
Belajar romantis
Ia melihat Gadis masuk ke kamar Riri hanya berbalut
handuk saja. Gadis menutup pintu tapi kurang sempurna. Perlahan, Rio berjalan
mendekati kamar Riri dan masuk ke dalam sana.
Gadis tidak menyadari kehadiran Rio karena
ponselnya berbunyi. Mamanya mengiriminya chat agar tidak terlalu merepotkan Mia
dan Alex. Mia secara khusus menelpon Aira untuk memberitahunya kalau Gadis akan
menginap malam itu di rumah mereka.
Gadis membalas chat mamanya sambil duduk di pinggir
tempat tidur Riri. Sesekali ia mengelus pinggangnya yang terasa nyeri. Gadis
melihat pakaian yang sudah disiapkan Mia di atas tempat tidur Riri. Ia ingin
memakai lotion dulu sebelum memakai pakaian.
Gadis mengambil botol lotion milik Riri dan
mengatakan pada Riri seolah ia ada disana, kalau Gadis ingin minta lotion milik
Riri dan menjawabnya seolah Riri mengiyakannya. Rio menahan tawanya melihat
tingkah Gadis.
Rio menatap punggung putih Gadis ketika wanita itu
menurunkan handuknya sambil duduk diatas tempat tidur. Gadis mengoleskan lotion
ke punggungnya, ia meraba-raba bekas jerawat di punggungnya agar tidak mengenai
lotion di tangannya.
“Kenapa kau gak minta bantuan?”kata Rio sambil
mengambil lotion dari tangan Gadis.
“Kyaa!! Rio!! Ngapain kamu... Jangan lihat!!”jerit
Gadis yang langsung panik ketika Rio duduk di sampingnya.
Gadis menarik handuk menutupi tubuh bagian
depannya. Ia hampir beranjak dari tempat ia duduk kalau Rio tidak menarik
tangannya.
“Duduk, aku bantu pakai lotion.”kata Rio maksa.
“Kenapa kamu bisa disini?”tanya Gadis gugup.
“Aku juga gak tau. Aku lihat pintunya gak ketutup,
aku masuk aja.”kata Rio cuek.
“Tapi aku belum pake baju. Kamu gimana sich?
Harusnya kamu panggil aku kalau liat pintunya gak ketutup.”protes Gadis.
“Sudah terlanjur, aku juga mau lihat bekas
jerawatnya masih berdarah gak.”kata Rio mencari alasan.
“Dasar kamu ya. Jangan mikir aneh-aneh. Udah
selesai, kan?”tanya Gadis.
Ia melirik ke belakang, Rio hanya menatap
punggungnya saja.
“Sekarang kamu keluar sana. Aku mau pake baju.”kata
Gadis lagi.
“Katanya cinta, kok galak banget sama aku.”Rio
tetap tidak mau beranjak dari tempat ia duduk.
“Aku gak galak kalo kamu gak aneh-aneh.”
“Kapan aku aneh-aneh? Aku kan cuma pengen deket
kamu aja.”kata Rio sambil menarik-narik ujung handuk Gadis.
“Lepas gak? Aku cubit nich.”
“Bisanya ngancem, coba kalo berani.”tantang Rio.
__ADS_1
Gadis mengulurkan tangannya hampir mencubit
pinggang Rio, tapi Rio menarik tangannya hingga Gadis kehilangan keseimbangan
dan terjatuh menimpa Rio. Rio menahan tubuh Gadis agar tidak membentur
perutnya.
“Rio...”panggil Gadis saat mereka sudah terbaring
diatas tempat tidur Riri dengan Gadis berada di bawah Rio.
“Apa kau masih takut?”tanya Rio.
“Kamu mau itu lagi?”tanya Gadis ragu-ragu.
“Boleh?”tanya Rio lagi.
Rio menunduk mendekatkan wajahnya pada wajah Gadis
yang hanya menatapnya saja. Perlahan mata Gadis meredup, ia hampir menutup
matanya saat Rio mengaduh lagi.
“Kenapa? Sakit lagi lukanya?”tanya Gadis.
“Iya. Kapan sich sembuhnya? Mengganggu saja.”kata
Rio kesal.
Gadis mendorong perlahan tubuh Rio, ia bangkit
berdiri, mengambil pakaian dalamnya dan meminta Rio berbalik.
“Jangan ngintip ya.”pinta Gadis.
Rio memejamkan matanya, ia sama sekali tidak
mengintip saat Gadis memakai pakaian milik Mia. Gadis mengatur rambutnya
setelah ia menyisirnya dan memanggil Rio.
“Rio, ayo turun. Kamu bisa? Atau aku ambilkan
makanannya.”kata Gadis.
“Kau akan repot naik turun. Kita turun saja. Aku
gak boleh manja karena luka ini.”kata Rio.
