Duren Manis

Duren Manis
Belajar romantis


__ADS_3

Belajar romantis


Ia melihat Gadis masuk ke kamar Riri hanya berbalut


handuk saja. Gadis menutup pintu tapi kurang sempurna. Perlahan, Rio berjalan


mendekati kamar Riri dan masuk ke dalam sana.


Gadis tidak menyadari kehadiran Rio karena


ponselnya berbunyi. Mamanya mengiriminya chat agar tidak terlalu merepotkan Mia


dan Alex. Mia secara khusus menelpon Aira untuk memberitahunya kalau Gadis akan


menginap malam itu di rumah mereka.


Gadis membalas chat mamanya sambil duduk di pinggir


tempat tidur Riri. Sesekali ia mengelus pinggangnya yang terasa nyeri. Gadis


melihat pakaian yang sudah disiapkan Mia di atas tempat tidur Riri. Ia ingin


memakai lotion dulu sebelum memakai pakaian.


Gadis mengambil botol lotion milik Riri dan


mengatakan pada Riri seolah ia ada disana, kalau Gadis ingin minta lotion milik


Riri dan menjawabnya seolah Riri mengiyakannya. Rio menahan tawanya melihat


tingkah Gadis.


Rio menatap punggung putih Gadis ketika wanita itu


menurunkan handuknya sambil duduk diatas tempat tidur. Gadis mengoleskan lotion


ke punggungnya, ia meraba-raba bekas jerawat di punggungnya agar tidak mengenai


lotion di tangannya.


“Kenapa kau gak minta bantuan?”kata Rio sambil


mengambil lotion dari tangan Gadis.


“Kyaa!! Rio!! Ngapain kamu... Jangan lihat!!”jerit


Gadis yang langsung panik ketika Rio duduk di sampingnya.


Gadis menarik handuk menutupi tubuh bagian


depannya. Ia hampir beranjak dari tempat ia duduk kalau Rio tidak menarik


tangannya.


“Duduk, aku bantu pakai lotion.”kata Rio maksa.


“Kenapa kamu bisa disini?”tanya Gadis gugup.


“Aku juga gak tau. Aku lihat pintunya gak ketutup,


aku masuk aja.”kata Rio cuek.


“Tapi aku belum pake baju. Kamu gimana sich?


Harusnya kamu panggil aku kalau liat pintunya gak ketutup.”protes Gadis.


“Sudah terlanjur, aku juga mau lihat bekas


jerawatnya masih berdarah gak.”kata Rio mencari alasan.


“Dasar kamu ya. Jangan mikir aneh-aneh. Udah


selesai, kan?”tanya Gadis.


Ia melirik ke belakang, Rio hanya menatap


punggungnya saja.


“Sekarang kamu keluar sana. Aku mau pake baju.”kata


Gadis lagi.


“Katanya cinta, kok galak banget sama aku.”Rio


tetap tidak mau beranjak dari tempat ia duduk.


“Aku gak galak kalo kamu gak aneh-aneh.”


“Kapan aku aneh-aneh? Aku kan cuma pengen deket


kamu aja.”kata Rio sambil menarik-narik ujung handuk Gadis.


“Lepas gak? Aku cubit nich.”


“Bisanya ngancem, coba kalo berani.”tantang Rio.

__ADS_1


Gadis mengulurkan tangannya hampir mencubit


pinggang Rio, tapi Rio menarik tangannya hingga Gadis kehilangan keseimbangan


dan terjatuh menimpa Rio. Rio menahan tubuh Gadis agar tidak membentur


perutnya.


“Rio...”panggil Gadis saat mereka sudah terbaring


diatas tempat tidur Riri dengan Gadis berada di bawah Rio.


“Apa kau masih takut?”tanya Rio.


“Kamu mau itu lagi?”tanya Gadis ragu-ragu.


“Boleh?”tanya Rio lagi.


Rio menunduk mendekatkan wajahnya pada wajah Gadis


yang hanya menatapnya saja. Perlahan mata Gadis meredup, ia hampir menutup


matanya saat Rio mengaduh lagi.


“Kenapa? Sakit lagi lukanya?”tanya Gadis.


“Iya. Kapan sich sembuhnya? Mengganggu saja.”kata


Rio kesal.


Gadis mendorong perlahan tubuh Rio, ia bangkit


berdiri, mengambil pakaian dalamnya dan meminta Rio berbalik.


“Jangan ngintip ya.”pinta Gadis.


Rio memejamkan matanya, ia sama sekali tidak


mengintip saat Gadis memakai pakaian milik Mia. Gadis mengatur rambutnya


setelah ia menyisirnya dan memanggil Rio.


“Rio, ayo turun. Kamu bisa? Atau aku ambilkan


makanannya.”kata Gadis.


