
Menikahi Aunty Renata – Reynold & Renata 10
Tersisa sendirian di kantin karyawan, Renata melamun sambil mengaduk-aduk makanannya yang masih
tersisa setengah. Semalam dirinya juga hampir melakukan hal yang salah. Reynold menciumnya lagi dan Renata sedikit terlena sampai suara ponsel mengagetkan mereka. Renata menghela nafas panjang, dadanya masih terasa hangat akibat perbuatan Reynold semalam.
“Apa aku juga sudah jatuh cinta? Tapi kenapa harus kak Reynold sich,” gumam Renata nelangsa.
--Flashback--
Reynold membawa Renata kembali ke apartment mereka. Ia menggendongnya sampai ke dalam kamar
lalu membaringkannya diatas tempat tidur. Renata tidak bergerak pada awalnya, ia sudah tertidur pulas. Reynold juga hampir keluar dari kamar tapi berbalik lagi saat melihat Renata menggeliat. Gadis itu bahkan belum mandi dan ganti pakaian.
Lalu apa yang dilakukan Reynold? Ia mengambil handuk basah dan juga kaos yang sering dipakai Renata. Tanpa keraguan sedikit pun, Reynold mulai melepas kancing kemeja Renata satu persatu. Ia juga melepas bra dan rok yang masih melekat di tubuh Renata. Disaat Renata sedang tertidur seperti itu, tidak ada hasrat yang mengaburkan pikirannya.
Reynold terlalu mencintai Renata sampai tidak tega menyentuhnya dalam keadaan tidak sadar diri seperti itu. Perlahan Reynold mengelap tubuh Renata dengan lap basah sampai bersih kembali. Ia memakaikan kaos yang nyaman tanpa memakaikan kembali pakaian dalam Renata.
“Ngg.... kak...,” panggil Renata yang tiba-tiba terbangun.
“Udah sampai rumah, Ren. Tidur lagi ya,” sahut Reynold sambil merapikan selimut yang menutupi tubuh
Renata.
Mata indah itu perlahan terbuka, memicing sebentar sebelum terbuka sepenuhnya. Renata menggeliat,
mengatasi tubuhnya yang sedikit pegal. Tangannya terulur ingin menyentuh lengan kekar Reynold yang selalu memberinya kenyamanan.
“Kak, Sera itu pacar kakak ya?” tanyanya pertama kali.
Hati Reynold menghangat mendengar pertanyaan Renata. Untuk pertama kali dalam beberapa tahun, Renata mulai peduli dengan wanita yang dekat dengan Reynold. Pria itu mengangguk tanpa menatap Renata. Keacuhan Reynold membuat gadis itu menarik lengan Reynold hingga ikut terbaring di sampingnya.
“Kak Rey udah kenal berapa lama? Kenapa nggak pernah cerita?” tanya Renata lagi.
Renata bersandar pada tubuh Reynold, memeluk leher pria itu dengan posesif. Entah karena pengaruh
alkohol atau memang murni dari dalam hatinya, Renata ingin berada sangat dekat dengan keponakannya itu.
“Aku baru kenal dengan Sera. Tapi sepertinya aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Sera juga sama,” sahut Reynold seperti jawaban yang sudah dirinya sepakati dengan Sera.
“Kenal dimana? Kapan? Dia cantik ya, seksi juga. Kakak mau nikah sama dia? Nanti dia tinggal disini?” cerocos Renata lagi.
Reynold menahan perasaan membuncah di hatinya. Jelas sekali kata-kata Renata seperti seorang
gadis yang sedang cemburu pada kekasihnya. Keinginannya untuk memeluk balik gadis itu, tertepis ego yang lebih besar lagi. Tapi Reynold tidak bisa menahan perasaannya lebih lama lagi, gadis di sampingnya belum menyadari kalau pakaiannya tidak lengkap. Renata menoleh menatap Reynold ketika dagunya ditarik pria itu.
“Renata...,” ucap Reynold menggoda gadis pujaannya. “Ijinkan aku sebentar...,” pintanya tanpa menunggu persetujuan.
Dikecupnya bibir pink yang menantinya mengatakan kata-kata manis lagi. Kali ini mata Renata terpejam,
lembut dan hangat ciuman manis bersama pria yang selama ini selalu ada untuknya. Renata tidak menolak ataupun menghindar. Memudahkan Reynold menekan lebih kuat lagi, memaksa gadis itu membuka mulutnya. Aroma cherry berputar didalam rongga mulut mereka.
