
Saat tiba waktunya
makan malam, Ratna sudah menunggu Riri dan Elo untuk makan bersama. Mereka
makan malam di meja panjang yang muat hampir 20 orang. Ratna melihat Riri yang
terlihat masih kikuk dengan cara makan ala barat.
Ratna : “Riri,
pelan-pelan saja makannya ya. Nanti Pak Kim yang bantu Riri untuk belajar.”
Riri : “Iya, mah.”
Ratna : “Oh, ya.
Malam ini Riri nginep disini ya. Mama sudah ijin sama mama Mia tadi.”
Riri : “Oh, gitu ya
mah. Mama Mia bilang apa?”
Ratna : “Katanya
gak pa-pa. Tapi besok siang sudah harus pulang. Katanya sudah ada janji sama penjahit
ya.”
Riri : “Iya, mah.
Riri tidurnya sama Lili ya. Riri agak takut kalau tidur sendiri.”
Ratna : “Ach, kamu
sama Angelo tidur sekamar saja.”
Riri : “Apaa?!”
Riri menjatuhkan
garpunya karena kaget mendengar kata-kata Ratna. Ia mengambil garpunya dengan
cepat dan kembali bersikap biasa. Tapi wajahnya sudah merona.
Elo : “Memangnya
boleh, mah?”
Ratna : “Toh,
kalian akan menikah beberapa hari lagi. Kau juga kan sudah janji untuk menjaga
Riri, Angelo.”
Keduanya saling
melirik dan lanjut makan dalam diam.
*****
Sementara itu di
taman belakang, Dion sedang menunggu Lili yang datang sedikit terlambat. Pak
Kim benar-benar menyiapkan dinner sederhana untuk mereka berdua.
Lili : “Maaf aku
telat.”
Dion : “Duduklah.
Kamu terlihat cantik pakai dress itu.”
Lili : “Ya, nona
Riri juga bilang gitu.”
Mereka mulai makan
sambil sesekali saling pandang, Dion memberanikan diri menurunkan hoodie yang
dipakainya dan melihat reaksi Lili.
Lili : “Nona Riri
beneran akan menginap malam ini dan akan sekamar dengan tuan muda.”
Dion : “Apa kau
diperintahkan berjaga? Kau bisa berjaga di kamarku.”
Lili : “Trus kamu
dimana?”
Dion : “Kita bisa
gantian kan?”
Lili : “Ok.”
Mereka melanjutkan
makan dalam diam lagi. Lili terus minum air sambil melihat Dion, ia juga
terlihat gelisah. Dio merasa gara-gara Lili melihat wajah Dion saat makan,
membuatnya tidak nyaman.
Dion : “Kamu
kenapa? Apa karena wajahku?”
Lili : “Bukan, aku
gak ada masalah dengan wajahmu. Ini dagingnya pedas sekali. Aku gak biasa makan
pedas.”
Dion bisa melihat
wajah Lili memerah menahan pedas di
lidahnya. Dion tersenyum, ia mengulurkan air minumnya yang langsung dihabiskan
__ADS_1
Lili dalam sekali teguk. Dion mengambilkan air minum lagi untuk Lili sampai ia
merasa lebih baik.
Dion : “Jangan
dimakan lagi dagingnya.”
Lili hanya
mengangguk. Mereka menghabiskan makanan yang tersisa sambil sesekali saling
menatap satu sama lain.
*****
Malam itu, Ratna
mengantar Riri dan Elo sampai ke tangga dan menyuruh mereka segera istirahat.
Ratna : “Selamat
malam, sayang.”
Riri : “Malam,
mah.”
Elo : “Malam, mah.”
Keduanya berjalan
menaiki tangga dan berhenti di depan kamar Elo.
Riri : “Mas, apa
harus begini?”
Elo : “Setelah
menikah kita kan harus tidur sekamar. Anggap saja latihan.”
Riri : “Trus kalo
mas khilaf gimana?”
Elo : “Ya, jangan
mikir ke arah sana dong. Atau kamu mau tidur sendiri?”
Riri : “Nggak
berani. Apalagi tadi ketemu tante Dewi.”
Tiba-tiba terdengar
suara teriakan dari lantai bawah, Elo dan Riri melihat ke arah tangga dan
hampir berjalan ke tangga lagi tapi Dion sudah muncul di samping mereka.
Dion : “Jangan
turun.”
Elo : “Itu tadi
Riri : “Kok mirip suara
tante Dewi?”
Dion : “Aku
memberinya sedikit pelajaran. Sudah tidur saja. Cepat masuk ke kamar.”
