
Sementara itu di
kantor Arnold ketika Jodi dan Katty sedang membicarakan konsep pernikahan
mereka,
Rara sedang berada
di kantor Arnold, ia memeriksa setumpuk dokumen diatas meja kerja Arnold.
Sesekali keningnya berkerut melihat angka yang tidak sesuai dan mencoretnya
dengan spidol merah.
Saat ini, Arnold
sedang mewakilinya meeting dengan client bersama Ilham.
Rara : “Huft...“
Rara meringis
merasakan nyeri di bawah perutnya, ia menyandarkan tubuhnya ke kursi kerja
sambil mencoba merilekskan tubuhnya.
Rara : “Sepertinya
aku terlalu lama duduk.”
Pelan-pelan Rara
bangun dari duduknya, ia berjalan ke arah ruang istirahat dan masuk ke dalam
sana. Di dalam ruangan itu ada sebuah tempat tidur besar yang sangat nyaman.
Rara berbaring diatas ranjang sambil memainkan ponselnya.
Rara : “Nak, sampai
kapan mama harus sibuk begini. Papamu tuch bisa-bisanya ngasi jabatan tinggi
begini sama mama. Mana gak bisa dialihkan dalam waktu lima tahun lagi.”
Duk! Rara tersenyum
merasakan putranya menendang perutnya. Duk! Sekali lagi membuat Rara mulai
kesakitan. Duk! Kali ini Rara merasakan perutnya mules.
Rara : “Sayang,
jangan nendang terus dong. Mama sakit, sayang.”
Rara mencoba
mengatur nafasnya, ia teringat dengan senam hamil yang mulai diikutinya minggu
lalu. Usia kandungannya sudah 7 bulan, tinggal dua bulan lagi dan putranya itu
akan lahir. Setelah mengatur nafasnya cukup lama, Rara merasakan perutnya tidak
sakit lagi.
Rara : “Nak, kamu
sudah gak sabar mau keluar ya. Sabar ya, sayang.”
Rara mengelus-elus
perutnya dan perlahan mulai tertidur. Ponselnya tergeletak di sampingnya.
*****
Arnold yang sudah
selesai meeting, kembali ke ruang kerjanya dan tidak menemukan Rara di meja
kerjanya. Ia membuka pintu kamar mandi, sepi. Arnold melihat pintu ruang
istirahat sedikit terbuka, ia masuk ke dalamnya dan melihat Rara berbaring
diatas ranjang. Tertidur dengan tangan memegang perutnya.
Arnold tersenyum,
ia mendekati Rara, duduk di sampingnya,
Arnold : “Sayang,
kamu pasti capek. Maaf ya.”
Arnold mengecup
kening Rara, ia mengelus rambut Rara dan membiarkannya tertidur sendirian.
Arnold kembali ke meja kerjanya, ia melihat setumpuk dokumen yang sudah selesai
diperiksa Rara. Ilham masuk ke ruang kerja Arnold,
Arnold : “Ilham,
apa setiap hari Rara mengerjakan dokumen sebanyak ini?”
Ilham : “Iya, pak.
Ibu Rara tidak mau ada kesalahan di setiap dokumen kerja sama dan juga laporan
keuangan. Ibu Rara selalu memeriksa kembali setiap dokumen yang sudah selesai
dikerjakan.”
Arnold : “Pantas
saja dia kecapean.”
Ilham : “Apa Ibu
Rara baik-baik saja?”
__ADS_1
Arnold : “Iya, dia
lagi tidur. Tolong pesankan makan siang untuk kami. Mungkin sebentar lagi dia
bangun.”
Ilham : “Baik, pak.”
Arnold melanjutkan
pekerjaan Rara dan menyelesaikannya dengan cepat, jadi Rara bisa langsung
menandatangani semua dokumen itu. Sambil menunggu Rara bangun, Arnold melihat
laporan peningkatan omset perusahaannya.
Sejak dirinya koma,
omset perusahaannya sudah bertambah 200% dari sebelumnya. Rara mengelola
perusahaan dengan sangat baik. Arnold tersenyum sebentar tapi kembali bersedih,
seharusnya Rara bisa beristirahat lebih banyak semasa kehamilannya ini.
Tapi gara-gara
Arnold tidak ingin mengambil resiko dirinya meninggal karena operasi dan
meninggalkan Rara tanpa kejelasan kepemilikan propertinya dan juga jabatan
direktur di perusahaannya, Arnold terpaksa melakukan semua itu, memindahkan semua
asetnya menjadi atas nama Rara dan jabatannya sebagai direktur.
