Duren Manis

Duren Manis
Extra part 11


__ADS_3

Extra part 11


Alex membalik tubuh mereka dengan cepat, ia hampir meraih tujuan permainan mereka dan tidak ingin jadi egois.


“Ach...! Mas...! Alex...” racau Mia.


Keduanya menggeram bersamaan sebelum akhirnya tumbang diatas tempat tidur mereka. Alex langsung merengkuh tubuh Mia, tidak membiarkan penyatuan mereka terlepas.


“Sayang, Miaku, aku sangat mencintaimu,” ucap Alex sambil mengecup kening Mia pertanda ia sangat puas dengan permainan mereka. Dan Alex selalu mengecup kening Mia setelah mereka selesai.


Dengkuran halus mulai terdengar dari Alex. Mia gantian menatap wajah suaminya itu.


“Mas, kalau benar kau tidak sengaja melakukannya, kenapa anak itu bisa menjadi anak Endy dan Kinanti? ...Oh, ya ampun.” Mia membekap mulutnya menyadari sesuatu. “Mas, apa ibu anak itu adalah Kinanti?”


Mia membekap mulutnya sendiri agar isak tangisnya tidak didengar Alex. Ia tidak bisa mempercayai kalau Kinanti kali ini menjebak Alex.


**


Keesokan paginya saat Alex terbangun, ia tidak melihat Mia disampingnya. Alex mengusap wajahnya kasar, sepertinya ia bangun kesiangan.


“Mia? Sayang?” panggil Alex berharap Mia ada di kamar mandi.


Hening. Tidak ada suara apapun dari dalam sana. Alex bangkit dengan cepat, ia bahkan belum memakai pakaiannya sama sekali. Dibukanya kamar mandi, tidak ada Mia disana. Alex menarik bathrobe lalu memakainya. Ia keluar dari kamar, ingin mencari Mia di dapur.


“Mia?” panggil Alex. Ia berharap Mia akan menyahut, tapi hanya ada mba Minah yang melongok dari pintu dapur.


“Ya, Pak Alex? Mba Mia pergi keluar pagi-pagi sekali.” kata mba Minah.


“Dia kemana, mba?” tanya Alex mulai panik.


Mba Minah menggeleng, ia juga tidak tahu Mia kemana karena wanita itu pergi dengan sangat terburu-buru. Alex berjalan cepat kembali ke kamarnya. Ia mengambil ponsel, berusaha menghubungi Mia yang tidak


menghiraukan panggilan telponnya.


“Dimana kamu, sayang? Kenapa pergi nggak bilang-bilang?” gumam Alex mengalihkan panggilan ke nomor lain.


Nada dering berbunyi sekali, Alex menoleh melihat ponsel Mia yang satunya justru tertinggal di atas meja rias. Panik, Alex segera menghubungi seseorang untuk mencari Mia.

__ADS_1


“Cari istriku sekarang juga. Cari di bandara atau stasiun. Kabari aku secepatnya,” kata Alex dengan nada cemas.


“Bagaimana dengan penyelidikan hasil laporan semalam, pak?” tanya Melda.


“Tunda dulu. Istriku lebih penting,” kata Alex dengan cepat.


“Sepertinya bapak tidak perlu cemas, istri bapak dalam perjalanan pulang. Seharusnya sampai sepuluh menit lagi.” kata Melda lagi setelah melihat layar laptopnya.


“Terima kasih, Melda. Aku sepertinya tidak akan ke kantor hari ini. Tolong kau reschedule meeting-ku. Terima kasih,” ucap Alex pada sekretarisnya itu.


“Baik, pak Alex,” sahut Melda.


Alex meletakkan ponselnya, ia masuk ke kamar mandi. Lalu keluar lagi setelah mandi dengan hanya berbalut handuk. Ketika Alex baru selesai memakai kaos dan celana pendeknya, Mia masuk ke dalam kamar mereka.


“Mas, kok nggak pake baju kerja?” tanya Mia ketika mereka bertatapan.


Alex merangsek mendekati Mia dan menyentuh kedua pipinya yang dingin. “Kamu kemana aja? Kenapa dingin gini?” tanya Alex kuatir.


Mia beralasan kalau ia tadi ke pasar sebentar untuk membeli ikan. Alex memperhatikan penampilan Mia yang terlalu keren untuk pergi ke pasar. Mia gelagapan sendiri karena merasa jawabannya tidak masuk akal. Tapi


Alex tidak mempermasalahkannya lagi. Ia bisa tahu Mia pergi kemana hanya dengan menelpon seseorang.


