
Jadi teman
Rio mengambil infus yang tergantung disisi tempat
tidur Gadis. Ia menyodorkan infus itu pada Gadis dan menggendongnya masuk ke
kamar mandi. Setelah mendudukkan Gadis di toilet, Rio bingung gimana caranya
tetap menahan infus sementara Gadis melakukan apa yang seharusnya ia lakukan di
toilet.
Gadis : “Rio, balik badan sana. Pegang infusnya
tinggi-tinggi. Aku mau kencing.”
Rio : “Ini beneran gak pa-pa aku disini? Aku
panggil mama dulu ya.”
Gadis : “Aku uda kebelet. Cepetan balik badan dan
tutup telingamu.”
Rio melakukan yang diminta Gadis, ia fokus menatap
shower, menghitung berapa banyak lubang shower yang terlihat dari tempat ia
berdiri. Ia terus menatapnya sampai Gadis menarik-narik selang infusnya.
Gadis : “Rio, udah. Gendong lagi.”
Rio berbalik dan menggendong Gadis kembali ke
tempat tidurnya. Mia sudah terbangun waktu Rio menggendong Gadis masuk ke kamar
mandi, tapi Mia hanya mengawasi Gadis dan Rio. Ia ingin tahu sejauh mana trauma
Gadis terhadap Rio. Saat mereka keluar dari kamar mandi, Mia kembali
berpura-pura tidur.
Rio : “Kamu mau minum?”
Gadis : “Iya. Ambilin botol air minumnya.”
Rio mengambilkan air minum untuk Gadis, mereka
saling menatap dan tersenyum.
Gadis : “Kita mulai dari awal lagi ya. Hai, aku
Gadis. Kita teman?”
Rio : “Aku Rio. Akan kupikirkan dulu.”
Gadis : “Hei, harusnya kau jawab ‘kita teman’,
juga.”
Rio : “Sudah selesai kupikirkan. Kita teman, juga.”
Gadis : “Kenapa kau malah mengikuti kata-kataku?”
Rio : “Aku salah lagi. Kau ini seperti Kaori,
selalu menyalahkan aku.”
Mia terkejut mendengar kata-kata Rio, ia mengintip
ekspresi wajah Gadis yang biasa saja. Mia mengira kalau Gadis akan sedih
mendengar Rio menyebut-nyebut nama Kaori. Tapi Mia salah besar, Gadis justru
tersenyum.
Gadis : “Karena kami calon emak-emak. Kau tidak
akan mungkin menang melawan kami. Hihihi...”
Rio : “Ya sudahlah. Aku Rio. Kita teman.”
Mia tersenyum melihat Gadis tersenyum senang sambil
menjabat tangan Rio. Dokter melakukan visit pagi itu dan mengatakan kalau Gadis
sudah bisa pulang. Setelah mengurus administrasi, Rio mengantar Gadis dan Mia
pulang ke rumah Alex.
Rio sudah ingin kembali ke apartment kalau Gadis
__ADS_1
tidak menyuruhnya melakukan banyak hal. Gadis lebih berani menyuruh Rio
memenuhi keinginan ngidamnya. Mereka menyetop abang-abang penjual bakso dan
penjual rujak. Gadis menikmati makan bakso yang diracik Rio. Rio juga harus mengulek
bumbu rujak colek dan mengupas buah yang dipilih Gadis.
Rio memasang wajah cemberut karena permintaan Gadis
gak habis-habis. Mia hanya bisa mensupport Rio sambil menahan senyumnya. Gadis
bahkan terus meminta Rio untuk makan dan mengatakan ia tidak mau jadi gemuk
sendiri.
*****
Dua hari kemudian, Gadis sudah kembali bekerja di
perusahaan Alex. Siang itu ada meeting sebelum jam makan siang. Rio berdiri di
depan Gadis ketika wanita itu menjelaskan beberapa jawaban atas pertanyaan
client mereka di e-mail.
Rio juga sedang menunggu Alex keluar dari
ruangannya karena meeting akan segera dimulai. Gadis kembali asyik makan roti
di tangannya. Ia melihat dasi yang dipakai Rio miring.
Gadis : “Rio, dasimu miring tuch.”
Rio hampir membetulkan dasinya sendiri tapi ia
meminta Gadis melakukannya karena di tangannya ada dokumen meeting. Gadis ingin
meletakkan rotinya, tapi ia memilih menggigit roti itu di bibirnya. Gadis
merapikan dasi Rio dan memasukkannya ke rompinya.
