Duren Manis

Duren Manis
Aku milikmu


__ADS_3

Sementara itu di


kantor Arnold ketika Jodi dan Katty sedang membicarakan konsep pernikahan


mereka,


Rara sedang berada


di kantor Arnold, ia memeriksa setumpuk dokumen diatas meja kerja Arnold.


Sesekali keningnya berkerut melihat angka yang tidak sesuai dan mencoretnya


dengan spidol merah.


Saat ini, Arnold


sedang mewakilinya meeting dengan client bersama Ilham.


Rara : “Huft...“


Rara meringis


merasakan nyeri di bawah perutnya, ia menyandarkan tubuhnya ke kursi kerja


sambil mencoba merilekskan tubuhnya.


Rara : “Sepertinya


aku terlalu lama duduk.”


Pelan-pelan Rara


bangun dari duduknya, ia berjalan ke arah ruang istirahat dan masuk ke dalam


sana. Di dalam ruangan itu ada sebuah tempat tidur besar yang sangat nyaman.


Rara berbaring diatas ranjang sambil memainkan ponselnya.


Rara : “Nak, sampai


kapan mama harus sibuk begini. Papamu tuch bisa-bisanya ngasi jabatan tinggi


begini sama mama. Mana gak bisa dialihkan dalam waktu lima tahun lagi.”


Duk! Rara tersenyum


merasakan putranya menendang perutnya. Duk! Sekali lagi membuat Rara mulai


kesakitan. Duk! Kali ini Rara merasakan perutnya mules.


Rara : “Sayang,


jangan nendang terus dong. Mama sakit, sayang.”


Rara mencoba


mengatur nafasnya, ia teringat dengan senam hamil yang mulai diikutinya minggu


lalu. Usia kandungannya sudah 7 bulan, tinggal dua bulan lagi dan putranya itu


akan lahir. Setelah mengatur nafasnya cukup lama, Rara merasakan perutnya tidak


sakit lagi.


Rara : “Nak, kamu


sudah gak sabar mau keluar ya. Sabar ya, sayang.”


Rara mengelus-elus


perutnya dan perlahan mulai tertidur. Ponselnya tergeletak di sampingnya.


*****


Arnold yang sudah


selesai meeting, kembali ke ruang kerjanya dan tidak menemukan Rara di meja


kerjanya. Ia membuka pintu kamar mandi, sepi. Arnold melihat pintu ruang


istirahat sedikit terbuka, ia masuk ke dalamnya dan melihat Rara berbaring


diatas ranjang. Tertidur dengan tangan memegang perutnya.


Arnold tersenyum,


ia mendekati Rara, duduk di sampingnya,


Arnold : “Sayang,


kamu pasti capek. Maaf ya.”


Arnold mengecup


kening Rara, ia mengelus rambut Rara dan membiarkannya tertidur sendirian.


Arnold kembali ke meja kerjanya, ia melihat setumpuk dokumen yang sudah selesai


diperiksa Rara. Ilham masuk ke ruang kerja Arnold,


Arnold : “Ilham,


apa setiap hari Rara mengerjakan dokumen sebanyak ini?”


Ilham : “Iya, pak.


Ibu Rara tidak mau ada kesalahan di setiap dokumen kerja sama dan juga laporan


keuangan. Ibu Rara selalu memeriksa kembali setiap dokumen yang sudah selesai


dikerjakan.”


Arnold : “Pantas


saja dia kecapean.”


Ilham : “Apa Ibu


Rara baik-baik saja?”

__ADS_1


Arnold : “Iya, dia


lagi tidur. Tolong pesankan makan siang untuk kami. Mungkin sebentar lagi dia


bangun.”


Ilham : “Baik, pak.”


Arnold melanjutkan


pekerjaan Rara dan menyelesaikannya dengan cepat, jadi Rara bisa langsung


menandatangani semua dokumen itu. Sambil menunggu Rara bangun, Arnold melihat


laporan peningkatan omset perusahaannya.


Sejak dirinya koma,


omset perusahaannya sudah bertambah 200% dari sebelumnya. Rara mengelola


perusahaan dengan sangat baik. Arnold tersenyum sebentar tapi kembali bersedih,


seharusnya Rara bisa beristirahat lebih banyak semasa kehamilannya ini.


Tapi gara-gara


Arnold tidak ingin mengambil resiko dirinya meninggal karena operasi dan


meninggalkan Rara tanpa kejelasan kepemilikan propertinya dan juga jabatan


direktur di perusahaannya, Arnold terpaksa melakukan semua itu, memindahkan semua


asetnya menjadi atas nama Rara dan jabatannya sebagai direktur.


