Duren Manis

Duren Manis
Percayalah


__ADS_3

Alex merebahkan tubuhnya ke atas ranjang, ia baru saja sampai dari mengantar Mia pulang. Diraihnya ponsel diatas nakas yang sudah tersambung dengan charger.


Tidak ada pesan apapun dari Arnold setelah komunikasi terakhir mereka siang tadi. Rara juga tidak mengirimkan pesan. Entah kenapa perasaannya tetap tenang, sama sekali tidak ada perasaan gelisah mengetahui putri sulungnya sedang berduaan dengan calon suaminya.


Alex : "Selvi, anak kita sudah dewasa. Sebentar lagi aku dan juga Rara akan menikah di hari yang sama. Tolong restui pernikahan kami masing-masing."


Alex berbicara seolah Selvi ada di depannya, ia bukannya belum melupakan almarhum istrinya, tapi Selvi tetap menjadi kenangan tersendiri dalam hatinya meskipun sekarang ia sudah bersama Mia.


Alex mengirim chat pada Mia,


Alex : "Sayang, selamat tidur. Aku sudah sampai rumah."


Mia : "Met tidur, mas..."


Alex : "Aku kangen kamu..."


Mia : "Mas, kita barusan ketemu."


Alex : "Tapi aku uda kangen, besok v-call ya di kamar mandi."


Mia : "Mas mau lihat ekspresiku lagi buang air?"


Alex : "Gak lah, aku mau lihat kamu mandi."


Mia : "Basah dong..."


Alex : "Biarin basah."


Mia : "Ntar ponselku rusak, mas. Ada aja permintaanmu."


Alex : "Hehe... kirain basah yang lain."


Mia : "Ish, mesum."


Alex : "Tapi kamu suka kan?"


Mia : "Tidur, mas. Aku dah ngantuk."


Alex : "Mimpi indah, Ratuku..."


Tak lama, Alex mulai terlelap dalam tidurnya.


------


Apartment Arnold di kota J, jam 4 pagi.


Rara terbangun dalam pelukan Arnold, ia ingin ke toilet karena kebelet. Dengan mata masih setengah terpejam, Rara menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya dan masuk ke kamar mandi.


Udara dingin dari AC membuat tubuhnya menggigil saat ia keluar dari kamar mandi, saat itu Rara menyadari kalau dia tidak pakai apa-apa.


Rara : "Aarrgghh...!!"


Rara membekap mulutnya sendiri, takut membangunkan Arnold. Ia tidak melihat apa-apa untuk menutup tubuhnya dan dengan cepat masuk lagi ke bawah selimut.


Wajah Rara menghangat, ia bahkan tidak ingat apa yang terjadi sebelumnya. Arnold masih tidur di sampingnya bertelanjang dada. Apa mungkin?


Perlahan Rara menggerakkan tangannya menyentuh bagian pinggang Arnold dan ia sadar kalau Arnold juga tidak pakai apa-apa.


Rara mulai menangis, ia mendekap tubuhnya erat-erat seolah takut kalau pelukannya terlepas, tubuhnya akan merasakan kesakitan. Pikirannya mulai kacau dengan kemungkinan kalau mereka sudah melewati malam pertama tanpa Rara menyadari apapun.


Rara teringat kembali saat-saat ia mencoba menggoda Arnold, tapi ia tidak menyangka kalau setelah melewati malam pertama, ia bisa merasakan seperti ini seperti tubuhnya tidak utuh lagi.


Isakan tangis Rara mengganggu tidur Arnold, keningnya mengkerut mendengarkan suara yang asing dan sedikit menyeramkan. Mata Arnold terbuka setelah mendengarkan suara itu berasal dari samping ranjang yang sedang ditidurinya.

__ADS_1


Arnold terbangun dengan cepat menarik selimut di sampingnya, ia melihat Rara menangis sesenggukan. Tubuhnya menggigil hebat seiring isak tangisnya.


Arnold : "Rara? Rara!! Bangun..."


Rara : "Kak... kita..."


Arnold menyadari tubuh polos mereka, ia berjalan mengambil bathrobe dan memberikannya pada Rara, sebelum memakainya.


Arnold : "Ra, kenapa kamu nangis? Dimana yang sakit?"


Rara : "Kak... hiks... kita udah..."


Arnold : "Apa yang kamu pikirin?"


Rara : "Apa... hiks... apa kita melakukannya..."


Arnold mengusap wajahnya, hatinya sakit melihat tangisan Rara yang memilukan. Ia tidak menyangka kalau reaksi Rara akan sangat menyakitkan seperti ini.


Arnold : "Gak ada yang terjadi, Ra. Meskipun kita sama-sama menginginkannya..."


