
Mia
melenguh saat merasakan area sensitif pada tubuhnya basah oleh sesuatu yang
basah dan lunak. Rasanya semakin nikmat ketika benda itu mulai meresapi pucuk
pa*"daranya.
Angin
dingin yang berhembus bahkan tidak mampu mengurangi hawa panas yang melanda
tubuh Mia. Rasa nikmat sudah menjalari seluruh tubuhnya dan sedikit lagi ia
akan sampai pada klimaksnya.
Mia
: "Aahh... hmmm..."
Tangan
ini, ia sangat menyukai tangan kekar ini. Tangan pria yang paling ia cintai dan
saat ini tangan itu sedang meremas-remas ********nya. Memeluk tubuhnya dengan
erat, memberikan kehangatan.
Tubuh
Mia menegang, klimaks itu hampir sampai, dan tubuh Mia lemas dibuatnya. Belum
cukup sampai disitu, Alex tersenyum diatasnya. Ia membuka paha Mia lebih lebar
dan mendorong Alex kecil masuk ke liang kenikmatan Mia.
Mia
: "Auh... aahhh... ssss...."
Bukan
lagi perih atau sakit tapi nikmat yang terasa. Tubuh Mia berguncang perlahan
mengikuti gerakan Alex. Semakin cepat dan cepat, Alex kecil menerobos masuk
semakin dalam dan Mia menjerit merasakan *** meledak di dalam dirinya.
Alex
: "Aku mencintaimu, Mia."
Mia
: "Maass... Alex..."
Mia
terkejut, ia membuka matanya dan melihat sekeliling. Apa yang baru saja
terjadi?
Mia
menatap sekeliling kamar Alex, sinar matahari memasuki kamar itu dari tirai
yang masih tertutup. Mia refleks bangun dari tidurnya, ia merapatkan selimut
yang menutupi tubuhnya. Merasa sangat yakin kalau baru saja terjadi sesuatu
yang sangat panas antara dia dan Alex.
Tapi
tidak ada siapapun di kamar itu selain dirinya. Mia menyingkap selimut yang
sedari tadi di dekapnya. Ia masih memakai pakaian yang semalam dipinjamkan
Alex.
Mia
menutup wajahnya yang terasa panas, ia menyadari kalau baru saja ia bermimpi bercinta
dengan Alex. Oh, astaga lihatlah bagaimana otak mesumnya memanipulasi hasratnya
menjadi sebuah mimpi panas.
Mia
beringsut ke kamar mandi, tubuhnya basah oleh keringat dan rasa tidak nyaman
memenuhi tubuh bagian bawahnya. Mia akhirnya mandi besar, air dingin mengguyur
kepalanya yang terasa panas.
Mia
: "Mia, kau sangat nakal. Beraninya kau memimpikan bercinta sepanas
itu..."
Mia
segera mempercepat mandinya, ia harus keluar dari kamar Alex atau hasratnya
akan membuatnya menyerang Alex saat ia masuk ke kamar ini nantinya.
Diatas
sofa kamar, Mia melihat pakaian wanita sudah disiapkan untuknya. Mia memakai
pakaian itu dan bersiap keluar dari kamar Alex.
Hal
pertama yang ia lihat adalah wajah Alex yang tertidur di ruang keluarga,
beralaskan bedcover tebal. Suara ngoroknya membuat Mia tersenyum. Alih-alih
membangunkannya, Alex memilih terbangun sebelum semua orang bangun dan pindah
tidur di ruang keluarga.
Mia
mendekati Alex, membangunkannya dengan lembut.
Mia
__ADS_1
: "Mas... bangun..."
Alex
menggeliat sebentar dan menarik Mia ke dalam pelukannya. Alex memeluk Mia erat
seperti memeluk guling. Tangan satunya memegang perut dan satunya nangkring di ********
Mia. Saking eratnya pelukan Alex, Mia sampai tidak bisa bergerak sama sekali.
Tubuhnya terkunci dengan sangat ketat.
Nenek
dan mb Minah yang sudah lebih dulu bangun dan sedang memasak, tidak menyadari
hal itu. Sampai si kembar dan Rara memergoki mereka berdua.
Rio
: "Mama sama papa ngapain?"
Blush!
Wajah Mia merah padam dipergoki anak-anak sedang berpelukan mesra di ruang keluarga. Untung saja tangan Alex di
depan dada Mia, tertutup bantal besar.
Mia
: “Mass! Bangun dong. Malu diliatin anak-anak.”
Alex
menggeliat sebentar\, tangannya meremas ******** Mia tanpa sadar. Mia tidak
punya pilihan selain mencubit tangan Alex di perutnya.
Alex
: “Adduch…!”
Alex
membuka matanya, menatap ketiga anaknya yang sedang memandangnya. Alex
merasakan tangannya memegang sesuatu yang kenyal empuk. Alex melihat ke
depannya ada Mia yang sedang meringis karena dadanya sakit. Alex melepas
pelukannya dan mereka segera duduk.
