
DM2 – Bocah micin
Endy tersenyum, ia melanjutkan apa yang
sempat tertunda tadi. Kinanti tersenyum senang merangkul kekasih lamanya,
melupakan kegalauannya karena belum menjadi istri Rio.
Keduanya terlalu asyik menghabiskan waktu
bersama sampai Kinanti lupa pulang. Saat ia sampai di rumah Alex lagi, keluarga
mereka sedang makan malam bersama. Gadis tentu saja masih bersama Rio di
kamarnya.
“Kinanti, kamu mau makan?”tanya Mia ketika
Kinanti sudah sampai di ujung tangga mau naik ke kamarnya.
“Sudah, tante. Makasih. Aku keatas dulu.”saut
Kinanti. Ia beranjak menaiki tangga.
Mia sempat melirik tas belanjaan yang
dibawa Kinanti. “Kamu kasi dia uang?”tanya Alex yang juga memperhatikan bawaan
Kinanti.
“Nggak. Tadi dia ijin ke mall tapi gak
minta uang. Emang kenapa?”
“Liat belanjaannya, gak mungkin gaji
sekretaris bisa beli barang-barang gitu.”
Mia berpikir, benar juga ya. Dirinya juga
gak bisa beli barang-barang merk itu, kalau gak di subsidi om Alex.
“Hihi...”Mia ketawa sendiri menyadari dirinya masih memanggil om pada suaminya
meski dalam hati.
“Mama kenapa ketawa?”tanya Reva. Rava masih
asyik menggerogoti daging yang menempel di tulang iga.
“Nggak, mama inget sesuatu yang lucu. Dulu
kan mama manggil papa, om Alex.”
“Om? Kok bisa gitu, mah?”tanya Rava kepo.
Mulutnya masih mengunyah daging, Mia menunggu Rava menelan daging itu sebelum
menjawab.
“Iya, kan dulu mama sama kak Rara teman
satu SMA.”jawab Mia.
“Ih, papa. Jadi papa nikah sama anak
SMA?”tanya Reva.
Alex pura-pura gak denger, sibuk
menggerogoti tulang iga juga. “Pah, jawab dong.”
“Nggak lah. Mamamu kan sudah selesai kuliah
baru nikah sama papa. Sebelum itu ya pacaran dulu.”kata Alex.
“Papa pacaran sama anak SMA?”tanya Rava.
“Ih, papa gak malu, udah om-om tapi nyari anak SMA.”
Bruh! Alex menyemburkan nasi di mulutnya,
ia terbatuk-batuk, keselek mendengar kata-kata Rava. Mia sibuk memberi minum
Alex, berusaha tidak ketawa ngakak.
“Dari mana kamu tahu kata-kata itu? Gak
boleh ngomong gitu, Rava.”tegur Alex.
“Iih, papa jorok banget. Nasinya terbang
__ADS_1
kemana-mana nich!”panik Reva memunguti nasi di dekat piringnya.
“Papa gak nyari anak SMA, mamamu kan
umurnya uda lebih dari 20 tahun waktu sekolah lagi. Mamamu sudah tamat SMA di
negara A tapi gak bisa kuliah disini karena ijazah SMA-nya hilang.”
Si kembar manggut-manggut mendengar
penjelasan Alex.
“Lagian mama kok yang ngejar-ngejar
papa.”imbuh Alex tersenyum lebar. “Addoowww... Jangan dicubit, sakit
nich!”jerit Alex ketika Mia mencubit pinggangnya.
“Jadi mama yang ngejar, hah?!”tanya Mia
dengan tatapan mautnya.
Alex menggeleng, diam tak berkutik melihat
kekesalan Mia. Si kembar auto ngakak melihat papanya tunduk pada mamanya.
“Hih, serem ya kalo udah nikah. Aku jadi
mikir-mikir dulu mau nikah nanti. Hihihi.”ucap Reva.
“Hehe. Hei, masih bocah udah mikir nikah. Belajar
yang bener, trus kuliah, baru kerja, baru mikir nikah.”saut Rava.
Mia dan Alex sampai bengong mendengar
kata-kata si kembar. Dua bocah yang gak sadar dirinya masih bocah itu dengan
santainya membahas nikah. Tumbuh bulu aja belum, uda mikir nikah.
“Kayaknya aku harus cek lagi dech, bumbu di
dapur. Siapa tau kebanyakan micin.”gumam Mia tapi masih di dengar Alex.
“Ya, jangan banyak-banyak pake micin. Apa
jangan-jangan mereka kebanyakan gen mesum-ku ya?”
