
Rara gelisah dalam tidurnya, ia bermimpi buruk tentang kejadian penyekapan sebelumnya. Keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuh Rara.
Flash back...
Pagi itu setelah semua orang pergi beraktifitas seperti biasa kecuali Rara, ia masuk ke dalam kamarnya setelah sarapan.
Saat ia ingin mengirim chat pada Mia menanyakan kegiatannya hari ini, Rara mendapat notif chat masuk dari wakil ketua kelas.
Chat itu ditulis sedemikian rupa jadi terlihat seperti broadcast. Rara membuka chat itu dan membalas ok. Tapi ia tidak kepikiran mengecek lagi lewat grup kelas.
Rara langsung bersiap ganti baju dan mengambil tasnya. Ia berpamitan pada nenek dan berangkat ke kampus naik ojol.
Sampai di kampus, Rara tetap tenang melihat situasi kampus yang masih sepi. Ia mengira teman-temannya terlambat datang karena masih dalam perjalanan.
Rara menyusuri lorong kampus untuk sampai ke kelasnya pagi ini, beberapa mahasiswa tampak duduk di kelas lain dan ada juga yang duduk di lorong kampus.
Untuk sampai ke kelasnya, Rara harus melewati lorong sepi yang pendek. Dari lorong itu ia tinggal belok ke kanan dan sampailah dia ke kelasnya.
Tapi baru masuk ke kelas, seseorang menarik tubuhnya dan mulutnya di bekap sapu tangan. Rara merasakan tubuhnya mulai melemas menghirup aroma dari sapu tangan itu, ia mencoba menahan nafas sambil memberontak. Tapi orang yang membekapnya lebih kuat.
Orang itu membalik tubuh Rara saat dirasakannya Rara tidak melawan lagi. Mata Rara terbelalak melihat siapa yang membekapnya. Jodi!!
Jodi : "Sayang, apa kau merindukanku?"
Rara merasa jijik mendengar Jodi bicara seperti itu. Ia memalingkan wajahnya saat tangan Jodi mengelus pipinya yang dipenuhi air mata.
Jodi : "Lama tidak ketemu kamu semakin cantik, Ra. Hari ini aku akan penuhi keinginanmu."
Rara menatap ngeri ketika Jodi dengan sangat kurang ajar membuka kancing kemejanya pelan-pelan. Rara ingin melawan tapi tenaganya seolah sudah habis.
Jodi : "Kamu tidak sabaran ya, tubuhmu ketagihan dengan sentuhanku."
Rara mau muntah mendengar kata-kata Jodi yang menjijikkan. Beberapa mahasiswa tampak lewat di belakang Jodi.
Rara : "To... tolong...Mmmppp...!!"
Dengan cepat Jodi membekap mulut Rara, menariknya merapat ke dinding kelas sampai mereka lewat.
Jodi : "Aduh, aku lupa kalau kita masih di kampus. Kamu sabar sebentar ya. Aku carikan tempat aman untuk kita bercinta."
Rara menggeleng pelan, kepalanya sedikit pusing karena efek obat bius. Ia tetap mempertahankan kesadarannya agar bisa melawan.
Jodi menuntun Rara ke arah ruang olahraga yang sepi, parahnya lagi tidak ada seorangpun disana. Sampai di dalam ruang olahraga, Rara merasakan tubuhnya dipanggul. Jodi membawa Rara masuk ke gudang dan mulai mengikat tangan dan kakinya.
Sebuah lakban ia keluarkan dari tas-nya dan merobeknya sedikit sebelum menempelkannya di bibir Rara. Jodi meraba-raba tubuh Rara, memastikan tidak ada ponsel di celana panjangnya.
Sedetik kemudian, Jodi mulai merobek pakaian Rara, Rara memekik dengan bibir tertutup lakban. Ia mencoba menghindar saat Jodi mendekatinya,
__ADS_1
Jodi : "Ach, aku lupa mengambil tasmu. Bagaimana kalau sampai ada orang yang menemukannya? Aku juga belum memasang kamera, aku benar-benar tidak sabar..."
Jodi terkekeh jahat, ia mengeluarkan ponselnya dan mulai memasang video menghadap ke arah Rara yang kondisinya sudah berantakan.
Setelah memastikan Rara tidak bisa melarikan diri, Jodi keluar dari ruang olahraga dan berjalan cepat masuk ke kelas Rara. Ia terlalu gembira sampai tidak menyadari kalau Mia melihatnya mengambil tas Rara.
Untung saja Mia mengikuti Jodi kalau tidak, mungkin nasib Rara akan sangat mengenaskan saat itu.
