
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 2
“Bukan pacar sich, kak. Katanya pria itu
ponakannya. Tapi dari yang aku lihat kayaknya ponakannya suka sama Renata,”
jelas Ken.
“Eh, nggak boleh gitu dong. Mana boleh ponakan suka
sama tantenya sendiri. Eh, boleh nggak sih?” tanya Ginara ragu-ragu.
Ken menertawakan kebingungan Ginara, ia juga
berpikir kalau Reynold seharusnya tidak boleh suka dengan Renata. Tapi seorang
pria yang sudah jatuh cinta, akan melakukan banyak hal untuk bisa memiliki sang
wanita. Mereka berdua asyik mengobrol sampai hari beranjak sore. Ken harus
bersiap untuk menghadiri pesta kalangan atas bersama Alan.
Mereka sering datang ke pesta seperti itu untuk mewakili
Endy sekaligus membangun rekanan untuk Ken. Diluar dugaan saat Ken tiba di
tempat pesta, ia bertemu dengan Steven dan Reynold. Tidak susah menemukan
mereka karena visual Reynold yang ganteng abis, menarik perhatian kaum hawa di
pesta itu.
Ken dan Alan tidak tahu kalau Steven adalah pemilik
perusahaan yang mereka hack tadi. Steven dan Reynold juga tidak tahu kalau Ken
dan Alan adalah hacker yang mereka cari-cari. Saat Ken dan Reynold bertemu,
keduanya saling pandang dengan sangat tajam. Kalau saja itu bukan di tempat
pesta yang eksklusif, mungkin keduanya sudah adu jotos.
“Lo disini,” kata Reynold dingin.
“Lo juga, pedofil,” balas Ken nggak sopan. Padahal
Reynold lebih tua dari Ken.
“Apa lo bilang?” kata Reynold hampir maju mendekati
Ken.
Steven langsung bersalaman dengan Alan, bersikap
seolah mereka teman lama yang baru bertemu. Keduanya menjadi penengah diantara Reynold
dan Ken yang hampir saja bertengkar.
“Lo apa-apaan sich? Emangnya lo kenal dia?” tanya
Reynold yang bingung dengan sikap Steven.
“Kagak lah. Gue nggak mau lo bikin masalah disini.
Lo nggak bisa nahan emosi lo dikit ya,” kata Steven menekan suaranya.
Reynold hampir membalas kata-kata Steven tapi pusat
perhatian pesta tertuju pada si empunya pesta. Malam itu adalah pesta ulang
tahun kakek Michael, pengusaha kaya raya pemilik MK Group, yang juga merupakan
kakek mertua Riri. Kakek Michael akan mengumumkan Angelo dan Riri sebagai pewaris
tunggal kekayaannya. Undangan yang hadir malam itu tentu saja adalah undangan
eksklusif pemegang saham dan juga beberapa pengusaha sukses lainnya.
Kakek Michael turun ke tempat pesta bersama Mama
Ratna, Angelo, Riri, dan juga kedua cucu laki-laki kakek Michael. Donatello dan
Michaelangelo tampak tampan dengan jas yang dipakainya. Mereka berdua mengawal
kakek Michael menuruni tangga lalu berdiri di pinggir dekat tamu undangan.
Alex dan Mia juga turut hadir dalam pesta malam
itu. Keduanya tampak tampan dan cantik dengan balutan pakaian pesta yang
senada. Dibelakang mereka ada Renata dan Kaori yang berjalan turun dengan
hati-hati. Reynold dan Ken terpana melihat kedua gadis cantik yang terlihat
seperti saudara kembar itu.
Saat Kaori berhenti melangkah karena hampir tersandung,
Reynold dan Ken segera berjalan cepat menghampiri kedua gadis itu. Kedua pria
itu saling menatap sebelum meraih tangan Renata dan Kaori. Reynold meraih
tangan Renata, sementara Ken meraih tangan Kaori.
“Kaori. Ini aku, Ken,” kata Ken saat dirasakannya
Kaori ingin menarik tangannya yang digenggam pria itu.
“Ken. Kamu disini juga?” tanya Kaori tersenyum
senang. Mata coklatnya berbinar cerah saat mendengar ada orang lain yang ia
kenal di pesta itu.
“Iya. Ayo, kita turun. Tangganya masih ada sepuluh
lagi,” kata Ken lembut.
