Duren Manis

Duren Manis
Menikahi Aunty Renata – Reynold & Renata 8


__ADS_3

Menikahi Aunty Renata – Reynold & Renata 8


Merry melambaikan tangannya saat mobil Reynold bergerak menjauh. Ia tersenyum senang melihat


Renata yang sangat cocok dengan Reynold. Saat ia berbalik, dirinya tidak sengaja menabrak Alfian yang turun dari mobilnya.


“Temani aku makan,” titah Alfian sambil menarik tangan Merry masuk ke mobilnya.


“Tapi mobilku...? Eh, ngapain kamu disini, Al?!” pekik Merry.


Wanita tambun itu terduduk di kursi penumpang dengan wajah bingung menatap Alfian yang berjalan


memutari mobilnya. Alfian tidak mengatakan apa-apa tapi memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju apartment pria itu. Merry terpaksa mengikuti kemauan Alfian yang terasa sedikit aneh baginya. Toh, hanya menemani makan saja. Bagi Merry, hal itu biasa ia lakukan bersama Alfian. Tapi saat mereka memasuki


basement apartment, Merry menoleh menatap Alfian.


“Kita mau kemana, Al? Kenapa kesini?” tanya Merry.


“Kita makan di tempatku. Ayo turun,” titah Alfian sambil membuka pintu mobilnya.


Untuk pertama kalinya setelah lima tahun sejak pertemuan mereka, Alfian membawa Merry ke apartmentnya. Selama ini mereka hanya bertemu di luar. Kalau nggak makan atau nongkrong di cafe sambil ngobrol. Merry selalu menjaga hatinya tidak berubah menyukai Alfian lebih dari sekedar teman. Baginya, memiliki teman yang baik sangat sulit didapatkan apalagi di kota besar seperti ini.


Alfian menarik tangan Merry menuju lift untuk naik ke lantai apartment-nya. Saat pintu lift terbuka, Alfian mendorong Merry masuk lalu menekan tombol lantai empatbelas.


“Alfian, kamu kok nggak sabaran banget sich. Udah laper ya. Kamu mau makan apa?” tanya Merry.


“Aku mau makan kamu,” bisik Alfian tapi masih bisa didengar Merry.


“Kamu mau makan aku? Nggak salah? Eh, tapi aku kan emang gendut,” kata Merry lagi-lagi menertawakan


dirinya sendiri.


Alfian mengepalkan tangannya ingin membalas kata-kata Merry, tapi ia menahan dirinya sampai di apartment nanti. Pintu lift terbuka lagi, Alfian kembali menarik tangan Merry mendekati pintu kedua dari lift. Merry menunduk saat Alfian menekan tombol kunci untuk masuk ke apartmentnya. Klik! Pintu terbuka dan Merry terpana melihat mewahnya apartment itu. Pemandangan diluar sana langsung terlihat dari jendela besar yang ada di ruangan itu.


“Duduk. Aku ambil minum dulu,” kata Alfian sambil menunjuk sofa.


“Wah, apartmentmu bagus sekali ya. Sangat nyaman,” puji Merry sambil berjalan mendekati sofa besar.


Alfian mengambil segelas air putih setelah Merry duduk di sofa besarnya. Pria itu tersenyum tipis melihat gelas di tangannya. Tanpa basa-basi lagi, ia berjalan mendekati Merry dan berpura-pura tersandung. Plash! Air minum tumpah menyiram wajah dan pakaian Merry sampai basah. Wanita tambun itu gelagapan karena wajahnya tersiram air.


“Aduch, sory. Aku nggak sengaja kesandung,” kata Alfian. “Ganti bajumu ya. Di kamar mandiku ada


bathrobe. Kamu bisa pakai bajuku dulu. Nanti aku bantu keringin bajumu,” kata Alfian cepat.


Merry ingin mengomeli Alfian, tapi ia memilih ganti pakaian dulu. Setelah masuk ke kamar Alfian, Merry melihat sekeliling kamar itu. Ada tempat tidur besar, lemari pakaian yang juga besar, sofa besar, bahkan cermin yang besar juga ada. Kalau diperhatikan, apapun yang ada di kamar Alfian berukuran lebih besar dari normal. Merry mulai membuka blus kerjanya. Cermin besar di sudut ruangan memperlihatkan tubuhnya


dengan jelas.


