
Suasana tenang di
pagi hari yang cerah, Dion menguap lebar sambil membuat kopi untuk dirinya
sendiri. Semalam ia tidur jam 3 pagi karena suara berisik dari kamar Elo baru
kelar setelah lewat jam segitu. Lili yang baru masuk ke dapur untuk memeriksa
menu makanan untuk Riri dan juga jadwalnya pagi itu, melirik Dion yang berdiri
sambil menunduk.
Lili : “Dion, apa
nona sudah bangun?”
Dion : “...”
Lili : “Dion?” Lili
berdecak kesal. Apa Dion masih marah gara-gara semalam?
Saat Lili berdiri
di samping Dion, ia mendengar dengkuran halus, Lili melihat cangkir kopi di
depan Dion yang belum sempat ia seduh. Lili menarik cangkir kopi sedikit
menjauh dan menuangkan air panas ke dalam cangkir itu. Suara denting sendok
mengenai cangkir, membuat Dion tersentak.
Lili : “Pagi, ini
kopimu.”
Dio : “Makasih...
apa kau akan membuatkan aku kopi kalau kita sudah menikah nanti?”
Lili membekap mulut
Dion dengan tangannya, matanya mengawasi sekitar mereka, hanya ada koki dan
sepertinya ia sedang sibuk membuat sarapan.
Lili : “Jangan
ngomong sembarangan. Tidak ada pernikahan. Okey.”
Dion : “Tapi tuan
muda maunya begitu.”
Lili : “Tuan muda
hanya bercanda, apa kau tidak bisa bercanda?”
Dion : “Tapi
semalam... kau... kita..”
Lili melotot
melihat Dion mengerucutkan bibirnya. Kesal, Lili mendorong Dion dan berjalan
mendekati koki. Ia memeriksa makanan untuk Riri, dan memberitahu koki untuk
menyiapkan susu persiapan kehamilan yang instruksikan Ny. Amira dalam lembar
tugas Lili.
Dion : “Tuan muda
belum bangun. Sudah pasti nona juga belum. Apa kau tidak tahu mereka semalam
tidur jam berapa?”
Lili : “Jam
berapa?”
Dion : “Jam 3 pagi.
Aku mau tidur lagi, bangunkan aku kalau mereka sudah bangun.”
Lili : “Ya,
baiklah.”
Dion menghabiskan
kopinya dan kembali menguap, Lili hanya berpaling sebentar dan Dion sudah
menghilang dari dapur.
Skip pengantin
baru, nanti juga bangun sendiri.
*****
Mia melihat jam di
atas kamar Rara, sudah hampir jam 6.30 pagi tapi Rio dan Kaori belum turun
__ADS_1
juga. Sedikit curiga, Mia menatap tangga menuju lantai 2.
Mia : “Bu, Mia
keatas dulu ya. Kayaknya anak-anak diatas belum bangun.”
Nenek hanya
manggut-manggut, nenek sedang mengoleskan selai ke roti bakar milik Alex. Mia
berjalan menaiki tangga, ia ke kamar Riri dulu. Tok, tok...
Mia : “Kaori?”
Hening tidak ada
jawaban. Mia membuka pintu dan melihat kamar itu kosong. Deg. Jantung Mia
bergemuruh seketika, apa mungkin yang sedang ia pikirkan barusan sudah terjadi.
Mia menutup pintu kamar Riri. Ia menatap pintu kamar Rio yang sepertinya tidak
tertutup dengan baik.
Pelan-pelan, Mia
berjalan mendekati kamar Rio. Ia menyiapkan jantungnya dulu agar tidak terlalu
terkejut saat melihat apa yang mungkin terjadi di dalam sana. Di dalam kamar,
Mia melihat Rio tidur sambil memeluk Kaori yang membelakanginya. Tubuh Kaori
terbungkus selimut, sementara Rio masih memakai pakaian tidurnya.