“Ken, apa kabar?” tanya Renata menyadarkan Ken akan
__ADS_1
kehadiran gadis itu.
“Baik, Renata. Kamu apa kabar? Kita jarang
komunikasi ya.” Ken melirik Reynold yang sudah berwajah masam. Mau seperti
apapun ekspresi wajah Reynold, tetap saja ganteng.
“Aku cukup sibuk. Tapi kan aku sudah balas chatmu,”
kata Renata lagi.
Reynold mengatakan kalau mereka harus segera turun
karena acaranya akan segera dimulai. Reynold menuntun Renata menuruni tangga
lalu merangkulkan tangan pujaan hatinya itu ke lengan kirinya. Sementara Ken
dengan hati-hati mendampingi Kaori menuruni tangga satu demi satu dengan sabar.
Alex yang melihat Ken memegang tangan Kaori, ingin
mendekati mereka berdua. Tapi Mia segera menahannya, “Biarkan mereka berdua,
mas. Manis banget kan? Gemes liatnya,” kata Mia membuat Alex semakin tidak
tenang.
Pasalnya Kaori sudah tumbuh menjadi gadis remaja
yang semakin cantik dari hari ke hari. Tapi meskipun demikian, kekurangan pada
matanya membuat Alex ekstra ketat mengawasi cucu kesayangannya itu.
“Tapi anak itu pegang-pegang Kaori. Tuch lihat,
ngapain pake pegang pinggang segala,” protes Alex dengan suara rendah.
“Kan Kaori nggak pake tongkatnya, mas. Coba lihat
sikap Ken sangat sopan sama Kaori. Loh, ada Reynold juga ya disini,” kata Mia
yang baru menyadari kalau putrinya berdiri di samping Reynold.
Keduanya tampak sangat serasi disandingkan seperti
itu. Satunya sangat cantik dan satunya lagi sangat tampan. Alex menatap bingung
ke arah Reynold dan Renata. Jelas sekali kalau pesta kali ini hanya dihadiri
pemegang saham MK Group dan beberapa pengusaha sukses. Lalu Reynold datang atas
undangan yang mana?
Alex tidak tahu kalau Reynold dan Steven termasuk
dalam undangan pemegang saham dan pengusaha sukses. Steven mewakili
perusahaannya sebagai pemegang saham MK Group, sedangkan Reynold datang sebagai
wakil dari perusahaan IT terkenal yang merajai dunia IT selama lima tahun
identitasnya.
Reynold tersenyum pada Mia dan Alex yang terus
menatapnya dari tempat mereka berdiri. Ia kembali fokus pada Renata yang
sedikit gelisah di sebelahnya.
“Kamu kenapa, sayang?” tanya Reynold cukup keras
hingga bisa didengar kaum hawa yang mengincar dirinya sejak dimulainya pesta.
“Kakiku pegal, kak. Heels ini tidak nyaman. Padahal
bagus loh. Mahal lagi,” bisik Renata mesra.
“Sini bersandar sama aku,” pinta Reynold.
“Aku nggak berat, kak?” tanya Renata.
“Nggak, sayang,” sahut Reynold membuat Renata gemas
pada pria itu. Gadis itu protes karena Reynold terus memanggilnya dengan
panggilan mesra. Keduanya saling berbisik satu sama lain dengan tubuh Renata semakin
menempel pada tubuh Reynold. Gadis itu merasa lebih ringan setelah bersandar
pada Reynold.
Kemesraan juga terlihat di sebelah Renata dan
Reynold. Ken terus menggenggam tangan Kaori sambil memberitahu apa yang terjadi
di depan mereka.
“Ken, sepertinya pestanya sangat ramai ya,” kata
Kaori di samping telinga Ken. Bibir gadis itu hampir menyentuh pipi Ken yang
sangat dekat dengan wajahnya.
Tepuk tangan bergemuruh terdengar di dalam ruangan
pesta saat kakek Michael memperlihatkan surat pengalihan asetnya menjadi atas
nama Riri dan Angelo. Riri tampak memeluk kakek Michael dan mama Ratna dengan
senyum mengembang. Angelo dan Riri akhirnya menjadi pemilik MK Group
sepenuhnya.
“Iya, ramai sekali, Kaori. Kamu merasa tidak
nyaman? Mau duduk?” tanya Ken.
