Duren Manis

Duren Manis
Restu papa


__ADS_3

Malam harinya, Jodi


sudah menghentikan mobilnya di dekat rumah Katty. Ia menoleh menatap Katty yang


memintanya berhenti disini.


Jodi : “Kenapa


berhenti disini? Ayo, kita masuk.”


Katty : “Tunggu


bentar. Jantungku gak beres nich. Deg-degan.”


Jodi : “Harusnya


aku yang gugup, kenapa jadi kamu?”


Katty : “Aku udah


lama gak ketemu mereka. Hampir 3 bulan.”


Jodi : “Ayo masuk. Papamu


sudah menunggu kita.”


Katty : “Aku


takut...”


Jodi : “Kamu tenang


aja ya. Ada aku. Semuanya akan baik-baik saja.”


Katty : “...”


Jodi sudah


menjalankan mobilnya sampai di depan rumah Katty dan berhenti disana. Ia keluar


dari mobil dan membuka pintu untuk Katty. Lebih tepatnya menarik Katty keluar


dari mobil dan menggandeng tangannya menuju pintu rumah.


Jodi : “Ketuk


pintunya.”


Katty : “Kamu aja.”


Jodi : “Ini


rumahmu, kenapa aku lagi?”


Katty : “Kita


pulang aja ya.”


Jodi : “Kita


diundang papamu kesini. Ayo, ketuk pintunya.”


Ceklek! Pintu rumah


sudah terbuka dan mama Katty muncul dari balik pintu.


Mama Katty : “Katty...”


Katty : “Mama...”


Katty hampir memeluk mamanya saat papanya muncul dari balik pintu, menatap


mereka berdua.


Langkah Katty


mundur selangkah tapi Jodi menahan tubuh Katty yang hampir melarikan diri dari


sana. Jodi menatap Katty dan mengangguk menenangkannya.


Mama Katty : “Ayo,


masuk.”


Katty memasuki


rumahnya sambil menggenggam tangan Jodi erat-erat. Ia melihat sekeliling, tidak


ada yang berubah di rumah itu. Semuanya masih sama ketika terakhir ia


berkunjung kesini untuk menemui Kaori dan berakhir pertengkaran dengan papanya.


Mama Katty : “Silakan


duduk, nak.” Mama Katty mempersilakan Jodi untuk duduk.


Jodi : “Makasih,


tante.”


Jodi duduk bersama


Katty yang menunduk tidak berani menatap kedua orang tuanya. Ia sesekali


melirik papanya yang terlihat lebih kurus  dari sebelumnya.


Mama Katty : “Kalian


mau minum apa? Mama buatin teh aja ya.”


Jodi : “Maaf


merepotkan, tante. Ini ada sedikit oleh-oleh.”


Jodi menyodorkan


paper bag berisi kue dari salah satu toko kue terkenal di kota Y. Mama Katty


menerima paper bag itu dan mengucapkan terima kasih. Ia segera berlalu ke dalam


untuk membuat teh.


Terjadi


kecanggungan sepeninggalan mama Katty, papa Katty masih menatap anaknya yang


meringkuk di samping tubuh Jodi, tidak berani menatapnya.


Papa Katty : “Jadi,


kamu Jodi? Benar?”


Jodi : “Iya, saya


Jodi, om.”


Papa Katty : “Sejak


kapan kalian dekat?”


Jodi : “Baru


beberapa bulan ini, om. Kami rekan kerja.”


Papa Katty : “Kamu


marketing freelance juga?”


Jodi : “Lebih


tepatnya saya karyawan di salah satu perusahaan swasta, om.”


Jodi merasakan

__ADS_1


lengannya perih diremas Katty. Wanita itu tidak sadar kalau nail artnya


menyakiti Jodi karena terlalu tegang.


Papa Katty : “Ya,


yang penting kamu sudah bekerja. Sudah lama kerja disana?”


Jodi : “Hampir 5


tahun, om.”


Papa Katty : “Lama


juga ya. Harusnya jabatanmu sudah selevel manager.”


Jodi : “Belum


sampai disana sich, om. Agak susah naik jabatan di kantor saya.”


Jodi gak berbohong pada


papanya Katty karena sejak awal dia bekerja di kantor itu sudah sebagai


direktur utama karena perusahaan itu memang murni didirikan sendiri oleh Jodi. Sebelum


lulus kuliah ia sudah memulai mengumpulkan uang untuk modal usahanya itu.


Meskipun ia nakal


dan sangat suka menghamburkan uang papanya dulu untuk bersenang-senang, Jodi memang


punya kemampuan untuk melihat peluang bisnis dan menggunakan kemampuannya itu


dengan baik untuk menghasilkan uangnya sendiri.


Papa Katty : “Saya


paham. Jadi kalian serius dengan hubungan kalian?”’


Jodi : “Iya, om.


Saya sudah melamar Katty dan Katty bilang iya. Kalau bisa...”


Kata-kata Jodi


terhenti saat mama Katty datang membawa teh dan kue yang tadi dibawa Jodi.


Mama Katty : “Silakan


diminum dulu.”


Jodi : “Terima


kasih, tante.”


Jodi mengambil


secangkir teh dan memberikannya pada Katty.


Jodi : “Minum dulu,


biar tenang.”