Merry menelan salivanya, seharusnya ia membuka pakaiannya di dalam kamar mandi setelah mencari handuk dan bathrobe dulu. Ia buru-buru masuk ke kamar mandi dan kebingungan mencari handuk. Tidak ada satupun handuk atau bathrobe di dalam kamar mandi itu. Saat Merry tengah berjongkok hendak membuka lemari di bawah wastafel, Alfian mengetuk pintu kamar mandi.


“Mer, ini handuknya. Aku lupa masih ada di jemuran,” kata Alfian.

__ADS_1


Merry membuka pintu kamar mandi sedikit untuk mengeluarkan tangannya saja. Pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka lebih lebar, membuat Merry menjerit kaget. Ia segera bersembunyi di belakang pintu, berusaha menutupi tubuhnya yang tambun.


“Alfian!! Jangan bercanda! Cepat keluar!” jerit Merry kesal.


“Aku cuma mau ngasih handuk. Kenapa teriak-teriak gitu?” tanya Alfian masih berdiri di depan pintu kamar mandinya.


“Aku kan lagi nggak pakai baju. Cepat sini handuknya. Kamu keluar sana,” pinta Merry hampir putus asa.


Hening. Tidak ada jawaban dari Alfian. Merry mengintip dan terkejut melihat pria itu berdiri di hadapannya. Mata Alfian menatap dalam mata Merry yang terbelalak. Wanita tambun itu menunduk malu ketika menyadari penampilannya yang tidak lengkap.


“Al, aku belum pakai baju. Tolong ambilkan bajuku di luar,” pinta Merry dengan wajah merona.


“Pakai ini,” kata Alfian sambil menyodorkan pakaian pada Merry.


Pria itu segera berbalik, keluar dari kamar mandi. Merry mengernyitkan keningnya melihat pakaian di tangannya. Wajah Merry semakin merona karena itu pakaian tidur yang cukup tipis. Merry menelan salivanya, ia teringat kata-kata Renata tentang perasaan Alfian padanya. Tangannya mengepal keras, ada rasa takut yang membayangi pikirannya. Dirinya pernah terluka karena pria yang jahat. Seorang pria yang hanya memandang fisiknya dan bukan hatinya. Bahkan sangat tega menjadikannya bahan taruhan.


Merry keluar dari kamar Alfian setelah memakai pakaian tidur itu. Wangi masakan tercium dari meja yang ada di depan televisi. Layar televisi menyala menampilkan film komedi romantis yang sering di tonton Merry.


“Ayo, duduk,” kata Alfian yang tiba-tiba muncul di belakang Merry.


Kedua tangan Alfian mendarat di pinggang Merry membuat wanita itu kegelian dan menepis tangan Alfian. Ia cepat-cepat duduk bersimpuh di atas karpet tebal yang nyaman. Alfian menyusulnya, duduk di samping  Merry.


“Al, tumben kamu ngajak aku kesini. Itu film dapat darimana?” tanya Merry sambil mencomot potongan cumi asam manis.


Alfian memesan masakan seafood untuk makan malam mereka hari ini. Ada juga sebotol minuman yang mengandung sedikit alkohol. Disudut meja masih ada kotak kue kecil yang sepertinya berisi kue ulang tahun. Merry mengambil kotak itu lalu membuka isinya.


“Oh, kue ulang tahunmu toh,” gumam Merry sambil meletakkan kotak kue itu kembali ke tempat semula.


“Gitu. Ngomong dong dari tadi. Aku pikir mau ngapain kesini,” sahut Merry sambil menepuk lengan Alfian.


Mereka menikmati makan malam berdua sambil menonton film komedi romantis dan sesekali ngobrol.


**


Reynold membawa Renata ke restaurant favoritnya. Mereka memesan makan malam lalu saling menatap


dari tempat duduk masing-masing. Reynold tersenyum menggoda ketika melihat bibir Renata masih sedikit bengkak. Renata yang melihat senyuman Reynold, melempar napkin pada pria itu.


“Ngapain senyum-senyum?” tanya Renata masih malu sekaligus kesal.


“Aku masih kebayang kejadian semalam. Jelas itu bukan ciuman pertamaku, tapi rasanya sangat manis,”


ucap Reynold.


“Itu ciuman pertamaku, kak. Kok tega sich,” sahut Renata cemberut lagi.


“Kamu juga nggak nolak,” balas Reynold.


Renata melempar napkin lain pada Reynold. Ia menyembunyikan rasa gugupnya dengan bersikap galak. Reynold tahu itu, ia mengenal Renata dengan sangat baik. Kali ini ia ingin serius mengejar Renata. Saatnya memakai rencana darurat. Reynold menegakkan tubuhnya saat melihat seseorang yang dikenalnya. Renata menoleh ke belakang dan melihat seorang wanita cantik dan seksi berjalan mendekati mereka.


