
Kembali lagi ke
rumah Katty yang mulai melempar bantal di sofanya. Ia teringat kata-kata Pak
Anton dan mengepalkan tangannya dengan geram.
Katty : “Bilang mau
nikah sama aku, malah senang-senang sama cewek lain. Brengsek! Harus aku kasi
pelajaran!”
Katty mengambil
kunci mobil dan tasnya, ia bahkan hanya memakai sandal rumahan yang gak jelas saat
masuk ke dalam mobilnya dan menjalankan mobil menuju hotel milik papa Jodi
dengan kecepatan tinggi.
*****
Flash back...
Katty mengetuk
pintu ruang kerja Anton, ia dipersilakan masuk. Kattty membuka pintu lebih
lebar dan melangkah masuk.
Anton : “Katty...
masuk dulu. Bagaimana pekerjaanmu? Sudah selesai?”
Katty : “Sudah, pak
Anton. Saya sudah sampaikan kepada tim beberapa hal yang perlu untuk
dipersiapkan di awal pekerjaan. Dua hari lagi saya akan datang untuk mengecek
pekerjaan mereka.”
Anton : “Bagus
sekali. Kamu sudah kenal Pak Dika, kan. Dia senior di kantor ini dan jadi
pengawas untuk projek kali ini. Kamu bisa tanya dia kalau ada sesuatu yang belum
jelas atau janggal ya.”
Katty : “Baik, pak
Anton.”
Anton : “Katty,
mungkin apa yang saya akan sampaikan sebentar lagi tidak akan mudah kamu
terima.”
Katty : “Ada apa,
pak?”
Anton : “Kita duduk
dulu ya.”
Anton mengajak
Katty duduk di sofa. Anton mengambil nafas panjang sebelum mulai bicara pada
Katty,
Anton : “Begini,
Katty. Saya paham sekali hubungan antara kamu dan Jodi, tentang hubungan yang
saling menguntungkan.”
Katty : “Maksud
bapak?”
Anton : “Saya
langsung saja ke intinya ya, saya sudah menjodohkan Jodi dengan seorang wanita
cantik dan muda. Yah, seumur kamulah. Jodi sudah kenal baik wanita ini dan
sepertinya Jodi tertarik untuk menikahinya.”
Deg! Hati Katty hancur
seketika, ia meremas tas tangannya sampai menimbulkan bekas yang mungkin akan
susah dihilangkan. Anton diam sejenak memperhatikan perubahan pada raut wajah
Katty.
Anton : “Apa kamu
baik-baik saja, Katty?”
Katty : “Ya... apa,
pak? Saya baik... sangat baik.”
Katty mencoba
tersenyum sekilas dan kembali menatap kosong ke depan.
Anton : “Mereka
saat ini sedang dalam perjalanan ke hotel milik saya. Jodi bilang akan dinner
dengan wanita itu di penthouse dan mungkin mereka akan bersenang-senang disana.”
Katty : “Mereka ke
penthouse... Maksud bapak, Jodi akan segera menikah kan?” Katty seolah berkata
__ADS_1
pada dirinya sendiri, tapi ia segera sadar dan balik bertanya pada Pak Anton.
Anton : “Iya,
secepatnya. Mungkin 2 sampai 3 bulan lagi. Kita perlu perlu persiapan yang
matang kan?”
Katty : “Ach, iya.
Persiapan pernikahan ya...”
Anton : “Apa kamu
bisa membantu persiapannya?”
Katty : “Apa?! Saya
cukup sibuk sih, pak. Lagipula ada WO yang bisa membantu persiapannya, kan?”
Anton : “Sayang
sekali. Padahal Jodi pasti lebih senang kalau kamu juga membantu persiapannya.”
Katty : “Mungkin
juga tidak, pak. Kalau begitu saya permisi dulu, pak Anton. Sampai jumpa lagi.”
Anton : “Kau yakin,
kau baik-baik saja kan? Wajahmu pucat.”
Katty : “Mungkin
saya kecapean, pak. Saya akan pulang dan istirahat. Terima kasih, pak. Saya
permisi dulu.”
Anton : “Ya,
hati-hati di jalan.”
Katty melangkah
dengan gontai menuju lift. Ia menekan tombol ke tempat parkir di bawah dan
segera masuk ke mobilnya. Ia menahan tangisannya dan tidak mau menangis di parkiran
kantor Pak Anton.
Flash back end...
*****
Katty melangkah
dengan cepat memasuki lobby hotel, setelah memarkir mobilnya di tempat parkir.
Ia menghampiri resepsionis yang menatapnya dengan pandangan aneh.
