Duren Manis

Duren Manis
Jadi teman


__ADS_3

Jadi teman


Rio mengambil infus yang tergantung disisi tempat


tidur Gadis. Ia menyodorkan infus itu pada Gadis dan menggendongnya masuk ke


kamar mandi. Setelah mendudukkan Gadis di toilet, Rio bingung gimana caranya


tetap menahan infus sementara Gadis melakukan apa yang seharusnya ia lakukan di


toilet.


Gadis : “Rio, balik badan sana. Pegang infusnya


tinggi-tinggi. Aku mau kencing.”


Rio : “Ini beneran gak pa-pa aku disini? Aku


panggil mama dulu ya.”


Gadis : “Aku uda kebelet. Cepetan balik badan dan


tutup telingamu.”


Rio melakukan yang diminta Gadis, ia fokus menatap


shower, menghitung berapa banyak lubang shower yang terlihat dari tempat ia


berdiri. Ia terus menatapnya sampai Gadis menarik-narik selang infusnya.


Gadis : “Rio, udah. Gendong lagi.”


Rio berbalik dan menggendong Gadis kembali ke


tempat tidurnya. Mia sudah terbangun waktu Rio menggendong Gadis masuk ke kamar


mandi, tapi Mia hanya mengawasi Gadis dan Rio. Ia ingin tahu sejauh mana trauma


Gadis terhadap Rio. Saat mereka keluar dari kamar mandi, Mia kembali


berpura-pura tidur.


Rio : “Kamu mau minum?”


Gadis : “Iya. Ambilin botol air minumnya.”


Rio mengambilkan air minum untuk Gadis, mereka


saling menatap dan tersenyum.


Gadis : “Kita mulai dari awal lagi ya. Hai, aku


Gadis. Kita teman?”


Rio : “Aku Rio. Akan kupikirkan dulu.”


Gadis : “Hei, harusnya kau jawab ‘kita teman’,


juga.”


Rio : “Sudah selesai kupikirkan. Kita teman, juga.”


Gadis : “Kenapa kau malah mengikuti kata-kataku?”


Rio : “Aku salah lagi. Kau ini seperti Kaori,


selalu menyalahkan aku.”


Mia terkejut mendengar kata-kata Rio, ia mengintip


ekspresi wajah Gadis yang biasa saja. Mia mengira kalau Gadis akan sedih


mendengar Rio menyebut-nyebut nama Kaori. Tapi Mia salah besar, Gadis justru


tersenyum.


Gadis : “Karena kami calon emak-emak. Kau tidak


akan mungkin menang melawan kami. Hihihi...”


Rio : “Ya sudahlah. Aku Rio. Kita teman.”


Mia tersenyum melihat Gadis tersenyum senang sambil


menjabat tangan Rio. Dokter melakukan visit pagi itu dan mengatakan kalau Gadis


sudah bisa pulang. Setelah mengurus administrasi, Rio mengantar Gadis dan Mia


pulang ke rumah Alex.


Rio sudah ingin kembali ke apartment kalau Gadis

__ADS_1


tidak menyuruhnya melakukan banyak hal. Gadis lebih berani menyuruh Rio


memenuhi keinginan ngidamnya. Mereka menyetop abang-abang penjual bakso dan


penjual rujak. Gadis menikmati makan bakso yang diracik Rio. Rio juga harus mengulek


bumbu rujak colek dan mengupas buah yang dipilih Gadis.


Rio memasang wajah cemberut karena permintaan Gadis


gak habis-habis. Mia hanya bisa mensupport Rio sambil menahan senyumnya. Gadis


bahkan terus meminta Rio untuk makan dan mengatakan ia tidak mau jadi gemuk


sendiri.


*****


Dua hari kemudian, Gadis sudah kembali bekerja di


perusahaan Alex. Siang itu ada meeting sebelum jam makan siang. Rio berdiri di


depan Gadis ketika wanita itu menjelaskan beberapa jawaban atas pertanyaan


client mereka di e-mail.


Rio juga sedang menunggu Alex keluar dari


ruangannya karena meeting akan segera dimulai. Gadis kembali asyik makan roti


di tangannya. Ia melihat dasi yang dipakai Rio miring.


Gadis : “Rio, dasimu miring tuch.”


Rio hampir membetulkan dasinya sendiri tapi ia


meminta Gadis melakukannya karena di tangannya ada dokumen meeting. Gadis ingin


meletakkan rotinya, tapi ia memilih menggigit roti itu di bibirnya. Gadis


merapikan dasi Rio dan memasukkannya ke rompinya.


