Duren Manis

Duren Manis
Extra part 30


__ADS_3

Extra part 30


“Bakal alami kalo gitu, tante. Aku juga suka nggak


sadar kalau lagi gombal,” ucap Ken malu sendiri.


Alex lagi-lagi memanggil Mia dengan tidak sabaran.


Mia sampai menarik tangan Ken agar Alex berhenti berteriak.


“Sabar, mas. Aku kan lagi seleksi calon cucu


mantu,” kata Mia membuat Ken dan Kaori bingung mendengarnya.


“Yang aku lihat, pria kecil ini berusaha memikatmu


dengan mulut manisnya,” desis Alex cemburu tingkat tinggi.


“Bisa-bisanya kamu cemburu sama laki-laki semanis


Ken. Ayo, Ken. Kita makan dulu. Kamu suka makan apa?” tanya Mia sambil berjalan


duluan menuju tempat makan. Ia sengaja merangkul pundak Ken dengan mesra


melewati Alex dan Kaori.


Alex mengepalkan tangannya kesal, ia menoleh


menatap Kaori yang bengong saja. Kemudian mereka mengikuti langkah Mia dan Ken.


Sampai di tempat makan, Ken bergabung duduk


berdampingan dengan Kaori. Reynold dan Renata yang datang paling terlambat,


tampak sangat gembira. Ken melirik tangan Reynold yang nangkring di pundak


Renata. Keduanya berbisik-bisik lalu tertawa bersama.


Ken dan Reynold sempat saling menatap lagi. Jangan


kelamaan tatap-tatapan, bang. Ntar jatuh cinta loh. Sebelum Mia menyodorkan


menu makanan ke depan Ken.


“Ayo, mau pesan apa? Kaori, kamu mau makan steak?”


tanya Mia.


Kaori mengangguk semangat, ia sangat suka steak. Ketika


Mia menanyakan pesanan Ken, Alex juga ikut menyahut pesanan yang sama. Mereka


tidak sengaja menyebutkan burger, mashed potato, dan float secara bersama-sama.


Hening. Mia menoleh ke kanan dan ke depan, menatap


Ken dan Alex bergantian.


“Opa sama Ken kompak banget ya. Lucu,” sahut Kaori


sambil tersenyum geli.


“Nggak!” teriak Ken dan Alex samaan.


Kaori dan Mia kompak tertawa ngakak melihat Ken dan


Alex bicara bersamaan. Ken langsung menunduk karena Alex melotot padanya. Kaori


merasakan saat Ken bersembunyi di sampingnya.


“Kaori, opamu melotot tuch,” adu Ken.


“Kamu ngapain deket-deket Kaori gitu. Jauh dikit.


Jauh, nggak?” ancam Alex menyebalkan.


Mia balas melotot pada Alex yang langsung nurut dan


diam, takut nggak dapat jatah ntar malem. Ken terkikik geli membuat Kaori


bertanya apa yang terjadi. Ketika Ken mengatakan kalau Alex menciut takut di


depan Mia, Kaori juga ikut mesam-mesem.


Pesanan makanan mereka datang juga. Alex hampir


mengambil piring steak milik Kaori, tapi Ken sudah lebih dulu mengambilnya. Mia


memperhatikan Ken yang sibuk memotong steak sambil menyuapi Kaori makan.


“Kaori, kamu mau coba floatku?” tanya Ken dengan


manisnya.


“Boleh coba? Aku jarang minum float, nggak boleh


sama opa,” kata Kaori seperti menyimpan maksud terselubung.


Alex menyodorkan float miliknya ke tangan Kaori. Ia


nggak rela kalau Kaori harus berbagi sedotan dengan Ken. Kaori menyeruput float


untuk pertama kali setelah beberapa bulan tidak meminum minuman bersoda itu.


Ken membantu Kaori mengaduk float itu lalu menyeruputnya juga sebelum

__ADS_1


memberikannya pada Kaori lagi.


“Hei, itu minumanku, anak muda,” tegur Alex membuat


Kaori kaget.


“Kenapa opa? Tadi katanya boleh coba.” Kaori


menunduk takut pada Alex.


“Bukan gitu, Kaori. Tadi Ken juga minum float opa.


Dia kan punya minuman sendiri,” jelas Alex tidak mau Kaori salah paham.


Ken menyodorkan floatnya yang belum diminum ke


hadapan Alex dan meminta maaf pada pria paruh baya itu. Alex menarik nafas


panjang dan mengangguk memaafkan Ken. Meskipun ia belum rela, Kaori dekat-dekat


dengan Ken. Biar bagaimanapun, Ken adalah anak Endy dan Kinanti. Kalau Ken


ingin bersama Kaori, mereka tidak boleh bersama karena keduanya bersaudara


kandung.


Alex menatap Mia yang juga menatapnya. Seolah


tertampar kenyataan, Mia menyadari kalau ia sudah salah bicara tadi. Mia lupa


pada kenyataan kalau Kaori adalah anak Endy dan Kinanti. Ken dan Kaori adalah


saudara kandung.


“Mungkin hubungan itu yang membuat mereka bisa


dekat, mas. Hubungan saudara,” bisik Mia pada Alex.


“Aku tidak tega memberitahu mereka semua rahasia


ini. Tapi cepat atau lambat, mereka harus diberitahu atau semuanya bisa


terlambat,” bisik Alex juga.


Kaori mendengar semua pembicaraan opa dan omanya.


Ia memiliki indra pendengaran yang sangat tajam tapi suka pura-pura tidak


mendengarkan dengan baik. Dalam benaknya bertanya-tanya siapa yang sedang


dibicarakan oma dan opa-nya.


