Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Bocah micin


__ADS_3

DM2 – Bocah micin


Endy tersenyum, ia melanjutkan apa yang


sempat tertunda tadi. Kinanti tersenyum senang merangkul kekasih lamanya,


melupakan kegalauannya karena belum menjadi istri Rio.


Keduanya terlalu asyik menghabiskan waktu


bersama sampai Kinanti lupa pulang. Saat ia sampai di rumah Alex lagi, keluarga


mereka sedang makan malam bersama. Gadis tentu saja masih bersama Rio di


kamarnya.


“Kinanti, kamu mau makan?”tanya Mia ketika


Kinanti sudah sampai di ujung tangga mau naik ke kamarnya.


“Sudah, tante. Makasih. Aku keatas dulu.”saut


Kinanti. Ia beranjak menaiki tangga.


Mia sempat melirik tas belanjaan yang


dibawa Kinanti. “Kamu kasi dia uang?”tanya Alex yang juga memperhatikan bawaan


Kinanti.


“Nggak. Tadi dia ijin ke mall tapi gak


minta uang. Emang kenapa?”


“Liat belanjaannya, gak mungkin gaji


sekretaris bisa beli barang-barang gitu.”


Mia berpikir, benar juga ya. Dirinya juga


gak bisa beli barang-barang merk itu, kalau gak di subsidi om Alex.


“Hihi...”Mia ketawa sendiri menyadari dirinya masih memanggil om pada suaminya


meski dalam hati.


“Mama kenapa ketawa?”tanya Reva. Rava masih


asyik menggerogoti daging yang menempel di tulang iga.


“Nggak, mama inget sesuatu yang lucu. Dulu


kan mama manggil papa, om Alex.”


“Om? Kok bisa gitu, mah?”tanya Rava kepo.


Mulutnya masih mengunyah daging, Mia menunggu Rava menelan daging itu sebelum


menjawab.


“Iya, kan dulu mama sama kak Rara teman


satu SMA.”jawab Mia.


“Ih, papa. Jadi papa nikah sama anak


SMA?”tanya Reva.


Alex pura-pura gak denger, sibuk


menggerogoti tulang iga juga. “Pah, jawab dong.”


“Nggak lah. Mamamu kan sudah selesai kuliah


baru nikah sama papa. Sebelum itu ya pacaran dulu.”kata Alex.


“Papa pacaran sama anak SMA?”tanya Rava.


“Ih, papa gak malu, udah om-om tapi nyari anak SMA.”


Bruh! Alex menyemburkan nasi di mulutnya,


ia terbatuk-batuk, keselek mendengar kata-kata Rava. Mia sibuk memberi minum


Alex, berusaha tidak ketawa ngakak.


“Dari mana kamu tahu kata-kata itu? Gak


boleh ngomong gitu, Rava.”tegur Alex.


“Iih, papa jorok banget. Nasinya terbang

__ADS_1


kemana-mana nich!”panik Reva memunguti nasi di dekat piringnya.


“Papa gak nyari anak SMA, mamamu kan


umurnya uda lebih dari 20 tahun waktu sekolah lagi. Mamamu sudah tamat SMA di


negara A tapi gak bisa kuliah disini karena ijazah SMA-nya hilang.”


Si kembar manggut-manggut mendengar


penjelasan Alex.


“Lagian mama kok yang ngejar-ngejar


papa.”imbuh Alex tersenyum lebar. “Addoowww... Jangan dicubit, sakit


nich!”jerit Alex ketika Mia mencubit pinggangnya.


“Jadi mama yang ngejar, hah?!”tanya Mia


dengan tatapan mautnya.


Alex menggeleng, diam tak berkutik melihat


kekesalan Mia. Si kembar auto ngakak melihat papanya tunduk pada mamanya.


“Hih, serem ya kalo udah nikah. Aku jadi


mikir-mikir dulu mau nikah nanti. Hihihi.”ucap Reva.


“Hehe. Hei, masih bocah udah mikir nikah. Belajar


yang bener, trus kuliah, baru kerja, baru mikir nikah.”saut Rava.


Mia dan Alex sampai bengong mendengar


kata-kata si kembar. Dua bocah yang gak sadar dirinya masih bocah itu dengan


santainya membahas nikah. Tumbuh bulu aja belum, uda mikir nikah.


“Kayaknya aku harus cek lagi dech, bumbu di


dapur. Siapa tau kebanyakan micin.”gumam Mia tapi masih di dengar Alex.


“Ya, jangan banyak-banyak pake micin. Apa


jangan-jangan mereka kebanyakan gen mesum-ku ya?”


