Duren Manis

Duren Manis
Extra part 22


__ADS_3

Extra part 22


“K—kamu mau lagi?” tanya Melda malu-malu seperti


pengantin baru. Meskipun sudah lama menikah, tapi kedekatan mereka di tempat


tidur memang hanya terjadi saat X pulang seperti saat sekarang ini.


“Nah, pertanyaanmu sudah habis ya. Nggak boleh


nanya lagi dan jawaban untuk pertanyaanmu itu, ‘iya, sayang’.” X mulai mencium


Melda, selama tiga bulan ini ia sangat merindukan Melda bahkan tidak sempat


memikirkan hal lagi selain pekerjaan dan Melda. Menunda hasrat sampai selama


itu juga tidak cukup hanya melakukannya sekali atau dua kali. X ingin


menunjukkan pada Melda meskipun mereka jarang bertemu dan hanya sedikit


berkomunikasi, tapi rasa cinta X pada Melda tidak akan pernah berkurang.


X juga menginginkan kepulangannya kali ini bersama


Alan, bisa memberikan dirinya lebih banyak waktu untuk bisa bersama Melda.Ia


sudah sengaja meminta ijin pada ayah Bianca untuk menginjinkannya pulang lebih


awal dari biasanya. Selain untuk menyenangkan Melda, ia juga berharap Melda dan


Alan bisa akrab.


Biar bagaimanapun X sudah diberi wasiat oleh Bella


untuk menjaga Alan sebelum kematiannya. Dan X menerima kehadiran anak itu untuk


menemani hari tuanya bersama Melda. X sudah tidak terlalu berharap Melda bisa


mengandung anak mereka. Hanya kehadiran Melda saja sudah cukup bagi X. Tapi X


memahami kalau Melda juga ingin dipanggil mama oleh seseorang. Untuk itulah X


membawa Alan pulang bersamanya.


Melda mendesah lirih, X lagi-lagi menyerang


kelemahan Melda. Pria itu sudah tidak sabar ingin mereguk madu surgawi bersama


istrinya lagi. Keduanya menyatukan diri dan kembali berlomba memuaskan satu


sama lain.


Desahan Melda terdengar nyaring sampai keluar kamar.


Alan yang kebetulan berkamar di depan kamar mereka, ingin ke dapur untuk


membuat kopi. Tentu saja ia mendengar dengan jelas.


“Astaga, sudah umur segitu masih saja heboh. Apa


aku minta kamar dibawah ya?” gumam Alan malu sendiri.


Alan menuruni tangga seperti pencuri. Ia menuju


dapur lalu membuat kopi untuk dirinya sendiri. Sejujurnya Alan ingin tidur


saja, tapi keberisikan di kamar sebelah plus belum mengantuk, membuatnya


mengambil laptopnya dan mulai bekerja.


X bahkan tidak tahu apa pekerjaannya. Pria itu mengira


Alan hanya remaja yang baru lulus sekolah menengah dan lebih senang bermain


game. Seharian diam di depan laptop tapi menghasilkan jutaan rupiah, siapa yang


nggak mau.


Hanya saja Alan jadi orang yang sedikit tertutup


karena hal itu. Bahkan dengan orang tuanya, Alan juga cukup tertutup. X cukup


lama beradaptasi dengan Alan. Setelah selesai mengurus pemakaman orang tua


Alan, X meminta remaja itu untuk ikut dengannya agar bisa tinggal bersama


Melda.


Alan cukup tertarik dengan profil Melda, ia tidak


perlu banyak bertanya pada X tentang istri pria itu. Hanya mengetik namanya


saja, Alan sudah mendapat semua informasi yang ia perlukan. Alan bahkan tahu


pekerjaan Melda sebelumnya adalah seorang bodyguard sama seperti X. Tapi ia

__ADS_1


memilih berhenti dan malah bekerja untuk Alex Pratama.


Alan menoleh ketika mendengar langkah kaki menuruni


tangga. Melda muncul dari balik tangga, keduanya saling menatap sebentar


sebelum Melda melangkah menuju kulkas. Alan melihat wanita itu mengambil susu


dan menghangatkannya diatas panci.


“Malam, kamu Alan ya? Aku Melda. Kita belum


berkenalan,” sapa Melda memulai basa-basi.


“Apa yang X katakan tentang aku? Aku anaknya mama


Bella dan suaminya?” tanya Alan dingin.


Melda menoleh dengan cepat, ia berusaha bicara


baik-baik. Tapi remaja di depannya ini malah menjawabnya dengan sinis dan


dingin. Mereka bahkan baru bertemu hari ini dan kesan yang didapat Melda adalah


Alan seorang remaja yang tidak sopan.


“Memang kenyataannya seperti itu kan? X membawamu


kesini karena orang tuamu meninggal. Kamu tidak punya siapa-siapa,” balas Melda


berusaha meredam emosinya. Kalau Rio yang ngomong gitu di depan Melda, sudah


jadi sambel tuch suami Gadis. Auto di bejek-bejek sama Melda.


“Dia hanya melakukan tanggung jawab yang belum


pernah dia lakukan sebelumnya,” sahut Alan membuat Melda penasaran.


