Duren Manis

Duren Manis
Hukuman kita


__ADS_3

Hukuman kita


“Nak, kamu beruntung bisa mencintai pria seperti


Rio. Ia bisa menerima semua kekuranganmu tanpa mengeluh. Apa mama harus


mengatakan yang sebenarnya, nak? Atau menyimpan rahasia ini juga.”


Setelah merasa lebih tenang, Aira beranjak masuk ke


UGD dan bersikap seolah dirinya baru datang. Rio mengusap air matanya saat


mendapati Aira memegang pundaknya.


“Mah, Gadis...”


“Apa yang terjadi, Rio?”tanya Aira.


Rara menyingkir dari kursi, membiarkan Aira duduk


di samping Rio. Rio mencoba bercerita tentang apa yang ia tahu dan keadaan


Gadis sekarang. Aira mengusap punggung Rio dengan mata berkaca-kaca. Bahkan


terhadap dirinya, Rio tidak mengatakan apa akibat keguguran ini untuk Gadis.


“Tabahlah. Kalian akan bisa mendapatkan anak lagi


setelah Gadis sembuh, kan?”tanya Aira.


“Iya, mah. Rio akan berusaha yang terbaik.”kata Rio


mencoba tersenyum ditengah tangisannya.


”Dia bahkan tidak ragu menjawab pertanyaanku.


Tidak adil rasanya kalau Rio harus menderita juga kalau sampai Gadis tidak bisa


hamil lagi. Nak, apa yang harus mama lakukan?”


“Kamu baik-baik aja, Rio? Kamu bisa terima


kenyataan ini?”


“Bisa, mah. Rio tidak mau kehilangan Gadis. Bisakan


kami tetap menikah?”tanya Rio penuh harap.


“Ya, nak. Setelah Gadis sembuh ya.”


Aira mengusap air matanya dan tersenyum pada Rio. Ia


sangat bersyukur putrinya mencintai pria setulus Rio.


*****


Gadis terbangun dengan keringat membasahi


keningnya. Ia bermimpi buruk tentang kejadian sebelumnya. Rio yang mendengar


rintihan Gadis, mengguncang tubuhnya.


“Gadis, bangun. Gadis.”


“Rio! Rio, tolong mama!”jerit Gadis yang belum


menyadari dirinya ada dimana.


“Tenang, Gadis. Kamu sudah aman sekarang. Kita di


rumah sakit.”kata Rio.


“Mama mana, Rio?” Rio menunjuk bed di sebelah. Mia


terbaring disana masih terpengaruh obat dan tampak tertidur pulas.


“Mama gak pa-pa, kan?”tanya Gadis masih khawatir.


Di kamar itu tidak ada orang lain selain mereka bertiga. Alex, Rara, dan Aira


sedang membeli kopi dan makanan untuk Rio.


“Gak pa-pa. Mama minum obat yang keras. Tapi sudah


ditangani dokter. Cuma belum sadar.”


“Aduch!”pekik Gadis ketika ingin bangun. “Kok


perutku sakit banget, Rio.”


“Gadis, baring ya. Kamu baru habis... keguguran.


Kamu harus istirahat.”kata Rio jujur. Sebisa mungkin ia tidak ingin menyembunyikan


apapun dari Gadis lagi. Kecuali keadaan Gadis yang sebenarnya.


“Apa?! Anakku..”

__ADS_1


Gadis mulai menangis menyadari calon anak mereka


sudah pergi. Rio memeluknya dan memenangkan Gadis, ia menahan air matanya agar


tidak jatuh lagi.


“Kita bisa mendapatkannya lagi, Gadis. Kamu harus


iklas ya.”kata Rio sambil menunduk.


Rio mencium Gadis yang masih sesenggukan sampai


Gadis ngos-ngosan dibuatnya. “Rio! Hah! Hah!” Gadis memalingkan wajahnya untuk


mengambil nafas. Rio ganti menciumi leher Gadis, menggigitnya hingga leher


Gadis merah-merah. Rangsangan yang diberikan Rio, membuat Gadis kelimpungan.


“Rio... udah. Hah!”rintih Gadis sambil memegangi


perutnya.


“Maaf, sayang. Aku tidak bisa menahannya. Sakit


lagi ya?”kata Rio. Ia mengelus-elus perut Gadis.


“Ada yang keluar lagi. Kamu sich.” Gadis cemberut,


membuat Rio ingin menciumnya lagi.


Gadis dibuat kewalahan dengan ulah Rio yang kembali


menciumnya. Ia tersenyum merasakan cinta Rio yang selalu ditunjukkan pria itu


padanya tanpa basa-basi.


“Ehem! Ehem!” Alex, Rara dan Aira yang sudah


kembali, memergoki Rio dan Gadis malah asyik ciuman gak tau tempat. Alex


melirik Mia yang masih tertidur. Rara dan Aira duduk di sofa, geleng-geleng


kepala melihat Rio masih asyik mencium Gadis.