Dion mendorong Elo
masuk ke kamarnya dan menunggu Riri masuk juga sebelum menutup pintu dan
menghilang lagi. Sementara di lantai bawah terjadi kehebohan karena tante Dewi
histeris seperti melihat hantu.
Riri masih berdiri
di samping pintu kamar Elo. Ia melirik Elo yang sedang mengambil piyama tidur
di atas tempat tidur.
Elo : “Aku ganti
baju dulu ya. Kamu bisa pakai kamar mandinya.”
Elo berjalan masuk
ke walk in closet. Riri melirik piyama tidur itu dan membawanya ke dalam kamar
mandi. Riri berganti baju sambil melamun. Ia melihat sikat gigi baru diletakkan
disana dan memakainya untuk menggosok giginya sampai dua kali.
Rasa gugup semakin
dirasakan Riri yang melihat penampilannya di cermin. Entah kenapa ia merasa
penampilannya akan menggoda Elo. Padahal piyama yang dipakainya hanya piyama
terusan yang terlihat sangat pas di tubuhnya.
Merasa terlalu lama
di dalam kamar mandi, Riri akhirnya keluar juga. Ia melihat Elo duduk bersandar
di tempat tidur sambil bermain dengan ponselnya. Elo yang melihat Riri sudah
keluar, menepuk tempat di sampingnya.
Elo : “Sini, Ri.
Duduk sini.”
Riri berjalan
mendekat sambil meremas-remas tangannya. Ia sangat gugup sampai tidak melihat
tumpukan buku yang disiapkan Elo diatas tempat tidurnya.
__ADS_1
Elo : “Kamu udah
ngantuk?”
Riri : “Belum.”
Elo : “Kalo gitu
kita bisa melakukan sesuatu dulu sebelum tidur.”
Riri : “Apa, mas?!”
Riri berdiri lagi
dari atas tempat tidur. Elo menatap bengong melihat reaksi Riri yang sedikit
berlebihan.
Elo : “Kamu kenapa?
Maksudku kita bisa baca buku dulu. Itu bukunya sudah kupilih yang bagus.”
Riri : “Oh, iya
mas.”
Riri duduk lagi
diatas tempat tidur. Ia memilih salah satu buku dan membaca referensinya
sebentar. Saat akhirnya Riri menjatuhkan pilihan pada salah satu buku, Elo
sudah duduk di belakang Riri dan menariknya agar bersandar pada tubuh Elo.
Riri : “Ma...
mas...”
Elo : “Tenang,
sayang. Kita hanya membaca seperti biasanya.”
Elo mengecup kening
Riri dan menarik dagu kekasihnya itu mendekat. Riri menahan tangan Elo, mereka
saling menatap.
Riri : “Mas, nanti
kelepasan...”
Elo : “Hanya
ciuman, Ri. Aku sudah janji kan.”
Riri : “Sekali saja
ya.”
Elo menarik tengkuk
Riri dan mencium calon istrinya itu dengan sangat lembut. Terhanyut dengan
ciuman Elo, Riri tidak menyadari tubuhnya sudah terbaring di atas tempat tidur.
Riri merasakan tubuhnya di tekan dengan beban berat, membuatnya membuka mata.
Riri : “Mm...
maas...”
Elo : “Hmm?” Elo
tetap menhujani bibir Riri dengan ciuman-ciuman singkat.
Riri : “Maas, udah.”
Elo : “Kita tidur
yuk. Aku udah ngantuk.”
Riri : “Iya, tapi mas
jangan peluk gini dong. Aku sesak.”
Elo melepas
pelukannya pada tubuh Riri dan berbaring di sampingnya. Ia tersenyum sebelum
memejamkan matanya.
Elo : “Selamat
malam, sayangku.”
Riri : “Met malam,
masku.”
Elo sudah lelap
tertidur, sementara Riri masih menatap keluar jendela yang tidak tertutup
korden. Cahaya bulan bisa masuk dengan mudah ke dalam kamar Elo.
Di balkon sebelah
kamar Elo, Dion tersenyum melihat Riri yang menjaga dirinya dari Elo. Di dalam
kamar itu, Dion tampak berdiri di balkon sambil memastikan sekeliling.
Sementara Lili tampak tertidur di atas sofa, sudah berganti pakaian dengan
seragamnya.
🌻🌻🌻🌻🌻
Elo tahan dong,
belum sah. Apa yang terjadi antara Dion dan Lili? Saya gak akan terlalu banyak
membahas calon pasangan ini ya.
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
__ADS_1
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).