Duren Manis

Duren Manis
Menahan hasrat


__ADS_3

Si kembar menatap bingung pada papanya yang masih memeluk Mia, meski sambungan telpon sudah terputus. Sementara nenek dan mb Minah tersenyum penuh arti melihat keduanya. Mia mengusap punggung Alex perlahan, sementara Rio memandang sebal pada papanya,


Rio : "Papa jangan modus dech, lepasin mama Mia sekarang."


Alex : "Papa serius lagi nangis nich."


Nyatanya mata Alex tidak basah, tapi ia tetap memeluk Mia dengan erat. Rio tidak terima beranjak berdiri,


Rio : "Papa boong tuch. Lepasin mama, cepat!"


Mia hanya bisa pasrah saat terjadi tarik menarik antara Rio dan Alex yang masih memeluknya. Sementara Riri menikmati pemandangan itu sambil nyemil kentang goreng.


Setelah aksi tarik menarik yang sangat melelahkan mereka bertiga selesai, ponsel Alex berdering. Arnold menelpon Alex. Tapi bukannya mengangkat telpon itu, Alex malah menatap Mia,


Mia : "Kenapa gak diangkat, mas?"


Alex : "Aku masih galau, kamu yang angkat."


Mia : "Kan mas yang mau bicara sama Arnold. Cepat angkat."


Alex : "Aku bingung mau ngomong apa sama dia."


Mia : "Bilang aja kalau kita akan bicarakan lagi setelah mereka pulang dan minta mereka fokus dengan terapi disana."


Alex : "Kamu yang angkat dech, bilang gitu."


Mia : "Tapi kan kamu papanya Rara."


Alex : "Kamu mamanya Rara."


Mia : "Masa aku yang ngomong, mas."


Alex : "Iya, kamu aja."


Ponsel itu bahkan sudah mati ketika Alex dan Mia masih sibuk berdebat. Ketika ponsel itu berdering untuk kedua kalinya, Mia dan Alex berjengit menatap layar ponsel tapi tidak mengambil ponsel itu. Riri yang melihat kelakuan kedua orang dewasa di depannya, langsung mengambil ponsel itu dan menekan tombol hijau.


Riri : "Halo, kak. Kakak mau bicara sama papa?"


Arnold : "Iya, papamu ada?"


Riri : "Bentar kak, Riri tanya dulu... Jadi mau ngomong apa nggak?"


Alex mengambil ponsel dari tangan Riri, ia menarik tangan Mia masuk ke dalam kamarnya. Si kembar hanya menatap bingung pada neneknya yang juga bingung.


Setelah mereka berdua duduk di sofa, Alex mulai bicara pada Arnold,


Alex : "Halo, Arnold."


Arnold : "Halo, om. Om sudah bicara dengan papa?"


Alex : "Sudah, tapi untuk masalah ini lebih baik kita bicarakan setelah kalian pulang ya."


Arnold : "Tapi om gak keberatan kan?"


Alex : "Kita bicarakan setelah ketemu, sekalian sama papamu juga. Kalian konsen saja pada terapimu dan tolong ingat janjimu. Ok?"


Arnold : "Baik, om. Arnold paham."


Alex meletakkan ponselnya ke samping sofa dan menatap Mia yang terlihat lega. Ia menarik tangan Mia dan memeluknya erat.

__ADS_1


Alex : "Sayang, bisa gak pernikahan kita dipercepat?"


Mia : "Mana bisa gitu, mas. Mama kan tanggal pernikahan ditentukan setelah pengumuman kelulusanku."


Alex : "Aku takut mamamu menunda pernikahan kita karena masalah ini. Aku gak bisa nunggu lebih lama lagi."


Mia : "Trus mas maunya gimana?"


Alex : "Boleh gak kalau aku jebol sekarang?"


Mia : "Maass genit...!" Mia berontak dalam pelukan Alex, tapi Alex tidak mau melepaskannya.


Alex : "Yang penting keluarga kita udah setuju kan, ayo sayang..."


Mia : "Mas, jangan... Anak-anak sama ibu diluar, malu mas."


Alex : "Kalau mereka gak ada, mau ya..."


Mia : "Mereka gak ada juga, gak bisa."


Alex : "Kenapa? Kamu gak mau?"


Mia : "Aku lagi datang bulan."


Pelukan Alex langsung terlepas, Mia tertawa melihat reaksi Alex. Sesungguhnya ia tidak datang bulan, tapi hanya itu satu-satunya alasan untuk membuyarkan khayalan mesum Alex dari kepalanya.


