Duren Manis

Duren Manis
Lari


__ADS_3

Rara merangkul lengan Arnold dengan erat. Mereka sudah selesai dari rumah sakit dan sedang dalam perjalanan ke bandara untuk pulang ke kota Y.


Rara sama sekali tidak mau melepaskan tangan Arnold. Ia ketakutan menyadari kalau alasan pernikahan mereka karena terapi Arnold. Dan setelah kesembuhan Arnold, papanya mungkin akan meminta mereka menunda pernikahan.


Rara gak mau begitu, ia sudah terlalu mencintai Arnold dan tidak bisa lepas darinya.


Arnold : "Ra, tenang dong. Papaku sudah janji mau bantu bujuk papamu agar pernikahan kita gak ditunda."


Rara : "Papa akan menundanya, kak. Aku kenal papaku. Aku beneran gak mau, kak."


Arnold : "Kalaupun ditunda, kenapa? Kan gak batal, Ra?"


Rara melepaskan tangan Arnold dan bersidekap sambil memandang keluar jendela. Jelas dia mulai ngambek, air matanya menggenang di sudut matanya.


Arnold : "Aku juga gak mau ditunda, Ra. Tapi pernikahan papamu sudah direncanakan jauh hari. Masa kamu gak mau punya konsep pernikahan sendiri?"


Rara : "..."


Arnold : "Tapi aku yakin, papamu gak akan menundanya lagi, Ra. Kamu bisa lihat besok waktu acara siraman."


Rara : "Kita lari aja kak."


Arnold : "Emang masalahnya bakalan selesai kalau kita lari? Papamu akan punya alasan menundanya kalau kita lakukan itu, Ra."


Rara : "..." Rara mulai berpikir kalau Arnold tidak serius dengannya.


Arnold : "Berhenti memikirkan itu..."


Rara menoleh cepat, ia bahkan tidak bicara apa-apa tapi Arnold seolah bisa menebak apa yang dipikirkannya.


Rara : "Emang aku mikir apa kak?"


Arnold : "Aku serius sama kamu, Ra. Gak ada niat sedikitpun mainin perasaan kamu. Kita tetap akan menikah, ini hanya masalah waktu saja. Apa kamu masih belum bisa percaya sama aku?"


Rara : "Aku kira kakak sudah gak perlu aku lagi, setelah kakak sembuh..."


Arnold : "Astaga, Rara!"


Rara memejamkan matanya, takut mendengar teriakan Arnold. Arnold menatap Rara yang meringkuk ketakutan. Diraihnya Rara dalam pelukannya.


Arnold : "Aku akan bicara dengan papamu ya. Tolong jangan seperti ini. Aku minta maaf."


Rara mendorong Arnold dan menatapnya, Arnold menunduk ingin mencium Rara, tapi sopir memberitahu kalau mereka sudah sampai di bandara.


Arnold menuntun Rara turun, mereka langsung masuk ke terminal keberangkatan dan Arnold mengurus tiket mereka. Kini giliran Arnold yang tidak mau melepaskan tangan Rara.


Rara : "Kak, aku mau ke toilet."

__ADS_1


Arnold : "Tunggu..."


Rara : "Beneran uda kebelet, kak."


Arnold : "Aku gak mau kamu kabur."


Rara : "Kakak!"


Arnold melihat ekspresi Rara saat menahan hasrat ingin pipis-nya. Mereka masih mengantri untuk check in di salah satu loket yang mulai ramai dengan penumpang lain.


Akhirnya Arnold melepaskan tangan Rara yang langsung ngibrit ke toilet di ujung lorong. Mata Arnold terus mengawasi lorong itu sambil tetap berdiri mengantri.


Beberapa perempuan cantik dan seksi lewat di depan Arnold, berusaha menarik perhatiannya. Meskipun terlihat khawatir, wajah tampan Arnold masih tetap terlihat jelas.


Ditunjang juga dengan penampilannya memakai kaos putih ditutupi jaket kulit coklat, celana jeans, dan sepatu. Arnold terlihat bad boy yang seksi.


Beberapa perempuan cantik itu berdiri di depan lorong menghalangi pandangan Arnold dari Rara yang sudah berjalan kembali mendekatinya.


Senyum Arnold merekah kepada Rara, membuat beberapa perempuan cantik itu menjerit histeris. Salah seorang perempuan itu berjalan mensejajari Rara mendekati Arnold. Perempuan itu lebih cepat sampai di depan Arnold.


Perempuan : "Hai, boleh kenalan?"


Arnold bahkan tidak menatap perempuan cantik itu, ia mengulurkan tangannya pada sosok perempuan yang ada di belakang perempuan asing itu.


Arnold : "Sayang, aku kangen..."


Perempuan itu terpesona mendengar kata-kata Arnold dan ikut mengulurkan tangannya. Tapi Arnold lebih cepat menarik tangan Rara dan memeluk pinggangnya erat.