“Hai, Sera. Apa kabar?” sapa Reynold sambil cipika-cipiki dengan wanita bernama Sera itu.

__ADS_1


Renata meremas taplak putih yang menutupi meja, ia kesal sekali melihat kelakuan Reynold yang


seenaknya mencium wanita lain di depannya. Reaksi Renata tentu saja tidak terlewatkan mata awas Reynold. Ia semakin memanas-manasi Renata dengan merangkul pinggang ramping wanita di sampingnya itu.


“Rey, jangan nakal. Eh, ini pasti Renata ya. Aku Sera, pacarnya Reynold,” kata Sera sambil mengulurkan tangannya.


“Apa?” tanya Renata linglung.


Sera duduk di samping Reynold yang masih merangkul wanita itu. Perasaan Renata benar-benar kacau


sekarang. Jantungnya berdetak kencang, tenggorokannya tiba-tiba terasa sangat kering. Pelayan yang datang membawakan minuman untuk mereka sedikit terkejut saat Renata mengambil gelas dari nampan yang dibawanya. Renata langsung menghabiskan minuman itu meskipun tenggorokannya terasa terbakar sekarang.


“Uhuk! Uhuk! Uhuk!” Renata terbatuk-batuk dengan rasa tidak nyaman di tenggorokannya.


“Pelan-pelan minumnya, aunty. Itu makanannya sudah datang. Kita makan dulu, sayang,” kata Reynold di telinga Sera.


Renata mengepalkan tangannya melihat kemesraan Reynold di depannya. Ia merasa tidak pantas berada


di sana. Apalagi saat melihat kemesraan Reynold dan Sera yang suap-suapan makanan. Renata meletakkan pisau dan garpu ditangannya, ia menahan diri untuk tidak memakai salah satu alat makan itu untuk  melempar Reynold. Tanpa mengatakan apapun, Renata bangkit berdiri dan berjalan menuju toilet yang ada


di dekat pintu masuk.


Reynold menatap kepergian Renata dengan tatapan sendu penuh kerinduan. Sekali saja gadis pujaannya itu memalingkan pandangannya darinya, hatinya serasa tertancap ribuan jarum yang menyakitkan. Reynold tidak mau melakukan sandiwara ini, tapi ia ingin tahu perasaan Renata setelah ciuman mereka. Waktunya sudah tidak banyak lagi, ia harus memiliki Renata secepatnya.


Ancaman mamanya tentang perjodohan membuat Reynold mempercepat rencananya. Dan Sera adalah aktris yang ia pilih untuk menjadi pacar bohongan. Wanita itu sangat gila uang, apapun pekerjaan ia lakukan asalkan bayarannya cocok.


“Rey, kamu nggak kejar dia? Ntar hilang loh,” celetuk Sera cuek. Ia langsung berubah sikap setelah melihat Renata menghilang dibalik pintu toilet.


“Dia cuma ke toilet. Bentar lagi juga kembali,” sahut Reynold, tapi matanya tidak lepas dari pintu toilet.


“Dia kan sempat minum. Nggak takut kamu, dia jatuh ntar?” tanya Sera lagi.


Biar bagaimanapun dirinya dibayar dengan harga yang fantastis untuk berakting sebagai pacar Reynold. Kalau sampai Renata terkena masalah, dia juga akan ikut repot nantinya. Reynold langsung bangkit dari duduknya, ia mendekati toilet dan mendengar suara Renata di dalam sana.


“Lepaskan!” teriak gadis itu entah pada siapa.


Reynold mendobrak masuk, ia melihat pelayan wanita memegangi Renata yang sepertinya hampir jatuh


terduduk di lantai.


“Nona, jangan duduk disini. Kita keluar ya,” bujuk pelayan itu sebelum menoleh menatap wajah tampan


Reynold.


“Ada apa?” tanya Reynold dingin.


Kekuatiran tercetak jelas di wajahnya, ia mendekati Renata lalu menggendongnya.


“Nona ini mabuk, tuan. Dari tadi mau tidur di bawah. Lantainya kan kotor,” jelas pelayan wanita itu.


Reynold membawa Renata kembali dengan mobilnya. Ia sempat memberi tanda pada Sera untuk membayar tagihan mereka. Wanita itu hanya mengangguk tanpa kata.

__ADS_1


__ADS_2