Rara : "Beneran...??"


Arnold : "Iya, Ra. Kita bisa cek ke dokter kalau kamu gak percaya."


Rara : "Kakak serius kan?"


Arnold : "Aku gak pernah main-main untuk kehormatan seorang wanita. Aku uda janji sama papamu. Kalau aku ingkar, apa bedanya aku sama pria brengsek lainnya."


Rara : "Aku takut, kak. Rasanya gak utuh lagi..."


Arnold : "Aku masih bisa mengendalikan diriku, Ra. Kamu yang agak kebablasan kemarin. Aku jujur..."


Rara : "Aku kenapa kak?"


Arnold membuka bathrobe-nya memperlihatkan bekas ciuman Rara yang sudah memerah di tubuh bagian atasnya.


Rara : "Aku melakukan ini?"


Arnold : "Bukan cuma disini tapi dibawah juga. Kamu membuatku klimaks dan aku juga membuatmu klimaks."


Wajah Arnold sudah merah padam saat mengatakan itu. Ia menunduk malu menyembunyikan ekspresi wajahnya.


Rara : "Apa aku se-agresif itu?" Rara memperhatikan tubuh eightpack Arnold, ia ingin menyentuhnya.


Arnold : "Kau membuatku klimaks sampai 3 kali, Ra."


Rara : "Kak, sudah cukup. Aku ngerti. Aku minta maaf, kak."


Arnold : "Kenapa minta maaf?"


Rara : "Karena menggodamu?" Rara juga bingung dia minta maaf untuk apa sebenarnya.


Arnold : "Sebenarnya aku menyukai apa yang kamu lakukan."


Wajah keduanya kembali memerah, situasi yang sangat canggung membuat Arnold merasa tidak nyaman duduk di atas ranjang bersama Rara.


Baru saja ia mau bangun, Rara menarik tangannya agar tetap duduk. Ia menyandarkan tubuhnya di punggung Arnold.


Rara : "Kak, biar kayak gini dulu ya. Sebentar aja."


Arnold : "Kamu mau dipeluk?"


Rara : "Kakak mau peluk aku?"

__ADS_1


Arnold : "Sini."


Arnold membalik tubuhnya dan mendekap Rara. Tangan Rara menyusuri dada Arnold yang terbuka.


Arnold : "Jangan pegang disana, Ra..."


Rara menarik tangannya dari dada Arnold, Arnold menggenggam jemari tangan Rara.


Arnold : "Ra, hari ini kita ke dokter Kevin lagi ya. Semalam kamu uda gak mimpi buruk lagi. Moga habis terapi hari ini kamu uda gak trauma lagi."


Rara : "Kita balik hari ini, kak?"


Arnold : "Tergantung keputusan dokter Kevin ya. Kalau perkembangannya bagus, kita bisa balik hari ini. Hari ini papamu acara siraman kan?"


Rara : "Iya, kak. Besok kita juga ikut acara siraman kan?"


Arnold : "Aku gak ngadain acara itu, Ra. Terlalu jauh jarak kota M ke rumahmu. Buatku yang penting kamu bisa sehat dan gak takut lagi."


Rara : "Kakak gak mau bekas lukamu kelihatan orang lain ya."


Arnold : "Kamu selalu memahamiku akhir-akhir ini, apa karena kita sering sama-sama?"


Rara : "Mungkin cinta kita makin kuat, kak. Terkadang tanpa banyak bertanya, aku bisa tahu apa yang kakak pikirkan."


Arnold : "Apa kau tahu apa yang sedang aku pikirkan sekarang?"


Rara : "Kakak laper dan bingung mau makan apa."


Arnold : "Aku gak laper tapi aku mau makan kamu..."


Krriiuuukkkkk!!! Suara perut Arnold membuyarkan saat romantis mereka. Rara tertawa terbahak-bahak mendapati kalau tebakannya benar.


Matahari mulai menunjukkan kecemerlangannya dari balik tirai yang masih tertutup di apartment Arnold. Rara memegangi perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa.


Sedangkan Arnold hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Arnold : "Jadi mau makan apa?"


Rara : "Omellete kayaknya enak."


Arnold : "Aku gak suka omellete."


Rara : "Apalagi yang kakak gak suka?"


Arnold : "Aku gak suka makan telur yang gak matang. Baunya gak enak."


Rara : "Itu aja, kak?"


Arnold mengangguk, ia menatap Rara,


Arnold : "Aku mau mandi, mau ikut?"


Rara mencubit lengan Arnold yang langsung masuk ke kamar mandi. Rara berjalan ke dekat jendela dan membuka tirai apartment Arnold.


-------


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


--------

__ADS_1


__ADS_2