
Malam harinya, Jodi
sudah menghentikan mobilnya di dekat rumah Katty. Ia menoleh menatap Katty yang
memintanya berhenti disini.
Jodi : “Kenapa
berhenti disini? Ayo, kita masuk.”
Katty : “Tunggu
bentar. Jantungku gak beres nich. Deg-degan.”
Jodi : “Harusnya
aku yang gugup, kenapa jadi kamu?”
Katty : “Aku udah
lama gak ketemu mereka. Hampir 3 bulan.”
Jodi : “Ayo masuk. Papamu
sudah menunggu kita.”
Katty : “Aku
takut...”
Jodi : “Kamu tenang
aja ya. Ada aku. Semuanya akan baik-baik saja.”
Katty : “...”
Jodi sudah
menjalankan mobilnya sampai di depan rumah Katty dan berhenti disana. Ia keluar
dari mobil dan membuka pintu untuk Katty. Lebih tepatnya menarik Katty keluar
dari mobil dan menggandeng tangannya menuju pintu rumah.
Jodi : “Ketuk
pintunya.”
Katty : “Kamu aja.”
Jodi : “Ini
rumahmu, kenapa aku lagi?”
Katty : “Kita
pulang aja ya.”
Jodi : “Kita
diundang papamu kesini. Ayo, ketuk pintunya.”
Ceklek! Pintu rumah
sudah terbuka dan mama Katty muncul dari balik pintu.
Mama Katty : “Katty...”
Katty : “Mama...”
Katty hampir memeluk mamanya saat papanya muncul dari balik pintu, menatap
mereka berdua.
Langkah Katty
mundur selangkah tapi Jodi menahan tubuh Katty yang hampir melarikan diri dari
sana. Jodi menatap Katty dan mengangguk menenangkannya.
Mama Katty : “Ayo,
masuk.”
Katty memasuki
rumahnya sambil menggenggam tangan Jodi erat-erat. Ia melihat sekeliling, tidak
ada yang berubah di rumah itu. Semuanya masih sama ketika terakhir ia
berkunjung kesini untuk menemui Kaori dan berakhir pertengkaran dengan papanya.
Mama Katty : “Silakan
duduk, nak.” Mama Katty mempersilakan Jodi untuk duduk.
Jodi : “Makasih,
tante.”
Jodi duduk bersama
Katty yang menunduk tidak berani menatap kedua orang tuanya. Ia sesekali
melirik papanya yang terlihat lebih kurus dari sebelumnya.
Mama Katty : “Kalian
mau minum apa? Mama buatin teh aja ya.”
Jodi : “Maaf
merepotkan, tante. Ini ada sedikit oleh-oleh.”
Jodi menyodorkan
paper bag berisi kue dari salah satu toko kue terkenal di kota Y. Mama Katty
menerima paper bag itu dan mengucapkan terima kasih. Ia segera berlalu ke dalam
untuk membuat teh.
Terjadi
kecanggungan sepeninggalan mama Katty, papa Katty masih menatap anaknya yang
meringkuk di samping tubuh Jodi, tidak berani menatapnya.
Papa Katty : “Jadi,
kamu Jodi? Benar?”
Jodi : “Iya, saya
Jodi, om.”
Papa Katty : “Sejak
kapan kalian dekat?”
Jodi : “Baru
beberapa bulan ini, om. Kami rekan kerja.”
Papa Katty : “Kamu
marketing freelance juga?”
Jodi : “Lebih
tepatnya saya karyawan di salah satu perusahaan swasta, om.”
Jodi merasakan
__ADS_1
lengannya perih diremas Katty. Wanita itu tidak sadar kalau nail artnya
menyakiti Jodi karena terlalu tegang.
Papa Katty : “Ya,
yang penting kamu sudah bekerja. Sudah lama kerja disana?”
Jodi : “Hampir 5
tahun, om.”
Papa Katty : “Lama
juga ya. Harusnya jabatanmu sudah selevel manager.”
Jodi : “Belum
sampai disana sich, om. Agak susah naik jabatan di kantor saya.”
Jodi gak berbohong pada
papanya Katty karena sejak awal dia bekerja di kantor itu sudah sebagai
direktur utama karena perusahaan itu memang murni didirikan sendiri oleh Jodi. Sebelum
lulus kuliah ia sudah memulai mengumpulkan uang untuk modal usahanya itu.
Meskipun ia nakal
dan sangat suka menghamburkan uang papanya dulu untuk bersenang-senang, Jodi memang
punya kemampuan untuk melihat peluang bisnis dan menggunakan kemampuannya itu
dengan baik untuk menghasilkan uangnya sendiri.
Papa Katty : “Saya
paham. Jadi kalian serius dengan hubungan kalian?”’
Jodi : “Iya, om.
Saya sudah melamar Katty dan Katty bilang iya. Kalau bisa...”
Kata-kata Jodi
terhenti saat mama Katty datang membawa teh dan kue yang tadi dibawa Jodi.
Mama Katty : “Silakan
diminum dulu.”
Jodi : “Terima
kasih, tante.”
Jodi mengambil
secangkir teh dan memberikannya pada Katty.
Jodi : “Minum dulu,
biar tenang.”