Susu di panci mulai mendidih, meluap mengotori


kompor karena Melda sibuk menatap Alan. Ia terlambat mengangkat panci itu


sebelum benar-benar gosong. Melda menuangkan susu panas dengan tangan sedikit


gemetar ke dalam mug.


“Apa maksudmu, Alan?” tanya Melda akhirnya.


“X itu ayah kandungku!” seru Alan.


dengan keras dan hancur berkeping-keping. Susu panas dan pecahan mug mengenai


kaki Melda, menyebabkan rasa panas membakar yang menyakitkan. Kaki Melda


tergores pecahan mug, darahnya mengalir bercampur dengan susu yang perlahan


berubah warna menjadi pink.


“Apa yang terjadi?” tanya X yang turun dengan


terburu-buru.


X menoleh menatap Alan yang berdiri di dekat meja


makan, lalu Melda yang berdiri di dekat kompor. Melda bahkan tidak merasakan


sakit dan perih di kakinya. Ia hanya bengong menatap Alan.


“Yank, kamu kenapa? Kakimu luka!” seru X panik.


Pria itu segera mengangkat tubuh Melda lalu


mendudukkannya diatas sofa ruang TV. X mengambil kotak P3K. Ia memeriksa luka


Melda dan merasa sedikit lega karena luka Melda tidak perlu dijahit. Tapi


kakinya Melda juga memerah kena luka bakar.


“Yank, kita ke rumah sakit ya. Kakimu kena luka


bakar.” X ingin menggendong Melda lagi, tapi Melda menahan tangan X.


“Kamu kenapa bohongin aku sich? Kenapa nggak terus


terang kalau kamu punya masa lalu sama Bella?” Melda bangkit berdiri, ia meringis


kesakitan menahan luka di kakinya. Entah karena kelelahan habis lembur


dikantor, trus lanjut lembur bersama X, Melda merasa sangat pusing dan


tiba-tiba ia jatuh pingsan.


**


X duduk di sofa rumah sakit, ia ingin memejamkan

__ADS_1


matanya sejenak sambil menunggu Melda sadar. Alan melirik X yang sudah


memejamkan matanya dengan posisi duduk. Tadi mereka panik melihat Melda pingsan


dan langsung membawa wanita itu ke rumah sakit terdekat.


Setelah dicek di UGD, Melda hanya pingsan karena


kelelahan dan sakit di kakinya. Luka bakarnya sudah di obati dengan salep


dingin dan lukanya juga di balut perban. Mereka tinggal menunggu Melda sadar


saja.


Alan tidak perlu menunggu lama, perlahan Melda


mulai membuka matanya. Ia kebingungan sejenak sebelum menyadari kehadiran Alan


di sampingnya. Remaja itu menatap Melda yang kembali memejamkan matanya.


“Alan, aku dimana?” tanya Melda berusaha menahan


air matanya. Wanita itu mengalihkan pandangan ke tempat lain agar Alan tidak


bisa melihat dirinya yang ingin menangis.


“Di rumah sakit. Tadi kamu pingsan,” sahut Alan


masih dingin.


Melda berusaha bangun, ia ingin melihat luka di


kakinya. Tapi karena baru habis pingsan, ia masih merasa sedikit pusing. Alan


bangkit dari duduknya dan membantu Melda duduk. Melda menarik selimutnya dan melihat


kedua kakinya di balut perban.


“Ck. Berlebihan sekali perbannya. Kapan aku boleh


pulang, Lan?” tanya Melda.


“Dokter bilang mau cek dulu besok. Kalau bisa


jalan, bisa langsung pulang,” kata Alan.


“Sepertinya bisa pulang,” gumam Melda sambil


mencoba menurunkan kakinya. Lukanya tidak terlalu sakit, tapi kakinya terasa


lemas sampai Melda hampir jatuh ketika mencoba melangkah.


Alan cepat-cepat menahan tubuh Melda yang hampir


jatuh.


“Kamu mau kemana?” tanya Alan.


“Ke toilet. Aku bisa sendiri, cuma kakiku masih


lemes. Lepasin, Lan. Makasih,” kata Melda masih enggan merepotkan remaja itu.


Alan tidak mau melepaskan pinggang Melda yang masih


dirangkulnya. Ia memaksa membantu Melda masuk ke kamar mandi karena di tangan


wanita itu juga ada infus. Alan menggantung infus di tempat shower dan menatap


Melda yang hampir menurunkan celananya.


“Kamu ngapain masih disini? Keluar sana. Aku bisa


sendiri,” kata Melda.


“Aku keluar, tapi pintunya jangan dikunci ya,” kata


Alan sambil berjalan keluar kamar mandi.


Setelah selesai dengan hasrat ingin pipisnya, Melda


menyiram toilet sampai suara flush terdengar sampai keluar. Alan menunggu


semenit, lima menit, tapi Melda belum keluar juga.


“Hei, udah selesai belum?” tanya Alan dari luar.


Tidak ada jawaban dari Melda, Alan menggedor pintu


kamar mandi sambil terus memanggil Melda dengan ‘hei’.


**


votenya di Cinta Kembarku ya guys.


ditunggu lagi up-nya. Agak panjang ya biar tambah seneng bacanya dan nggak penasaran.

__ADS_1


__ADS_2