Duren Manis

Duren Manis
Kurang tidur


__ADS_3

Suasana tenang di


pagi hari yang cerah, Dion menguap lebar sambil membuat kopi untuk dirinya


sendiri. Semalam ia tidur jam 3 pagi karena suara berisik dari kamar Elo baru


kelar setelah lewat jam segitu. Lili yang baru masuk ke dapur untuk memeriksa


menu makanan untuk Riri dan juga jadwalnya pagi itu, melirik Dion yang berdiri


sambil menunduk.


Lili : “Dion, apa


nona sudah bangun?”


Dion : “...”


Lili : “Dion?” Lili


berdecak kesal. Apa Dion masih marah gara-gara semalam?


Saat Lili berdiri


di samping Dion, ia mendengar dengkuran halus, Lili melihat cangkir kopi di


depan Dion yang belum sempat ia seduh. Lili menarik cangkir kopi sedikit


menjauh dan menuangkan air panas ke dalam cangkir itu. Suara denting sendok


mengenai cangkir, membuat Dion tersentak.


Lili : “Pagi, ini


kopimu.”


Dio : “Makasih...


apa kau akan membuatkan aku kopi kalau kita sudah menikah nanti?”


Lili membekap mulut


Dion dengan tangannya, matanya mengawasi sekitar mereka, hanya ada koki dan


sepertinya ia sedang sibuk membuat sarapan.


Lili : “Jangan


ngomong sembarangan. Tidak ada pernikahan. Okey.”


Dion : “Tapi tuan


muda maunya begitu.”


Lili : “Tuan muda


hanya bercanda, apa kau tidak bisa bercanda?”


Dion : “Tapi


semalam... kau... kita..”


Lili melotot


melihat Dion mengerucutkan bibirnya. Kesal, Lili mendorong Dion dan berjalan


mendekati koki. Ia memeriksa makanan untuk Riri, dan memberitahu koki untuk


menyiapkan susu persiapan kehamilan yang instruksikan Ny. Amira dalam lembar


tugas Lili.


Dion : “Tuan muda


belum bangun. Sudah pasti nona juga belum. Apa kau tidak tahu mereka semalam


tidur jam berapa?”


Lili : “Jam


berapa?”


Dion : “Jam 3 pagi.


Aku mau tidur lagi, bangunkan aku kalau mereka sudah bangun.”


Lili : “Ya,


baiklah.”


Dion menghabiskan


kopinya dan kembali menguap, Lili hanya berpaling sebentar dan Dion sudah


menghilang dari dapur.


Skip pengantin


baru, nanti juga bangun sendiri.


*****


Mia melihat jam di


atas kamar Rara, sudah hampir jam 6.30 pagi tapi Rio dan Kaori belum turun

__ADS_1


juga. Sedikit curiga, Mia menatap tangga menuju lantai 2.


Mia : “Bu, Mia


keatas dulu ya. Kayaknya anak-anak diatas belum bangun.”


Nenek hanya


manggut-manggut, nenek sedang mengoleskan selai ke roti bakar milik Alex. Mia


berjalan menaiki tangga, ia ke kamar Riri dulu. Tok, tok...


Mia : “Kaori?”


Hening tidak ada


jawaban. Mia membuka pintu dan melihat kamar itu kosong. Deg. Jantung Mia


bergemuruh seketika, apa mungkin yang sedang ia pikirkan barusan sudah terjadi.


Mia menutup pintu kamar Riri. Ia menatap pintu kamar Rio yang sepertinya tidak


tertutup dengan baik.


Pelan-pelan, Mia


berjalan mendekati kamar Rio. Ia menyiapkan jantungnya dulu agar tidak terlalu


terkejut saat melihat apa yang mungkin terjadi di dalam sana. Di dalam kamar,


Mia melihat Rio tidur sambil memeluk Kaori yang membelakanginya. Tubuh Kaori


terbungkus selimut, sementara Rio masih memakai pakaian tidurnya.


