
DM2 – Alex yang menyeramkan
Jodi mengemudikan mobilnya mengikuti mobil
yang membawa Kinanti dalam jarak aman. Mia mengirimkan pesan pada Alex kalau ia
sedang menguntit Kinanti bersama Jodi.
Alex yang menerima chat Mia, langsung
menelponnya.
“Sayang, kamu kok bisa sama Jodi?”tanya
Alex posesif.
“Aku baru pulang dari rumah Rara, mas. Kan
aku dah bilang ada Jodi juga. Sekalian tadi Jodi nganter aku pulang. Eh, malah
liat Kinanti keluar dari rumah. Ya, aku ikutin aja.”
“Ngapain kamu ngikutin Kinanti?”
“Mau cari tau aja, dia mau kemana.”
Alex mengatakan kalau ia bisa mengantar
Mia, gak perlu minta tolong Jodi. Tapi Mia mengatakan sudah terlanjur dirinya
pergi bersama Jodi. Alex masih mau bicara lagi, tapi Mia memotongnya. Mereka
melihat mobil yang membawa Kinanti masuk ke sebuah tempat parkir mall.
“Dia mau ke mall lagi? Mas, tutup dulu
telponnya ya. Aku mau ngikutin Kinanti turun.”
Mia menutup telponnya, ia hampir turun dari
mobil saat Jodi menghentikannya. “Kalau kamu yang ngikutin, ntar ketahuan. Biar
aku yang ngikutin dia. Kalau ketahuan aku bisa ngeles lagi jalan-jalan disini
juga. Kamu tunggu disini.”
Mia melihat Jodi mengikuti Kinanti masuk ke
dalam mall. Ia memperhatikan mobil yang tadi menjemput Kinanti masih menunggu
di tempat semula. Tak sampai 15 menit kemudian, Kinanti tampak berjalan kembali
ke mobil itu. Mia mulai panik tidak melihat Jodi di manapun. Ia menimbang mau
mengikuti Kinanti yang hampir masuk ke dalam mobil atau menunggu Jodi kembali.
Jodi mendengar suara ponselnya, ia sedang
mengamati Kinanti yang berdiri di dalam salah satu toko tas di mall itu setelah
kembali dari toilet. Mia calling, Jodi mengangkat telponnya,
“Halo, Mia.”
“Jodi, kamu dimana? Kinanti udah mau pergi.”
“Pergi kemana? Dia ada disini, aku masih
ngikutin dia.”
“Trus siapa... Jodi, aku pinjem mobilmu
bentar. Nanti aku jemput kalo uda selesai. Kamu tunggu disana ya.”
“Apa? Hei, Mia.”
Tut, tut, tut. Jodi menatap ponselnya
kebingungan sendiri. Jelas-jelas ia melihat Kinanti sedang memilih salah satu
tas di toko itu dan dia masih ada disana. Trus siapa yang dilihat Mia akan
pergi?
Mia mengikuti mobil yang membawa Kinanti
sambil tetap menjaga jarak. Ia memperhatikan jalanan di sekitarnya, entah akan
kemana Kinanti karena jelas ini bukan jalan kembali ke rumah Alex.
__ADS_1
Mia melirik ponselnya, Alex menelponnya
tapi Mia tidak bisa mengangkatnya. Kecepatan mobil yang membawa Kinanti semakin
bertambah. Mia mencoba mengejar, ia khawatir akan kehilangan jejak yang membuat
pengejarannya sia-sia. Lampu lalu lintas tiba-tiba berubah merah. Mia mengerem
tepat waktu.
Ia memukul setir dengan keras. Mia melihat
mobil itu terus berjalan lurus lalu sepertinya berbelok di depan sana. Lampu lalu
lintas berubah hijau kembali. Mia segera memacu mobil Jodi lagi dan berbelok di
tempat yang sama. Ia memasuki kawasan apartment mewah. Security menghentikannya
di depan pintu gerbang.
Saat Mia mengatakan kalau ia ingin bertemu
temannya di dalam sana, security menanyakan barcode untuk masuk ke dalam. Mia
sempat kelabakan ketika Alex kembali menelponnya.
“Halo, kamu dimana? Aku didepan gerbang
nich. Gak boleh masuk.”
“Mia, kamu ngomong apa sich?”tanya Alex bingung.
“Oh, kamu nunggu di cafe? Iih, kenapa gak
bilang dari tadi sich. Malu nich. Tunggu ya, aku nyusul kesana.”