Arnold bicara di dekat telinga Rara, menghembuskan nafas panas ke telinganya.Wajah Rara memerah mendapat perlakuan seperti itu ditempat umum.


Ia melirik perempuan asing itu yang masih melongo dengan tangan terulur ke depan. Ia ingin menegur perempuan itu agar tidak terlalu lama dalam posisi seperti itu tapi Arnold tidak membiarkan ia tenang.


Arnold bersikap manja pada Rara, menunjukkan kemesraan mereka di depan umum dengan kondisi yang hampir penuh orang.


Perempuan asing tadi ditarik teman-temannya pergi dari sana. Wajah mereka memerah karena malu dicuekin Arnold. Ada juga yang bisik-bisik melihat Rara yang dianggap tidak sebanding dengan Arnold.


Setelah mereka selesai check in, Arnold mengajak Rara mampir sebentar untuk minum kopi. Keberangkatan mereka masih setengah jam lagi.


Lagi-lagi visual Arnold menarik perhatian kaum hawa di sekitar sana. Bahkan yang sudah membawa pasangan juga ikut melirik Arnold.


Rara : "Kak, dari tadi diliatin terus, kakak gak risih?"


Arnold : "Diliatin siapa?"


Rara : "Kakak gak ngrasa diliatin semua perempuan disini?"


Arnold : "Aku gak peduli, yang penting kamu, Ra. Makanya jangan jauh-jauh dari aku."

__ADS_1


Rara : "Aku jadi ngrasa kebanting sama kakak."


Arnold : "Dimataku kamu cantik apa adanya. Apalagi gak pake apa-apa."


Wajah Rara kembali memerah mendengar godaan Arnold. Arnold menarik tangan Rara dan mencium telapak tangan calon istrinya itu.


Arnold : "Sekarang tugasmu untuk menjagaku dari pandangan mereka, Ra. Mau seberapa lebih penampilan mereka, di mataku kamu tetap satu-satunya yang paling bersinar. Aku cuma ingin tersenyum untuk kamu, tertawa bersamamu, dan menjadi kekuatanmu."


Rara tersenyum manis mendengar kata-kata Arnold. Ia menemukan ketulusan dalam setiap kata-kata Arnold.


Arnold : "Tetaplah menjadi dirimu sendiri, Ra. Aku tidak mau kamu berubah hanya untuk menyenangkan aku. Kita sama-sama sudah tahu kelemahan masing-masing dan aku harap kita bisa menua bersama."


Arnold mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Sebuah kotak kecil berwarna hitam, Arnold berdiri sambil membuka kotak itu.


Ia berlutut dengan satu kaki di depan Rara yang kebingungan melihat kelakuan Arnold.


Arnold : "Rara, aku tahu ini bukan tempat yang romantis. Tapi aku tidak bisa memikirkan tempat lain saat ini. Sebentar lagi pernikahan kita dan aku belum melamarmu langsung. Rara, maukah kau menikah denganku."


Rara berdiri dan mengangguk, ia sangat terharu ditambah lagi tepuk tangan dari semua orang yang melihat mereka di bandara.


Beberapa orang juga ada yang tampak merekam kejadian itu. Arnold memasangkan cincin di jari manis Rara dan berdiri di depannya.


Dalam satu tarikan, Arnold memeluk pinggang Rara dan mencium bibirnya dengan lembut.


Arnold : "Aku mencintaimu, Rara."


Rara : "Aku juga mencintaimu, Arnold."


Tiba-tiba mereka tertegun mendengar panggilan untuk penerbangan mereka. Arnold mengeluarkan dompetnya dengan cepat dan mengeluarkan 2 lembar uang seratus ribuan.


Setelah memberikannya kepada pelayan untuk membayar pesanan mereka, Arnold menarik tangan Rara dan mereka berjalan cepat menuju gate tempat pesawat mereka berada.


-------


Alex tersenyum melihat chat dari Arnold yang memohon agar pernikahannya dengan Rara tetap dilaksanakan dan mereka sedang dalam perjalanan kembali ke kota Y.


Alex menatap dekorasi untuk siraman Rara besok. Ia sengaja meletakkannya agak tersembunyi untuk mengerjai Rara. Alex sedikit kesal karena putri sulungnya ini tidak mengirimkan chat padanya dan malah chat dengan Mia.


Padahal ia merindukan Rara, meskipun si kembar tidak sedikitpun meninggalkan sisinya sejak pagi, Alex tetap merindukan Rara.


Ia juga bersyukur atas kesembuhan Rara dan Arnold. Setelah pernikahan Arnold dan Rara nanti, ia sepenuhnya akan menyerahkan Rara pada Arnold untuk menjaganya.


-------


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


--------


__ADS_2