“Mesum tuch apa, pah?”tanya Rava.
Mia pura-pura sibuk dengan makanannya, “Silakan dijawab, papa.”
“Kalian belum cukup dewasa, belum punya
KTP, kan?”tanya Alex menghindar.
“Tapi kami punya kartu pelajar, pah. Kan
sama. Di perpustakaan umum kalau gak punya kartu pelajar, bisa pake KTP buat
minjem buku.”jelas Rava.
“Betul, betul, betul.”saut Reva.
“Yank...”panggil Alex dengan mata
berkaca-kaca. Mia malah asyik makan.
Alex kembali menatap kedua putra kembarnya. “Papa akan jawab kalau sudah
waktunya kalian tau ya.”
“Cukup adil.”jawab Rava.
Alex dan Mia menghela nafas lega, mereka
berpikir akan berhati-hati bicara mulai sekarang apalagi ada si kembar yang
sudah mulai kepo. Dasar bocah kebanyakan micin.
Kinanti yang tadi langsung naik ke lantai
2, menghentikan langkahnya untuk masuk ke kamarnya. Ia ingin melihat sedang apa
Gadis dan Rio. Kinanti berjalan mendekati pintu kamar yang sedikit terbuka, ia
melihat Gadis sedang memijat kaki Rio. Kinanti mengurungkan niatnya membuka
pintu lebih lebar untuk masuk kesana. Ia menguping kata-kata Gadis yang sedang
bicara pada Rio.
__ADS_1
“Rio, kalau kamu sembuh nanti, kita
jalan-jalan lagi ya. Kita ke gunung kali ini, aku bayangin kita bangun pagi
liat pemandangan matahari terbit di gunung. Udaranya pasti dingin kan. Kita gak
usah kemana-mana, tetep di bawah selimut. Aku akan pakai lingeri yang kamu kasi
waktu itu.” Gadis meraba celana Rio, “Oh, pampersmu penuh ya. Sebentar aku
ganti dulu.”
Kinanti berjengit mendengar kata pampers,
ia sudah cukup trauma ketika mencium bau tak sedap dari Rio. Wanita itu
buru-buru kembali ke kamarnya sebelum mencium bau tak sedap lagi. Ia membaringkan
tubuhnya diatas ranjang, “Huft, capek banget.”
Kinanti menoleh melihat banyaknya paper bag
yang diberikan body guard Endy saat mereka bertemu tadi. Pria itu membelikan
semua yang diinginkan Kinanti. Meskipun dia tidak bisa memilihnya secara
langsung, tapi Kinanti cukup senang.
Tring! Tring! Suara ponsel Kinanti memaksa
wanita itu bangkit lagi dari tidurannya. Ia membuka tasnya, mengaduk isinya
sebentar untuk mengambil ponselnya. Endy calling.
“Halo, Endy? Ada apa?”
“Baru sebentar kau pergi, aku sudah
merindukanmu, sayang.”
“Ach, berhentilah merayuku. Katakan ada
apa?”
“Sepertinya pria bodoh itu punya hubungan
dengan beberapa orang penting. Orang-orangku terus diikuti dengan ketat. Aku
kira telpon kita ini juga disadap.”
“Apa berbahaya?”tanya Kinanti khawatir.
“Sampai mana kau akan bermain, aku akan
terus bersamamu, sayang. Saluran ini aman. Datanglah besok. Ada kejutan untukmu.”
“Datang kemana? Katamu kita diikuti?”
“Ke tempat yang tadi. Kita lakukan
pertukaran seperti biasanya. Ingat selfie sebelum berangkat ya sayangku. Aku
ingin ******** ********.”
“Endy!”pekik Kinanti dengan wajah merah.
“Hehe, kau selalu minta aku melakukannya,
kan. Ayolah, aku tahu kau sedang terbakar sekarang.”
Kinanti mendesah manja di telpon, balik
menggoda Endy. Ia tidak sadar kalau pintu kamarnya sedikit terbuka.
Meskipun sibuk mengurus Rio, Gadis juga
masih sempat mengurus Kinanti, ia membuat semua yang diinginkan Kinanti untuk
dimakan. Meski akhirnya hanya makan sedikit dan menolak menghabiskan semuanya.
Gadis tidak pernah mengeluh secapek apapun dia, wanita itu akan selalu
tersenyum pada semua orang.
Gadis mendengar suara dari kamar Kinanti
ketika ingin membuang pampers bekas Rio, ia mendekati pintu kamar dan hampir
membukanya. Saat itu ia mendengar Kinanti menyebut nama Endy. Siapa Endy?
*****
__ADS_1
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.