------


Di kamar apartment Arnold, mereka sudah bersiap untuk pergi makan malam. Kali ini Arnold memilih sebuah restauran romantis yang cukup private untuk mereka berdua. Arnold tidak ingin Rara merasa canggung saat makan nanti.


Mereka sudah sampai direstauran yang dipilih Arnold. Rara memandang sekitar tempat mereka duduk.


Rara membaca menu yang diberikan pelayan dan bingung memilih.


Rara : "Kakak mau makan apa?"


Arnold : "Mau order menu pasangan?"


Rara : "Boleh, kak."


Pelayan restauran segera menyiapkan pesanan mereka.


Arnold : "Apa kau suka disini?"


Rara : "Iya, kak. Tempatnya nyaman, kakak pernah kesini sebelumnya?"


Arnold : "Iya, sama papa."


Rara : "Gak sama temen kakak?"


Arnold : "Aku gak punya temen, Ra. Baru kamu yang mau temenan sama aku. Dan aku harap..."


Pelayan datang menginterupsi kata-kata Arnold. Pesanan mereka sudah datang dengan lengkap.


Rara menatap penuh minat pada makanan yang terhidang di meja. Ia bingung ingin mulai darimana.


Arnold : "Ayo makan, Ra."


Rara mengambil sepotong lobster dan menggigitnya dengan nikmat. Jemarinya sudah belepotan saus bakar yang aromanya membuat siapa saja ngiler.

__ADS_1


Arnold tersenyum melihat cara Rara makan, agak belepotan tapi Arnold menyukainya.


Rara tertegun saat jemari Arnold mengusap saus bakar yang menempel di sudut bibir Rara. Saat Arnold menjilat jarinya, wajah Rara spontan memerah.


Arnold yang terus menatap Rara yang manis, membuat hasratnya mulai bangkit lagi. Ia ingin memeluk Rara lagi.


Mereka menyelesaikan menu utama dengan baik, lalu ice cream datang. Tapi sendoknya cuma satu, Arnold mulai menyuapi Rara es cream.


Rara : "Enak banget, kak. Aku kenyang. Kita mau kemana lagi?"


Arnold : "Kita jalan-jalan keliling kota ya, ada beberapa tempat yang bagus."


Rara : "Ok, kak."


Saat mereka berdua sampai di parkiran, Arnold baru ingat kalau ponselnya ketinggalan di dekat tempat duduk mereka tadi.


Arnold segera masuk kembali ke dalam restauran, meninggalkan Rara yang masih menunggunya di samping mobil.


Saat Arnold kembali, Rara sudah tidak ada di tempat tadi. Celingukan, Arnold mencari Rara di sekitar tempat parkir.


Ia mulai panik saat tidak menemukan Rara maupun sopir mereka disana. Ia bertanya pada orang-orang yang ada di dekat sana, tapi mereka tidak melihat Rara.


Arnold : "Rara! Rara!"


Seperti orang gila berteriak sepanjang jalan di sekitar restauran itu, Arnold tetap memanggil Rara.


Arnold mencoba menelpon Rara tapi tidak diangkat. Ia juga mencoba menelpon sopir mereka dan diangkat,


Sopir : "Halo, mas. Apa sudah selesai?


Arnold : "Bapak dimana? Teman saya ada sama bapak gak?"


Sopir : "Saya ke toilet tadi, mas. Dan mb itu masih berdiri di samping mobil waktu saya tinggal.


Arnold : "Aduch, dia kemana ya? Tolong bantu cari di dalam restauran, pak. Saya di jalan sekitar sana."


Sopir : "Baik, mas."


Arnold mengedarkan pandangannya ke sekitar jalan, ia tidak bisa pergi terlalu jauh. Bagaimana kalau Rara berjalan ke arah sebaliknya?


Sopir menelpon Arnold dan mengatakan kalau Rara tidak ada di dalam restauran maupun di tempat parkir.


Arnold semakin frustasi mencari Rara.


Arnold : "Kemana kamu, Ra? Tolong jangan menghilang, aku gak bisa hidup tanpa kamu."


Tiba-tiba ada yang menepuk pundak Arnold.


--------


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.


Sama tolong vote poin untuk karya author yang ini ya. Caranya cari detail dan klik vote.


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


\-\-\-\-\-\-\-

__ADS_1


 


__ADS_2