__ADS_1
Nafas yang mulai cepat, berlomba-lomba mengejar perputaran udara yang semakin menipis di sekitar
mereka. Reynold melepaskan pelukan Renata, mendorong tubuh gadis itu hingga terbaring sempurna. Sebelum mengulangi ciuman mereka, Reynold merapikan rambut Renata yang berantakan.
“Kak Rey, nggak boleh cium lagi. Nanti pacar kakak marah,” ucap Renata sambil menatap Reynold dengan
mata sayu.
“Dia nggak tahu kalau kamu nggak bilang, Ren. Cium lagi ya,” rayu Reynold.
Ciuman yang lebih menuntut bahkan sampai berpindah ke leher gadis itu. Renata tidak merasakan lagi selimut yang membungkus tubuhnya tadi. Tangan Reynold mulai aktif menyusuri tubuh mungil Renata sampai gadis itu tersentak kaget. Reynold dengan berani menyentuh bagian sensitif di tubuh Renata. Matanya yang tadi sayu berkabut kini cerah cemerlang, ia menarik kaosnya menutupi tubuhnya lagi. Melihat Reynold masih berpakaian utuh tapi dirinya tidak, Renata mendorong tubuh Reynold.
“Kak, jangan. Kakak mau apa?” lirihnya takut.
Reynold berpindah duduk di pinggir tempat tidur. Matanya tidak lagi menatap mata Renata. Gadis itu terdiam, menyadari pakaian yang menutupi tubuhnya sudah berganti dengan selembar kaos saja.
“Kak, bajuku...? Kakak yang ganti?” tanya Renata meminta kepastian.
Reynold mengangguk tanpa mengatakan apa-apa lagi. Wajah Renata merona, ia memeluk bantal dengan
erat. Pikirannya menebak kalau Reynold sudah melihat seluruh tubuhnya.
“Kak, sudah lihat semuanya?” tanya Renata lagi.
Reynold tiba-tiba menoleh menatap Renata lagi. Gadis itu tersentak kaget, ia tidak sanggup menatap mata Reynold sekarang.
“Renata, kita sudah tinggal bersama hampir lima tahun. Apalagi yang belum pernah kulihat,” kata Reynold tanpa ekspresi.
“Ka—kapan kakak lihatnya? Aku kan nggak pernah....” Ucapan Renata terhenti saat Reynold memintanya diam.
Renata cemberut, ia ingin membalas kata-kata Reynold tapi takut pria itu akan menciumnya lagi. Pria
itu terpancing hasrat saat melihat wajah Renata yang merona. Ia ingin tahu apa yang ada dalam benak Renata. Perlahan Reynold mengukung Renata dengan kedua lengannya. Reynold mendekatkan wajahnya menggigit leher Renata hingga memerah.
“Ach..., kak. Sakit...,” lirih Renata merasakan perih di lehernya.
“Ren, apa yang kamu pikirkan? Kalau tebakanku tidak salah, apa kau sedang cemburu?” tanya Reynold
lagi.
“Aku... nggak. Harusnya aku seneng kan kalau kakak punya pacar. Tapi kenapa rasanya sangat aneh ya?” ucap Renata sambil memalingkan wajahnya.
“Kalau kau senang, kenapa cemberut? Kau sudah menciumku, dan akupun sudah mendapatkan pacar.
Apalagi keberatanmu?” tanya Reynold terus mengejar Renata.
Reynold mendengus kesal melihat kediaman Renata. Ia bangkit dengan cepat lalu keluar meninggalkan
Renata sendirian di dalam kamar itu. Gadis itu belum siap melihat Reynold pergi. Ia nekat mengejar Reynold tanpa mengganti pakaiannya dulu. Pria itu tampak baru saja menutup pintu kamarnya yang ada di sebelah. Renata mengetuk pintu kamar Reynold sebelum membukanya. Reynold berdiri membelakangi pintu, ia
menoleh sekilas sebelum kembali membelakangi Renata.
__ADS_1
“Kak, maaf. Aku keberatan kakak pacaran. Sikap kakak nggak gini sebelum kenal sama dia. Aku mohon, kak...,” kata Renata dengan mata berkaca-kaca.
“Kan kamu yang mau aku pacaran. Sekarang apa maumu?” tanya Reynold masih membelakangi Renata.
“Aku mau kakak putus sama dia,” pinta Renata tegas.