“Kau akan repot naik turun. Kita turun saja. Aku


gak boleh manja karena luka ini.”kata Rio.


“Habis makan aku cerita semuanya. Sini.”


Rio merangkul bahu Gadis agar bisa berjalan dengan


stabil menuruni tangga. Alex yang melihat Rio turun bersama Gadis, membantunya


dan menyuruh Gadis turun duluan.


“Kenapa gak panggil papa?”tanya Alex.


“Papa ngapain ganggu aku sama Gadis?”balas Rio


sengit.


“Idih, dasar kamu ya. Papa lepasin nich.”


“Jangan pah, sakit nich.”kata Rio sambil meringis.


Alex membantu Rio duduk di kursi meja makan. Mia


menghidangkan makan malam dan khusus untuk Gadis ada wortel dan buncis bakar.


“Mau gak?”tawar Rio pada Gadis sambil mengiris


daging bakar.


“Nggak mau. Mual.”kata Gadis sambil menikmati


wortel bakar di piringnya.


Alex memotong daging bakar untuk Mia. Rio melihat


papanya menyuapi Mia makan dan mengelap bibirnya dengan tissu. Keromantisan


orang tuanya membuat Rio melirik Gadis yang asyik makan sendiri. Sepertinya Rio


harus belajar jadi romantis dari papanya.


Rio menoleh pada pasangan Arnold dan Rara. Arnold


saat itu sudah memotong-motong daging bakar untuk Rara dan juga nenek. Rara menyuapi


Arnold potongan daging yang sudah dibungkus daun selada segar.


“Pedas, sayang. Cabenya jangan banyak-banyak.”keluh

__ADS_1


Arnold sambil menjulurkan lidahnya.


Rara mengambil air minum dan meminumkannya pada


Arnold.


“Masih pedes, sayang. Cium sini.”pinta Arnold pada


Rara.


“Mas jangan genit dech. Rame gini minta cium.”


“Kan kamu yang bikin aku kepedesan. Tanggung jawab,


gak.”kata Arnold lagi.


“Malu, mas.”kata Rara sambil memukul lengan Arnold.


“Iya, mas.”kata nenek ikutan memukul lengan Arnold.


Mia, Rara, dan Gadis tertawa mendengar suara manja


nenek yang menggoda Arnold. Nenek kembali menikmati daging bakar yang sudah


dipotong Arnold. Gadis mengambil selada dan mengisinya dengan daging yang


dipotong Rio.


“Aaa...”kata Gadis sambil menyodorkan bungkusan


selada itu pada Rio.


Rio memakannya dengan nikmat. Ia meminta Gadis


membuatkannya lagi dengan lebih banyak cabe. Gadis menyuapi Rio dengan


bungkusan selada lagi dan menunggu sampai wajah Rio memerah karena kepedesan.


“Pedes ya?”tanya Gadis sambil mendekatkan air


putih.


Rio mengangguk, ia menarik tangan Gadis untuk bisa


minum dan bukan mengambil gelasnya. Gadis mengambil tisu ketika melihat sudut


bibir Rio basah. Ia mengelap bibir Rio, sambil bertatapan mata satu sama lain.


Alex : “Ehem...! Sayang, lap bibirku dong. Jangan


pake tisu, pake bibirmu aja.”kata Alex untuk menggoda Rio dan Gadis.


Bukannya merespon godaan Alex, Gadis dan Rio malah


semakin betah liat-liatan. Nenek yang duduk di samping Gadis, sengaja mendorong


punggung Gadis perlahan sampai posisi Gadis dan Rio semakin dekat. Gadis


melepaskan diri dengan cepat. Ia kembali fokus pada makanan di depannya.


Setelah selesai makan malam, Rara membantu mb Minah


mencuci piring. Arnold membawa baby Reynold ke dalam kamar mereka. Mia mengajak


Gadis ke kamarnya untuk mengambil pakaian dalam baru dan juga pakaian ganti. Alex


membantu Rio duduk di ruang keluarga.


“Pah, wanita itu suka hal romantis kayak gimana


sich?”tanya Rio membuat Alex menatapnya.


“Hal romantis apa ya? Wanita itu suka dikasi bunga


dan coklat. Apalagi cincin berlian kayak mamamu itu.”


“Hehe... belum bisa beli cincin berlian. Menurut


papa kalo Gadis dikasi bunga, seneng gak ya?”tanya Rio lagi.


“Pasti seneng lah, kecuali...”


“Kecuali apa?”tanya Rio penasaran.


*****


"Kecuali kamu gak vote dan like novel ini. Ntar authornya sedih. Ya, kan mbak author?"kata Alex


"Jangan panggil mbak dong, mas Alex. Panggil sayang gitu."ngarep banget authornya.


Rio otw vote dan like novel ini sambil liatin author mesam-mesem sama papanya.


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.

__ADS_1


__ADS_2