“Apa boleh duduk?” tanya Kaori lagi sambil menggoyang-goyangkan
__ADS_1
tangannya yang digenggam Ken. Pria itu memperhatikan sekeliling, tidak ada
kursi di ruangan pesta itu. Mereka hanya bisa duduk di balkon.
Ketika sesi foto bersama, Donatelo dan
Michaelangelo membawa Kaori bersama mereka untuk berfoto bersama. Reynold dan
Renata juga ikut mendekat untuk berfoto. Melihat Ken bengong sendirian, Mia
memanggil pria itu untuk bergabung bersama mereka. Ketika Ken berdiri di
samping Kaori dan Mia, Alex menyadari kalau Ken sangat mirip dengan Mia.
Selesai mengambil foto, Ken kembali menuntun Kaori.
Kali ini Ken ingin mengajak Kaori keluar menuju balkon. Ia membawa Kaori mampir
dulu ke meja tempat makanan dan minuman tersaji.
“Kaori, kamu mau makan sesuatu? Disini ada canape
udang, ada kue juga, kamu alergi sesuatu?” tanya Ken penuh perhatian.
“Aku apa aja dech. Nggak ada alergi kok. Minumnya cari
yang dingin ya,” pinta Kaori.
Ken hanya bisa membawa sepiring makanan untuk
mereka berdua karena ia harus menuntun Kaori. Ketika Ken ingin membawa gelas
minuman, Kaori meminta piring makanan itu agar Ken bisa membawa gelas minuman
untuk mereka berdua. Keduanya berjalan menuju balkon dengan tangan Kaori yang
bebas, merangkul lengan kiri Ken.
“Aku jadi ngerepotin kamu ya. Harusnya tadi kita
bergabung saja dengan opa dan oma,” kata Kaori setelah ia bisa merasakan
sandaran balkon.
“Opa sama oma-mu lagi asyik dansa tuch. Kamu mau
duduk?” tanya Ken.
“Apa ada kursi disini?” tanya Kaori.
Ken mengambil piring dari tangan Kaori lalu
meletakknya disamping gelas minuman yang sudah bertengger diatas balkon. Hup!
Kaori merasakan tubuhnya melayang sejenak sebelum akhirnya duduk diatas balkon.
“Ken!” pekik Kaori kaget karena pria itu tidak
memberitahunya lebih dulu. Kedua tangan Kaori mencengkeram pundak Ken. Ia takut
jatuh ke belakang.
“Pegangan sama aku ya.” Ken merangkul pinggang
Kaori.
Senyuman manis Kaori menghipnotis Ken yang tanpa
sadar mulai mendekatkan wajah mereka. “Ken, mana minumannya?” tanya Kaori
menghancurkan momen romantis yang nyaris tercipta.
Ken mengambilkan segelas minuman dan mendekatkannya
ke bibir Kaori. Gadis itu menyesap rasa minuman yang menyegarkan dan memuji
pilihan Ken. Beberapa lembar tisu tampak teronggok di dekat piring mereka, tapi
Ken menggunakan jempolnya untuk mengusap sudut bibir Kaori yang basah.
Kaori membuka mulutnya saat Ken menyodorkan canape
udang. Rasa manis udang membuat Kaori tersenyum girang merasakan makanan enak
itu.
“Wah, enak banget ya. Rasanya pas, sekali gigit
langsung habis. Kamu harus cobain, Ken,” kata Kaori masih mengunyah makanan di
mulutnya.
Sejujurnya, Ken juga merasa sedikit lapar. Tapi
melihat cara Kaori mengunyah makanannya membuat Ken langsung kenyang. Ia tidak
ingin melewatkan momen menatap Kaori tanpa malu karena kepergok orangnya.
Setelah canape di mulut Kaori habis, Ken mendekatkan minuman lagi ke bibir
gadis itu.
“Ken, dari tadi kamu nggak minum ya? Kok kayaknya
cuma aku yang makan sama minum,” kata Kaori lalu mendorong gelas minumannya
agar Ken bisa minum.
Bekas lipstik pink Kaori tampak menempel di gelas
itu. Saat Ken menarik gelasnya, Kaori menyadari kalau Ken minum dari gelas
bekasnya.
“Ken, mana minumanmu? Jangan minum dari gelasku.”
Kaori terlihat bingung dengan kelakuan Ken.
“Nggak apa-apa. Kamu nggak mau sharing sama aku?”
__ADS_1
tanya Ken, meletakkan gelas disampingnya lalu meraih tangan Kaori.