Duren Manis

Duren Manis
Gak ngapain


__ADS_3

Kaori : “Rio...”


Rio : “Hmm?”


Kaori : “Kelonin...”


Rio bangkit dari duduknya lagi. Ia naik ke tempat tidur dan hampir berbaring saat Kaori memintanya melepas kaosnya dulu.


Rio : “Kenapa aku harus buka kaosku?”


Kaori : “Pengen pegang ABS.”


Rio mau gak mau melepas kaosnya. Ya kan lebih mending daripada disuruh buka celana. Ntar ulernya lepas trus masuk ke sarang.


Rio berbaring di samping Kaori yang langsung memeluknya. Rio mengelus-elus kepala Kaori sementara tangan Kaori nangkring di perut Rio. Tak lama, Kaori terlelap juga. Rio yang merasa nyaman karena


perutnya dielus Kaori, mulai tertidur juga.


Tit! Pintu kamar apartment Alex terbuka. Alex dan Mia masuk ke dalamnya dan melotot melihat posisi Rio dan Kaori yang sedang berpelukan mesra diatas tempat tidur. Alex sudah hampir berteriak mau membangunkan mereka berdua tapi Mia menahannya.


Mia : “Lihat...”


Mia menunjuk meja yang berantakan dan laptop yang terbuka, layarnya masih menyala. Itu tandanya mereka belum lama naik ke atas tempat tidur.


Alex : “Mereka habis ngapain? Tuch lihat Rio gak pake baju.”


Mia : “Tapi Rio masih pake celana. Dia tidur diatas selimut. Cuma Kaori yang pake selimut. Sabar, mas.”


Alex : “Tapi mereka...”


Mia menunjuk obat-obatan diatas nakas dan gelas air minum.


Mia : “Mungkin Kaori lagi sakit. Makanya mereka kesini, biar Rio bisa jagain Kaori.”


Sekali lagi Mia memberikan penjelasan yang logis. Punya bakat jadi peramal kayaknya mama Mia nich. Alex mengagumi pandangan mata Mia yang jeli melihat detail yang terjadi di kamar itu. Untung saja Alex


memilih datang bersama Mia, kalau tidak, mungkin ia akan sangat emosi dan berteriak pada Rio.


Alex : “Trus kita mesti gimana?”


Mia : “Kita tunggu mereka bangun?”


Alex : “Kalau gak bangun?”


Mia : “Rio pasti bangun. Tugasnya belum selesai tuch.”


Mia sangat mengenal sifat Rio yang tidak bisa tidak mengerjakan tugas, meskipun ia harus begadang untuk menyelesaikannya. Alex tidak sepeka itu terhadap anak-anaknya. Ia terbiasa mengurus pekerjaan di

__ADS_1


kantor saja.


Alex dan Mia memilih duduk di atas sofa. Mereka tidak perlu menunggu lama karena perlahan Rio mulai bangun. Ia memindahkan tangan Kaori dari atas perutnya. Tangan Rio menyentuh kening dan bawah dagu


Kaori, kemudian ia menyentuh keningnya sendiri. Rio mengangguk-angguk, ia turun dari atas tempat tidur dan memakai kaosnya lagi.


Rio bangkit dari ranjang, ia memasukkan tangan Kaori ke dalam selimut dan menarik selimut sampai menutupi leher Kaori. Rio merenggangkan tubuhnya sambil berjalan kembali mendekati meja. Langkahnya


terhenti saat melihat Mia dan Alex sudah duduk di atas sofa.


Rio : “Mama, papa??”


Mia : “Rio, kamu lagi ngapain? Ayo, duduk.”


Rio : “Itu... itu, mah... anu...”


Mia : “Hayo, itu apa anu?”


Rio menarik nafasnya dan bercerita jujur pada kedua orang tuanya.


Rio : “Kaori lagi gak enak badan, mah. Dari kemarin dia terus mimisan, kayaknya kecapean nungguin papanya di rumah sakit.”


Alex : “Trus kamu ajak dia nginep disini?”


Rio : “Iya, pah. Tapi sumpah, Rio gak ngapa-ngapain Kaori. Masi tersegel. Rio cuma mau jagain dia biar bisa istirahat.”


