
Menikahi Aunty Renata – Reynold & Renata 4
Renata terbangun dengan kepala berat dan tubuh terasa sakit. Ia melihat sekeliling, rupanya ia sudah sampai di kamar Reynold. Keningnya mengerut menyadari dirinya tidak berada di kamarnya sendiri.
“Kak Rey?” gumamnya sambil mencoba duduk.
“Kamu sudah bangun?” tanya Reynold yang tidak pernah meninggalkan gadis itu. “Minum dulu,” kata Reynold lagi sambil mendekatkan gelas air ke bibir Renata.
Gadis itu minum sampai tersisa setengah air di dalam gelas. Reynold juga menyodorkan satu butir pil penghilang mabuk.
“Minum ini. Biar sakit kepalamu hilang,” kata Reynold lagi.
Renata mengambil pil itu lalu segera meminumnya.
“Kak, jam berapa sekarang?” tanya Renata.
“Sudah jam sembilan,” sahut Reynold.
“Hah?! Interviewku!!” jerit Renata panik. Ia hampir melompat turun dari tempat tidur ketika melihat pakaiannya tidak lengkap. “Hii...!!! Kak, bajuku kemana?! Kenapa aku cuma pakai baju dalem aja?” Renata panik melihat penampilannya yang minim penutup tubuh dibalik selimut tebal yang menutupi tubuhnya.
“Semalam kamu muntah. Inget nggak? Lagian interviewmu mundur jadi jam sepuluh. Aku cek emailmu tadi. Mandi sana. Sarapan ada di meja,” kata Reynold sambil menguap lebar.
“Trus kakak mau ngapain?” tanya Renata yang melihat Reynold naik ke atas tempat tidurnya. Dirinya sedikit bingung kenapa Reynold sedikit cuek padanya.
“Aku mau tidur lagi. Ngantuk banget,” kata Reynold sambil menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur.
Renata melirik Reynold yang sepertinya sudah tidur. Ia melihat ada bathrobe di kaki tempat tidur lalu buru-buru mengambilnya. Renata segera mandi dan bersiap-siap untuk interview. Meskipun kantornya sangat dekat, tapi Renata tidak mau sampai datang terlambat. Ia berdandan tipis dengan bedak dan lipgloss saja. Rambutnya ia kuncir ekor kuda memperlihatkan tengkuknya yang putih mulus.
Setelah menghabiskan sarapannya, Renata ingin berpamitan pada Reynold. Ia masuk lagi ke dalam kamar pria itu. Dilihatnya posisi Reynold masih belum berubah.
“Kak Rey, aku berangkat interview dulu ya. Doakan aku berhasil diterima kerja. Makasih, kak,” ucap Renata lalu mengecup pipi Reynold perlahan.
Sepeninggal Renata, Reynold membuka matanya. Ia segera mandi lalu berganti pakaian di kamar rahasia yang menjadi tempat kerjanya. Selama ini Renata tidak tahu apa isi kamar itu. Reynold selalu menguncinya dan tidak membiarkan siapapun masuk kesana.
__ADS_1
Di dalam kamar rahasia itu banyak terdapat monitor yang terhubung dengan kantornya, kamarnya, kamar Renata dan juga mansion mewahnya. Ada juga lemari besar yang berisi semua perlengkapan penunjang pertunjukan yang sudah ia siapkan untuk mendapatkan Renata.
Dari salah satu monitor yang ada disana, Reynold melihat Renata sedang menunggu giliran interview di salah satu ruangan di kantornya. Perusahaan tempat Renata interview adalah perusahaan milik Reynold. Tapi tidak ada satupun keluarga ataupun temannya yang tahu selain Steven.
Perusahaan itu ia bangun untuk memperkuat kedudukan dan kekuasaannya, sehingga bisa bersaing bahkan melebihi perusahaan milik Alex, Jodi, Elo, bahkan perusahaan milik papanya sendiri, Arnold. Reynold bertekad ingin jadi yang terkuat agar bisa memiliki Renata seutuhnya.
“Renata, setelah kau masuk ke perusahaanku, secepatnya kau akan jadi milikku,” ucap Reynold sambil mengusap wajah Renata lewat layar monitor disana.
