terpaut jauh, tapi tubuh mereka berdua
sama besar dan kekarnya.
“Lepasin, kita diliatin yang lain,” kata Ken yang
merasa tidak enak dipelototi Rio.
“Lo yang lepasin duluan,” sahut Reynold nggak mau
kalah.
“Kita lepasin sama-sama. Satu, dua, tiga...,” sahut
Ken sambil melepas cengkeramannya pada tubuh Reynold.
Gadis berbisik pada Mia melihat Reynold dan Ken
berpelukan akrab, “Melihat mereka pelukan, kok aku jadi gimana gitu, ya mah.”
“Iya, mama juga. Dua pria tampan dan kekar,
pelukan. Sweet banget, nggak sich?” bisik Mia dengan senyum mengembang.
“Jadi pengen ngerasain ditengah-tengah mereka, ya
mah,” sahut Gadis lagi.
“Ho-oh, mama juga mau kalo gitu,” kata Mia
semangat.
Percakapan kedua wanita cantik itu tentu saja
didengar para suami mereka. Alex dan Rio kompak berdehem di belakang Mia dan
Gadis. Mereka berdua tidak menyadari kalau di belakang mereka ada pria-pria
tampan yang sedang cemburu.
“Mia,” panggil Alex.
“Gadis,” panggil Rio.
pemandangan indah juga,” sahut Mia.
“Mah, dipanggil papa tuch,” ucap Gadis yang sudah
balik badan sambil nyengir. Gadis sibuk menoel-noel lengan Mia agar ikut
berbalik juga.
Sedetik kemudian, Gadis pasrah ditarik Rio ke dalam
kamar mereka. Sementara Alex masih tersenyum devil menatap Mia yang mulai salah
tingkah.
“Gitu, mau dipeluk brondong. Emangnya aku kurang
kekar?” tanya Alex.
“Yah, mas. Sekali-sekali kan pengen sama yang
mudaan dikit. Hehe... Ampun, mas.” Mia memeletkan lidahnya dan menggelayut
manja di lengan Alex.
“Iya, aku udah tua. Udah nggak menarik lagi,” sahut
Alex ngambek.
Mia sibuk menggoda dan merayu Alex yang pura-pura
ngambek. Mereka berdua masuk ke dalam kamar, meninggalkan Ken, Kaori, Reynold,
dan Renata masih berdiri di depan pintu keluar. Ken yang melihat ruang depan
itu sepi, menarik Kaori dengan cepat lalu menciumnya sekali lagi.
“Wow!” Renata tidak bisa menyembunyikan kekagumannya
pada keberanian Ken. Reynold langsung salah paham karena mengira Renata ingin
dicium seperti itu juga.
“Aunty juga mau dicium kayak gitu?” tanya Reynold
membuat Renata mundur selangkah dari sisi Reynold.
Reynold mulai mendekati Renata, mengejar gadis itu
yang kabur lebih dulu karena melihat seringai mesum Reynold. Renata terus
berlari sampai ke kamarnya dan hampir menutup pintu. Tapi Reynold menahan pintu
itu lalu ikut masuk ke dalam kamar Renata.
Ken dan Kaori tidak menyadari mereka berdua sudah
ditinggalkan begitu saja berduaan lagi. Keduanya terlalu asyik berciuman sampai
bodyguard Ken tidak sengaja memergoki mereka berdua.
__ADS_1
“Maaf, tuan muda. Mobilnya sudah siap,” kata
bodyguard itu sambil menunduk agar tidak bisa melihat tuan mudanya yang masih
asyik ciuman.
Mendengar tidak ada jawaban, bodyguard itu memberi
tanda dengan tangannya, mengusir bodyguard lainnya untuk kembali ke tempat
mereka berjaga di dekat mobil Ken. Para bodyguard itu kocar-kacir kembali ke
tempat mereka semula sebelum kena semprot Ken. Bodyguard yang tadi memberi laporan
pada Ken, pelan-pelan mundur dengan sangat pelan sampai cukup jauh dari Ken,
sebelum berbalik dan berlari kencang kembali ke dekat teman-temannya.