Rio : “Maksud Rio, kalau di apartment ini, jaraknya lebih dekat ke kampus. Rio juga harus bantu Kaori ngerjain tugasnya selama dia sakit. Dia baru aja tidur habis minum obat tadi.”


Kata Rio sambil menoleh ke atas ranjang. Kaori masih tampak tertidur pulas. Mia memegang lengan Alex agar suaminya itu berhenti bicara dulu.


Mia : “Rio, kamu yakin bisa jaga Kaori?”


Rio : “Iya, mah. Rio sadar kalau belum bisa bertanggung jawab untuk hidup Kaori. Cuma ini yang bisa Rio lakuin untuk jagain dia. Rio gak berani macem-macem, mah, pah.”


Mia : “Mas, kita kasi kesempatan buat Rio ya. Aku yakin Rio bisa dipegang kata-katanya.”


Alex : “Papa masih belum bisa tenang, Rio. Kamu tahu kan gimana kalau pria lagi khilaf.”


Mia menepuk lengan Alex karena berkata terus terang.


Rio : “Ya, pah. Rio tahu, Rio juga pernah hampir khilaf sama Kaori. Tapi Rio masih ingat batasnya.”


Alex : “Tuch, kan. Anakku...”


Alex terlihat bangga sekali saat mengatakannya.


Mia : “Hmm, anak sama papa sama aja. Rio, mama percaya sama kamu. Tolong jaga baik-baik kepercayaan mama ya. Inget, Kaori itu masih anak gadis orang, belum jadi istri kamu.”

__ADS_1


Rio : “Iya, mah. Tapi mama sama papa kok bisa kesini?”


Mia : “Tadi habis dari pesta, papamu gak sabaran nyampe rumah. Malah ngajak kesini.”


Mia jadi salah tingkah dengan alasan yang ia buat sendiri. Apalagi melihat Rio jadi senyum-senyum setelah mendengar alasan Mia tadi.


Alex : “Hmm... Ya, udah. Papa pulang dulu ya. Kamu baik-baik disini ya. Kalau mau pesan makanan, ada tempat makan yang bisa nganter makanan kesini. Brosurnya ada di laci nakas. Nanti bilang aja


tagihannya masuk ke tagihan apartment ya.”


Rio : “Iya, pah. Makasih.”


Mia : “Dah, Rio.”


Rio : “Dah, mah. Hati-hati di jalan ya.”


Rio mengantar orang tuanya sampai di depan pintu dan menunggu mereka masuk ke dalam lift. Rio menutup dan mengunci pintu apartment. Ia mengelus dadanya yang deg-degan karena kepergok orang tuanya.


Ia kembali mengerjakan tugasnya sampai selesai dan juga tugas Kaori. Setelah selesai, Rio mengemasi tas mereka berdua dan ikut berbaring di samping Kaori. Dikecupnya kening Kaori untuk mengucapkan selamat


malam, sebelum Rio terlelap disamping Kaori.


*****


Persiapan pernikahan Jodi dan Katty. Katty sedang duduk manis di samping baby Reynold yang tertidur pulas. Ditangannya ada cemilan salad buah buatan Rara. Jodi, Katty, Rara, dan Arnold, serta baby


Reynold tentu saja sedang berada di rumah Jodi untuk membahas persiapan terakhir pernikahan Jodi dan Katty.


Arnold : “Undangannya gak kebanyakan ya?”


Arnold melihat daftar undangan sampai 3000 undangan, terdiri dari undangan keluarga, teman dekat, relasi bisnis, dan juga pejabat.


Jodi : “Aku uda bilang sama papa. Kondisi Katty kan lagi hamil muda, gak boleh capek. Jadinya kami hadirnya pas undangan teman dekat, keluarga, dan pejabat aja. Sisanya, papa yang handle.”


Arnold : “Foto praweddingnya mana?”


Jodi : “Jangan tanya, ntar kena cakar. Katty gak mau di foto.”


Arnold : “Kenapa?”


*****


Kenapa ya? Karena kalian belum vote? Ayo, vote kk.


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).

__ADS_1


__ADS_2