Mia melempar ponselnya ke kursi sebelah dan
mengatakan pada security kalau temannya menunggu di tempat lain. Security itu
memberi jalan pada Mia untuk putar balik. Mia cepat-cepat mengambil ponselnya
lagi dan menekan tombol loudspeaker.
“Mia! Kamu dimana? Kamu gak pa-pa?!”jerit
Alex panik.
jemput Jodi ya. Bentar aku telpon lagi.”
Alex sudah mau protes, tapi telponnya
keburu ditutup. Tangan Alex mengepal geram, dia bingung dengan apa yang
terjadi, sekaligus cemburu mendengar Mia menjemput Jodi.
Mia mengemudikan mobil Jodi kembali ke mall
dengan kecepatan sedang, ia mengingat nama jalan dan nama kawasan apartment
elit itu. Sampai di mall, Jodi sudah menunggu di lobby. Ia berlari mendekati
mobilnya ketika Mia berhenti di lobby.
“Mia, kamu kemana aja? Kinanti barusan
pergi.”
“Aku gak tau apa yang terjadi, tapi aku
jelas-jelas ngikutin Kinanti tadi. Dia keluar dari mall terus pergi ke sebuah apartment
elit. Kamu beneran liat Kinanti di dalem?”tanya Mia.
“Tadi dia masuk mall, langsung ke toilet.
Keluar dari sana, baru aku ikutin. Dia cuma belanja tas sama sepatu. Sempat mampir
ke toko perhiasan juga. Dan gak ketemu siapa-siapa.”
“Ini aneh banget. Apa jangan-jangan Kinanti
itu sebenarnya kembar?”tanya Mia bingung.
Mia dan Jodi saling pandang, Kring! Kring!
Ponsel Jodi berdering. “Ngapain om Alex nelpon?”tanya Jodi tiba-tiba merasa merinding.
“Halo, om.”
__ADS_1
“Jodiiiiiiiiiiii!!!!!! Dimana
istriku????!!!!!!”lengking kemarahan Alex memekakkan telinga Jodi.
Ia seperti kehilangan nyawanya sepersekian
detik, sebelum menjauhkan ponsel dari telinganya. “Mati aku.”lirih Jodi
“Apaaaa katamu?!!! Jodi!!!”teriak Alex
lagi. “Sekarang juga bawa istriku ke kantorku atau...”
“Atau apa, sayang?”kata Mia manja. Ia sudah
mengambil alih ponsel Jodi dan meminta Jodi menjalankan mobil menuju kantor
Alex.
“Mia, kamu gak pa-pa, kan? Anak setan itu,
gak macam-macam kan?”
“Heh! Berani dia macam-macam, aku tendang
barangnya.”kata Mia sambil melirik Jodi yang pucat. Jodi sedang bersiap berlutut
untuk pengakuan dosanya pada Alex nanti.
“Kamu dimana sekarang?”
“Aku dijalan mau ke kantor mas. Tunggu ya.”
“Tunggu, aku v-call dulu.”
Telpon terputus, “Hais, kenapa juga aku mau
ngikutin Kinanti tadi. Kalo gini jadinya, kena omelan om Alex dech.”gerutu
Jodi.
“Jadi kamu mau aku yang ngomelin kamu?!”tanya
Mia sinis.
Ponsel Mia kembali berdering kali ini Alex
v-call, “Hai, sayang.”sapa Mia.
Jodi tetap lempeng melihat ke depan, ia
tidak berani menoleh pada Alex.
“Kamu uda sampe mana?”tanya Alex dengan
wajah cemberutnya.
“Barusan keluar mall. Tuch liat plang-nya.”tunjuk
Mia sambil membalik kameranya.
“Mana Jodi?”tanya Alex dingin, sedingin
kutub utara.
“Nich. Jodi, senyum dong.”pinta Mia.
“Iya, senyum dong Jodi, sebelum aku
membuatmu gak bisa senyum lagi.”kata Alex horor.
Jodi melirik Alex yang sedang mengepalkan
kedua tangannya. Ia kembali fokus ke jalanan, mending gak liat dech.
”Dasar pasangan iblis! Sama-sama kejam.
Harusnya aku suruh Mia ngikutin sendiri tadi. Tapi kalo sampai Mia lecet, aku juga
bakalan digantung om Alex. Makan buah simalakama ini namanya.”
Mia melirik Jodi yang sibuk ngdumel dalam
hati, wajahnya menegang dan matanya hanya fokus melihat jalanan. Mia tersenyum geli
sendiri, ia sudah mengirim chat pada Alex agar tenang saja menunggunya di
kantor.
*****
__ADS_1
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.