“Habis makan aku cerita semuanya. Sini.”
Rio merangkul bahu Gadis agar bisa berjalan dengan
stabil menuruni tangga. Alex yang melihat Rio turun bersama Gadis, membantunya
dan menyuruh Gadis turun duluan.
“Kenapa gak panggil papa?”tanya Alex.
“Papa ngapain ganggu aku sama Gadis?”balas Rio
sengit.
“Idih, dasar kamu ya. Papa lepasin nich.”
“Jangan pah, sakit nich.”kata Rio sambil meringis.
Alex membantu Rio duduk di kursi meja makan. Mia
menghidangkan makan malam dan khusus untuk Gadis ada wortel dan buncis bakar.
“Mau gak?”tawar Rio pada Gadis sambil mengiris
daging bakar.
“Nggak mau. Mual.”kata Gadis sambil menikmati
wortel bakar di piringnya.
Alex memotong daging bakar untuk Mia. Rio melihat
papanya menyuapi Mia makan dan mengelap bibirnya dengan tissu. Keromantisan
orang tuanya membuat Rio melirik Gadis yang asyik makan sendiri. Sepertinya Rio
harus belajar jadi romantis dari papanya.
Rio menoleh pada pasangan Arnold dan Rara. Arnold
saat itu sudah memotong-motong daging bakar untuk Rara dan juga nenek. Rara menyuapi
Arnold potongan daging yang sudah dibungkus daun selada segar.
“Pedas, sayang. Cabenya jangan banyak-banyak.”keluh
__ADS_1
Arnold sambil menjulurkan lidahnya.
Rara mengambil air minum dan meminumkannya pada
Arnold.
“Masih pedes, sayang. Cium sini.”pinta Arnold pada
Rara.
“Mas jangan genit dech. Rame gini minta cium.”
“Kan kamu yang bikin aku kepedesan. Tanggung jawab,
gak.”kata Arnold lagi.
“Malu, mas.”kata Rara sambil memukul lengan Arnold.
“Iya, mas.”kata nenek ikutan memukul lengan Arnold.
Mia, Rara, dan Gadis tertawa mendengar suara manja
nenek yang menggoda Arnold. Nenek kembali menikmati daging bakar yang sudah
dipotong Arnold. Gadis mengambil selada dan mengisinya dengan daging yang
dipotong Rio.
“Aaa...”kata Gadis sambil menyodorkan bungkusan
selada itu pada Rio.
Rio memakannya dengan nikmat. Ia meminta Gadis
membuatkannya lagi dengan lebih banyak cabe. Gadis menyuapi Rio dengan
bungkusan selada lagi dan menunggu sampai wajah Rio memerah karena kepedesan.
“Pedes ya?”tanya Gadis sambil mendekatkan air
putih.
Rio mengangguk, ia menarik tangan Gadis untuk bisa
minum dan bukan mengambil gelasnya. Gadis mengambil tisu ketika melihat sudut
bibir Rio basah. Ia mengelap bibir Rio, sambil bertatapan mata satu sama lain.
Alex : “Ehem...! Sayang, lap bibirku dong. Jangan
pake tisu, pake bibirmu aja.”kata Alex untuk menggoda Rio dan Gadis.
Bukannya merespon godaan Alex, Gadis dan Rio malah
semakin betah liat-liatan. Nenek yang duduk di samping Gadis, sengaja mendorong
punggung Gadis perlahan sampai posisi Gadis dan Rio semakin dekat. Gadis
melepaskan diri dengan cepat. Ia kembali fokus pada makanan di depannya.
Setelah selesai makan malam, Rara membantu mb Minah
mencuci piring. Arnold membawa baby Reynold ke dalam kamar mereka. Mia mengajak
Gadis ke kamarnya untuk mengambil pakaian dalam baru dan juga pakaian ganti. Alex
membantu Rio duduk di ruang keluarga.
“Pah, wanita itu suka hal romantis kayak gimana
sich?”tanya Rio membuat Alex menatapnya.
“Hal romantis apa ya? Wanita itu suka dikasi bunga
dan coklat. Apalagi cincin berlian kayak mamamu itu.”
“Hehe... belum bisa beli cincin berlian. Menurut
papa kalo Gadis dikasi bunga, seneng gak ya?”tanya Rio lagi.
“Pasti seneng lah, kecuali...”
“Kecuali apa?”tanya Rio penasaran.
*****
"Kecuali kamu gak vote dan like novel ini. Ntar authornya sedih. Ya, kan mbak author?"kata Alex
"Jangan panggil mbak dong, mas Alex. Panggil sayang gitu."ngarep banget authornya.
Rio otw vote dan like novel ini sambil liatin author mesam-mesem sama papanya.
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.
__ADS_1