Mia menarik nafas
lega, sepertinya tidak terjadi apa-apa semalam. Tapi kenapa Kaori bisa ada di
kamar Rio? Tring! Tring! Suara ponsel yang cukup keras diatas meja membangunkan
Kaori. Mia mengerutkan keningnya, nada alarm di ponsel itu mirip nada penjual
es krim Wa**s yang bisa lewat dijalan. Kaori celingukan sebentar, sebelum
mengulurkan tangannya ke atas meja, mengambil ponsel yang tersambung dengan
charger itu.
Kaori : “Uda jam
setengah tujuh.”
Kaori merenggangkan
dadanya dan menunduk lega ketika melihat pakaian tidurnya masih utuh. Tangan
Kaori mengguncang bahu Rio.
Kaori : “Rio,
bangun. Uda siang nich. Kita harus ke kampus.”
Rio : “Mmm... ntar
lagi.”
Kaori : “Cepetan
bangun!”
Melihat Rio malas
bangun, Kaori mengutak-atik ponselnya. Ia mendekatkan ponselnya ke dekat hidung
Rio dan menutup sebelah telinganya. Kriiinggg!!!! Bunyi nyaring muncul dari
ponsel Kaori, langsung membuat Rio terduduk.
Rio : “Haduh,
berisik banget! Aku dah bangun.”
Kaori : “Hehe... Aku
mandi duluan ya.”
Rio : “Ntar dulu...
Cium aku.”
Kaori : “Nggak!!”
Grep! Tubuh Kaori
terbelenggu lengan kekar Rio yang dengan mudah memerangkap tubuhnya. Cup! Rio
mengecup bibir Kaori, ******* bibir kekasihnya itu sampai Kaori ngos-ngosan.
Kaori :
“Lep...pas...”
Rio mengendurkan
pelukannya, ia tersenyum menatap wajah Kaori yang cemberut dan merona.
__ADS_1
Disingkirkannya rambut yang menutupi wajah kekasih hatinya itu.
Rio : “Aku harap
bisa melihat wajah cantikmu setiap bangun pagi.”
Kaori : “Mana bisa,
ada belekan nich, iler juga. Dimana cantiknya.”
Mia :
“Buahahahahaha...” meledak tawa Mia di depan pintu kamar, ia sudah menahannya
sejak Kaori menghidupkan alarm untuk membangunkan Rio.
Rio : “Mamah...!!”
Kaori :
“Kakak...!!”
Mia menghilang dari
depan pintu kamar, tapi suara tawanya masih terdengar bersamaan dengan langkah
kakinya menuruni tangga. Kaori cepat-cepat bangun dari atas tempat tidur Rio,
ia mencabut charger dari ponselnya dan segera keluar dari sana.
Mia cekikikan
sambil menuruni tangga, membuat nenek kebingungan. Nenek tidak melihat siapapun
di belakang Mia,
Nenek : “Dimana
mereka? Kenapa kamu ketawa gitu?”
Mia : “Baru bangun,
bu. Mereka berdua lucu ya kalo diperhatikan.”
Nenek : “Apa sich?”
nenek mulai kepo.
Mia : “Eh, mas Alex
mana?” Mia bingung karena suaminya juga belum muncul di meja makan.
Nenek : “Gak tau,
tidur lagi kali.”
Mia : “Tadi udah
bangun kok.”
Mia beranjak ke
kamarnya, ia melihat suaminya molor lagi di bawah selimut.
Mia : “Iih, mas.
Bangun dong. Ntar telat ke kantor loh.” Mia menarik-narik tangan Alex.
Alex : “Aku
ngantuk, siangan dikit berangkatnya. Sini.”
Alex menarik tangan
Mia dan menjatuhkannya di samping Alex. Untuk membungkam Mia, Alex
menghujaninya dengan ciuman yang membara. Menelusuri setiap jengkal tubuh Mia
yang bergetar setiap Alex mempermainkan area sensitifnya. Alex menarik Mia
duduk diatasnya.
Rambut Mia bergerak
ke kiri dan ke kanan seiring hentakan Alex. Alex melakukannya sangat cepat
sampai Mia tidak punya kesempatan untuk berpikir lagi.
Mia : “Maass...”
Alex : “Apa,
sayang?”
Mia : “Kasi...”
🌻🌻🌻🌻🌻
Kasi vote lagi dong
kk. Author kepanasan sendiri.
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).
__ADS_1