Saat itu sisa roti yang masih tertinggal di luar
bibir Gadis menggoda Rio untuk menggigitnya. Rio menunduk dan menggigit sisa
roti itu. Mata Gadis terbelalak kaget mendapat serangan mendadak Rio. Bibir
mereka hampir bersentuhan karena ulah Rio itu.
Rio : “Aku lapar. Manis. Ini coklat?”
Gadis mengangguk, ia melihat sisa coklat di sudut
bibir Rio dan mengusapnya dengan jempol tangannya.
Rio : “Jangan bergerak!”
Gadis membeku dengan jempol tangan diam di dekat
bibir Rio. Hup! Rio menjilat sisa coklat di jempol Gadis sampai wajah wanita
itu merah merona. Rio menatap mata Gadis, membuat jantung wanita itu berdetak
sangat cepat.
Alex : “Ehem...!”
Keduanya menoleh menatap Alex dan Romi yang sudah
keluar dari ruangan Alex dan sedang menonton drama romantis di depan mereka.
Gadis refleks mundur, tapi dibelakangnya ada meja. Tubuhnya langsung terdorong
ke depan menabrak dada Rio.
Rio langsung memeluk tubuh Gadis dengan satu tangan
agar ia tidak jatuh. Mereka saling menatap sangat dekat.
Alex : “Ehem. Papa duluan ke ruang meeting. Kalo
uda selesai, nyusul ya.”
Romi cuma senyum-senyum melihat mereka, ia masuk ke
ruangannya sendiri. Gadis segera melepaskan diri dari Rio dan duduk kembali di
kursi kerjanya.
Rio : “Masih ada coklat? Di bibirku?”
__ADS_1
Gadis melihat wajah Rio dan menggeleng.
Rio : “Bagaimana penampilanku, ok?”
Gadis mengangguk dan mengacungkan jempolnya.
Gadis : “Semoga berhasil.”
Rio segera menyusul Alex masuk ke ruang meeting
dengan senyum mengembang. Keduanya sama-sama tersenyum dengan kejadian tadi.
*****
Meeting berjalan sekitar 2 jam, Alex keluar bersama
client mereka dan mengantar sampai ke lift. Ia tidak mengatakan apa-apa pada
Gadis yang kepo dengan hasil meeting tadi. Gadis bingung melihat Rio berjalan
melewati mejanya dan masuk ke ruangan Romi. Ia keluar lagi sambil menarik
kursinya dan duduk di samping Gadis.
Gadis : “Gimana hasilnya?”
Rio : “Aku capek. Pijitin disini.”
Gadis memijat bagian pundak yang di tunjuk Rio. Melihat
Rio malah keenakan, tidak menjawab pertanyaannya, Gadis mencubit lengan Rio
kuat-kuat.
Rio : “Aaddooww!! Sakit!!”
Gadis : “Kamu ditanya malah diem aja. Gimana
meetingnya tadi?”
Rio : “Kecil. Kau sedang memijat wakil direktur
sekarang.”
Gadis : “Sombong. Baru segitu pencapaianmu, aku
masih bisa mengalahkanmu.”
Rio : “Coba saja. Ini ada proyek baru dan tim
pemasaran belum dapat ide sampai sekarang. Terima tantangannya?”
Gadis : “Deal. Kalau aku menang, kau harus
menemaniku nonton film horor.”
Rio : “Jangan film horor.”
Gadis : “Ayolah. Tidak akan menakutkan.”
Rio : “Aku nggak takut, cuma gak suka nontonnya.”
Gadis : “Bilang saja kau takut.”
Rio : “Ok. Tapi nontonnya di rumah.”
Gadis : “Deal.”
Rio : “Kalau kau kalah, gimana?”
Gadis : “Kamu mau minta apa?”
Rio : “Cium aku.”
Wajah Gadis langsung berubah pucat. Ia menatap Rio
yang perlahan nyengir lebar dan tertawa melihat perubahan wajahnya. Gadis
memukul lengan Rio dan mencubiti pinggangnya.
Rio : “Ampun. Ampun, aku cuma bercanda. Kalo kamu
kalah... ntar aja deh. Cepat lihat konsepnya.”
Rio menunjukkan e-mail yang masuk ke bagian
pemasaran beberapa hari lalu. Kalau sudah seperti itu, mereka berdua akan
bersikap profesional dan menunjukkan kemampuan mereka.
*****
__ADS_1
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.