
Hukuman kita
“Nak, kamu beruntung bisa mencintai pria seperti
Rio. Ia bisa menerima semua kekuranganmu tanpa mengeluh. Apa mama harus
mengatakan yang sebenarnya, nak? Atau menyimpan rahasia ini juga.”
Setelah merasa lebih tenang, Aira beranjak masuk ke
UGD dan bersikap seolah dirinya baru datang. Rio mengusap air matanya saat
mendapati Aira memegang pundaknya.
“Mah, Gadis...”
“Apa yang terjadi, Rio?”tanya Aira.
Rara menyingkir dari kursi, membiarkan Aira duduk
di samping Rio. Rio mencoba bercerita tentang apa yang ia tahu dan keadaan
Gadis sekarang. Aira mengusap punggung Rio dengan mata berkaca-kaca. Bahkan
terhadap dirinya, Rio tidak mengatakan apa akibat keguguran ini untuk Gadis.
“Tabahlah. Kalian akan bisa mendapatkan anak lagi
setelah Gadis sembuh, kan?”tanya Aira.
“Iya, mah. Rio akan berusaha yang terbaik.”kata Rio
mencoba tersenyum ditengah tangisannya.
”Dia bahkan tidak ragu menjawab pertanyaanku.
Tidak adil rasanya kalau Rio harus menderita juga kalau sampai Gadis tidak bisa
hamil lagi. Nak, apa yang harus mama lakukan?”
“Kamu baik-baik aja, Rio? Kamu bisa terima
kenyataan ini?”
“Bisa, mah. Rio tidak mau kehilangan Gadis. Bisakan
kami tetap menikah?”tanya Rio penuh harap.
“Ya, nak. Setelah Gadis sembuh ya.”
Aira mengusap air matanya dan tersenyum pada Rio. Ia
sangat bersyukur putrinya mencintai pria setulus Rio.
*****
Gadis terbangun dengan keringat membasahi
keningnya. Ia bermimpi buruk tentang kejadian sebelumnya. Rio yang mendengar
rintihan Gadis, mengguncang tubuhnya.
“Gadis, bangun. Gadis.”
“Rio! Rio, tolong mama!”jerit Gadis yang belum
menyadari dirinya ada dimana.
“Tenang, Gadis. Kamu sudah aman sekarang. Kita di
rumah sakit.”kata Rio.
“Mama mana, Rio?” Rio menunjuk bed di sebelah. Mia
terbaring disana masih terpengaruh obat dan tampak tertidur pulas.
“Mama gak pa-pa, kan?”tanya Gadis masih khawatir.
Di kamar itu tidak ada orang lain selain mereka bertiga. Alex, Rara, dan Aira
sedang membeli kopi dan makanan untuk Rio.
“Gak pa-pa. Mama minum obat yang keras. Tapi sudah
ditangani dokter. Cuma belum sadar.”
“Aduch!”pekik Gadis ketika ingin bangun. “Kok
perutku sakit banget, Rio.”
“Gadis, baring ya. Kamu baru habis... keguguran.
Kamu harus istirahat.”kata Rio jujur. Sebisa mungkin ia tidak ingin menyembunyikan
apapun dari Gadis lagi. Kecuali keadaan Gadis yang sebenarnya.
“Apa?! Anakku..”
__ADS_1
Gadis mulai menangis menyadari calon anak mereka
sudah pergi. Rio memeluknya dan memenangkan Gadis, ia menahan air matanya agar
tidak jatuh lagi.
“Kita bisa mendapatkannya lagi, Gadis. Kamu harus
iklas ya.”kata Rio sambil menunduk.
Rio mencium Gadis yang masih sesenggukan sampai
Gadis ngos-ngosan dibuatnya. “Rio! Hah! Hah!” Gadis memalingkan wajahnya untuk
mengambil nafas. Rio ganti menciumi leher Gadis, menggigitnya hingga leher
Gadis merah-merah. Rangsangan yang diberikan Rio, membuat Gadis kelimpungan.
“Rio... udah. Hah!”rintih Gadis sambil memegangi
perutnya.
“Maaf, sayang. Aku tidak bisa menahannya. Sakit
lagi ya?”kata Rio. Ia mengelus-elus perut Gadis.
“Ada yang keluar lagi. Kamu sich.” Gadis cemberut,
membuat Rio ingin menciumnya lagi.
Gadis dibuat kewalahan dengan ulah Rio yang kembali
menciumnya. Ia tersenyum merasakan cinta Rio yang selalu ditunjukkan pria itu
padanya tanpa basa-basi.
“Ehem! Ehem!” Alex, Rara dan Aira yang sudah
kembali, memergoki Rio dan Gadis malah asyik ciuman gak tau tempat. Alex
melirik Mia yang masih tertidur. Rara dan Aira duduk di sofa, geleng-geleng
kepala melihat Rio masih asyik mencium Gadis.