Sebelum dirinya pergi ke perusahaannya, Reynold memakai semacam topeng. Ia tidak ingin dikenali siapapun. Sejak didirikan, perusahaan itu hanya mengenal Steven sebagai wakil direktur disana. Sedangkan Reynold selalu menyembunyikan identitasnya. Kalaupun ia harus ke kantor untuk meeting, ia akan memakai jas lengkap berwarna biru dongker dan juga topeng. Topeng itu didesain khusus hanya untuk Reynold dan cara membukanya pun harus memakai sidik jari pria itu.
Dari rumor yang beredar, direktur perusahaan itu pernah kecelakaan sehingga wajahnya buruk rupa. Tentu saja Reynold yang menyebarkan rumor itu. Ia bahkan mensetting sebuah berita beberapa tahun yang lalu ketika ada seseorang yang kecelakaan dan mengklaim kalau itu direktur FoRena Group, perusahaan milik Reynold.
Reynold menekan tombol rahasia yang membuka pintu lift rahasia menuju kantornya. Gedung kantor FoRena Froup dan apartemen tempatnya tinggal bersama Renata, bersebelahan. Dengan begitu Renata tidak akan curiga kalau dirinya adalah direktur FoRena Group. Di dalam lift, Steven menelpon Reynold.
[]”Pak, dia sudah selesai interview. Sekarang sedang menuju kantormu,” kata Steven, sahabat baik Reynold.
[]”Bagus. Aku segera kesana. Biarkan dia melapor dulu,” sahut Reynold dengan senyum devilnya.
Pintu lift terbuka tepat di balik rak buku besar di ruangan direktur. Reynold melihat tidak ada siapapun di ruangannya. Dengan cepat ia berjalan menuju kursi kerjanya, lalu duduk disana setelah memutar kursi itu membelakangi pintu. Lewat layar ponselnya, Reynold bisa melihat Renata berjalan keluar dari lift kantor. Ia berjalan mendekat ke meja kerja asisten pribadi Reynold.
Di wajahnya masih tersirat kebingungan. Masalahnya ia hanya melamar sebagai staf keuangan sebagai permulaan dirinya bekerja. Seharusnya ia melapor ke bagian keuangan dan bukannya ke kantor direktur seperti saat ini. Reynold mengatur agar Renata menjalani interview yang sedikit berbeda dari pelamar lainnya. Pertanyaannya lebih banyak ke bagian administrasi dan juga umum. Meskipun sempat kebingungan, tapi Renata bisa menjawab dengan baik.
“Tunggu sebentar. Aku cek ke dalam dulu,” kata Alfian, asisten pribadi Reynold. Bahkan Alfian belum pernah melihat wajah asli Reynold.
Setelah Alfian menutup telponnya, ia meminta Renata masuk ke ruangan direktur. “Ingat untuk tidak menyentuh apapun sembarangan. Gunakan tisu ini untuk mengelap apapun yang kau pegang. Pak direktur itu mysophobia, gila kebersihan. Ngerti?” tanya Alfian sebelum membuka pintu untuk Renata.
“Mengerti, pak,” sahut Renata sambil mengangguk.
Setelah masuk ke dalam, Renata mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ia mengagumi kemegahan ruangan itu yang mencerminkan pemiliknya dengan kuat. Baru saja Renata ingin melangkah mendekati meja direktur, Reynold menghentikannya.
“Stop. Berdiri disana. Siapa namamu?” tanya Reynold yang masih membelakangi Renata.
“Saya Renata Putri Pratama, pak,” sahut Renata sambil menghadap ke arah kursi.
__ADS_1
“Ucapkan ‘buka pintu’ dan ‘kunci pintu’ dengan keras,” titah Reynold lagi.
Meskipun tidak mengerti apa yang sedang ia lakukan saat itu, Renata menuruti perintah orang yang duduk di kursi direktur. Masih banyak lagi kata yang harus diucapkan Renata termasuk ‘tolong’, ‘lepaskan’, ‘mmm’, ‘aaa’, dan juga ‘ampun’. Dengan penuh tanda tanya, Renata mengucapkan semuanya dengan keras.
“Bagus sekali, Renata. Mulai hari ini, kamu bertugas disini. Tugasmu memeriksa semua dokumen yang ada di mejaku ini. Mengerti,” kata Reynold lalu memutar kursi yang ia duduki.
Renata tertegun melihat sosok direktur FeRona Group yang sangat jarang diketahui orang. Entah kenapa ia sangat familiar dengan sosok direktur itu. Ia sadar kalau direktur di depannya sedang menunggu jawabannya.
“Saya mengerti, pak direktur,” sahut Renata tegas.
