
Seminggu lebih Bianca tidak datang ke kantor, begitupun juga dengan Mia. Ilham mulai mencari-cari keberadaan Bianca. Ia sengaja tidak memberi tahu Ilham kalau ia pergi ke perusahaan Arnold untuk mengurus proyek terbaru mereka.
Menurut Mia, salah satu cara mengejar pria adalah membuat mereka penasaran dengan cara tidak memberi kabar keberadaan kita. Sekali aja lakukan itu dan mereka akan mulai mencari.
Bianca bertahan tidak memberi tahu Ilham, padahal ia sangat merindukan pria itu kalau sehari saja gak ketemu. Tapi demi cinta, Bianca berusaha mempertahankan dirinya dari menghubungi Ilham. Terlebih usahanya itu tidak sia-sia.
Baru lewat tiga hari, Bianca memergoki Ilham berdiri di depan apartmentnya saat ia pulang cukup malam. Ia hampir berlari menghampiri Ilham tapi ia mengganti ekspresi senangnya dengan cepat sebelum menemuinya.
Bianca : "Kamu disini?"
Ilham : "Iya. Kau baru pulang?"
Bianca : "Iya. Ngapain kamu kesini?"
Ilham : "Aku... Bisa kita ngobrol di dalam?"
Bianca memberi tanda pada Ilham untuk mengikutinya masuk.
Bianca : "Kamu mau minum apa?"
Ilham : "Tidak perlu repot. Aku hanya mengantar FD ini, isinya beberapa data yang mungkin kau perlukan untuk proyek baru yang sedang kau kerjakan."
Bianca mengulurkan tangannya untuk mengambil FD itu dan saat tangan mereka bersentuhan, Bianca merasakan tangan Ilham sangat dingin dan basah.
Bianca mengingat sesuatu kalau diluar tadi sempat hujan. Sudah berapa lama Ilham menunggunya di luar sana. Bianca memegang jaket yang dikenakan Ilham. Jaket itu basah dan terasa dingin.
Bianca : "Kamu basah. Cepat lepas bajumu."
Ilham : "Apa kamu gak malu bilang gitu?"
Bianca : "Cepat lepas atau aku yang lepas bajumu."
Ilham melepas jaket dan kemejanya. Tubuhnya yang sedikit kurus, cukup kuat dengan beberapa otot yang terlihat. Bianca mengambilkan handuk dan bathrobe, lalu memberikannya pada Ilham.
Bianca : "Tunggu sebentar aku buatin minum dulu."
Ilham mengeringkan rambut dan tubuhnya yang basah. Ia juga melepaskan celana panjangnya. Tubuhnya sedikit meriang karena kehujanan.
Bianca kembali mendekati Ilham membawa segelas coklat hangat.
Bianca : "Ini minum dulu. Kamu sudah makan? Aku hangatkan makan malam dulu ya."
Ilham melihat kegiatan Bianca di dapur yang terlihat cekatan. Ia memanaskan beberapa kotak di dalam microwave dan menghidangkannya di atas piring.
Coklat hangat menghangatkan tubuh Ilhan, ia merasa baikan dan sedikit lapar. Bianca menghidangkan makanan di depan Ilham.
Bianca : "Kamu makan dulu ya. Habis ini kamu bisa mandi, nanti aku carikan baju sampai bajumu kering."
Bianca mengambil pakaian dan jaket Ilham yang tergeletak di lantai. Ia membawanya ke tempat cuci baju di samping dapur. Dengan cepat Bianca mencuci pakaian Ilham dan menggantungnya di tempat jemuran.
__ADS_1
Setelah itu dia masuk ke kamarnya dan keluar membawa baju kaos dan celana training. Bianca meletakkannya di samping Ilham.
Bianca : "Kamu mau nambah lagi?"
Ilham : "Kamu gak makan?"
Bianca : "Oh, iya ya. Aku lupa belum makan."
Bianca mengambil piring dan ikut duduk di samping Ilham. Ia mengambil nasi, dan juga lauk pauknya. Saat Bianca mulai makan, ia mencari gelas air putih yang tidak ada diatas meja.
Bianca : "Aku lupa ngambil air putih ya. Bentar ya. Sorry banget."
Ilham bisa melihat dari gerak-gerik Bianca kalau dia tahu dan biasa menggunakan peralatan di dapur. Dia juga tahu detail letak bahan makanan, cara membedakan bumbu masakan. Dan sangat menjaga kebersihan dapurnya.
Dapur di depannya yang tadi sempat dikacaukan Bianca, langsung bersih seolah tidak ada yang menggunakannya barusan.