Kini Arnold bahkan


tidak punya apa-apa selain uang modal yang ada di rekening pribadinya, uang


yang terus ia putar untuk mendapatkan keuntungan dengan bekerja sama dengan


Jodi. Arnold berpindah menatap foto Rara, mereka membuat foto keluarga beberapa


saat lalu ketika si kembar sudah lahir dan Arnold meminta dibuatkan foto khusus


untuk Rara. Istrinya itu terlihat cantik dan segar dengan perut buncit.


Arnold : “Kamu


selalu jadi yang tercantik di mataku, sayang. Seberapapun fisikmu berubah,


bahkan jadi bundar seperti sekarang.


Rara : “Bilang aja


aku gendut, mas.”


Arnold menoleh


menatap Rara yang berjalan perlahan mendekatinya,


Arnold : “Kamu


Rara : “Iya, mas.


Anakmu nendang terus nich.”


Arnold : “Sini


duduk dulu. Kamu laper?”


Rara : “Iya,


makanya bangun.”


Arnold menuntun


Rara duduk di sofa, ia mengangkat kaki Rara agar bisa duduk dengan nyaman.


Arnold : “


Makanannya bentar lagi datang. Mau minum susu?”


Rara : “Ntar aja,


mas habis makan. Mas uda selesai meetingnya?”


Arnold : “Udah,


kita dapat proyek lagi.”


Rara : “Syukurlah,


mas. Rejeki anak kita.”


Arnold : “Sayang,


kamu gak pa-pa ikut sibuk gini?”


Rara : “Aku


pengennya berhenti jadi direktur, mas. Pengen konsen ngurus kamu sama anak kita.


Tapi kan jabatan ini gak bisa dialihkan sampai lima tahun lagi. Mas kenapa


bikin surat gitu sich? Aku gak bisa mengalihkan aset dan jabatan ini kembali


atas nama kamu sebelum lima tahun.”


Arnold : “Aku perlu


jaminan kalau pemegang saham di perusahaan ini mayoritasnya berubah, kamu masih


bisa bertahan jadi direktur disini sampai lima tahun. Kamu bisa belajar


berbisnis disini sampai kamu bisa berdiri sendiri, sayang.”


Rara : “Trus aset


kamu kenapa juga lima tahun?”

__ADS_1


Arnold : “Lima


tahun lagi, semua aset itu bisa memberimu modal yang cukup untuk membangun


perusahaanmu sendiri dan juga untuk jaminan hidupmu dan anak kita.”


Rara : “Mas, kamu


sesayang itu sama aku sampai kamu mengalihkan semua asetmu.”


Arnold : “Meskipun


kamu gak minta, tapi apapun yang aku berikan sama kamu, belum cukup untuk


membalas semua yang sudah kamu berikan buat aku. Hidupku, jiwaku, ragaku


selamanya milik kamu, Ra.”


Rara menangis


terharu mendengar kata-kata manis Arnold. Ia memeluk Arnold dengan erat. Arnold


mengelus punggung Rara, menenangkannya.


Arnold : “Udah,


sayang. Kasian bayi kita, nanti ikutan nangis loh.”


Rara : “Mas, aku


cinta banget sama kamu.”


Arnold : “Aku juga


cinta kamu, Rara.”


Arnold


merenggangkan pelukannya dan mencium Rara dengan lembut. Mereka terus berciuman


sampai tidak menyadari kehadiran Ilham yang frustasi mengetuk pintu tapi tidak


ada yang meresponnya.


Di tangan Ilham


sudah ada nampan berisi makanan untuk kedua bosnya itu. Ia meletakkan nampan


itu di atas meja sofa, dan bersikap seolah-olah tidak melihat apa-apa. Ia


keluar lagi dari ruang kerja Arnold dan menutup pintu.


Rara menoleh karena


mencium wangi makanan yang membuat perutnya keroncongan.


Rara : “Loh, kapan


makanannya dateng?”


Arnold : “Barusan dibawain


sama Ilham.”


Rara : “Ilham lihat


dong, kita ciuman.”


Arnold : “Ya kali.


Biarin aja, toh dia punya istri. Kalo jomblo baru ngenes.”


Rara : “Mas jahil


banget sich. Kasian kan Ilham.”


Arnold : “Udah,


biarin aja. Kita makan dulu, habis itu lanjut lagi.”


Rara : “Lanjut ngapain?”


Arnold : “Lanjut


kerja lah. Emangnya kamu mau ngapain?”


Rara : “Mas kerja,


aku tidur aja.”


Arnold : “Iya dech


iya, mama.”


Rara : “Hihi, lucu


dengernya papa.”


Keduanya


menghabiskan makan siang yang sangat nikmat itu sambil sesekali mengobrol.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca


novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk


Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya


para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak


ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.

__ADS_1


🌲🌲🌲🌲🌲


__ADS_2