“Yank, ganti bajumu. Kita jalan-jalan yuks,” ajak Alex sambil membuka lemari.


“Mau kemana, mas?” tanya Mia mulai cemas. Ia jadi parno setelah melihat hasil tes DNA itu. Mau bertanya langsung, tapi ia belum berani mendengar jawaban Alex.


“Ikut aja,” kata Alex penuh misteri.


Alex merahasiakan tempat tujuan mereka. Keduanya pergi naik mobil Alex membuat sopir Alex bengong karena ditinggal begitu saja. Rio yang mengejar orang tuanya sempat bertanya pada sopir, tapi tidak ada yang


tahu kemana Alex membawa Mia.


**


Mia menatap papan nama private villa yang terpampang di tempat mereka parkir. Alex mengajak Mia turun, lalu berjalan ke resepsionis. Suasana di private villa itu cukup ramai karena sedang libur sekolah. Mia merasa kikuk diperhatikan beberapa orang yang sedang duduk disana.


*”Haduh\, perasaan aku sudah jadi istri sah\, kenapa mereka ngeliatin aku kayak simpenan gini ya?”*

__ADS_1


Alex menarik tangan Mia untuk mengikutinya sampai di kamar yang dulu pernah Alex booking sebelum mereka menikah.


“Mas, kita ngapain disini?” tanya Mia setelah mereka berdua masuk dan Alex mengunci pintu.


“Di kamar ini pertama kalinya kita saling terbuka satu sama lain. Apa kamu lupa?” tanya Alex sambil berjalan mendekati Mia.


Mia tersenyum malu, mengingat waktu itu ia memakai bikini dan Alex menggodanya antara bercerita atau bercinta dan Mia memilih bercerita. Alex meminta Mia mengganti pakaiannya dengan bikini yang entah sejak


kapan sudah ada diatas tempat tidur di dalam kamar itu.


Kali ini Mia mengganti pakaiannya di hadapan Alex. Jangan ditanya gimana perasaan Alex saat melihat istrinya menanggalkan pakaian dihadapannya. Alex kebanyakan mengelus dada dan mengusap wajahnya kasar.


“Sayang, sekarang kamu pilih mau bercinta atau bercerita?” tanya Alex setelah keduanya hanya memakai pakaian renang.


“A—aku masih milih bercerita, mas,” kata Mia.


Alex tersenyum, mereka berjalan mendekati kolam renang dan melakukan pemanasan sebelum masuk ke kolam itu. Pemanasan sebelum berolahraga ya, guys. Tolong otaknya jangan dibawa travelling dulu.


Keduanya saling pandang dan Alex memulai pembicaraan itu.


“Kamu ingat saat kamu melahirkan Renata? Aku harus mengatakan ini, Mia,” kata Alex menatap perubahan ekspresi Mia saat itu. Mia berusaha tenang, tapi kekuatiran tetap terlihat jelas di wajahnya.


“Waktu itu, di rumah sakit, aku bertemu Endy. Aku baru keluar dari ruang bayi, mau balik ke ruang observasi untuk ngelihat kamu. Ternyata Kinanti juga melahirkan disana dan bayinya laki-laki,” kata Alex.


Mia masih diam, ia masih belum paham mau kemana jalan cerita Alex ini.


“Kamu ingat jenis kelamin bayi kita di dalam USG?” tanya Alex


“Laki-laki. Tapi kita kan nggak masalah waktu itu. Yang penting bayi kita selamat dan sempurna. Terus kenapa?” tanya Mia semakin bingung.


“Apa mungkin bayi yang jelas-jelas di USG empat dimensi dan jelas-jelas berjenis kelamin laki-laki, bisa berubah jenis kelamin ketika lahir?” tanya Alex masih berteori.


Mia yang lemah untuk urusan seperti ini, mencoba memacu otaknya untuk berpikir. Yang ada wanita itu malah menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal. Tuing! Sebuah rambut berwarna putih tampak mencuat


diantara rambut hitam Mia. Alex langsung panik melihat uban tidak tahu malu itu nongol di kepala Mia.


**

__ADS_1


Nah, ada uban nongol nich. Gimana papa Alex akan bertindak?


__ADS_2