“Mejamu disana, di dekat jendela. Ini kartu VIP. Masukkan ke dalam name tag-mu. Kartu ini bisa memberimu akses untuk masuk kemana saja di dalam kantor ini. Ulurkan tanganmu,” pinta Reynold.
“Saya boleh mendekat, pak?” tanya Renata takut salah.
Reynold mengangguk sambil tersenyum tipis. Renata mendekat lalu berdiri di samping Reynold dan mengulurkan tangannya. Telunjuk Renata masuk ke sebuah alat untuk menscan sidik jari. Renata meringis merasakan sakit di ujung jarinya. Alat itu mengambil sedikit darah Renata yang langsung masuk ke dalam kartu. Sungguh kartu yang aneh karena terlihat jelas ruang kosong yang tadinya berwarna putih, kini sudah memerah seperti warna darah.
“Semakin sering kamu masuk ke sebuah ruangan, darahmu akan berkurang per garis ini. Kalau sudah habis, kamu harus reload lagi dengan alat ini. Mengerti, Renata?” tanya Reynold lagi.
“Mengerti, pak,” sahut Renata sambil mengambil kartu yang terselip di alat itu.
Renata langsung mundur ke tempat semula. Ia melirik tumpukan dokumen diatas meja kerjanya. Ada sebuah laptop dan juga telpon disana. Reynold mengatakan kalau Alfian akan membantu Renata kalau ada pertanyaan. Renata bisa menekan nomor satu untuk menelpon Alfian. Dan untuk mengetahui siapa yang membuat dokumen itu, ia bisa menscannya di kamera pada laptopnya. Ada barcode di setiap laporan yang ada diatas meja itu.
Perusahaan besar
seperti FeRona Group sangat efisien dengan karyawannya. Reynold menginginkan semua orang benar-benar bekerja sesuai dengan kemampuan dan juga keahliannya. Tidak ada satupun karyawan di FeRona Group yang tidak bisa menyelesaikan pekerjaan yang diberikan padanya. Karena satu kesalahan kecil saja, mereka akan langsung menerima SP satu dari HRD. Otomatis masuk ke e-mail kerja mereka. Dan kalau sudah seperti itu, mereka harus siap-siap tidak bisa masuk ke kantor selama seminggu karena akses untuk membuka pintu tertutup total.
Jadi Reynold sengaja menempatkan Renata di kantornya agar gadis itu bisa mulai mempelajari bisnis di perusahaannya. Ia yakin dengan kemampuan Renata, bisa segera mengambil alih administrasi perusahaan. Reynold ingin agar Renata ikut mengawasi perusahaan miliknya yang nantinya akan mereka miliki berdua.
Renata mulai bekerja di meja kerjanya yang sama besarnya dengan meja direktur. Ia melihat semua dokumen dimasukkan ke dalam map berwarna-warni. Sepertinya masing-masing warna menunjukkan department yang mana. Renata mengambil yang paling sedikit dulu. Rupanya dari department umum dan keamanan.
Keningnya mengerut ketika melihat laporan yang bagian itu buat. Bukan karena salah, tapi aneh saja kenapa department umum dan keamanan harus membuat laporan anggaran seperti itu. Lebih aneh lagi kenapa sampai ke kantor direktur juga. eharusnya semua anggaran di laporkan di bagian keuangan saja.
Reynold yang terus memperhatikan Renata dari balik laptopnya, tersenyum melihat kerutan di kening gadis itu. Seharusnya tugas yang dikerjakan Renata sekarang adalah tugas Alfian. Reynold merasa kasihan melihat asisten pribadinya itu terlalu sibuk mengurus perusahaannya sendirian sampai lupa mencari pendamping hidup. Semula ia hanya ingin Renata bekerja di bagian keuangan sambil mengawasi gadis itu. Tapi Reynold berubah pikiran dan mengatur pekerjaan Renata sekarang.
__ADS_1
[]“Alfian, kesini. Bantu Renata sebentar,” titah Reynold.
Alfian segera masuk ke ruang direktur. Ia duduk di depan Renata lalu memberitahunya apa yang harus gadis itu kerjakan. Renata memperhatikan Alfian dengan baik. Berusaha mengingat semua kata-kata pria itu. Sejujurnya Reynold sedikit cemburu dengan cara Renata menatap Alfian. Tapi Alfian jelas sekali tidak tampak tertarik pada Renata. Entah tipe apa yang bisa menarik perhatian pria yang sama-sama dingin itu.