Saat itu sisa roti yang masih tertinggal di luar


bibir Gadis menggoda Rio untuk menggigitnya. Rio menunduk dan menggigit sisa


roti itu. Mata Gadis terbelalak kaget mendapat serangan mendadak Rio. Bibir


mereka hampir bersentuhan karena ulah Rio itu.


Rio : “Aku lapar. Manis. Ini coklat?”


Gadis mengangguk, ia melihat sisa coklat di sudut


bibir Rio dan mengusapnya dengan jempol tangannya.


Rio : “Jangan bergerak!”


Gadis membeku dengan jempol tangan diam di dekat


bibir Rio. Hup! Rio menjilat sisa coklat di jempol Gadis sampai wajah wanita


itu merah merona. Rio menatap mata Gadis, membuat jantung wanita itu berdetak


sangat cepat.


Alex : “Ehem...!”


Keduanya menoleh menatap Alex dan Romi yang sudah


keluar dari ruangan Alex dan sedang menonton drama romantis di depan mereka.


Gadis refleks mundur, tapi dibelakangnya ada meja. Tubuhnya langsung terdorong


ke depan menabrak dada Rio.


Rio langsung memeluk tubuh Gadis dengan satu tangan


agar ia tidak jatuh. Mereka saling menatap sangat dekat.


Alex : “Ehem. Papa duluan ke ruang meeting. Kalo


uda selesai, nyusul ya.”


Romi cuma senyum-senyum melihat mereka, ia masuk ke


ruangannya sendiri. Gadis segera melepaskan diri dari Rio dan duduk kembali di


kursi kerjanya.


Rio : “Masih ada coklat? Di bibirku?”

__ADS_1


Gadis melihat wajah Rio dan menggeleng.


Rio : “Bagaimana penampilanku, ok?”


Gadis mengangguk dan mengacungkan jempolnya.


Gadis : “Semoga berhasil.”


Rio segera menyusul Alex masuk ke ruang meeting


dengan senyum mengembang. Keduanya sama-sama tersenyum dengan kejadian tadi.


*****


Meeting berjalan sekitar 2 jam, Alex keluar bersama


client mereka dan mengantar sampai ke lift. Ia tidak mengatakan apa-apa pada


Gadis yang kepo dengan hasil meeting tadi. Gadis bingung melihat Rio berjalan


melewati mejanya dan masuk ke ruangan Romi. Ia keluar lagi sambil menarik


kursinya dan duduk di samping Gadis.


Gadis : “Gimana hasilnya?”


Rio : “Aku capek. Pijitin disini.”


Gadis memijat bagian pundak yang di tunjuk Rio. Melihat


Rio malah keenakan, tidak menjawab pertanyaannya, Gadis mencubit lengan Rio


kuat-kuat.


Rio : “Aaddooww!! Sakit!!”


Gadis : “Kamu ditanya malah diem aja. Gimana


meetingnya tadi?”


Rio : “Kecil. Kau sedang memijat wakil direktur


sekarang.”


Gadis : “Sombong. Baru segitu pencapaianmu, aku


masih bisa mengalahkanmu.”


Rio : “Coba saja. Ini ada proyek baru dan tim


pemasaran belum dapat ide sampai sekarang. Terima tantangannya?”


Gadis : “Deal. Kalau aku menang, kau harus


menemaniku nonton film horor.”


Rio : “Jangan film horor.”


Gadis : “Ayolah. Tidak akan menakutkan.”


Rio : “Aku nggak takut, cuma gak suka nontonnya.”


Gadis : “Bilang saja kau takut.”


Rio : “Ok. Tapi nontonnya di rumah.”


Gadis : “Deal.”


Rio : “Kalau kau kalah, gimana?”


Gadis : “Kamu mau minta apa?”


Rio : “Cium aku.”


Wajah Gadis langsung berubah pucat. Ia menatap Rio


yang perlahan nyengir lebar dan tertawa melihat perubahan wajahnya. Gadis


memukul lengan Rio dan mencubiti pinggangnya.


Rio : “Ampun. Ampun, aku cuma bercanda. Kalo kamu


kalah... ntar aja deh. Cepat lihat konsepnya.”


Rio menunjukkan e-mail yang masuk ke bagian


pemasaran beberapa hari lalu. Kalau sudah seperti itu, mereka berdua akan


bersikap profesional dan menunjukkan kemampuan mereka.


*****

__ADS_1


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2