
Bianca terbangun dengan kondisi tubuh yang lebih baik. Ia sudah bisa berjalan normal setelah minum obat, istirahat dan mengompres perutnya dengan air hangat.
Ia segera mandi dan ganti baju, tidak sabar ingin menemui Ilham yang tidur di sofa ruang tamunya. Semalam ia memberikan bantal dan selimut untuk Ilham agar bisa tidur lebih nyaman.
Bianca keluar dari kamarnya sudah rapi dan cantik. Ia melihat ke sofa dan mendapati Ilham masih tertidur disana. Ia mendekati sofa dan mengamati wajah Ilham.
Sebenarnya Ilham tidak seganteng Alex, tapi bahasa tubuhnya membuat Bianca penasaran. Alex memang menggoda tapi Ilham jauh lebih menarik.
Bianca menyentuh kening Ilham, merapikan rambutnya yang hitam legam. Ia melirik ke balik selimut dan mendapati Ilham tidur tanpa kemejanya. Kemeja Ilham tergeletak di pinggir sofa, terlipat dengan rapi.
Tiba-tiba tangan Bianca dipegang Ilham, ia membuka matanya menatap tajam ke dalam mata coklat Bianca. Lagi, Bianca mengira Ilham akan menciumnya, kali ini ia tidak memejamkan matanya.
Bianca semakin mendekati Ilham, tapi Ilham mendorongnya dan dengan cepat bangkit dari sofa. Bianca merasa sedikit kecewa dengan perlakuan Ilham.
Bianca : "Apa kau membenciku?"
Ilham : "Tidak."
Bianca : "Kalau tidak, kenapa kau tidak mau menerimaku? Aku menyukaimu, Ilham."
Ilham : "Hentikan itu. Kita tidak akan berhasil."
Bianca : "Darimana kau tahu kalau kau tidak memberiku kesempatan."
Ilham : "Hubungan seperti apa yang kau harapkan tidak akan terjadi diantara kita."
Bianca : "Aku mencintaimu, Ilham. Apa itu tidak cukup?"00
Ilham hanya diam, ia mengambil kemejanya dan segera memakainya.
Ilham : "Aku pulang."
Bianca : "Tunggu, aku buatkan kopi ya atau sarapan. Please jangan pergi. Aku gak akan bicara lagi. Please."
Ilham tetap meninggalkan apartment Bianca tanpa menoleh lagi. Bianca menangis sedih, ia mulai capek mengejar Ilham yang bahkan tidak menoleh padanya.
Ponselnya berdering dan papanya kembali menanyakan calon suami Bianca, membuat situasinya semakin buruk.
-------
Bianca tetap datang ke kantor hari itu, ia menyelesaikan pekerjaannya dengan baik dan cepat. Sesekali ia melirik Ilham yang tetap irit bicara dan dingin.
Mia melihat Bianca lebih murung dari biasanya, ia melihatnya melamun saat makan siang di kantin kantor. Bianca tidak terlalu menyentuh makanan yang dibawanya. Padahal menu yang dibawanya lumayan enak aromanya.
Mia memanggil Bianca untuk membicarakan proposal yang dibuatnya.
Mia : "Hasilnya cukup bagus. Kau sudah banyak kemajuan sejak bekerja disini."
Bianca : "Ya, tapi tidak dengan percintaanku."
Mia : "Kau masih belum berhasil dengan Ilham."
Bianca : "Ya begitulah. Aku mau pamit, mulai besok aku gak bisa datang lagi. Papaku minta aku pulang saja. Maaf kalau selama aku disini, aku sering membuatmu khawatir. Aku masih punya rasa sedikit suka sama Alex. Hanya segini."
Bianca menunjukkan ujung kecil dari kelingkingnya.
Bianca : "Tapi aku sudah tidak ada minat merebut Alex lagi. Papaku bilang dia sudah punya calon suami untukku dan pasti aku akan menyukainya. Terima kasih ya, Mia."
Bianca memeluk Mia yang hampir menangis melihat kesedihan Bianca.
__ADS_1
Mia : "Semoga kau bahagia ya."
Bianca : "Aku akan mengundang kalian. Datang ya."
Bianca menahan tangisannya, ia mengusap sudut matanya mencegah air matanya jatuh.
Bianca : "Tolong jangan katakan apa-apa sama Ilham. Dia sudah cukup sibuk bekerja."
Bianca beranjak dari ruang kerja Alex setelah memberikan hardcopy proposalnya dan mengcopykan softcopy ke laptop Alex.
Ia kembali ke ruang kerjanya, Ilham tidak ada disana. Bianca mengambil tasnya dan pergi meninggalkan kantor Alex. Ia merasa sudah cukup dengan Ilham dan bersiap menerima calon suami pilihan papanya.
-----
Mia : "Mas, aku kasian sama Bianca. Kita harus bantu dia."
Alex : "Aduch, gak usah ikut campur dech. Biarin aja mereka punya urusan. Lagian kita gak tahu gimana perasaan Ilham, kan."