“Mesum tuch apa, pah?”tanya Rava.


Mia pura-pura sibuk dengan makanannya, “Silakan dijawab, papa.”


“Kalian belum cukup dewasa, belum punya


KTP, kan?”tanya Alex menghindar.


“Tapi kami punya kartu pelajar, pah. Kan


sama. Di perpustakaan umum kalau gak punya kartu pelajar, bisa pake KTP buat


minjem buku.”jelas Rava.


“Betul, betul, betul.”saut Reva.


“Yank...”panggil Alex dengan mata


berkaca-kaca.  Mia malah asyik makan.


Alex kembali menatap kedua putra kembarnya. “Papa akan jawab kalau sudah


waktunya kalian tau ya.”


“Cukup adil.”jawab Rava.


Alex dan Mia menghela nafas lega, mereka


berpikir akan berhati-hati bicara mulai sekarang apalagi ada si kembar yang


sudah mulai kepo. Dasar bocah kebanyakan micin.


Kinanti yang tadi langsung naik ke lantai


2, menghentikan langkahnya untuk masuk ke kamarnya. Ia ingin melihat sedang apa


Gadis dan Rio. Kinanti berjalan mendekati pintu kamar yang sedikit terbuka, ia


melihat Gadis sedang memijat kaki Rio. Kinanti mengurungkan niatnya membuka


pintu lebih lebar untuk masuk kesana. Ia menguping kata-kata Gadis yang sedang


bicara pada Rio.

__ADS_1


“Rio, kalau kamu sembuh nanti, kita


jalan-jalan lagi ya. Kita ke gunung kali ini, aku bayangin kita bangun pagi


liat pemandangan matahari terbit di gunung. Udaranya pasti dingin kan. Kita gak


usah kemana-mana, tetep di bawah selimut. Aku akan pakai lingeri yang kamu kasi


waktu itu.” Gadis meraba celana Rio, “Oh, pampersmu penuh ya. Sebentar aku


ganti dulu.”


Kinanti berjengit mendengar kata pampers,


ia sudah cukup trauma ketika mencium bau tak sedap dari Rio. Wanita itu


buru-buru kembali ke kamarnya sebelum mencium bau tak sedap lagi. Ia membaringkan


tubuhnya diatas ranjang, “Huft, capek banget.”


Kinanti menoleh melihat banyaknya paper bag


yang diberikan body guard Endy saat mereka bertemu tadi. Pria itu membelikan


semua yang diinginkan Kinanti. Meskipun dia tidak bisa memilihnya secara


langsung, tapi Kinanti cukup senang.


Tring! Tring! Suara ponsel Kinanti memaksa


wanita itu bangkit lagi dari tidurannya. Ia membuka tasnya, mengaduk isinya


sebentar untuk mengambil ponselnya. Endy calling.


“Halo, Endy? Ada apa?”


“Baru sebentar kau pergi, aku sudah


merindukanmu, sayang.”


“Ach, berhentilah merayuku. Katakan ada


apa?”


“Sepertinya pria bodoh itu punya hubungan


dengan beberapa orang penting. Orang-orangku terus diikuti dengan ketat. Aku


kira telpon kita ini juga disadap.”


“Apa berbahaya?”tanya Kinanti khawatir.


“Sampai mana kau akan bermain, aku akan


terus bersamamu, sayang. Saluran ini aman. Datanglah besok. Ada kejutan untukmu.”


“Datang kemana? Katamu kita diikuti?”


“Ke tempat yang tadi. Kita lakukan


pertukaran seperti biasanya. Ingat selfie sebelum berangkat ya sayangku. Aku


ingin ******** ********.”


“Endy!”pekik Kinanti dengan wajah merah.


“Hehe, kau selalu minta aku melakukannya,


kan. Ayolah, aku tahu kau sedang terbakar sekarang.”


Kinanti mendesah manja di telpon, balik


menggoda Endy. Ia tidak sadar kalau pintu kamarnya sedikit terbuka.


Meskipun sibuk mengurus Rio, Gadis juga


masih sempat mengurus Kinanti, ia membuat semua yang diinginkan Kinanti untuk


dimakan. Meski akhirnya hanya makan sedikit dan menolak menghabiskan semuanya.


Gadis tidak pernah mengeluh secapek apapun dia, wanita itu akan selalu


tersenyum pada semua orang.


Gadis mendengar suara dari kamar Kinanti


ketika ingin membuang pampers bekas Rio, ia mendekati pintu kamar dan hampir


membukanya. Saat itu ia mendengar Kinanti menyebut nama Endy. Siapa Endy?


*****

__ADS_1


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2