Duren Manis

Duren Manis
Ketemu kakek


__ADS_3

Sore itu, Rebecca mengantar mereka berempat menemui kakek Elo. Mereka duduk bersama di ruang


makan sambil menikmati cemilan sore dan teh hangat.


Kakek : “Selamat datang, Riri. Dan ini siapa?”


Riri : “Kakek, ini Rio, adik kembar Riri dan Kaori, teman baik Riri.”


Rio : “Kakek, terima kasih sudah mengundang kami kesini.”


Kakek : “Hoho... Anak muda sopan sekali. Semoga kalian bersenang-senang disini ya.”


Elo : “Kakek, kenapa kakek memanggil Elo kesini?”


Kakek : “Angelo, kakek ingin kamu segera berangkat ke negara AS.”


Elo : “Tapi, kek. Riri belum lulus kuliah, Elo gak mau kesana sendiri.”


Tante Dewi : “Kalau Angelo gak mau kesana sendiri, kamu bisa mengajak Elena kesana.”


Elo menarik nafas mencoba mengurangi kekesalan yang mulai melingkupinya melihat kedatangan Tante


Dewi dan Elena.


Kakek : “Oh, apa Elena mau berangkat kesana?”


Elena : “Tentu saja, kakek. Aku bersedia menemani sepupu kesana.”


Elena berjalan mendekati Elo dan menyentuh pundaknya. Elo menghindar dari Elena, ia menatap


tajam tante Dewi yang tersenyum manis.


 Elo : “Elo gak mau kesana kecuali sama Riri!”


Riri menyentuh lengan Elo, menenangkan emosinya.


Tante Dewi : “Papa lihat, kan. Angelo jadi liar sejak kenal gadis itu. Dasar gadis liar.”


Rio hampir maju ingin melawan kata-kata Tante Dewi, tapi Riri menghentikannya tepat waktu.


Tante Dewi : “Tuch, lihat saudaranya juga sama saja. Gak sopan.”


Elo : “Tante jangan ikut campur urusanku sama kakek.”


Elena : “Angelo! Jangan bentak mamaku. Mama cuma ingin kita bisa berangkat bersama. Aku akan


membantumu disana.”


Elo : “Kakek bisa mengirim Elena kesana, Elo gak mau tanpa Riri.”


Mama Ratna : “Kalau gitu Elo dan Riri berangkat saja.”


Mama Elo datang tepat waktu sebelum kakek mulai marah dan mengambil keputusan yang salah.


Mama Ratna : “Riri sayang, lama gak ketemu kenapa kamu lebih kurus. Mama akan masak sesuatu


untukmu nanti.”


Tante Dewi : “Ratna, Elena juga baru datang. Kenapa kamu gak masakkan sesuatu juga buat


Elena?”


Elena : “Tante Ratna, kangen dech.”


Elena bergerak hendak memeluk mama Ratna yang langsung menahannya.


Mama Ratna :


“Jangan peluk tante, Elena. Tante lagi gak enak badan, nanti kamu ketularan.”


Riri : “Mama sakit?


Apa sudah ke dokter?”


Elena mundur


selangkah tidak jadi memeluk mama Ratna. Ia sangat takut sakit dan selalu menghindar


dari orang yang sedang sakit.


Mama Ratna : “Mama


sudah membaik berkat Riri. Miss you, dear. Kamu manis sekali.”


Riri tersenyum


manis pada mama Ratna, membuat Elena kesal setengah mati. Satu-satunya cara


hanya membujuk kakek, Elena berjalan mendekati kakek.


Elena : “Kakek,


Elena janji akan membantu Elo bekerja disana.”


Mama Ratna : “Tante


rasa Elena sudah cukup sibuk disini. Ada seseorang yang harus Elena urus disini


kan?”


Elena : “Apa


maksud, tante? Elena gak sibuk kok.”


Mama Ratna : “Oh


ya? Berarti tante salah lihat waktu di salon ya.”


Elena dan Tante


Dewi terdiam, masa iya Ratna melihat Elena di salon bersama Pak Brian.


Mama Ratna : “Ratna


juga mau Elo ditemani Riri, pah. Masalah kuliah, Ratna rasa Riri cukup kompeten


untuk kuliah di kampus yang sama dengan Elo.”


Kakek : “Jadi Elena


sibuk ya. Kalau Riri tidak keberatan, mau pergi sama Angelo?”


Riri menatap semua


orang disana, dan juga Rio.


Rio : “Kalau kamu


yakin, pergi saja. Ini kesempatan bagus untuk pendidikanmu, Ri. Aku bantu


ngomong sama papa.”


Riri : “Iya, kek.


Riri mau. Tapi harus ijin orang tua Riri dulu.”


Elo : “Aku akan


bicara dengan papamu, Ri. Kita harus menikah.”


Riri : “Menikah?!!”


Mama Ratna :


“Yeeiii... punya mantu juga.”


Kakek : “Bagus,

__ADS_1


bagus.”


Kegembiraan mereka,


membuat Elena dan Tante Dewi putar otak untuk menggagalkan rencana Elo menikahi


Riri.


🌸🌸🌸🌸🌸


Jodi melirik Katty


yang sejak tadi sibuk menatap layar ponselnya. Ia bergerak mendekati Katty,


duduk di sampingnya. Katty masih asyik menatap layar ponselnya.


Jodi : “Kamu


ngapain sih? Asyik banget.”


Katty : “Lagi


ngepoin Pak Brian.”


Jodi : “Ngapain


kamu ngepoin dia?” Jodi mulai gak sabaran dan mengambil ponsel Katty.


Ia melihat


foto-foto pak Brian bersama seorang wanita yang hot banget.