Kini Arnold bahkan
tidak punya apa-apa selain uang modal yang ada di rekening pribadinya, uang
yang terus ia putar untuk mendapatkan keuntungan dengan bekerja sama dengan
Jodi. Arnold berpindah menatap foto Rara, mereka membuat foto keluarga beberapa
saat lalu ketika si kembar sudah lahir dan Arnold meminta dibuatkan foto khusus
untuk Rara. Istrinya itu terlihat cantik dan segar dengan perut buncit.
Arnold : “Kamu
selalu jadi yang tercantik di mataku, sayang. Seberapapun fisikmu berubah,
bahkan jadi bundar seperti sekarang.
Rara : “Bilang aja
aku gendut, mas.”
Arnold menoleh
menatap Rara yang berjalan perlahan mendekatinya,
Arnold : “Kamu
Rara : “Iya, mas.
Anakmu nendang terus nich.”
Arnold : “Sini
duduk dulu. Kamu laper?”
Rara : “Iya,
makanya bangun.”
Arnold menuntun
Rara duduk di sofa, ia mengangkat kaki Rara agar bisa duduk dengan nyaman.
Arnold : “
Makanannya bentar lagi datang. Mau minum susu?”
Rara : “Ntar aja,
mas habis makan. Mas uda selesai meetingnya?”
Arnold : “Udah,
kita dapat proyek lagi.”
Rara : “Syukurlah,
mas. Rejeki anak kita.”
Arnold : “Sayang,
kamu gak pa-pa ikut sibuk gini?”
Rara : “Aku
pengennya berhenti jadi direktur, mas. Pengen konsen ngurus kamu sama anak kita.
Tapi kan jabatan ini gak bisa dialihkan sampai lima tahun lagi. Mas kenapa
bikin surat gitu sich? Aku gak bisa mengalihkan aset dan jabatan ini kembali
atas nama kamu sebelum lima tahun.”
Arnold : “Aku perlu
jaminan kalau pemegang saham di perusahaan ini mayoritasnya berubah, kamu masih
bisa bertahan jadi direktur disini sampai lima tahun. Kamu bisa belajar
berbisnis disini sampai kamu bisa berdiri sendiri, sayang.”
Rara : “Trus aset
kamu kenapa juga lima tahun?”
__ADS_1
Arnold : “Lima
tahun lagi, semua aset itu bisa memberimu modal yang cukup untuk membangun
perusahaanmu sendiri dan juga untuk jaminan hidupmu dan anak kita.”
Rara : “Mas, kamu
sesayang itu sama aku sampai kamu mengalihkan semua asetmu.”
Arnold : “Meskipun
kamu gak minta, tapi apapun yang aku berikan sama kamu, belum cukup untuk
membalas semua yang sudah kamu berikan buat aku. Hidupku, jiwaku, ragaku
selamanya milik kamu, Ra.”
Rara menangis
terharu mendengar kata-kata manis Arnold. Ia memeluk Arnold dengan erat. Arnold
mengelus punggung Rara, menenangkannya.
Arnold : “Udah,
sayang. Kasian bayi kita, nanti ikutan nangis loh.”
Rara : “Mas, aku
cinta banget sama kamu.”
Arnold : “Aku juga
cinta kamu, Rara.”
Arnold
merenggangkan pelukannya dan mencium Rara dengan lembut. Mereka terus berciuman
sampai tidak menyadari kehadiran Ilham yang frustasi mengetuk pintu tapi tidak
ada yang meresponnya.
Di tangan Ilham
sudah ada nampan berisi makanan untuk kedua bosnya itu. Ia meletakkan nampan
itu di atas meja sofa, dan bersikap seolah-olah tidak melihat apa-apa. Ia
keluar lagi dari ruang kerja Arnold dan menutup pintu.
Rara menoleh karena
mencium wangi makanan yang membuat perutnya keroncongan.
Rara : “Loh, kapan
makanannya dateng?”
Arnold : “Barusan dibawain
sama Ilham.”
Rara : “Ilham lihat
dong, kita ciuman.”
Arnold : “Ya kali.
Biarin aja, toh dia punya istri. Kalo jomblo baru ngenes.”
Rara : “Mas jahil
banget sich. Kasian kan Ilham.”
Arnold : “Udah,
biarin aja. Kita makan dulu, habis itu lanjut lagi.”
Rara : “Lanjut ngapain?”
Arnold : “Lanjut
kerja lah. Emangnya kamu mau ngapain?”
Rara : “Mas kerja,
aku tidur aja.”
Arnold : “Iya dech
iya, mama.”
Rara : “Hihi, lucu
dengernya papa.”
Keduanya
menghabiskan makan siang yang sangat nikmat itu sambil sesekali mengobrol.
🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca
novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk
Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya
para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak
ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
__ADS_1
🌲🌲🌲🌲🌲