“Ehem!”Aira berdehem untuk mengingatka mereka.
Gadis yang mendengar suara mamanya, spontan menoleh
dan mendorong Rio. Wajah keduanya merona merah karena kepergok.
“Mah, kak Rara. Udah lama?”tanya Gadis malu-malu.
pura-pura kesal.
“Kamu sih.”sengit Gadis pada Rio yang cengengesan.
“Aduch! Kenapa banyak nyamuk disini ya? Lehernya
Gadis sampe merah-merah gitu.”kata Rara ketika melihat banyak tanda merah di
leher Gadis.
“Rio! Kamu bikin cupangan lagi?!”jerit Gadis tanpa
sadar.
“Sapa suruh kamu manis. Aku kan jadi pengen makan
kamu terus.”rayu Rio.
“Duh, ini anak dua. Benar-benar dech.”kata Aira.
Rara meminta Rio untuk makan dulu tapi ia tidak mau
karena Gadis belum makan. Gadis membujuk Rio untuk makan dengan menyuapinya, tapi
Rio balik menyuapinya juga.
“Situasi romantis ini membuatku merindukan mas
Arnold. Mas Arnold! Waduh, kenapa bisa lupa nelpon dia?”kata Rara panik.
“Arnold lagi bantu Jodi. Jangan diganggu dulu.
Mereka hampir nangkep penjahat itu.”jelas Alex yang terus memantau keadaan
dengan ponselnya.
“Mereka gak sendirian kan, pah?”tanya Rara lagi.
“Nggak. Jodi kan punya body guard, pasti diajak
lah. Bisa ngamuk pak Anton kalo Jodi sampe lecet.”kata Alex. Ia menatap Gadis
yang sudah selesai makan bersama Rio.
“Gadis, kamu uda mendingan?”tanya Alex.
__ADS_1
“Iya, pah. Masih nyeri perutnya tapi gak pa-pa.”
“Papa mohon maaf ya, papa yang salah gak bisa
jagain kalian. Harusnya papa bisa antisipasi masalah ini. Papa kecolongan,
nak.”
“Bukan salah papa. Udah takdir Gadis gini,
pah.”kata Gadis berusaha tegar. Wanita itu menatap Rio yang terlihat murung.
“Rio, anak ini udah gak ada. Kita udah gak punya
alasan untuk nikah, kan.”
Semua orang di ruangan itu terdiam mendengar
kata-kata Gadis.
“Apa maksudmu?!”tanya Rio dingin.
“Rio, masa depan kita masih panjang. Aku nggak mau
jadi penghalang untuk karirmu. Sekarang setelah anak ini gak ada, aku juga
ingin melanjutkan kuliahku.”
“Kita bisa melakukannya bersama. Kau mau kuliah
lagi, ayo kita kuliah lagi.”
“Tapi, Rio. Sejak awal hubungan kita sudah terjadi
kesalahan. Anak ini juga pergi karena kesalahanku. Aku gak bisa menjaganya.”
“Jadi kamu mau menghukumku atas kesalahanmu?!”tanya
Rio sengit.
Alex hampir maju untuk menahan Rio, tapi Aira
menggeleng. Ia ingin melihat sejauh mana Rio bisa mempertahankan Gadis karena
keras kepala putrinya itu.
“Aku nggak. Rio, aku sudah memaafkanmu atas
kejadian malam itu. Aku tahu kamu gak sadar. Aku juga salah, tidak bisa menjaga
diriku sendiri. Menjagaku bukan tanggung jawabmu, Rio. Aku bisa menjaga diriku
sendiri.”
“Apa kau kira kata-katamu ini bisa membatalkan
pernikahan kita?”
“Kenapa kau keras kepala sekali?! Aku capek sama
kamu! Kamu ngerti gak?”
“Kau bohong selama ini kan?!”teriak Rio. “Kau sama
seperti Kaori. Bilang cinta padaku, tapi akhirnya pergi. Kalian pembohong!”Rio
mengusap air mata yang sudah menetes di pipinya.
“Aku gak bohong! Aku sangat mencintaimu, Rio.”Gadis
ikutan menangis melihat reaksi Rio yang terluka.
“Kau sudah berbuat kesalahan, Gadis. Aku harus
menghukummu! Tidak peduli apa katamu. Kau harus hidup bersamaku seumur hidupmu!
Ini hukuman kita.”putus Rio.
“Bagaimana kalau Gadis tidak bisa memberimu
keturunan, Rio?”tanya Aira membuat Rio menoleh padanya.
“Apa maksud mama?”
Gadis menatap Rio yang mulai pucat. Mamanya menatap
Rio dan mengatakan kalau ia mendengar semua yang dikatakan dokter tentang apa
yang terjadi dengan Gadis.
“Jadi, Gadis gak akan bisa punya anak lagi?”pilu
mendengar suara Gadis saat mengatakan itu.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
__ADS_1
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.