Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Alex yang menyeramkan


__ADS_3

DM2 – Alex yang menyeramkan


Jodi mengemudikan mobilnya mengikuti mobil


yang membawa Kinanti dalam jarak aman. Mia mengirimkan pesan pada Alex kalau ia


sedang menguntit Kinanti bersama Jodi.


Alex yang menerima chat Mia, langsung


menelponnya.


“Sayang, kamu kok bisa sama Jodi?”tanya


Alex posesif.


“Aku baru pulang dari rumah Rara, mas. Kan


aku dah bilang ada Jodi juga. Sekalian tadi Jodi nganter aku pulang. Eh, malah


liat Kinanti keluar dari rumah. Ya, aku ikutin aja.”


“Ngapain kamu ngikutin Kinanti?”


“Mau cari tau aja, dia mau kemana.”


Alex mengatakan kalau ia bisa mengantar


Mia, gak perlu minta tolong Jodi. Tapi Mia mengatakan sudah terlanjur dirinya


pergi bersama Jodi. Alex masih mau bicara lagi, tapi Mia memotongnya. Mereka


melihat mobil yang membawa Kinanti masuk ke sebuah tempat parkir mall.


“Dia mau ke mall lagi? Mas, tutup dulu


telponnya ya. Aku mau ngikutin Kinanti turun.”


Mia menutup telponnya, ia hampir turun dari


mobil saat Jodi menghentikannya. “Kalau kamu yang ngikutin, ntar ketahuan. Biar


aku yang ngikutin dia. Kalau ketahuan aku bisa ngeles lagi jalan-jalan disini


juga. Kamu tunggu disini.”


Mia melihat Jodi mengikuti Kinanti masuk ke


dalam mall. Ia memperhatikan mobil yang tadi menjemput Kinanti masih menunggu


di tempat semula. Tak sampai 15 menit kemudian, Kinanti tampak berjalan kembali


ke mobil itu. Mia mulai panik tidak melihat Jodi di manapun. Ia menimbang mau


mengikuti Kinanti yang hampir masuk ke dalam mobil atau menunggu Jodi kembali.


Jodi mendengar suara ponselnya, ia sedang


mengamati Kinanti yang berdiri di dalam salah satu toko tas di mall itu setelah


kembali dari toilet. Mia calling, Jodi mengangkat telponnya,


“Halo, Mia.”


“Jodi, kamu dimana? Kinanti udah mau pergi.”


“Pergi kemana? Dia ada disini, aku masih


ngikutin dia.”


“Trus siapa... Jodi, aku pinjem mobilmu


bentar. Nanti aku jemput kalo uda selesai. Kamu tunggu disana ya.”


“Apa? Hei, Mia.”


Tut, tut, tut. Jodi menatap ponselnya


kebingungan sendiri. Jelas-jelas ia melihat Kinanti sedang memilih salah satu


tas di toko itu dan dia masih ada disana. Trus siapa yang dilihat Mia akan


pergi?


Mia mengikuti mobil yang membawa Kinanti


sambil tetap menjaga jarak. Ia memperhatikan jalanan di sekitarnya, entah akan


kemana Kinanti karena jelas ini bukan jalan kembali ke rumah Alex.

__ADS_1


Mia melirik ponselnya, Alex menelponnya


tapi Mia tidak bisa mengangkatnya. Kecepatan mobil yang membawa Kinanti semakin


bertambah. Mia mencoba mengejar, ia khawatir akan kehilangan jejak yang membuat


pengejarannya sia-sia. Lampu lalu lintas tiba-tiba berubah merah. Mia mengerem


tepat waktu.


Ia memukul setir dengan keras. Mia melihat


mobil itu terus berjalan lurus lalu sepertinya berbelok di depan sana. Lampu lalu


lintas berubah hijau kembali. Mia segera memacu mobil Jodi lagi dan berbelok di


tempat yang sama. Ia memasuki kawasan apartment mewah. Security menghentikannya


di depan pintu gerbang.


Saat Mia mengatakan kalau ia ingin bertemu


temannya di dalam sana, security menanyakan barcode untuk masuk ke dalam. Mia


sempat kelabakan ketika Alex kembali menelponnya.


“Halo, kamu dimana? Aku didepan gerbang


nich. Gak boleh masuk.”


“Mia, kamu ngomong apa sich?”tanya Alex bingung.


“Oh, kamu nunggu di cafe? Iih, kenapa gak


bilang dari tadi sich. Malu nich. Tunggu ya, aku nyusul kesana.”


