
Extra part 44
“Anggap saja saya nggak pernah ngomong gitu, tante.
Saya mau mandi dulu ya, tante. Nanti saya bantu Bilar pilih baju. Habis itu
saya pamit pulang. Terima kasih, tante.” Keira beranjak dari sofa tanpa
menghabiskan sarapannya. Ia masuk ke kamar mandi dan setelah pintu tertutup,
Bianca langsung menelpon seseorang.
Keira tidak berlama-lama di kamar mandi, ia keluar
dari sana hanya berbalut handuk dan melihat Bianca masih ada dikamar itu.
“Kei, habiskan sarapanmu. Trus langsung ke kamarnya
Bilar ya. Kamu sudah tahu kan kamar Bilar di bawah tangga.” Bianca meninggalkan
Keira sendirian di kamar itu.
Keira duduk kembali di sofa, ia menggosok rambutnya
yang basah dengan handuk kecil. Memikirkan Bilar akan pergi berkencan dengan
Silvia, membuatnya malas untuk menemui Bilar. Keira berlama-lama menghabiskan
sarapannya. Dirinya bahkan belum berpakaian. Ketika Keira sedang mengingat
sesuatu yang penting, pintu kamar itu tiba-tiba terbuka.
“Aarrgghh!!!” jerit Keira kaget melihat Bilar
nyelonong masuk.
“Keluar! Aku belum pake baju!!” Keira melempar
Bilar dengan bantal sofa. Bilar menangkisnya dengan gerakan mirip kungfu panda,
membuat Keira tertawa melihat tingkahnya.
“Kenapa kamu lama sekali? Aku harus pakai apa?”
tanya Bilar.
“Pakai kacamatamu lagi. Pakai baju kerja yang
membosankan itu. Rambutmu harus tidur, pakai pomade yang banyak. Udah sana, aku
mau pake baju dulu.” Keira beranjak ke lemari, tempat pakaiannya tergantung
disana. Bianca membelikannya beberapa pakaian selama Keira tinggal disana,
padahal Bianca bisa memerintahkan pelayannya untuk mengambil pakaian Keira di
apartmentnya.
Saat Keira berbalik, Bilar sudah tidak ada di kamar
itu. Gadis itu cepat-cepat bersiap. Ia hanya asal saja bicara menyuruh Bilar
berpenampilan seperti dia yang culun dulu. Seharusnya Keira berpikir dulu
sebelum bicara begitu. Setelah selesai berpakaian, Keira menyambar tasnya dan
keluar kamar menuju kamar Bilar.
Tok, tok, tok. Keira mengetuk pintu kamar itu,
tidak ada jawaban dari dalam sana. Perlahan Keira membuka pintu lalu melihat
sekeliling kamar. Tidak ada seorang pun disana. Kemana Bilar pergi?
Keira memutuskan kembali ke apartment-nya, daripada
mencari Bilar lagi. Saat sedang menunggu sopir Bianca, Keira tidak sengaja
mendengar pembicaraan pelayan dengan salah satu bodyguard tentang tempat kencan
buta Bilar.
Sopir menghampiri Keira dan membukakan pintu
untuknya. Keira mengucapkan terima kasih sebelum masuk ke bangku belakang mobil
itu. Mobil meluncur keluar dari halaman rumah Bianca. Keira menimbang sesuatu
di dalam benaknya. Ia ingin melihat bagaimana Bilar melakukan kencan buta
dengan Silvia.
“Pak, bisa tolong antar saya ke hotel XX?” pinta
Keira pada sopir. Sopir itu mengangguk dan mobil bergerak semakin cepat membelah
jalanan kota yang mulai padat kendaraan.
Sampai di hotel XX, Keira langsung turun setelah
mengucapkan terima kasih pada sopir Bianca. Ragu-ragu Keira masuk ke loby
hotel. Tingkahnya yang mencurigakan membuat sekuriti hotel mendekatinya.
“Permisi, nona. Ada yang bisa saya bantu?” tanya
sekuriti itu ramah.
“Iya, pak. Dimana restaurant-nya?” tanya Keira.
Sekuriti menunjuk ke samping atas di lantai dua.
