Duren Manis

Duren Manis
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 2


__ADS_3

Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 2


“Bukan pacar sich, kak. Katanya pria itu


ponakannya. Tapi dari yang aku lihat kayaknya ponakannya suka sama Renata,”


jelas Ken.


“Eh, nggak boleh gitu dong. Mana boleh ponakan suka


sama tantenya sendiri. Eh, boleh nggak sih?” tanya Ginara ragu-ragu.


Ken menertawakan kebingungan Ginara, ia juga


berpikir kalau Reynold seharusnya tidak boleh suka dengan Renata. Tapi seorang


pria yang sudah jatuh cinta, akan melakukan banyak hal untuk bisa memiliki sang


wanita. Mereka berdua asyik mengobrol sampai hari beranjak sore. Ken harus


bersiap untuk menghadiri pesta kalangan atas bersama Alan.


Mereka sering datang ke pesta seperti itu untuk mewakili


Endy sekaligus membangun rekanan untuk Ken. Diluar dugaan saat Ken tiba di


tempat pesta, ia bertemu dengan Steven dan Reynold. Tidak susah menemukan


mereka karena visual Reynold yang ganteng abis, menarik perhatian kaum hawa di


pesta itu.


Ken dan Alan tidak tahu kalau Steven adalah pemilik


perusahaan yang mereka hack tadi. Steven dan Reynold juga tidak tahu kalau Ken


dan Alan adalah hacker yang mereka cari-cari. Saat Ken dan Reynold bertemu,


keduanya saling pandang dengan sangat tajam. Kalau saja itu bukan di tempat


pesta yang eksklusif, mungkin keduanya sudah adu jotos.


“Lo disini,” kata Reynold dingin.


“Lo juga, pedofil,” balas Ken nggak sopan. Padahal


Reynold lebih tua dari Ken.


“Apa lo bilang?” kata Reynold hampir maju mendekati


Ken.


Steven langsung bersalaman dengan Alan, bersikap


seolah mereka teman lama yang baru bertemu. Keduanya menjadi penengah diantara Reynold


dan Ken yang hampir saja bertengkar.


“Lo apa-apaan sich? Emangnya lo kenal dia?” tanya


Reynold yang bingung dengan sikap Steven.


“Kagak lah. Gue nggak mau lo bikin masalah disini.


Lo nggak bisa nahan emosi lo dikit ya,” kata Steven menekan suaranya.


Reynold hampir membalas kata-kata Steven tapi pusat


perhatian pesta tertuju pada si empunya pesta. Malam itu adalah pesta ulang


tahun kakek Michael, pengusaha kaya raya pemilik MK Group, yang juga merupakan


kakek mertua Riri. Kakek Michael akan mengumumkan Angelo dan Riri sebagai pewaris


tunggal kekayaannya. Undangan yang hadir malam itu tentu saja adalah undangan


eksklusif pemegang saham dan juga beberapa pengusaha sukses lainnya.


Kakek Michael turun ke tempat pesta bersama Mama


Ratna, Angelo, Riri, dan juga kedua cucu laki-laki kakek Michael. Donatello dan


Michaelangelo tampak tampan dengan jas yang dipakainya. Mereka berdua mengawal


kakek Michael menuruni tangga lalu berdiri di pinggir dekat tamu undangan.


Alex dan Mia juga turut hadir dalam pesta malam


itu. Keduanya tampak tampan dan cantik dengan balutan pakaian pesta yang


senada. Dibelakang mereka ada Renata dan Kaori yang berjalan turun dengan


hati-hati. Reynold dan Ken terpana melihat kedua gadis cantik yang terlihat


seperti saudara kembar itu.


Saat Kaori berhenti melangkah karena hampir tersandung,


Reynold dan Ken segera berjalan cepat menghampiri kedua gadis itu. Kedua pria


itu saling menatap sebelum meraih tangan Renata dan Kaori. Reynold meraih


tangan Renata, sementara Ken meraih tangan Kaori.


“Kaori. Ini aku, Ken,” kata Ken saat dirasakannya


Kaori ingin menarik tangannya yang digenggam pria itu.


“Ken. Kamu disini juga?” tanya Kaori tersenyum


senang. Mata coklatnya berbinar cerah saat mendengar ada orang lain yang ia


kenal di pesta itu.


“Iya. Ayo, kita turun. Tangganya masih ada sepuluh


lagi,” kata Ken lembut.


