
Alex sedang bekerja di ruang kerja kantornya. Hari itu ia agak sibuk karena padatnya schedule meeting dan banyaknya laporan yang harus ia periksa.
Asisten Alex mengetuk pintu ruang kerjanya dan masuk kedalam.
Asst. Alex : "Permisi pak. Pak Hary sudah datang. Bisa ketemu sekarang?"
Alex : "Ach, iya boleh. Suruh masuk saja."
Asisten Alex mengangguk, keluar dari ruang kerja Alex dan masuk lagi bersama seorang pria paruh baya dan wanita cantik.
Pak Hary : "Halo, Alex. Apa kabar?"
Alex : "Baik, pak Hary. Apa kabar, pak?"
Pak Hary : "Seperti yang kau lihat, aku sehat saja."
Alex : "Tumben nich bapak main kesini, biasanya lewat telpon saja. Ada yang bisa saya bantu?"
Pak Hary adalah salah satu rekan bisnis Alex yang ia kenal sejak SMA dulu. Waktu itu papa Alex memintanya mencari sponsor untuk peluncuran produk pertama Alex di kantor.
Untuk bisa menikahi Stevi, papa Alex memintanya bekerja di kantor dan harus meluncurkan produk baru yang sukses di pasaran. Pak Hary membantu Alex hingga produknya sukses di pasaran.
Sejak saat itu mereka menjalin kerja sama dan saling membantu dalam bisnis mereka.
Pak Hary : "Alex, kenalkan ini Jelita, putri sulungku. Aku ingin dia belajar bisnis darimu. Dia ini baru lulus kuliah dan belum pengalaman. Tolong kau ajarkan tentang projek kita sampai dia bisa menghandlenya sendiri."
Alex : "Ok, pak. Kami punya tim khusus untuk projek kita. Jelita bisa bergabung disana."
Pak Hary : "Kalau bisa dalam dua bulan, kau harus menguasai ini, nak."
Jelita : "Papa tenang saja. Pak Alex pasti bisa bantu. Mohon bantuannya ya, pak."
Alex mengangguk sambil menjabat tangan Jelita. Ia sedikit mengkerutkan keningnya melihat tingkah genit wanita cantik di depannya ini dan menganggap hal itu tidak penting.
Jelita mulai bekerja bersama tim khusus yang menangani projek kerja sama perusahaan Alex dan Pak Hary. Kenapa sampai ada tim khusus? Karena projek kerja sama mereka berdua berlangsung selama 30 tahun dan terus di perpanjang.
Setiap hari ia akan membuatkan Alex kopi sebelum mulai bekerja. Awalnya Alex tidak merasakan sesuatu yang aneh. Tapi lama-lama ia jadi tidak tenang.
Pasalnya perhatian Jelita semakin hari semakin menjadi. Bukan hanya kopi, terkadang sarapan dan juga bekal makan siang. Alex sudah mengatakan kalau Mia sudah menyiapkan semua keperluannya dan Jelita tidak perlu melakukannya.
Tapi Jelita tidak mau mendengarkannya. Alex merasa perhatian Jelita lebih dari sekedar perhatian seorang teman. Insting lelakinya memberi signal untuk menghentikan semua ini sebelum terlambat.
Alex memanggil asistennya, ia tahu asistennya lebih tua setahun dari Jelita. Meskipun menjabat sebagai asisten, tapi kualifikasi pendidikan dan kemampuan bisnisnya tidak jauh dari Alex.
Hanya saja, entah kenapa ia tidak mau pergi dari Alex. Padahal ia bisa membangun bisnisnya sendiri.
Asist. Alex : "Ada yang bisa saya bantu, pak?"
Alex : "Aku ada tugas tambahan untukmu. Kamu tahu Jelita kan?"
Asist. Alex : "Anaknya pak Hary, pak. Iya, pak."
Alex : "Aku mau kamu yang makan semua kiriman makanan dari dia. Termasuk kopi atau minuman buatannya. Kalau perlu kamu ajak dia kencan."
Asist. Alex : "Kencan, pak? Gak salah?"
__ADS_1
Alex : "Akan kutambahkan bonusmu akhir bulan ini, tapi tolong jauhkan dia dariku. Aku gak mau ada rumor beredar di kantor mengatakan kalau aku ada hubungan spesial dengan dia. Mia akan membunuhku kalau mendengarnya. Kamu tahu sendiri kan kalau Mia sedang hamil."
Asist. Alex : "Baik kalau gitu, pak. Ada lagi yang bisa saya bantu?"
Alex : "Mungkin kalian bisa berjodoh, aku lihat kalian cocok."
Asisten Alex mengenang saat pertama ia bertemu dengan Jelita. Meski berpenampilan dewasa, Jelita tidak bisa menyembunyikan tingkah anak kecil dalam dirinya. Kelakuan Jelita memang menarik perhatian asisten Alex yang biasanya dingin.
Dan sekarang Alex memberinya tugas yang cukup berat tapi tidak membuatnya keberatan sama sekali. Asisten Alex tersenyum girang, mungkin ia akan menemukan jodohnya kali ini.
Saat makan siang, Jelita membawakan bekal makan siang ke ruang kerja Alex. Tapi tidak menemukan Alex disana, hanya asistennya yang tampak sedang duduk di meja kerja Alex, bekerja menggunakan laptop Alex.
Jelita : "Loh, pak Alex mana?"
Asist. Alex : "Pak Alex pergi makan siang dengan istrinya. Apa yang kau bawa?"