“Ehem!”Aira berdehem untuk mengingatka mereka.


Gadis yang mendengar suara mamanya, spontan menoleh


dan mendorong Rio. Wajah keduanya merona merah karena kepergok.


“Mah, kak Rara. Udah lama?”tanya Gadis malu-malu.


pura-pura kesal.


“Kamu sih.”sengit Gadis pada Rio yang cengengesan.


“Aduch! Kenapa banyak nyamuk disini ya? Lehernya


Gadis sampe merah-merah gitu.”kata Rara ketika melihat banyak tanda merah di


leher Gadis.


“Rio! Kamu bikin cupangan lagi?!”jerit Gadis tanpa


sadar.


“Sapa suruh kamu manis. Aku kan jadi pengen makan


kamu terus.”rayu Rio.


“Duh, ini anak dua. Benar-benar dech.”kata Aira.


Rara meminta Rio untuk makan dulu tapi ia tidak mau


karena Gadis belum makan. Gadis membujuk Rio untuk makan dengan menyuapinya, tapi


Rio balik menyuapinya juga.


“Situasi romantis ini membuatku merindukan mas


Arnold. Mas Arnold! Waduh, kenapa bisa lupa nelpon dia?”kata Rara panik.


“Arnold lagi bantu Jodi. Jangan diganggu dulu.


Mereka hampir nangkep penjahat itu.”jelas Alex yang terus memantau keadaan


dengan ponselnya.


“Mereka gak sendirian kan, pah?”tanya Rara lagi.


“Nggak. Jodi kan punya body guard, pasti diajak


lah. Bisa ngamuk pak Anton kalo Jodi sampe lecet.”kata Alex. Ia menatap Gadis


yang sudah selesai makan bersama Rio.


“Gadis, kamu uda mendingan?”tanya Alex.

__ADS_1


“Iya, pah. Masih nyeri perutnya tapi gak pa-pa.”


“Papa mohon maaf ya, papa yang salah gak bisa


jagain kalian. Harusnya papa bisa antisipasi masalah ini. Papa kecolongan,


nak.”


“Bukan salah papa. Udah takdir Gadis gini,


pah.”kata Gadis berusaha tegar. Wanita itu menatap Rio yang terlihat murung.


“Rio, anak ini udah gak ada. Kita udah gak punya


alasan untuk nikah, kan.”


Semua orang di ruangan itu terdiam mendengar


kata-kata Gadis.


“Apa maksudmu?!”tanya Rio dingin.


“Rio, masa depan kita masih panjang. Aku nggak mau


jadi penghalang untuk karirmu. Sekarang setelah anak ini gak ada, aku juga


ingin melanjutkan kuliahku.”


“Kita bisa melakukannya bersama. Kau mau kuliah


lagi, ayo kita kuliah lagi.”


“Tapi, Rio. Sejak awal hubungan kita sudah terjadi


kesalahan. Anak ini juga pergi karena kesalahanku. Aku gak bisa menjaganya.”


“Jadi kamu mau menghukumku atas kesalahanmu?!”tanya


Rio sengit.


Alex hampir maju untuk menahan Rio, tapi Aira


menggeleng. Ia ingin melihat sejauh mana Rio bisa mempertahankan Gadis karena


keras kepala putrinya itu.


“Aku nggak. Rio, aku sudah memaafkanmu atas


kejadian malam itu. Aku tahu kamu gak sadar. Aku juga salah, tidak bisa menjaga


diriku sendiri. Menjagaku bukan tanggung jawabmu, Rio. Aku bisa menjaga diriku


sendiri.”


“Apa kau kira kata-katamu ini bisa membatalkan


pernikahan kita?”


“Kenapa kau keras kepala sekali?! Aku capek sama


kamu! Kamu ngerti gak?”


“Kau bohong selama ini kan?!”teriak Rio. “Kau sama


seperti Kaori. Bilang cinta padaku, tapi akhirnya pergi. Kalian pembohong!”Rio


mengusap air mata yang sudah menetes di pipinya.


“Aku gak bohong! Aku sangat mencintaimu, Rio.”Gadis


ikutan menangis melihat reaksi Rio yang terluka.


“Kau sudah berbuat kesalahan, Gadis. Aku harus


menghukummu! Tidak peduli apa katamu. Kau harus hidup bersamaku seumur hidupmu!


Ini hukuman kita.”putus Rio.


“Bagaimana kalau Gadis tidak bisa memberimu


keturunan, Rio?”tanya Aira membuat Rio menoleh padanya.


“Apa maksud mama?”


Gadis menatap Rio yang mulai pucat. Mamanya menatap


Rio dan mengatakan kalau ia mendengar semua yang dikatakan dokter tentang apa


yang terjadi dengan Gadis.


“Jadi, Gadis gak akan bisa punya anak lagi?”pilu


mendengar suara Gadis saat mengatakan itu.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang

__ADS_1


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2