“Ken, apa kabar?” tanya Renata menyadarkan Ken akan

__ADS_1


kehadiran gadis itu.


“Baik, Renata. Kamu apa kabar? Kita jarang


komunikasi ya.” Ken melirik Reynold yang sudah berwajah masam. Mau seperti


apapun ekspresi wajah Reynold, tetap saja ganteng.


“Aku cukup sibuk. Tapi kan aku sudah balas chatmu,”


kata Renata lagi.


Reynold mengatakan kalau mereka harus segera turun


karena acaranya akan segera dimulai. Reynold menuntun Renata menuruni tangga


lalu merangkulkan tangan pujaan hatinya itu ke lengan kirinya. Sementara Ken


dengan hati-hati mendampingi Kaori menuruni tangga satu demi satu dengan sabar.


Alex yang melihat Ken memegang tangan Kaori, ingin


mendekati mereka berdua. Tapi Mia segera menahannya, “Biarkan mereka berdua,


mas. Manis banget kan? Gemes liatnya,” kata Mia membuat Alex semakin tidak


tenang.


Pasalnya Kaori sudah tumbuh menjadi gadis remaja


yang semakin cantik dari hari ke hari. Tapi meskipun demikian, kekurangan pada


matanya membuat Alex ekstra ketat mengawasi cucu kesayangannya itu.


“Tapi anak itu pegang-pegang Kaori. Tuch lihat,


ngapain pake pegang pinggang segala,” protes Alex dengan suara rendah.


“Kan Kaori nggak pake tongkatnya, mas. Coba lihat


sikap Ken sangat sopan sama Kaori. Loh, ada Reynold juga ya disini,” kata Mia


yang baru menyadari kalau putrinya berdiri di samping Reynold.


Keduanya tampak sangat serasi disandingkan seperti


itu. Satunya sangat cantik dan satunya lagi sangat tampan. Alex menatap bingung


ke arah Reynold dan Renata. Jelas sekali kalau pesta kali ini hanya dihadiri


pemegang saham MK Group dan beberapa pengusaha sukses. Lalu Reynold datang atas


undangan yang mana?


Alex tidak tahu kalau Reynold dan Steven termasuk


dalam undangan pemegang saham dan pengusaha sukses. Steven mewakili


perusahaannya sebagai pemegang saham MK Group, sedangkan Reynold datang sebagai


wakil dari perusahaan IT terkenal yang merajai dunia IT selama lima tahun


identitasnya.


Reynold tersenyum pada Mia dan Alex yang terus


menatapnya dari tempat mereka berdiri. Ia kembali fokus pada Renata yang


sedikit gelisah di sebelahnya.


“Kamu kenapa, sayang?” tanya Reynold cukup keras


hingga bisa didengar kaum hawa yang mengincar dirinya sejak dimulainya pesta.


“Kakiku pegal, kak. Heels ini tidak nyaman. Padahal


bagus loh. Mahal lagi,” bisik Renata mesra.


“Sini bersandar sama aku,” pinta Reynold.


“Aku nggak berat, kak?” tanya Renata.


“Nggak, sayang,” sahut Reynold membuat Renata gemas


pada pria itu. Gadis itu protes karena Reynold terus memanggilnya dengan


panggilan mesra. Keduanya saling berbisik satu sama lain dengan tubuh Renata semakin


menempel pada tubuh Reynold. Gadis itu merasa lebih ringan setelah bersandar


pada Reynold.


Kemesraan juga terlihat di sebelah Renata dan


Reynold. Ken terus menggenggam tangan Kaori sambil memberitahu apa yang terjadi


di depan mereka.


“Ken, sepertinya pestanya sangat ramai ya,” kata


Kaori di samping telinga Ken. Bibir gadis itu hampir menyentuh pipi Ken yang


sangat dekat dengan wajahnya.


Tepuk tangan bergemuruh terdengar di dalam ruangan


pesta saat kakek Michael memperlihatkan surat pengalihan asetnya menjadi atas


nama Riri dan Angelo. Riri tampak memeluk kakek Michael dan mama Ratna dengan


senyum mengembang. Angelo dan Riri akhirnya menjadi pemilik MK Group


sepenuhnya.


“Iya, ramai sekali, Kaori. Kamu merasa tidak


nyaman? Mau duduk?” tanya Ken.