Keira menoleh ke arah yang ditunjuk sekuriti dan melihat samar sosok Bilar
__ADS_1
tampak duduk di salah satu kursi yang ada disana. Keira mengucapkan terima
kasih lalu masuk ke lobby hotel. Ia mencari lift untuk bisa naik ke lantai dua.
Setelah tiba di pintu masuk restaurant, Keira
sempat ragu dengan tindakannya. Ia merasa sedang mengintip suaminya yang sedang
selingkuh.
“Aku pasti sudah gila,” gumam Keira hendak berbalik
turun lagi, tapi tiba-tiba berbalik.
“Aku harus melihat apa yang terjadi. Bilar berhak
mendapat gadis yang lebih baik dari Silvia,” gumam Keira lagi.
Keira menarik nafas panjang sebelum memasuki
restaurant. Seorang pelayan menanyakan meja yang diinginkan Keira. Gadis itu
langsung menunjuk tempat di dekat jendela kaca. Dengan langkah cepat dan
panjang, Keira berjalan mendekati meja kosong yang ada di belakang Bilar.
Setelah duduk dan memesan minuman dingin, Keira
mulai mencuri pandang melihat penampilan Bilar. Pria itu tampil tanpa
kacamatanya. Bilar terlihat tampan paripurna. Ia memakai kemeja berwarna merah
maroon yang menonjolkan otot dadanya.
Keira menggenggam napkin dengan keras. Bilar tidak
mendengarkan kata-katanya tentang berpenampilan culun kembali. Sepertinya Bilar
sangat serius melakukan kencan buta ini.
Tak perlu menunggu waktu lama, Silvia muncul dari
pintu restaurant. Gadis itu tampak cantik dengan dress selutut berwarna biru
langit. Senyum manis menghiasi bibirnya saat melihat Bilar di tempat yang sudah
diatur. Dengan langkah tenang, Silvia berjalan mendekati Bilar dan menyapa pria
itu.
“Hai, aku Silvia. Kamu Bilar, kan?” tanya Silvia
dengan anggun.
“Ya. Silahkan duduk.” Bilar mempersilakan Silvia
duduk di depannya.
lebih ganteng daripada fotomu,” ucap Silvia sok manis. Keira yang mendengarnya,
ingin sekali mengatakan bagaimana perilaku gadis itu kalau malam sudah tiba.
Pelayan datang menanyakan pesanan Bilar dan Silvia.
Bilar memesan iced capucino dan Silvia ingin jus jeruk segar. Sambil menunggu
pelayan itu kembali, Silvia pamit pada Bilar kalau ia ingin ke toilet. Padahal
sesungguhnya Silvia mendekati pelayan restaurant itu lalu memberinya sejumlah
uang untuk memasukkan sesuatu pada minuman Bilar. Kapsul yang keluar dari tas
tangan Silvia, langsung berpindah tangan ke pelayan itu.
Semua yang dilakukan Silvia, diam-diam direkam
Keira. Bukan apa-apa, Keira hanya ingin memberikan bukti yang cukup pada Bianca
kalau apa yang Keira katakan adalah sebuah kebenaran.
Silvia kembali duduk di hadapan Bilar. Seorang
pelayan mendekati mereka dan menghidangkan pesanan keduanya. Keira berharap
kalau Bilar tidak akan meminum iced capucino itu. Ia ingin menghentikan Bilar,
tapi seorang pelayan datang dan mengatakan kalau pesanannya kosong. Keira
bertanya dengan suara pelan, gadis itu bingung apa yang dipesannya karena tadi
dia hanya asal tunjuk saja.
“Saya pesen apa ya mba?” tanya Keira.
Pelayan membacakan kembali pesanan Keira. Gadis itu
segera mengganti pesanannya jadi yang ada dan paling cepat selesai. Perhatian
Keira sempat teralihkan, hingga ia tidak menyadari apa yang terjadi di
belakangnya. Ketika Keira mencoba mengintip ke belakangnya, Bilar dan Silvia
sudah tidak terlihat lagi di belakang sana.
Deg! Jantung Keira berdetak kencang, ia melihat
sekeliling restaurant tapi tidak menemukan Bilar dan Silvia. Keira melihat iced
capucino Bilar hanya tersisa setengahnya saja. Gadis itu menelan salivanya lalu
mencoba bertanya pada pelayan yang berdiri di depan pintu apakah pelayan itu
melihat Bilar dan Silvia.