Usai makan, Ken memberanikan dirinya mendekati


Renata. Ia ingin bicara tentang perasaannya sebelum mereka berpisah hari ini. Reynold


Laki-laki itu balas melotot pada Reynold.


“Bentar aja, kak Rey. Pesenin aku dessert ya,”


pinta Renata.


Reynold terpaksa melepaskan Renata pergi bersama


Ken. Ia memasang headset bluetooth di telinganya untuk mendengarkan pembicaraan


keduanya. Reynold memasang penyadap dan GPS di bandul kalung yang ia hadiahkan


untuk Renata saat ulang tahun gadis itu. Tentu saja dengan pesan jangan sampai


kalung itu terlepas dari tubuhnya.


Ken dan Renata duduk di salah satu bangku taman


yang cukup sepi pengunjung. Renata memperhatikan sekelilingnya, ia merasa


sedikit aneh melihat pengunjung yang sepi. Padahal taman bermain yang mereka


kunjungi itu terkenal dengan ramainya pengunjung yang datang.


Renata tidak tahu kalau Reynold sengaja menyewa


sebagian taman bermain itu untuk menyenangkan Renata. Khusus hari itu, taman


bermain hanya menerima lima puluh persen pengunjung. Makanya mereka semua bisa


puas bermain tanpa takut mengantri terlalu lama.


“Ada apa, Ken? Kamu mau bicara apa?” tanya Renata.


“Renata, aku suka sama kamu,” kata Ken tanpa


malu-malu.


“Aku juga suka sama kamu, Ken,” sahut Renata


santai. “Kamu teman yang baik.”


Jleb! Sakitnya tuch disini, didalam hatiku,


sakitnya tuch disini. Auto nyanyi kan. Ken menunduk kecewa, tapi ia mencoba


maklum karena sepertinya Renata belum mengerti maksudnya.


“Renata, aku nggak mau cuma jadi temanmu. Aku mau

__ADS_1


kita pacaran,” tegas Ken lagi.


Renata menggeleng, ia belum ingin pacaran. Lagipula


ia masih terlalu muda untuk berpacaran. Mamanya selalu mengatakan hal itu. Renata


tidak akan bisa puas bermain kalau pacaran, apalagi menikah muda.


“Ken, kita ini masih muda. Masih belajar, masih sekolah.


Tugas numpuk, belajar, berorganisasi. Nggak akan punya waktu untuk pacaran.


Coba kamu inget lagi, berapa lama aku bisa online ngobrol sama kamu?” tanya


Renata.


Ken nyengir, dalam sehari, belum tentu Renata


menyentuh kotak game-nya. Gadis itu sangat sibuk di meja belajarnya saat Ken


berusaha mengintip apa yang sedang dilakukan Renata.


Reynold yang mendengarkan dari tempat makan,


mengacungkan tinjunya ke atas, hampir mengenai dagu Reva yang baru kembali dari


toilet. Reva dengan kejam menoyor kepala ponakannya itu.


“Lo mau nonjok gue?” tanya Reva.


Reynold menyuruh Reva diam, agar ia bisa konsen


menguping Ken yang tidak berusaha lagi menyatakan cintanya pada Renata. Akibatnya


sebuah pukulan melayang mengenai kepala Reynold.


“Dasar ponakan sableng!” maki Reva kesal.


Reynold mengelus kepalanya yang sakit. Sepertinya


Renata dan Ken sudah kembali. Reynold melihat ke depan, mejanya masih bersih.


Seharusnya sudah ada dessert untuk Renata di sana. Cepat-cepat Reynold


mendekati pelayan dan memesan dessert spesial untuk pujaan hatinya.


Ken dan Renata kembali ke tempat makan, Renata


kembali duduk di samping Reynold dan Ken menghempaskan tubuhnya dikursi di


samping Kaori.


“Ken? Kamu darimana?” tanya Kaori kepo.


“Habis nembak cewek, trus di tolak. Kamu lagi makan


apa?” tanya Ken melihat tiramisu di atas meja.


“Serius? Itu tiramisu. Ada cherry-nya kayaknya. Ambilin


dong,” kata Kaori.


Ken mengambil piring berisi tiramisu itu lalu


mendekatkan cherry ke bibir Kaori. Tapi gadis itu menyodorkan cherry itu kepada


Ken.


“Kemarin kan aku udah makan cherry-nya. Sekarang


kamu yang makan,” kata Kaori.


“Tapi kan kamu suka banget sama cherry. Buat kamu


aja ya. Aku makan cake-nya aja. Buka mulut,” kata Ken cepat sambil mendekatkan


cherry ke bibir Kaori. Akibatnya krim yang menempel di cherry itu tertinggal sedikit


di sudut bibir Kaori. Ken mengambilkan tisu lalu mengelap bibir Kaori.


Alex dan Mia sampai melotot kaget melihat kemesraan


keduanya. Sejak kapan Ken dan Kaori bisa seakrab itu. Keduanya juga bisa


nyambung ngobrol tentang sesuatu yang menurut Alex dan Mia tidak terlalu


penting. Untung saja , acara mereka di taman bermain itu hampir berakhir.


Ken melambaikan tangannya pada Kaori yang juga


melambaikan tangan ke arah Ken. Mereka segera masuk ke mobil yang sudah


disiapkan, meninggalkan taman bermain itu. Ken mengalihkan pandangannya dari


mobil yang membawa Kaori dan Renata. Ia menoleh kebelakang lalu bicara dengan


sopirnya.


“Kita pulang, pak,” kata Ken sambil mengeluarkan


botol kecil yang berisi rambut milik Mia.


**


Pengungkapan identitas Ken dan Renata masih lama ya

__ADS_1


guys. Bakalan gabung di novel berikutnya. Termasuk juga nasib Endy dan Kinanti


di tangan Ken.


__ADS_2