Tangan Katty


sedikit gemetar menerima cangkir itu dan Jodi berinisiatif mendekatkan cangkir


teh ke bibir Katty. Katty meminum teh itu dan tersenyum pada Jodi.


Mama dan papa Katty


saling pandang melihat Jodi mengambil tisu dan mengusap sudut bibir Katty yang


terkena teh.


Papa Katty : “Ehem...”


Mendengar papanya


Jodi : “Om, kalau


bisa saya mau menikah secepatnya dengan Katty.”


Papa Katty : “Kenapa


buru-buru? Katty masih terlalu muda untuk menikah.”


Jodi : “Itu...


takutnya Katty...”


Jodi meringis


menahan sakit di lengannya, Katty semakin gemas mencubitnya sampai lengannya


berdarah.


Jodi : “Aduch...


sakit...”


Katty : “Maaf... ya


ampun berdarah!”


Katty panik,


mengambil tisu dan menekan luka Jodi.


Katty : “Mah, minta


plester luka...”


Mama Katty : “Bentar


mama ambilin.”


Mama Katty


mengambil kotak P3K di laci meja dan mengambil plester luka untuk Jodi. Katty


memasangkan plester itu setelah membersihkan darahnya sedikit.


Katty : “Maaf ya...


aku gak sengaja.”


Jodi : “Kamu


nich...”


Jodi mencubit pipi


Katty yang menatapnya dengan pandangan memohon maaf. Papa Katty sampai berdehem


lagi untuk menyadarkan mereka. Dalam hati ia senang melihat kedekatan Katty


dengan Jodi, tapi ia masih khawatir kalau Katty menikah terlalu muda.


Papa Katty : “Takutnya


Katty kenapa? Kamu belum selesai bicara tadi.”


Jodi : “Takutnya


Katty keburu hamil...”


Mama Katty : “Apa??!!”


Papa Katty


menenangkan mama Katty yang mulai gelisah mengetahui anak gadisnya sudah bukan

__ADS_1


gadis lagi.


Papa Katty : “Hubungan


kalian sudah sejauh itu?”


Jodi : “Iya, om.


Kami sudah tinggal bersama.”


Mama Katty : “Katty


sayang, kenapa kamu...”


Mama Katty berhenti


bicara melihat isyarat dari papa Katty. Katty semakin tegang melihat papanya


memejamkan matanya. Biasanya setelah bersikap begitu, papanya akan mulai


berteriak padanya. Katty menutup kedua telinganya dengan tangan dan semakin


meringkuk di samping Jodi.


Papa Katty : “Baik.


Kapan kamu akan membawa orang tuamu kesini?”


Jodi : “Apa om


menerima lamaran saya?”


Papa Katty : “Ya.


Kalian sudah sama-sama dewasa untuk memutuskan menikah. Yang penting kamu sudah


kerja, sudah punya rumah?”


Jodi : “...” Jodi


ingin mengatakan kalau mereka sudah punya rumah sendiri, tapi takut dicubit


lagi oleh Katty. Calon istrinya itu sudah bengong menatap papanya yang bicara


dengan santai tanpa berteriak.


Papa Katty : “Kalian


bisa tinggal disini bersama kami. Kami sering bepergian untuk mengurus bisnis


keluarga dan rumah ini terlalu besar untuk kami berdua.”


Jodi : “Kami akan


sering berkunjung kesini setelah menikah, om.”


Papa Katty : “Ya,


baik. Jadi kapan orang tuamu bisa kesini?”


Jodi : “Coba saya


telpon dulu ya, om.”


Jodi ingin bangun


dari duduknya dan berpindah ke teras, tapi Katty malah mengikutinya.


Jodi : “Kamu tunggu


disini aja. Ngobrol sama papa mamamu. Aku telpon papa sebentar.”


Katty : “Gak mau...


ikut...”


Jodi mengalah


karena Katty terus menarik-narik kemejanya. Daripada kemejanya robek lagi, Jodi


kembali duduk dan menelpon Pak Anton di depan orang tua Katty.


Jodi : “Halo, pah.


Sibuk? Papa dimana?”


Anton : “Papa lagi


di negara J. Ada meeting. Kenapa, Jodi?”


Jodi : “Papa kapan


balik? Orang tua Katty mau ketemu papa sama mama.”


Anton : “Papa baru


nyampe, masih di bandara, disini seminggu habis itu ke negara K. Bisa lewat


v-call? Sekarang?”


Jodi : “Mama mana?”


Anton : “Ada, masih


ke toilet.”


Jodi : “Tunggu mama


dulu ya, pah. Nanti Jodi telpon lagi.”


Anton : “Ya.”


Jodi menutup


telponnya dan kembali bicara dengan papa Katty,


Jodi : “Maaf, om.


Orang tua saya sedang keluar kota. Bisa bicara lewat video call ya? Sekarang?”


Papa Katty : “Kapan


orang tuamu kembali?”


Jodi : “Sekitar dua


minggu lagi.”


Papa Katty : “Kalau


gitu kita ketemu dua minggu lagi.”


Jodi : “Tapi, om...”


Jodi hampir bicara


lagi tapi Katty menahannya.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca


novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk


Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya


para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak


ya..

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲🌲


__ADS_2