
Gak malu
Lili hanya diam menatap wajah Dion, ia
belum terbiasa melihat wajah baru itu. Dalam pikirannya, suaminya memiliki
bekas luka bakar yang merusak wajahnya.
Ia bangkit dari tempat tidur, berjalan
masuk ke kamar mandi tanpa berkata apa-apa lagi. Dion menggaruk kepalanya
dengan kesal. Ia memang sengaja tidak memberi tahu pada Lili tentang
perawatannya karena ingin memberi Lili kejutan setelah menikah. Dan sekarang
Lili marah padanya, bahkan ngambek.
Dion berpikir cepat, ia memegangi perutnya
yang terasa lapar. Diliriknya jam di atas nakas, sudah hampir jam 12 siang.
Pantas saja perutnya mulai berbunyi. Dion memakai boxer dan bathrobe-nya. Ia
ingin menyiapkan makanan untuk Lili.
Sampai di dapur, ibu Lili tampak sedang
menyiapkan makan siang. “Ibu, sudah selesai masak? Dion lapar.”
Prang! Ibu Lili menjatuhkan piring yang
tadi dipegangnya. Ia sangat terkejut melihat wajah baru Dion.
“Siapa kamu?!”
Suara piring pecah membuat Riri dan Elo
keluar dari kamar. Elo yang melihat Dion tanpa memakai topeng kulitnya, menuntun
ibu Lili menjauh dari pecahan kaca. Riri segera mengambil sapu dan membersihkan
potongan kaca itu bersama Dion.
“Tenang, bu. Dia menantu ibu. Dion.”kata
Elo pada ibu Lili.
“Tapi, wajahnya?”
“Dion sedang ikut perawatan untuk luka
bakarnya, bu. Sudah hampir sembuh. Ibu tenang ya. Itu Dion.”
Mereka berempat duduk di meja makan, ibu
Lili masih menatap wajah Dion yang sudah membaik. Ia mencari sosok Dion yang
berwajah luka bakar dulu, tapi sulit menemukannya.
“Apa wajahmu dioperasi?”
“Nggak, bu. Cuma perawatan untuk memulihkan
sel-selnya. Perlu waktu lama sich buat sembuhnya.”
“Jadi, wajahmu aslinya seperti ini?”
“Ya, bu. Kalau ibu lihat fotoku waktu kecil
dulu, ada miripnya.”kata Dion lagi. “Bu, mana makanannya? Aku mau bawa ke kamar
buat Lili.”
__ADS_1
“Apa dia sudah tahu?”tanya ibu Lili lagi.
“Ya, bu. Tadi sempat ngambek, mungkin masih
ngambek sekarang. Aku mau coba bujuk pake makanan.”
“Lili bilang apa, kak?” tanya Riri sambil
menyiapkan makanan diatas piring.
“Katanya aku nipu dia biar mau nikah sama
dia. Padahal aku cinta mati. Yang kulakuin ini juga gak mudah. Sakitnya bukan
main. Tapi aku jalanin demi Lili.”
“Apa dia terlihat kecewa?”tanya Elo kali
ini.
“Nggak sich. Wajahnya gak ada ekspresi
gitu. Hadeh, kalo tau gini, aku gak ikutan perawatan deh. Biarin aja kayak
gini. Tapi mikir juga kalo punya anak, ntar anakku ketakutan liat muka bapaknya
kayak hantu.”
“Ngomong-ngomong soal anak, semalem berapa
ronde?”tanya Elo kepo.
“Wah, semalem itu mantap banget. Gak sempet
ngitung berapa ronde. Aku ingetnya baru tidur jam 6 itu, aku denger loh kalian
ngapain di kamar sebelah. Aku gak tau gimana caranya awalnya, thanks to Riri udah ngasi tau caranya
Dion ngomong gak pake filter, lupa ada mertuanya disitu.
“Addooww!!”tiba-tiba Lili datang langsung
menjewer telinga Dion.
“Sakit, yank. Ampun.”
“Gak malu ngomong gitu ada ibu.”
Dio menoleh melihat wajah ibu mertuanya
yang merona, malu mendengar apa yang terjadi di dalam kamar pengantin mereka.
“Hehe... maaf, bu. Lupa.”
Dion menggenggam tangan Lili dan menatap
matanya, “Maaf, ya sayang. Aku takut kamu batalin pernikahan kita kalau tahu
wajahku gini.”
Lili mengusap pipi Dion dan mencubitnya
dengan keras sampai bibir Dion dower. “Awas kalo bohong lagi ya. Gak kasi tau
aku, apa yang kamu lakuin. Aku pergi nich.”
“Jangan, yank! Nanti siapa yang aku peluk?
Malem dingin kalo bobok sendiri, yank.”
Elo dan Riri tidak bisa menahan tawanya
melihat Dion merengek seperti anak kecil di depan Lili. “Mandi sana. Baru
__ADS_1
makan, liat tuch ilermu masih nempel.”
Dion refleks mengelap sudut bibirnya, Lili
cuma bercanda untuk menggoda Dion. “Mandiin, yank.”
“Nggak! Aku laper, tau.”
“Galak banget sich. Udah nikah tuch, manis
dikit sama suami.”
Dion tidak mau mendengar kata-kata Lili
lagi, ia memanggul Lili di pundaknya dan membawanya masuk ke dalam kamar mereka
lagi.
“Loh, gak jadi makan?”kata ibu Lili sambil
geleng-geleng kepala.
“Biarin aja, bu. Kita makan aja duluan. Namanya
juga pengantin baru.”ujar Elo.
Mereka makan siang bersama, tidak peduli
apa yang dilakukan Dion dan Lili di dalam kamar mereka.
“Yank, habis makan, kita keluar yuk. Kamar
mau dipasang peredam suara soalnya.”
“Oh, gitu. Buat apa?”Riri teringat
kata-kata Dion tadi dan nyengir sendiri. “Pantesan aja kak Dion seringan nginep
di kamar Lili ya. Ups, bukan gitu bu. Mereka gak ngapa-ngapain, kok.”Riri jadi
salting karena keceplosan ngomong.
“Gak pa-pa, nak. Lili udah pernah cerita
kok. Ibu sich gak masalah apalagi liat Dion mau tanggung jawab setelah apa yang
menimpa Lili.”sendu ibu Lili mengingat peristiwa memilukan yang dialami Lili.
“Sudah, bu. Yang penting mereka sudah
bahagia sekarang. Berharap semoga mereka cepat dikarunia anak. Jadi ibu bisa
cepat-cepat menimang cucu.”
“Mas, tau gak gimana kabarnya dia?”Riri
menatap Elo yang baru selesai makan.
“Siapa?”
“Itu. Elena.”bisik Riri.
“Gak tau dan gak mau tau. Yang penting dia
gak gangguin kita lagi.”jawab Elo cuek.
Sementara itu di rumah Pak Brian...
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.
__ADS_1