__ADS_1
Keira berjalan cepat menuju lift, ia tidak tahu
kemana Bilar dan Silvia pergi. Pelayan tadi hanya mengatakan kalau keduanya
berjalan menuju lift dan sepertinya Bilar terlihat tidak sehat. Keira mulai berpikir
macam-macam, ia memperhatikan angka lift yang berhenti di lantai enam. Keira
cepat-cepat menyusul naik ke lantai enam ketika pintu lift terbuka.
Dalam hatinya Keira berdoa agar Bilar baik-baik saja.
Sungguh, Keira tidak sudi kalau Bilar jatuh ke tangan gadis nakal seperti
Silvia.
“Seharusnya aku bilang terus terang sama Bilar
kemarin. Bodoh sekali!” pekik Keira cemas.
Ketika pintu lift terbuka, Keira tidak melihat
siapapun di lorong lantai itu. Ia menebak antara ke kiri atau ke kanan. Berlari
cepat menggunakan heels-nya, Keira menyusuri lorong sebelah kiri. Nihil, tidak
ada seorang pun disana. Cepat-cepat Keira berbalik, berlari ke lorong sebelah
kanan. Di depan sebuah kamar, tampak seorang housekeeping berdiri sambil
membolak-balik sebuah benda yang tampak seperti ponsel.
“Permisi.” Keira merebut ponsel itu dari tangan
housekeeping tanpa mengatakan maksudnya. Gadis itu menekan tombol power dan
wajah tenangnya saat tertidur, muncul di wallpaper ponsel Bilar.
“Mba, itu HP saya,” kata housekeeping itu, sedikit
emosi.
“Kalau ini HP kamu, kenapa ada fotoku disini?!”
pekik Keira emosi duluan.
Housekeeping itu ketakutan melihat foto seksi Keira
terpampang jelas di layar ponsel itu. Ia mengaku kalau ponsel itu ia temukan di
depan kamar yang ada di samping mereka. Keira mengancam housekeeping itu, ia
memerintahkan housekeeping itu untuk membuka pintu kamar sekarang juga.
“Ta—tapi ada tamu di dalam sana, mba. Nanti saya
kena masalah,” kata housekeeping itu ketakutan.
“Kamu akan aku hajar kalau tidak cepat membuka
pintu itu sekarang!” ancam Keira sambil menendang tray yang berisi perlengkapan
membersihkan kamar di belakangnya.
Housekeeping itu ketakutan melihat tray sampai
penyok ditendang Keira. Ia menggunakan kartu yang dipegangnya untuk membuka pintu
kamar itu. Keira segera mendorong pintu terbuka, ia melihat dua orang sedang
bercumbu diatas tempat tidur.
“Kei...,” gumam Bilar yang setengah sadar. Tampak
Silvia mencumbu Bilar dengan agresif. Pakaian Silvia sudah berantakan dengan
dada terpampang jelas. Tangan Keira terulur menjambak rambut Silvia hingga
terjengkang ke bawah tempat tidur.
“Aaarrgghh!!! Siapa lo??!!!” jerit Silvia
kesakitan. Gadis itu berusaha menarik tangan Keira yang semakin keras
menjambaknya.
“Lo mau ngjebak cowok gue, heh?! Cewek gatel!”
teriak Keira sambil menampar pipi Silvia bolak-balik kanan dan kiri bergantian.
Plak! Plak! Plak!
Dengan heels yang dipakainya, Keira menginjak paha
Silvia. Housekeeping yang menjadi saksi perbuatan Keira hanya menatap ngeri
saat melihat Keira menatapnya tajam siap membunuh.
“Kamu! Bawa cewek gatel ini keluar! Terserah mau
kamu bawa kemana! Jangan sampai gue ngliat lo lagi, cewek gatel!” sembur Keira
sangat marah.
Keira masih belum puas menjambak rambut Silvia, ia
menyeret gadis itu sampai ke pintu kamar lalu menghempaskannya sampai menabrak
housekeeping yang masih berdiri di depan pintu kamar. Gadis itu juga mengambil
tas Silvia dan ponselnya yang sepertinya sedang merekam kejadian tadi. Keira
melemparkan tas tangan Silvia ke arah gadis itu, tapi masih menahan ponselnya.
__ADS_1