Mia : "Kalau gitu, aku punya cara jitu biar kita bisa tahu gimana perasaan Ilham."
Alex : "Gimana?"
Mia tersenyum manis membuat Alex semakin penasaran. Ia meminta Alex memanggil Ilham,
Ilham : "Ya, pak?"
Mia : Ilham, ini proposal yang dibuat Bianca. Semuanya sudah lengkap dan benar. Tolong disimpan. Dan Bianca sudah pamitan, mulai besok dia tidak masuk kerja lagi. Bianca akan menikah."
Ilham : "...Baik, bu. Ada lagi?"
Mia : "Tidak untuk sekarang. Terima kasih ya."
Ilham keluar dari ruang kerja Alex, ia menggenggam proposal ditangannya dengan erat. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya.
Ilham diam, menenangkan perasaannya yang campur aduk. Sekarang setelah Bianca memutuskan menerima pilihan papanya, ia merasa kesepian. Bisa dibilang ia terbiasa dengan kehadiran Bianca.
-----
Alex tersenyum mendapat chat dari Ilham yang minta ijin mengejar Bianca. Rupanya strategi Mia berhasil.
Alex : "Sayang, Ilham ijin mau ngejar Bianca."
Mia : "Tuch kan. Diem-diem sayang tapi pura-pura gak sayang. Mas kasi ijin?"
Alex : "Iyalah. Hadeh, Wanda mana lagi nich."
Mia : "Bukannya Wanda lagi cuti pulang kampung? Mas perlu apa?"
Alex : "Dokumen untuk meeting besok."
Tok, tok, tok! Ilham masuk ke ruang kerja Alex, ia membawa setumpuk dokumen untuk meeting besok dan juga lusa.
Ilham : "Pak, ini titipan Wanda. Katanya untuk meeting besok dan lusa."
Akex : "Oh, apa dia menghubungimu?"
Ilham : "Iya, pak. Dia bilang dikampungnya susah signal dan ia akan sulit dihubungi."
Alex : "Ok, kau boleh pergi. Terima kasih."
__ADS_1
Mia : "Ilham, semoga berhasil."
Ilham : "Saya tidak yakin, bu. Tapi saya akan coba."
Alex dan Mia berpandangan satu sama lain. Entah bagaimana jadinya dengan Bianca sekarang.
-----
Ilham berlari memasuki apartment Bianca, ia mengetuk pintu tapi tidak ada seorangpun yang membukakan pintu. Sedikit panik ia mencoba menelpon Bianca tapi ponselnya tidak aktif.
Sementara itu Bianca sedang bersiap-siap akan menemui pria pilihan papanya di sebuah restaurant. Papanya sudah memesan tempat untuk mereka. Bianca menatap ponselnya, ia berharap Ilham menelponnya tapi ia sudah memblokir semua akses Ilham agar tidak bisa menghubunginya.
Papa Bianca memanggilnya,
Papa Bianca : "Bianca, ayo cepat berangkat."
Bianca : "Iya, pah. Semoga bisa cocok ya."
Papa Bianca : "Kamu yakin kan? Jangan mempermainkan perasaan orang."
Bianca : "Kan Bianca uda janji sama papa."
Papa Bianca : "Gimana sama... siapa namanya? Ilham?"
Bianca : "Dia gak suka sama Bianca, pah."
Papa Bianca : "Dia bilang alasannya?"
Bianca : "Mungkin karena papa... Maksud Bianca karena papa kaya. Atau mungkin karena Bianca gak menarik."
Bianca tertawa miris, ia tidak terdengar bahagia sama sekali. Setelah dia memutuskan pergi dari kantor Alex, ia baru sadar kalau dia mencintai Ilham sepenuhnya. Dan sekarang sudah terlambat.
Bianca : "Bianca pergi dulu ya, pah. Nanti dia nunggu lama. Papa punya fotonya?"
Papa Bianca : "Gak punya. Nanti juga kalian ketemu, tunggu saja di tempat yang sudah papa pesan."
Bianca : "Ok, pah."
Papa Bianca bisa melihat putrinya tidak bersemangat sama sekali. Ia terlihat murung dan sedih. Papa Bianca menelpon seseorang, mengatakan sesuatu dengan cepat dan menutup telponnya.
Tak lama, papa Bianca mendapat kiriman foto dan chat singkat dari orang yang tadi ditelponnya. Ia tersenyum puas dan meletakkan ponselnya di meja.
------
Bianca sudah sampai di tempat yang ditentukan papanya. Seorang pelayan mengantarnya ke sebuah ruangan yang cukup private. Bianca memesan segelas orange juice untuk menemaninya sambil menunggu.
Setelah orange juice diantarkan ke mejanya, Bianca kembali menunggu. Tak sampai 10 menit kemudian, seseorang mengetuk pintu ruangan itu dan masuk ke dalamnya.
Bianca mengenali orang itu,
Bianca : "Kamu..??!!"
-----
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
--------