Jodi : “Besar juga


ya.”


Jodi membandingkan


ukuran dada Katty dengan wanita yang duduk di pangkuan Pak Brian.


Katty : “Ish, dasar


laki-laki mesum!”


Jodi : “Tapi pasti


gak asli. Mana ada yang bisa sebesar itu dengan alami. Gak kayak kamu, pasti


besar dengan alami.”


Jodi menekan dada


Katty, membuat wanita itu kesal dan mengambil ponselnya lagi.


Katty : “Sudah,


jangan ganggu aku.”


Jodi : “Kamu gak


boleh liat pria lain kalau sama aku. Sini.”


Jodi melemparkan


ponsel Katty ke sofa di sampingnya. Ia menahan tubuh Katty agar tidak beranjak


dan mulai menyusupkan tangannya ke balik kaos Katty.


Katty : “Jodi,


jangan disini.”


Jodi : “Kenapa?


Disini cuma ada kita, kita bisa melakukannya dimana saja.”


Katty sampai terlepas dari tubuhnya. Ia mengangkat tubuh Katty agar duduk di


pangkuannya. Katty menahan tubuhnya saat Jodi mulai menyusuri leher dan


dadanya.


Katty : “Lakukan


cepat.”


Jodi : “Mana


asyiknya kalau cepat-cepat.”


Katty : “Tanteku...


mau datang...”


Jodi : “Oh, well.


I’ll do my best.”


Katty merasakan


nafas panas Jodi berhembus di daerah sensitifnya. Ia hanya pasrah menikmati


sentuhan Jodi sampai lupa menyuruh Jodi memakai pengaman.


Setelah menuntaskan


hasratnya dan berhasil membuat Katty menjerit keenakan, Jodi membawa Katty ke


dalam kamar mandi. Mereka mandi bersama, sampai bel pintu rumah berbunyi.


Katty : “Jodi,


bukain pintunya dong. Aku belum selesai nich.”


Jodi : “Iya,


sabar.”


Jodi memakai


kembali pakaiannya dengan cepat dan keluar dengan rambut yang masih basah. Ia


mengibaskan rambutnya sebentar sebelum membuka pintu. Kening Jodi mengkerut


melihat perempuan cantik berhijab berdiri di depannya, sekilas mirip dengan


Katty.


Anisa : “Selamat


sore, maaf ini benar rumahnya Katty?”


Jodi : “Oh,


tantenya Katty ya?”


Anisa : “Iya, saya


Anisa. Kattynya ada?”


Jodi : “Masuk dulu,


tante. Silakan duduk.”


Jodi bingung


melihat tantenya Katty terlihat muda sekali. Katty yang sudah selesai mandi,

__ADS_1


segera keluar dari kamar.


Katty : “Tante, apa


kabar?”


Anisa : “Katty, aku


baik. Gimana kabarmu? Ini suamimu?”


Katty : “Ini Jodi,


tante. Dia...”


Jodi : “Saya Jodi,


tante. Calon suaminya Katty.”


Anisa : “Oh, calon


suami. Mamamu kok gak pernah cerita ya?”


Katty : “Jangan


bilang mama ya, tante. Katty belum bilang sama mama.”


Anisa : “Tapi orang


tua Jodi, uda setuju kan?”


Jodi : “Setuju,


tante. Tapi ada syaratnya, Katty disuruh kerja sama papa dulu. Kalau capai


target, baru dech akan dipertimbangkan. Mana Kattynya belum setuju lagi. Saya


dengan terpaksa harus membuatnya hamil dulu, biar mau nikah sama saya.”


Jodi sudah berdiri


dan berjalan ke arah dapur sebelum Katty mencubit lengannya karena bicara


terlalu banyak.


Anisa : “Beneran,


Katty?”


Katty : “Gitu dech,


tante. Katty pusing ach, mikirin itu. Makanya gak berani ngasi tau mama.”


Anisa : “Aku lihat


dia sangat mencintai kamu, Katty. Terima aja lamarannya.”


Katty : “Katty


masih terlalu muda buat nikah, tante. Tante aja belum nikah sampai sekarang.”


Anisa : “Tante


jangan ditungguin, kebanyakan laki-laki yang ngejar tante ngajaknya pacaran


melulu. Belum ada yang serius nglamar.”


Katty : “Kalau ada


yang nglamar, tante mau terima?”


Anisa : “Tergantung


juga. Baik gak, agamanya bagus gak, kan harus seiman juga. Dan juga punya


pekerjaan yang bagus.”


Katty : “Banyak banget


syaratnya, kapan dong tante ketemu jodoh kalo gitu.”


Ting, tong! Suara


bel pintu terdengar lagi. Jodi berjalan cepat membawa nampan berisi 2 cangkir


teh dan meletakkannya di meja di depan Katty.


Jodi : “Silakan


diminum, tante. Saya buka pintu dulu.”


Katty : “Siapa yang


dateng?”


Jodi : “Guntur.”


Jodi membuka pintu


dan masuk bersama Guntur.


Guntur : “Selamat


sore, Bu Katty. Selamat sore...”


Jodi menoleh


menatap Guntur yang bengong melihat Anisa. Katty juga bingung melihat Anisa


bengong menatap Guntur.


Anisa : “Guntur?”


Guntur : “Anisa?”


Jodi : “Kalian


saling kenal?”


Katty : “Tante udah


kenal?”


Jodi saling pandang


dengan Katty melihat kebetulan ini.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk


membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu


untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah


seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan


siarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi


banyak ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk


author.

__ADS_1


🌲🌲🌲🌲🌲


__ADS_2