Reynold membalik tubuhnya, menatap Renata dengan ekspresi yang sama. “Aku putus sama Sera. Lalu apa? Cari pacar lain? Kamu pikir aku ini apa?!” bentak Reynold.
Renata balas menatap Reynold. Meskipun ia sempat ciut dengan bentakan Reynold, tapi dirinya tidak suka dengan Sera. Mendengar Reynold menyebutkan namanya, juga membuat Renata kesal.
“Trus siapa? Aku?!” bentak Renata.
“Ya! Harus kamu!” bentak Reynold lagi.
Renata ingin melarikan diri dari kamar Reynold, tapi ia tertangkap lagi. Dengan mudahnya Reynold menarik Renata ke atas tempat tidurnya. Tubuh gadis itu terkunci dibawah kukungan Reynold. Renata menutup wajah Reynold dengan sebelah tangan lalu menjewer telinga pria itu tanpa ampun.
“Kakak kan tahu, itu nggak boleh. Status kita sudah jelas kan? Kakak itu keponakanku. Jangan bercanda lagi, kak,” pinta Renata gemas.
“Padahal kalau kita pacaran kan, aku nggak pusing cari gadis yang cocok,” kata Reynold meringis.
“Menurut kakak, aku gadis yang cocok untuk kakak?” tanya Renata kepo.
Reynold mengangguk sambil menunduk menekan keningnya ke kening Renata. Gadis itu tersenyum malu
menyadari dirinya seberharga itu di mata Reynold. Selama ini ia tidak pernah menganggap lebih perhatian Reynold. Baginya, Reynold adalah keponakan yang baik yang selalu bisa ia andalkan. Sedikitpun tidak pernah terbersit dalam pikiran Renata kalau Reynold akan menatap dirinya lebih. Hati Renata menghangat ketika
Reynold menyentuh pipinya lembut.
Pria itu menciumnya lagi, mendominasi setiap gerakan kecil yang dilakukan Renata. Ciumannya berpindah lagi ke leher, seperti vampir yang haus darah, Reynold meninggalkan bekas memerah disana. Tepat saat Reynold hampir menarik kaos Renata agar terlepas, suara ponsel mengagetkan mereka.
--Flashback off--
Renata berjalan kembali ke ruangan direktur. Alfian masih belum kembali juga. Entah kemana ia membawa
Merry pergi. Setidaknya cinta mereka tidak terhalang keluarga. Tidak seperti Renata yang galau karena Reynold. Andai saja mereka tidak memiliki hubungan sedekat ini, Renata akan dengan senang hati menerima Reynold jadi pacarnya. Masalahnya, Renata takut kalau Rara dan Mia akan kecewa padanya.
Bukan hal yang mudah baginya untuk jatuh cinta pada seseorang. Renata pernah mengira dirinya suka dengan teman sekolahnya, tapi nyatanya hanya perasaan nyaman sesaat yang segera menghilang. Ketika bersama Reynold, ia tidak merasa begitu. Dirinya cemburu melihat Reynold bersama wanita lain yang sangat cocok dengannya. Belum lagi ketika dengan mudahnya pria itu menjalin hubungan dengan wanita seperti Sera.
Renata duduk di meja kerjanya, tumpukan dokumen lagi-lagi menumpuk tinggi hampir menutupi tubuh mungilnya. Dirinya hanya sendirian kali ini, karena pak direktur sedang ada meeting dengan client. Renata tidak tahu kalau Reynold saat ini sedang menatapnya dari layar monitor besar yang ada di kamar rahasianya. Pria itu terlambat kembali ke ruangannya, sehingga mengirimkan pesan kalau ia sedang meeting di luar kantor.
Iseng, Reynold mengirimkan chat pada Renata,
[]”Aunty, aku jomblo lagi nich. Jadi pacarku ya,” ketik Reynold cepat.
Reynold melihat Renata mengambil ponselnya lalu tersenyum menatap layar ponsel itu. Dirinya mengetik balasan chat untuk Reynold.
[]”Aku juga jomblo, kak. Tapi kita nggak boleh pacaran kan,” balas Renata.
[]”Aku harus bagaimana, agar aunty mau pacaran denganku?” tanya Reynold.
[]”Hanya jika kita bukan keponakan dan tante, aku akan menikah denganmu, kak,” janji Renata.
__ADS_1
Reynold melempar ponselnya sampai hancur. Sesuatu yang diminta Renata tidak bisa ia wujudkan. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Reynold merasa dirinya tidak berguna. Selamanya hubungan darah tidak bisa
diputuskan, apapun yang terjadi.