Katty : “Permisi,
Resepsionis : “Silakan,
nona Katty.” Resepsionis mengantar Katty memasuki lift,
Katty : “Tunggu,
dari mana mbak tahu nama saya?”
Resepsionis : “Saya
hanya diminta mengantar nona ke penthouse yang terletak di lantai paling atas
hotel ini. Mohon maaf sebelumnya, apa nona memerlukan waktu untuk memperbaiki
riasan?”
Katty : “Apa?
Kenapa?”
Katty bercermin
pada dinding lift dan berteriak histeris,
Katty : “Aarrgghh!!
Kenapa jelek sekali? Bisa minta tolong hentikan liftnya sebentar?”
Resepsionis : “Baik,
nona.”
Resepsionis itu
menekan tombol berhenti pada lift dan Katty dengan cepat membuka tasnya. Ia
mengeluarkan tas make-upnya dan mulai memperbaiki dandanannya yang sudah gak
jelas karena menangis histeris.
Setelah selesai memperbaiki
riasannya, Katty menyisir rambutnya dengan cepat dan berdiri dengan tegak
kembali. Resepsionis sampai melongo melihat kecantikan Katty, tanpa memperbaiki
make-upnya Katty sebenarnya sudah cantik. Sekarang setelah memperbaiki riasannya,
Katty semakin bertambah cantik.
Katty : “Mbak,
kenapa bengong? Jalan lagi, mbak.”
Resepsionis : “Eh,
maaf nona. Habisnya nona cantik sekali.”
Katty : “Mbak bisa
__ADS_1
aja.”
Ting! Pintu lift
terbuka di lantai penthouse, resepsionis itu mempersilakan Katty masuk dan
menutup pintu lift kembali. Katty menarik nafas panjang, pikirannya kosong, ia
tiba-tiba ragu untuk berjalan masuk.
Bayangannya Jodi
sedang memeluk wanita lain dan menciumnya, mulai membuat darah Katty mendidih.
Katty mengepalkan tangannya, ia harus membereskan masalah ini dan memergoki
Jodi sekarang.
Katty berjalan
mendekati meja makan yang sudah dihiasi lilin dan bunga mawar,
Katty : “Bahkan dia
menyiapkan candle light dinner. Jodi gak pernah ngajak aku candle light dinner.”
Gumam Katty sedih.
Bibir Katty semakin
cemberut, ia ingin menarik kain yang menutupi meja makan itu tapi diurungkan.
Urusannya hanya memergoki Jodi dan meminta penjelasannya saja.
Langkahnya beralih
mendekati kamar yang tertutup.
Katty : “Apa mereka
ada di dalam sini? Kenapa gak kedengeran apa-apa?”
Katty menempelkan
telinganya ke daun pintu dan mencoba mendengarkan apa yang terjadi di dalam.
Sepi. Perlahan Katty memutar handle pintu, ia terpesona melihat dekorasi kamar
yang sangat romantis.
Mata Katty
menyusuri bunga mawar merah yang menghiasi setiap sudut kamar. Bahkan diatas
ranjang juga ada kelopak mawar yang dibentuk hati.
Katty : “Jodi gak
pernah nglakuin ini buat aku. Tapi sama wanita ini, dia sampai menyiapkan ini
semua.”
Mata Katty berhenti
pada lingerie merah yang tergeletak di kaki ranjang. Ia mengangkat lingerie itu
dan tercium wangi parfum Jodi dari sana.
Katty : “Apa kamu
memeluk wanita itu? Saat dia memakai lingerie ini. Hiks. Hiks. Jahat banget...”
Katty mengusap air
matanya, ia melihat sekeliling, hanya ada kemeja dan celana Jodi yang
tergeletak di atas sofa. Ia ingat pakaian Jodi karena selalu dia yang
menyiapkan keperluan Jodi sebelum berangkat ke kantor.
Katty menoleh menatap
pintu terakhir di kamar itu. Pintu kamar mandi, ada suara air dari dalam sana.
Katty : “Kamu pasti
lagi di dalam sana sama wanita itu. Pria brengsek!”
Katty melampiaskan
kekesalannya pada kemeja Jodi yang masih ada di genggamannya. Kemeja itu sampai
sobek, lecek, dan kotor. Ia menghempaskan kemeja Jodi yang udah gak berbentuk
lagi ke bawah sofa dan menginjaknya dengan sadis.
Dengan langkah
cepat, Katty mendekati pintu kamar mandi dan hampir mengetuk pintu dengan
kekesalan yang memuncak, tapi pintu kamar mandi keburu terbuka.
🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca
novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk
Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya
para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak
ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
🌲🌲🌲🌲🌲
__ADS_1