Duren Manis

Duren Manis
Canggung


__ADS_3

Mia


melenguh saat merasakan area sensitif pada tubuhnya basah oleh sesuatu yang


basah dan lunak. Rasanya semakin nikmat ketika benda itu mulai meresapi pucuk


pa*"daranya.


Angin


dingin yang berhembus bahkan tidak mampu mengurangi hawa panas yang melanda


tubuh Mia. Rasa nikmat sudah menjalari seluruh tubuhnya dan sedikit lagi ia


akan sampai pada klimaksnya.


Mia


: "Aahh... hmmm..."


Tangan


ini, ia sangat menyukai tangan kekar ini. Tangan pria yang paling ia cintai dan


saat ini tangan itu sedang meremas-remas ********nya. Memeluk tubuhnya dengan


erat, memberikan kehangatan.


Tubuh


Mia menegang, klimaks itu hampir sampai, dan tubuh Mia lemas dibuatnya. Belum


cukup sampai disitu, Alex tersenyum diatasnya. Ia membuka paha Mia lebih lebar


dan mendorong Alex kecil masuk ke liang kenikmatan Mia.


Mia


: "Auh... aahhh... ssss...."


Bukan


lagi perih atau sakit tapi nikmat yang terasa. Tubuh Mia berguncang perlahan


mengikuti gerakan Alex. Semakin cepat dan cepat, Alex kecil menerobos masuk


semakin dalam dan Mia menjerit merasakan *** meledak di dalam dirinya.


Alex


: "Aku mencintaimu, Mia."


Mia


: "Maass... Alex..."


Mia


terkejut, ia membuka matanya dan melihat sekeliling. Apa yang baru saja


terjadi?


Mia


menatap sekeliling kamar Alex, sinar matahari memasuki kamar itu dari tirai


yang masih tertutup. Mia refleks bangun dari tidurnya, ia merapatkan selimut


yang menutupi tubuhnya. Merasa sangat yakin kalau baru saja terjadi sesuatu


yang sangat panas antara dia dan Alex.


Tapi


tidak ada siapapun di kamar itu selain dirinya. Mia menyingkap selimut yang


sedari tadi di dekapnya. Ia masih memakai pakaian yang semalam dipinjamkan


Alex.


Mia


menutup wajahnya yang terasa panas, ia menyadari kalau baru saja ia bermimpi bercinta


dengan Alex. Oh, astaga lihatlah bagaimana otak mesumnya memanipulasi hasratnya


menjadi sebuah mimpi panas.


Mia


beringsut ke kamar mandi, tubuhnya basah oleh keringat dan rasa tidak nyaman


memenuhi tubuh bagian bawahnya. Mia akhirnya mandi besar, air dingin mengguyur


kepalanya yang terasa panas.


Mia


: "Mia, kau sangat nakal. Beraninya kau memimpikan bercinta sepanas


itu..."


Mia


segera mempercepat mandinya, ia harus keluar dari kamar Alex atau hasratnya


akan membuatnya menyerang Alex saat ia masuk ke kamar ini nantinya.


Diatas


sofa kamar, Mia melihat pakaian wanita sudah disiapkan untuknya. Mia memakai


pakaian itu dan bersiap keluar dari kamar Alex.


Hal


pertama yang ia lihat adalah wajah Alex yang tertidur di ruang keluarga,


beralaskan bedcover tebal. Suara ngoroknya membuat Mia tersenyum. Alih-alih


membangunkannya, Alex memilih terbangun sebelum semua orang bangun dan pindah


tidur di ruang keluarga.


Mia


mendekati Alex, membangunkannya dengan lembut.


Mia

__ADS_1


: "Mas... bangun..."


Alex


menggeliat sebentar dan menarik Mia ke dalam pelukannya. Alex memeluk Mia erat


seperti memeluk guling. Tangan satunya memegang perut dan satunya nangkring di ********


Mia. Saking eratnya pelukan Alex, Mia sampai tidak bisa bergerak sama sekali.


Tubuhnya terkunci dengan sangat ketat.


Nenek


dan mb Minah yang sudah lebih dulu bangun dan sedang memasak, tidak menyadari


hal itu. Sampai si kembar dan Rara memergoki mereka berdua.


Rio


: "Mama sama papa ngapain?"


Blush!


Wajah Mia merah padam dipergoki anak-anak sedang berpelukan mesra di  ruang keluarga. Untung saja tangan Alex di


depan dada Mia, tertutup bantal besar.


Mia


: “Mass! Bangun dong. Malu diliatin anak-anak.”


Alex


menggeliat sebentar\, tangannya meremas ******** Mia tanpa sadar. Mia tidak


punya pilihan selain mencubit tangan Alex di perutnya.


Alex


: “Adduch…!”