Mia menarik nafas


lega, sepertinya tidak terjadi apa-apa semalam. Tapi kenapa Kaori bisa ada di


kamar Rio? Tring! Tring! Suara ponsel yang cukup keras diatas meja membangunkan


Kaori. Mia mengerutkan keningnya, nada alarm di ponsel itu mirip nada penjual


es krim Wa**s yang bisa lewat dijalan. Kaori celingukan sebentar, sebelum


mengulurkan tangannya ke atas meja, mengambil ponsel yang tersambung dengan


charger itu.


Kaori : “Uda jam


setengah tujuh.”


Kaori merenggangkan


dadanya dan menunduk lega ketika melihat pakaian tidurnya masih utuh. Tangan


Kaori mengguncang bahu Rio.


Kaori : “Rio,


bangun. Uda siang nich. Kita harus ke kampus.”


Rio : “Mmm... ntar


lagi.”


Kaori : “Cepetan


bangun!”


Melihat Rio malas


bangun, Kaori mengutak-atik ponselnya. Ia mendekatkan ponselnya ke dekat hidung


Rio dan menutup sebelah telinganya. Kriiinggg!!!! Bunyi nyaring muncul dari


ponsel Kaori, langsung membuat Rio terduduk.


Rio : “Haduh,


berisik banget! Aku dah bangun.”


Kaori : “Hehe... Aku


mandi duluan ya.”


Rio : “Ntar dulu...


Cium aku.”


Kaori : “Nggak!!”


Grep! Tubuh Kaori


terbelenggu lengan kekar Rio yang dengan mudah memerangkap tubuhnya. Cup! Rio


mengecup bibir Kaori, ******* bibir kekasihnya itu sampai Kaori ngos-ngosan.


Kaori :


“Lep...pas...”


Rio mengendurkan


pelukannya, ia tersenyum menatap wajah Kaori yang cemberut dan merona.

__ADS_1


Disingkirkannya rambut yang menutupi wajah kekasih hatinya itu.


Rio : “Aku harap


bisa melihat wajah cantikmu setiap bangun pagi.”


Kaori : “Mana bisa,


ada belekan nich, iler juga. Dimana cantiknya.”


Mia :


“Buahahahahaha...” meledak tawa Mia di depan pintu kamar, ia sudah menahannya


sejak Kaori menghidupkan alarm untuk membangunkan Rio.


Rio : “Mamah...!!”


Kaori :


“Kakak...!!”


Mia menghilang dari


depan pintu kamar, tapi suara tawanya masih terdengar bersamaan dengan langkah


kakinya menuruni tangga. Kaori cepat-cepat bangun dari atas tempat tidur Rio,


ia mencabut charger dari ponselnya dan segera keluar dari sana.


Mia cekikikan


sambil menuruni tangga, membuat nenek kebingungan. Nenek tidak melihat siapapun


di belakang Mia,


Nenek : “Dimana


mereka? Kenapa kamu ketawa gitu?”


Mia : “Baru bangun,


bu. Mereka berdua lucu ya kalo diperhatikan.”


Nenek : “Apa sich?”


nenek mulai kepo.


Mia : “Eh, mas Alex


mana?” Mia bingung karena suaminya juga belum muncul di meja makan.


Nenek : “Gak tau,


tidur lagi kali.”


Mia : “Tadi udah


bangun kok.”


Mia beranjak ke


kamarnya, ia melihat suaminya molor lagi di bawah selimut.


Mia : “Iih, mas.


Bangun dong. Ntar telat ke kantor loh.” Mia menarik-narik tangan Alex.


Alex : “Aku


ngantuk, siangan dikit berangkatnya. Sini.”


Alex menarik tangan


Mia dan menjatuhkannya di samping Alex. Untuk membungkam Mia, Alex


menghujaninya dengan ciuman yang membara. Menelusuri setiap jengkal tubuh Mia


yang bergetar setiap Alex mempermainkan area sensitifnya. Alex menarik Mia


duduk diatasnya.


Rambut Mia bergerak


ke kiri dan ke kanan seiring hentakan Alex. Alex melakukannya sangat cepat


sampai Mia tidak punya kesempatan untuk berpikir lagi.


Mia : “Maass...”


Alex : “Apa,


sayang?”


Mia : “Kasi...”


🌻🌻🌻🌻🌻


Kasi vote lagi dong


kk. Author kepanasan sendiri.


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).

__ADS_1


__ADS_2