Flash back end...
Dalam tidurnya, Rara terus mengigau makin lama makin keras dan akhirnya ia terbangun saat Arnold mengguncang tubuhnya.
Arnold : "Rara bangun!! Gak pa-pa..."
Rara meronta saat Arnold memeluknya, ia mengira kalau Arnold itu Jodi.
Arnold : "Sayang, ini aku. Arnold. Aku disini..."
Rara membuka matanya dan melihat sosok Arnold yang sedang memeluknya. Rara menubruk Arnold hingga mereka terbaring lagi.
Arnold merasakan kesedihan Rara dan membiarkannya menangis di dadanya.
Arnold : "Sayang, kita ke kota J ya. Kita ketemu dokter Kevin, dia akan membantumu sembuh dari trauma ini."
Rara : "Iya.. hiks...hiks..."
Arnold juga langsung memesan tiket pesawat ke kota J yang akan berangkat jam 9 pagi nanti. Tak lupa ia mengirim chat pada Alex, memberitahu kalau mereka akan berangkat besok pagi ke kota J untuk terapi.
------
Jam 6 pagi, Rara menggeliat bangun dari tidurnya. Dilihatnya Arnold duduk di sampingnya sudah rapi dan wangi. Wajah tampannya terlihat semakin tampan saat tersenyum menatap Rara.
Arnold : "Sayang, bangun. Cepetan mandi, kita harus ke bandara."
Rara : "Kita mau kemana?"
Arnold : "Ketemu dokter Kevin, kamu harus ikut terapi juga sama aku."
Rara : "Aku...?"
Arnold : "Kamu terus bermimpi buruk dan tidak tenang. Terapi ini akan membantumu sembuh, Ra. Kita pergi ya."
Rara menuruti kata-kata Arnold, karena terburu-buru mereka hanya membawa dompet, ponsel, charger dalam satu tas kecil.
Arnold : "Kita beli perlengkapan kita disana saja ya, sambil jalan-jalan." Arnold menjawab pertanyaan Rara saat mereka sudah berada di dalam mobil yang membawa mereka ke bandara.
Rara : "Iya, kak."
__ADS_1
Arnold menggenggam tangan Rara dan mencium tangannya,
Rara : "Kak, makasih uda sabar banget sama aku."
Arnold : "Hei, kamu juga uda sabar banget selama ini menemaniku. Ayo kita hadapi masalah kita sama-sama. Jangan ada beban lagi. Sampai kapanpun aku akan selalu mencintaimu, Ra."
Rara menyandarkan kepalanya ke pundak Arnold. Arnold bergerak mencium rambut Rara dan mengelus kepalanya.
Ia bersyukur karena Rara masih bisa selamat dari bahaya. Kalau tidak entah apa yang akan terjadi dengan psikis Rara nantinya.
------
Arnold menggenggam tangan Rara saat mereka sudah sampai di terminal kedatangan kota J. Rara masih tampak mengantuk karena ia tidur selama perjalanan.
Mobil yang dipesan Arnold sudah datang dan siap mengantar mereka ke rumah sakit tempat dokter Kevin praktek.
Kali ini Rara yang akan ikut terapi untuk menyembuhkan traumanya. Sepanjang perjalanan, Rara kembali tertidur. Arnold memeluknya sambil mengelus kepala Rara.
Sampai di rumah sakit, dokter Kevin sudah menunggu mereka. Rara langsung diminta berbaring di bed periksa.
Arnold menunggu disampingnya, siap sedia jika sesuatu terjadi pada Rara. Baru sebentar memulai sesi terapi, Rara sudah menangis sesenggukan. Dokter Kevin melihat kondisi Rara yang stabil, tetap melanjutkan terapi sampai Rara berhenti menangis dengan sendirinya.
Perlahan Rara membuka matanya ia merasa sangat rileks dan tenang. Rara tersenyum melihat Arnold yang menatapnya khawatir.
dr.Kevin : "Rara, apa yang kamu rasakan sekarang?"
Rara : "Saya sudah lebih baik, dok."
Arnold : "Kamu yakin?"
Rara mengangguk mantap, pikirannya lebih tenang dan jernih sekarang. Seolah kejadian itu hanya sekedar ketidak beruntungannya saja. Ia jadi lebih waspada untuk ke depannya sekarang.
-------
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
--------
kk reader yang baik dan setia membaca Novel Duren Manis, bisa lihat sendiri berapa episode yang masih proses review dari pihak editor MT.
Jadi untuk mengatasi up yg dikit kelihatannya, author akan copy-kan full version di bagian komen masing-masing eposide.
__ADS_1