“Apa boleh duduk?” tanya Kaori lagi sambil menggoyang-goyangkan

__ADS_1


tangannya yang digenggam Ken. Pria itu memperhatikan sekeliling, tidak ada


kursi di ruangan pesta itu. Mereka hanya bisa duduk di balkon.


Ketika sesi foto bersama, Donatelo dan


Michaelangelo membawa Kaori bersama mereka untuk berfoto bersama. Reynold dan


Renata juga ikut mendekat untuk berfoto. Melihat Ken bengong sendirian, Mia


memanggil pria itu untuk bergabung bersama mereka. Ketika Ken berdiri di


samping Kaori dan Mia, Alex menyadari kalau Ken sangat mirip dengan Mia.


Selesai mengambil foto, Ken kembali menuntun Kaori.


Kali ini Ken ingin mengajak Kaori keluar menuju balkon. Ia membawa Kaori mampir


dulu ke meja tempat makanan dan minuman tersaji.


“Kaori, kamu mau makan sesuatu? Disini ada canape


udang, ada kue juga, kamu alergi sesuatu?” tanya Ken penuh perhatian.


“Aku apa aja dech. Nggak ada alergi kok. Minumnya cari


yang dingin ya,” pinta Kaori.


Ken hanya bisa membawa sepiring makanan untuk


mereka berdua karena ia harus menuntun Kaori. Ketika Ken ingin membawa gelas


minuman, Kaori meminta piring makanan itu agar Ken bisa membawa gelas minuman


untuk mereka berdua. Keduanya berjalan menuju balkon dengan tangan Kaori yang


bebas, merangkul lengan kiri Ken.


“Aku jadi ngerepotin kamu ya. Harusnya tadi kita


bergabung saja dengan opa dan oma,” kata Kaori setelah ia bisa merasakan


sandaran balkon.


“Opa sama oma-mu lagi asyik dansa tuch. Kamu mau


duduk?” tanya Ken.


“Apa ada kursi disini?” tanya Kaori.


Ken mengambil piring dari tangan Kaori lalu


meletakknya disamping gelas minuman yang sudah bertengger diatas balkon. Hup!


Kaori merasakan tubuhnya melayang sejenak sebelum akhirnya duduk diatas balkon.


“Ken!” pekik Kaori kaget karena pria itu tidak


memberitahunya lebih dulu. Kedua tangan Kaori mencengkeram pundak Ken. Ia takut


jatuh ke belakang.


“Pegangan sama aku ya.” Ken merangkul pinggang


Kaori.


Senyuman manis Kaori menghipnotis Ken yang tanpa


sadar mulai mendekatkan wajah mereka. “Ken, mana minumannya?” tanya Kaori


menghancurkan momen romantis yang nyaris tercipta.


Ken mengambilkan segelas minuman dan mendekatkannya


ke bibir Kaori. Gadis itu menyesap rasa minuman yang menyegarkan dan memuji


pilihan Ken. Beberapa lembar tisu tampak teronggok di dekat piring mereka, tapi


Ken menggunakan jempolnya untuk mengusap sudut bibir Kaori yang basah.


Kaori membuka mulutnya saat Ken menyodorkan canape


udang. Rasa manis udang membuat Kaori tersenyum girang merasakan makanan enak


itu.


“Wah, enak banget ya. Rasanya pas, sekali gigit


langsung habis. Kamu harus cobain, Ken,” kata Kaori masih mengunyah makanan di


mulutnya.


Sejujurnya, Ken juga merasa sedikit lapar. Tapi


melihat cara Kaori mengunyah makanannya membuat Ken langsung kenyang. Ia tidak


ingin melewatkan momen menatap Kaori tanpa malu karena kepergok orangnya.


Setelah canape di mulut Kaori habis, Ken mendekatkan minuman lagi ke bibir


gadis itu.


“Ken, dari tadi kamu nggak minum ya? Kok kayaknya


cuma aku yang makan sama minum,” kata Kaori lalu mendorong gelas minumannya


agar Ken bisa minum.


Bekas lipstik pink Kaori tampak menempel di gelas


itu. Saat Ken menarik gelasnya, Kaori menyadari kalau Ken minum dari gelas


bekasnya.


“Ken, mana minumanmu? Jangan minum dari gelasku.”


Kaori terlihat bingung dengan kelakuan Ken.


“Nggak apa-apa. Kamu nggak mau sharing sama aku?”

__ADS_1


tanya Ken, meletakkan gelas disampingnya lalu meraih tangan Kaori.


__ADS_2