Alex


membuka matanya, menatap ketiga anaknya yang sedang memandangnya. Alex


merasakan tangannya memegang sesuatu yang kenyal empuk. Alex melihat ke


depannya ada Mia yang sedang meringis karena dadanya sakit. Alex melepas


pelukannya dan mereka segera duduk.


Alex


: “Maaf, aku gak sengaja.”


Rio


: “Papa sengaja tuch. Mama nginep sini kok gak bilang-bilang.”


Rara


: “Iya, mama tidur dimana semalem?”


Mia


: “…Itu…”


Alex


Rio


: “Sama papa?!”


Riri


: “Ya kali…” Rio dan Rara menoleh menatap Riri yang menyahut dengan polosnya.


Riri


: “Apa? Masa mama tidur sendiri, kan sama papa dong.” Kata-kata Riri membuat


wajah Rara dan Rio memerah, entah apa yang mereka pikirkan.


Mia


masih ingin menjelaskan, tapi nenek sudah memanggil mereka untuk sarapan.


------


Terjadilah


kecanggungan selama Minggu pagi mereka, belum lagi nenek senyum-senyum gaje


melihat Alex dan Mia bertingkah seperti pengantin baru yang bangun kesiangan.


Usai


sarapan, Rara menarik Mia ke kamarnya. Mereka duduk berhadapan di ranjang Rara.


Mia menarik nafas panjang untuk menenangkan jantungnya yang


Mia


: “Gimana perasaanmu, sayang?”


Rara


: “Lebih baik, mah. Tadi kak Jodi sempat WA bilang minta maaf.”


Mia


: “Kamu jawab apa?”


Rara


: “Uda Rara maafin, tapi jangan ganggu Rara lagi. Gitu mah.”


Mia


: “Kita lihat ya, apa benar dia mau menyerah. Nanti di kampus usahakan


kemana-mana sama teman ya. Jangan sendirian.”


Rara


: “Iya, mah. Emm… mah, Rara boleh nanya sesuatu gak?”


Mia

__ADS_1


: “Apa, Ra?”


Rara


: “Mama beneran tidur sama papa.”


Jderr!


Mia pucat seketika, kalo jawab gak, jelas bohong, kalau jawab iya, Rara pasti


mikir yang nggak-nggak. Dilema batin Mia membuat Rara bingung melihat ekspresi


Mia.


Rara


: “Mah..?”


Mia


: “Iya… Ra, tapi bukan tidur bersama seperti suami istri, belum sampai sana.


Cuma peluk, cium…”


Rara


: “Masa sich, mah?”


Mia


: “Paling jauh cuma… mama beneran gak bisa bilangnya, Ra. Tapi yang jelas kami


belum berhubungan intim.”


Rara


: “Ah, mama manis banget kalo lagi malu gitu.”


Mia


: “Kenapa Rara tiba-tiba nanya itu?”


Rara


: “Rara cuma pengen tahu aja, mah. Kalau orang pacaran itu gimana seharusnya.”


Mia


: “Kalo pacaran normal ya, cuma jalan bareng, nonton, saling support hoby


masing-masing, saling mengenal sifat masing-masing. Gak lebih dari itu, tapi


kalau sampai minta bukti cinta dengan melakukan hubungan suami istri sebelum


waktunya, ya itu bukan cinta tapi nafsu.”


Rara


: “Trus mama kok bisa itu sama papa?”


Mia


: “Sayang, mama dan papa sama-sama sudah dewasa, keluarga kami masing-masing


juga sudah setuju. Terlebih lagi papamu termasuk sudah mapan dan bertanggung


jawab terhadap keluarga, kan. Memang belum sah secara hukum dan agama, tapi


mama sudah yakin sama papamu, Ra.”


Rara


: “Jadi kalau suatu saat Rara ketemu yang cocok dan mapan, Rara boleh…”


Mia


: “Ra, nikmati dulu hidupmu ya. Kebebasan sebelum menikah itu sangat berharga


di usia remaja. Karena memutuskan menikah itu tidak segampang pacaran. Tanggung


jawabnya sudah beda, belum lagi kalau hamil dan punya anak. Rara harus memilih


mengurus anak atau kerja.”


Rara


: “Rumit ya, mah. Kalau mama maunya gimana?”


Mia


: “Mama juga ingin ngrasain kerja dulu, ya meskipun mama sudah pernah dulu. Tapi


kalau mama hamil dan punya anak bayi, mungkin mama akan berhenti kerja. Rara


maunya gimana?”


Rara


: “Hehe… Rara belum tahu, mah. Untuk sekarang kuliah aja susah, belum lagi


kerja.”


Mia


: “Gak ada yang susah kok, asal dijalanin dengan fokus. Satu-satu dulu ya


sayang. Nikmati masa mudamu.”


Rara


memeluk Mia erat, gini ya rasanya punya mama dan teman curhat sekaligus.


-------


Terima


kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga


baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan


Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat


like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.


Dukungan


kalian sangat berarti untuk author.

__ADS_1


--------


__ADS_2