Bianca meletakkan dua gelas air putih di atas meja makan dan mengambil sebuah teko berisi air putih. Ia menghabiskan gelas pertamanya dan melanjutkan makan.
Gleeggaarr!! Suara petir mengagetkan Bianca yang langsung membeku. Ia tidak terlalu nyaman dengan suara petir. Biasanya ia akan duduk diam diatas ranjang, menyelimuti diri dengan selimut dan memasang headset dengan musik kesukaannya.
Ilham melihat reaksi Bianca, ia sudah selesai makan dan ingin mencuci piring. Tapi saat petir kedua menggelegar diatas sana, Bianca hampir lompat ke pangkuannya. Ia bisa merasakan tubuh Bianca gemetar, Bianca sampai menutup telinganya.
Bianca : "Aku gak denger, gak ada petir, petir cuma halu. Gak ada... Kyaaa...!!!"
Beneran aja, Bianca memanjat keatas tubuh Ilham yang duduk di sampingnya saat petir ketiga terdengar lebih dekat. Kalau saja dia tidak bersiap, mereka sudah jatuh membentur lantai.
Ilham meringis memejamkan matanya saat bokong Bianca mendarat di pahanya. Ada daerah sensitif disana dan kalau Bianca bergerak lagi, Ilham gak tau apa yang akan terjadi nanti.
Ilham : "Selesaikan makanmu dulu. Jangan takut sama petir."
Bianca : "Maaf ya. Aku bukannya takut, tapi..."
Bianca hampir menangis ketika kilatan cahaya menerangi jendelanya. Dan suara petir kembali menggelegar diatas apartmentnya. Tapi Bianca tidak merasa ketakutan lagi karena Ilham sudah menciumnya.
Jantung Bianca berdebar gak karuan, ia diam mematung tidak membalas ciuman Ilham. Ilham tersenyum,
Ilham : "Apa kau tidak bisa ciuman?"
Bianca : "Hah! Apa?!"
Ilham menunduk dan kembali mencium Bianca yang perlahan mulai membalasnya. Bianca fokus pada Ilham sehingga tidak lagi mendengar suara petir.
Saat Ilham menyudahi ciuman mereka, wajah keduanya merah padam dengan nafas tersengal. Bianca turun dari pangkuan Ilham, ia kembali melanjutkan makannya yang tertunda.
Hatinya sangat senang sekaligus bingung waktu Ilham menciumnya. Mereka belum terlibat dalam status hubungan yang jelas tapi Ilham sudah berani menciumnya.
Ilham : "Aku boleh pinjam kamar mandimu?"
Bianca : "Iya... Pakai saja yang dikamar."
__ADS_1
Bianca tidak berani menatap Ilham yang berjalan masuk ke kamar Bianca, ia menghabiskan makanannya dengan cepat dan mencuci piring kotor mereka.
Sambil menunggu Ilham selesai mandi, Bianca mulai mengelap semua furniture di apartmentnya. Ia biasa melakukannya setelah makan malam untuk mempercepat pencernaannya bekerja. Setelah itu ia akan mandi dan tidur.
Bianca hampir selesai mengelap semua furniture, saat Ilham keluar dari kamarnya. Ia memperhatikan gerakan lincah Bianca yang mahir menggunakan peralatan kebersihan.
Ilham : "Apa kau melakukannya sendiri?"
Bianca : "Apa? Oh, membersihkan ini? Aku biasa sendiri."
Ilham : "Kamu gak punya asisten rumah tangga?"
Bianca : "Gak ada. Papaku akan mengirimkan ART kalau aku ketahuan lagi sakit dan papa jarang tahu."
Ilham : "Kamu mengurus apartment ini sendirian?"
Bianca : "Kenapa? Aneh ya? Harusnya aku cuma duduk manis menikmati kekayaan papaku. Tapi aku gak bisa."
Ilham : "Dimana bajuku?""
Bianca : "Masi di jemuran, sebentar ya."
Bianca mengambilkan pakaian Ilham yang segera memakainya.
Ilham : "Makasi untuk semuanya malam ini. Aku pulang dulu."
Bianca : "Tunggu..."
Ilham : "Ada apa?"
Bianca : "Bawa mobilku. Diluar masih hujan."
Ilham : "Aku sudah biasa. Selamat malam."
Bianca : "Tunggu, akhir pekan kau ada waktu? Bisa kamu ikut aku? Kita ketemu papa."
Ilham : "Ok."
Bianca mengantar Ilham sampai ke depan pintu apartmentnya. Ia juga meminjamkan payung agar Ilham tidak kehujanan lagi.
-----
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
--------
__ADS_1