Mia melempar ponselnya ke kursi sebelah dan


mengatakan pada security kalau temannya menunggu di tempat lain. Security itu


memberi jalan pada Mia untuk putar balik. Mia cepat-cepat mengambil ponselnya


lagi dan menekan tombol loudspeaker.


“Mia! Kamu dimana? Kamu gak pa-pa?!”jerit


Alex panik.


jemput Jodi ya. Bentar aku telpon lagi.”


Alex sudah mau protes, tapi telponnya


keburu ditutup. Tangan Alex mengepal geram, dia bingung dengan apa yang


terjadi, sekaligus cemburu mendengar Mia menjemput Jodi.


Mia mengemudikan mobil Jodi kembali ke mall


dengan kecepatan sedang, ia mengingat nama jalan dan nama kawasan apartment


elit itu. Sampai di mall, Jodi sudah menunggu di lobby. Ia berlari mendekati


mobilnya ketika Mia berhenti di lobby.


“Mia, kamu kemana aja? Kinanti barusan


pergi.”


“Aku gak tau apa yang terjadi, tapi aku


jelas-jelas ngikutin Kinanti tadi. Dia keluar dari mall terus pergi ke sebuah apartment


elit. Kamu beneran liat Kinanti di dalem?”tanya Mia.


“Tadi dia masuk mall, langsung ke toilet.


Keluar dari sana, baru aku ikutin. Dia cuma belanja tas sama sepatu. Sempat mampir


ke toko perhiasan juga. Dan gak ketemu siapa-siapa.”


“Ini aneh banget. Apa jangan-jangan Kinanti


itu sebenarnya kembar?”tanya Mia bingung.


Mia dan Jodi saling pandang, Kring! Kring!


Ponsel Jodi berdering. “Ngapain om Alex nelpon?”tanya Jodi tiba-tiba merasa merinding.


“Halo, om.”

__ADS_1


“Jodiiiiiiiiiiii!!!!!! Dimana


istriku????!!!!!!”lengking kemarahan Alex memekakkan telinga Jodi.


Ia seperti kehilangan nyawanya sepersekian


detik, sebelum menjauhkan ponsel dari telinganya. “Mati aku.”lirih Jodi


“Apaaaa katamu?!!! Jodi!!!”teriak Alex


lagi. “Sekarang juga bawa istriku ke kantorku atau...”


“Atau apa, sayang?”kata Mia manja. Ia sudah


mengambil alih ponsel Jodi dan meminta Jodi menjalankan mobil menuju kantor


Alex.


“Mia, kamu gak pa-pa, kan? Anak setan itu,


gak macam-macam kan?”


“Heh! Berani dia macam-macam, aku tendang


barangnya.”kata Mia sambil melirik Jodi yang pucat. Jodi sedang bersiap berlutut


untuk pengakuan dosanya pada Alex nanti.


“Kamu dimana sekarang?”


“Aku dijalan mau ke kantor mas. Tunggu ya.”


“Tunggu, aku v-call dulu.”


Telpon terputus, “Hais, kenapa juga aku mau


ngikutin Kinanti tadi. Kalo gini jadinya, kena omelan om Alex dech.”gerutu


Jodi.


“Jadi kamu mau aku yang ngomelin kamu?!”tanya


Mia sinis.


Ponsel Mia kembali berdering kali ini Alex


v-call, “Hai, sayang.”sapa Mia.


Jodi tetap lempeng melihat ke depan, ia


tidak berani menoleh pada Alex.


“Kamu uda sampe mana?”tanya Alex dengan


wajah cemberutnya.


“Barusan keluar mall. Tuch liat plang-nya.”tunjuk


Mia sambil membalik kameranya.


“Mana Jodi?”tanya Alex dingin, sedingin


kutub utara.


“Nich. Jodi, senyum dong.”pinta Mia.


“Iya, senyum dong Jodi, sebelum aku


membuatmu gak bisa senyum lagi.”kata Alex horor.


Jodi melirik Alex yang sedang mengepalkan


kedua tangannya. Ia kembali fokus ke jalanan, mending gak liat dech.


”Dasar pasangan iblis! Sama-sama kejam.


Harusnya aku suruh Mia ngikutin sendiri tadi. Tapi kalo sampai Mia lecet, aku juga


bakalan digantung om Alex. Makan buah simalakama ini namanya.”


Mia melirik Jodi yang sibuk ngdumel dalam


hati, wajahnya menegang dan matanya hanya fokus melihat jalanan. Mia tersenyum geli


sendiri, ia sudah mengirim chat pada Alex agar tenang saja menunggunya di


kantor.


*****

__ADS_1


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2