Jelita : "Kok gitu sich? Aku kan sudah bawakan makan siang. Trus ini gimana?"
Asisten Alex tersenyum tipis,
Asist. Alex : Tinggalkan saja disini. Aku akan memakannya nanti."
Jelita : "Ya sudahlah. Besok apa jadwal pak Alex?"
Asist. Alex : "Kau tahu itu rahasia, kenapa kau tanyakan?"
Jelita : "Aku mau mengajaknya makan siang bareng. Aku belum punya teman disini."
Asist. Alex : "Aku bisa menemanimu kalau kau mau. Kita bisa makan siang bersama."
Asist. Alex : "Kenapa kau berkeras mengejarnya? Apa kau tidak tahu kalau istrinya sedang hamil?"
Jelita : "Aku tahu, dan aku tidak mengejar pak Alex seperti tuduhanmu!"
Asist. Alex : "Kau yakin? Perhatianmu menunjukkan hal yang berbeda."
Asisten Alex berdiri dari kursi kerja Alex. Ia melangkah mendekati Jelita yang masih terpaku di tempatnya berdiri. Saat pandangan mata mereka bertemu, Jelita melangkah mundur.
Tubuh Jelita terdesak sampai ke pintu ruang kerja Alex. Saatnya kita tahu siapa nama asisten Alex ini.
Jelita : "Ro... Romi, kamu mau apa?"
Romi : "Bukannya kau bilang tadi mau makan siang? Dimana bekal makananmu?"
Jelita : "Oh, itu... aku tinggalkan di mejaku. Aku akan mengambilnya."
Romi menatap dalam mata Jelita yang berkilau indah. Ia tidak membiarkan Jelita beranjak dari kungkungannya. Romi dengan berani mendekatkan wajahnya ke wajah Jelita.
Wajah Jelita merona mendapat perlakuan itu dari Romi. Selama ini belum pernah ada pria yang berani memperlakukannya seperti itu. Mereka kebanyakan hanya bersikap biasa saja seperti teman yang baik.
Termasuk Alex, sejak bertemu pertama kali memang Jelita sangat mengaguminya. Sungguh ia tidak ada maksud mengejar Alex, terutama papanya sudah pernah bilang kalau Alex sudah menikah lagi.
Ia menganggap perhatiannya hanya sebagai bentuk kekagumannya pada Alex, tapi sepertinya orang lain menganggapnya sedang mengejar Alex.
Jelita masih menatap Romi yang terpancing melakukan sesuatu pada wanita manis di depannya.
__ADS_1
Jelita : "Romi, aku mau ambil makan siang dulu ya."
Jelita berbalik hendak membuka pintu ruang kerja Alex, tapi Romi dengan cepat membalik tubuhnya lagi dan mencium bibirnya. Mata Jelita melotot mendapat perlakuan seperti itu.
Ia meronta tapi Romi tidak melepaskannya. Setelah merasakan Jelita tidak meronta lagi, Romi melepaskan ciumannya.
Romi : "Kau cantik sekali, Jelita."
Jelita : "Kau kurang ajar...!!"
Jelita memukuli dada Romi dengan kedua tangannya. Romi menangkap kedua tangan Jelita dan kembali mendekatkan wajahnya. Jelita memejamkan matanya, menanti apa yang akan dilakukan Romi lagi.
Romi tersenyum, ia melepaskan pegangan tangannya pada Jelita dan mundur selangkah dari Jelita. Jelita yang tidak merasakan apa-apa, mengintip lewat sudut matanya.
Melihat Romi tersenyum manis di depannya sambil menjilat sudut bibirnya, Jelita segera berlari keluar dari ruang kerja Alex. Jantungnya berdegup kencang gara-gara pria itu.
Pria yang dengan berani mencuri ciuman pertamanya. Entah kenapa Jelita baru sadar kalau Romi terlihat tampan tanpa kacamatanya. Pria itu melepas kacamatanya sebelum mendekatinya tadi.
------
Alex geleng-geleng kepala melihat kelakuan Romi dari CCTV di ponselnya. Ia baru selesai makan siang dengan Mia sekalian mengantar Mia periksa ke dokter.
Mia juga ikut menonton dan tercengang melihat betapa agresifnya asisten Alex. Alex sudah cerita tentang kedatangan Jelita dan apa yang dilakukan wanita itu.
Mia mencoba menahan cemburu karena pengaruh hormon kehamilannya. Dan mendukung rencana Alex untuk mendekatkan asistennya dengan Jelita.
Mia : "Aku kira wajah polosnya tidak akan berani melakukan itu. Kalian sama saja ternyata."
Alex : "Hei, apa persamaannya?"
Mia : "Berani menyerang di tempat sepi."
Alex : "Kapan aku menyerangmu?"
Mia : "Mas lupa pernah menarikku ke dalam kamar dan langsung menciumku. Padahal kita baru kenal."
Alex : "Tapi seingatku, kamu juga menikmatinya. Gak protes lagi." Alex nyengir tanpa rasa bersalah.
Mia : "Itu bisa-bisanya mas aja. Aku kan kaget waktu itu, sampai gak bisa berpikir jernih."
Alex : "Kamu kan uda jatuh cinta sama aku, jadi pasrah aku apain aja. Ngaku gak."
Mia menjulurkan lidahnya, Alex menatap gemas pada istrinya itu. Kalau ia tidak ingat sedang dimana mereka, mungkin Mia akan dimakannya sekarang.
------
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
--------
__ADS_1