Tangan Katty
sedikit gemetar menerima cangkir itu dan Jodi berinisiatif mendekatkan cangkir
teh ke bibir Katty. Katty meminum teh itu dan tersenyum pada Jodi.
Mama dan papa Katty
saling pandang melihat Jodi mengambil tisu dan mengusap sudut bibir Katty yang
terkena teh.
Papa Katty : “Ehem...”
Mendengar papanya
Jodi : “Om, kalau
bisa saya mau menikah secepatnya dengan Katty.”
Papa Katty : “Kenapa
buru-buru? Katty masih terlalu muda untuk menikah.”
Jodi : “Itu...
takutnya Katty...”
Jodi meringis
menahan sakit di lengannya, Katty semakin gemas mencubitnya sampai lengannya
berdarah.
Jodi : “Aduch...
sakit...”
Katty : “Maaf... ya
ampun berdarah!”
Katty panik,
mengambil tisu dan menekan luka Jodi.
Katty : “Mah, minta
plester luka...”
Mama Katty : “Bentar
mama ambilin.”
Mama Katty
mengambil kotak P3K di laci meja dan mengambil plester luka untuk Jodi. Katty
memasangkan plester itu setelah membersihkan darahnya sedikit.
Katty : “Maaf ya...
aku gak sengaja.”
Jodi : “Kamu
nich...”
Jodi mencubit pipi
Katty yang menatapnya dengan pandangan memohon maaf. Papa Katty sampai berdehem
lagi untuk menyadarkan mereka. Dalam hati ia senang melihat kedekatan Katty
dengan Jodi, tapi ia masih khawatir kalau Katty menikah terlalu muda.
Papa Katty : “Takutnya
Katty kenapa? Kamu belum selesai bicara tadi.”
Jodi : “Takutnya
Katty keburu hamil...”
Mama Katty : “Apa??!!”
Papa Katty
menenangkan mama Katty yang mulai gelisah mengetahui anak gadisnya sudah bukan
__ADS_1
gadis lagi.
Papa Katty : “Hubungan
kalian sudah sejauh itu?”
Jodi : “Iya, om.
Kami sudah tinggal bersama.”
Mama Katty : “Katty
sayang, kenapa kamu...”
Mama Katty berhenti
bicara melihat isyarat dari papa Katty. Katty semakin tegang melihat papanya
memejamkan matanya. Biasanya setelah bersikap begitu, papanya akan mulai
berteriak padanya. Katty menutup kedua telinganya dengan tangan dan semakin
meringkuk di samping Jodi.
Papa Katty : “Baik.
Kapan kamu akan membawa orang tuamu kesini?”
Jodi : “Apa om
menerima lamaran saya?”
Papa Katty : “Ya.
Kalian sudah sama-sama dewasa untuk memutuskan menikah. Yang penting kamu sudah
kerja, sudah punya rumah?”
Jodi : “...” Jodi
ingin mengatakan kalau mereka sudah punya rumah sendiri, tapi takut dicubit
lagi oleh Katty. Calon istrinya itu sudah bengong menatap papanya yang bicara
dengan santai tanpa berteriak.
Papa Katty : “Kalian
bisa tinggal disini bersama kami. Kami sering bepergian untuk mengurus bisnis
keluarga dan rumah ini terlalu besar untuk kami berdua.”
Jodi : “Kami akan
sering berkunjung kesini setelah menikah, om.”
Papa Katty : “Ya,
baik. Jadi kapan orang tuamu bisa kesini?”
Jodi : “Coba saya
telpon dulu ya, om.”
Jodi ingin bangun
dari duduknya dan berpindah ke teras, tapi Katty malah mengikutinya.
Jodi : “Kamu tunggu
disini aja. Ngobrol sama papa mamamu. Aku telpon papa sebentar.”
Katty : “Gak mau...
ikut...”
Jodi mengalah
karena Katty terus menarik-narik kemejanya. Daripada kemejanya robek lagi, Jodi
kembali duduk dan menelpon Pak Anton di depan orang tua Katty.
Jodi : “Halo, pah.
Sibuk? Papa dimana?”
Anton : “Papa lagi
di negara J. Ada meeting. Kenapa, Jodi?”
Jodi : “Papa kapan
balik? Orang tua Katty mau ketemu papa sama mama.”
Anton : “Papa baru
nyampe, masih di bandara, disini seminggu habis itu ke negara K. Bisa lewat
v-call? Sekarang?”
Jodi : “Mama mana?”
Anton : “Ada, masih
ke toilet.”
Jodi : “Tunggu mama
dulu ya, pah. Nanti Jodi telpon lagi.”
Anton : “Ya.”
Jodi menutup
telponnya dan kembali bicara dengan papa Katty,
Jodi : “Maaf, om.
Orang tua saya sedang keluar kota. Bisa bicara lewat video call ya? Sekarang?”
Papa Katty : “Kapan
orang tuamu kembali?”
Jodi : “Sekitar dua
minggu lagi.”
Papa Katty : “Kalau
gitu kita ketemu dua minggu lagi.”
Jodi : “Tapi, om...”
Jodi hampir bicara
lagi tapi Katty menahannya.
🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca
novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk
Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya
para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak
ya..
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
🌲🌲🌲🌲🌲