“Ken... peluk,” pinta Kaori manja.
Ken melihat sekeliling yang sepi, ia melongok
melihat bodyguard-nya dan memberi tanda untuk mendekat. Serentak para bodyguard
itu berlari mendekat, siap menerima perintah.
“Siapkan mobil. Kaori, mumpung sepi, kita
jalan-jalan bentar yuk,” ajak Ken.
“Mau kemana, Ken? Udah malem gini,” tolak Kaori.
“Yah, padahal aku mau peluk kamu sambil jalan-jalan
naik mobil.” Ken mengusir bodyguardnya dengan lambaian tangan.
“Disini juga bisa. Ada karpet deket TV, kita bisa
pelukan disana, sampai pagi,” bisik Kaori yang tidak mungkin ditolak Ken.
Meskipun dengan resiko diusir Rio, Ken akan tanggung semuanya. Ia menutup pintu
depan, lalu menggandeng tangan Kaori sampai ke ruang TV. Ada karpet yang cukup
tebal dan sangat nyaman untuk berbaring.
“Kamu nggak ganti baju dulu, Kaori? Pake yang lebih
tipis gitu,” bisik Ken jahil.
Kaori mencari-cari mulut Ken dan membekapnya
sebelum menarik tangan kekar Ken agar memeluknya. Kaori sudah mengantuk karena
waktu ternyata sudah menunjukkan jam setengah dua pagi. Ken memeluk tubuh
Kaori, menjaga gadis pujaannya itu agar tetap hangat. Perlahan, Ken juga mulai
memejamkan matanya dan mulai terlelap.
Satu jam kemudian, Rio yang merasa haus setelah
membuat Gadis tertidur pulas, keluar dari kamarnya. Ia memergoki Ken dan Kaori
tidur berpelukan di depan TV. Rio hampir mendekati Ken untuk membangunkannya,
tapi ia tidak tega juga melihat wajah tenang Kaori yang sudah tertidur.
Pelan-pelan, Rio kembali ke kamarnya lalu mengambil
bed cover tambahan. Rio kembali ke ruang TV, ia menyelimuti sepasang kekasih
itu lalu berjingkat menuju dapur. Perbuatan Rio itu rupanya dilihat Mia yang
juga keluar dari kamarnya untuk mengecek Kaori. Dalam hatinya, Mia berharap
kebahagiaan selalu menyertai Ken dan Kaori.
Bagaimana dengan Reynold dan Renata?
Setelah Reynold memaksa masuk ke dalam kamar
Renata, gadis itu memasang wajah cemberut. Renata meminta pada Reynold untuk
keluar dari kamarnya karena ia ingin segera tidur. Tapi Reynold mengatakan
kalau ia ingin meminjam laptop milik Renata. Pria itu duduk di meja belajar
Renata, membiarkan tante kecilnya itu untuk mengganti pakaian di kamar mandi.
Reynold hanya beralasan meminjam laptop milik
Renata karena masih ingin berduaan dengan gadis pujaannya itu. Ia ingin
mengambil kesempatan mengambil foto dan video mesra mereka berdua diatas tempat
tidur. Tentu saja dengan akal bulus Reynold yang tidak ada habisnya.
Ketika Renata keluar dari kamar mandi, ia melihat
Reynold sudah duduk setengah berbaring di atas tempat tidurnya. Laptop Renata
ada di depan Reynold, kening pria itu memang berkerut tampak serius menatap
layar laptop. Tapi matanya melirik menatap tubuh Renata yang sudah terbalut
piyama tipis yang cukup membuat darah Reynold berdesir.
“Kak Rey ngapain sich?” tanya Renata.
“Ada kerjaan dikit. Aunty udah ngantuk? Sini
baring. Aku cuma perlu waktu sedikit lagi,” kata Reynold pura-pura cuek.
Sebelum berbaring di samping Reynold, Renata
menyisir rambutnya, lalu duduk di pinggir tempat tidur. Gadis itu mengoleskan
lotion ke kaki dan tangannya. Sungguh, Reynold ingin sekali memeluk tubuh
mungil tante kecilnya itu.
__ADS_1