Alex
: “Maaf, aku gak sengaja.”
Rio
: “Papa sengaja tuch. Mama nginep sini kok gak bilang-bilang.”
Rara
: “Iya, mama tidur dimana semalem?”
Mia
: “…Itu…”
Alex
Rio
: “Sama papa?!”
Riri
: “Ya kali…” Rio dan Rara menoleh menatap Riri yang menyahut dengan polosnya.
Riri
: “Apa? Masa mama tidur sendiri, kan sama papa dong.” Kata-kata Riri membuat
wajah Rara dan Rio memerah, entah apa yang mereka pikirkan.
Mia
masih ingin menjelaskan, tapi nenek sudah memanggil mereka untuk sarapan.
------
Terjadilah
kecanggungan selama Minggu pagi mereka, belum lagi nenek senyum-senyum gaje
melihat Alex dan Mia bertingkah seperti pengantin baru yang bangun kesiangan.
Usai
sarapan, Rara menarik Mia ke kamarnya. Mereka duduk berhadapan di ranjang Rara.
Mia menarik nafas panjang untuk menenangkan jantungnya yang
Mia
: “Gimana perasaanmu, sayang?”
Rara
: “Lebih baik, mah. Tadi kak Jodi sempat WA bilang minta maaf.”
Mia
: “Kamu jawab apa?”
Rara
: “Uda Rara maafin, tapi jangan ganggu Rara lagi. Gitu mah.”
Mia
: “Kita lihat ya, apa benar dia mau menyerah. Nanti di kampus usahakan
kemana-mana sama teman ya. Jangan sendirian.”
Rara
: “Iya, mah. Emm… mah, Rara boleh nanya sesuatu gak?”
Mia
__ADS_1
: “Apa, Ra?”
Rara
: “Mama beneran tidur sama papa.”
Jderr!
Mia pucat seketika, kalo jawab gak, jelas bohong, kalau jawab iya, Rara pasti
mikir yang nggak-nggak. Dilema batin Mia membuat Rara bingung melihat ekspresi
Mia.
Rara
: “Mah..?”
Mia
: “Iya… Ra, tapi bukan tidur bersama seperti suami istri, belum sampai sana.
Cuma peluk, cium…”
Rara
: “Masa sich, mah?”
Mia
: “Paling jauh cuma… mama beneran gak bisa bilangnya, Ra. Tapi yang jelas kami
belum berhubungan intim.”
Rara
: “Ah, mama manis banget kalo lagi malu gitu.”
Mia
: “Kenapa Rara tiba-tiba nanya itu?”
Rara
: “Rara cuma pengen tahu aja, mah. Kalau orang pacaran itu gimana seharusnya.”
Mia
: “Kalo pacaran normal ya, cuma jalan bareng, nonton, saling support hoby
masing-masing, saling mengenal sifat masing-masing. Gak lebih dari itu, tapi
kalau sampai minta bukti cinta dengan melakukan hubungan suami istri sebelum
waktunya, ya itu bukan cinta tapi nafsu.”
Rara
: “Trus mama kok bisa itu sama papa?”
Mia
: “Sayang, mama dan papa sama-sama sudah dewasa, keluarga kami masing-masing
juga sudah setuju. Terlebih lagi papamu termasuk sudah mapan dan bertanggung
jawab terhadap keluarga, kan. Memang belum sah secara hukum dan agama, tapi
mama sudah yakin sama papamu, Ra.”
Rara
: “Jadi kalau suatu saat Rara ketemu yang cocok dan mapan, Rara boleh…”
Mia
: “Ra, nikmati dulu hidupmu ya. Kebebasan sebelum menikah itu sangat berharga
di usia remaja. Karena memutuskan menikah itu tidak segampang pacaran. Tanggung
jawabnya sudah beda, belum lagi kalau hamil dan punya anak. Rara harus memilih
mengurus anak atau kerja.”
Rara
: “Rumit ya, mah. Kalau mama maunya gimana?”
Mia
: “Mama juga ingin ngrasain kerja dulu, ya meskipun mama sudah pernah dulu. Tapi
kalau mama hamil dan punya anak bayi, mungkin mama akan berhenti kerja. Rara
maunya gimana?”
Rara
: “Hehe… Rara belum tahu, mah. Untuk sekarang kuliah aja susah, belum lagi
kerja.”
Mia
: “Gak ada yang susah kok, asal dijalanin dengan fokus. Satu-satu dulu ya
sayang. Nikmati masa mudamu.”
Rara
memeluk Mia erat, gini ya rasanya punya mama dan teman curhat sekaligus.
-------
Terima
kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga
baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan
Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat
like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.
Dukungan
kalian sangat berarti untuk author.
__ADS_1
--------