Duren Manis

Duren Manis
Gak malu


__ADS_3

Gak malu


Lili hanya diam menatap wajah Dion, ia


belum terbiasa melihat wajah baru itu. Dalam pikirannya, suaminya memiliki


bekas luka bakar yang merusak wajahnya.


Ia bangkit dari tempat tidur, berjalan


masuk ke kamar mandi tanpa berkata apa-apa lagi. Dion menggaruk kepalanya


dengan kesal. Ia memang sengaja tidak memberi tahu pada Lili tentang


perawatannya karena ingin memberi Lili kejutan setelah menikah. Dan sekarang


Lili marah padanya, bahkan ngambek.


Dion berpikir cepat, ia memegangi perutnya


yang terasa lapar. Diliriknya jam di atas nakas, sudah hampir jam 12 siang.


Pantas saja perutnya mulai berbunyi. Dion memakai boxer dan bathrobe-nya. Ia


ingin menyiapkan makanan untuk Lili.


Sampai di dapur, ibu Lili tampak sedang


menyiapkan makan siang. “Ibu, sudah selesai masak? Dion lapar.”


Prang! Ibu Lili menjatuhkan piring yang


tadi dipegangnya. Ia sangat terkejut melihat wajah baru Dion.


“Siapa kamu?!”


Suara piring pecah membuat Riri dan Elo


keluar dari kamar. Elo yang melihat Dion tanpa memakai topeng kulitnya, menuntun


ibu Lili menjauh dari pecahan kaca. Riri segera mengambil sapu dan membersihkan


potongan kaca itu bersama Dion.


“Tenang, bu. Dia menantu ibu. Dion.”kata


Elo pada ibu Lili.


“Tapi, wajahnya?”


“Dion sedang ikut perawatan untuk luka


bakarnya, bu. Sudah hampir sembuh. Ibu tenang ya. Itu Dion.”


Mereka berempat duduk di meja makan, ibu


Lili masih menatap wajah Dion yang sudah membaik. Ia mencari sosok Dion yang


berwajah luka bakar dulu, tapi sulit menemukannya.


“Apa wajahmu dioperasi?”


“Nggak, bu. Cuma perawatan untuk memulihkan


sel-selnya. Perlu waktu lama sich buat sembuhnya.”


“Jadi, wajahmu aslinya seperti ini?”


“Ya, bu. Kalau ibu lihat fotoku waktu kecil


dulu, ada miripnya.”kata Dion lagi. “Bu, mana makanannya? Aku mau bawa ke kamar


buat Lili.”

__ADS_1


“Apa dia sudah tahu?”tanya ibu Lili lagi.


“Ya, bu. Tadi sempat ngambek, mungkin masih


ngambek sekarang. Aku mau coba bujuk pake makanan.”


“Lili bilang apa, kak?” tanya Riri sambil


menyiapkan makanan diatas piring.


“Katanya aku nipu dia biar mau nikah sama


dia. Padahal aku cinta mati. Yang kulakuin ini juga gak mudah. Sakitnya bukan


main. Tapi aku jalanin demi Lili.”


“Apa dia terlihat kecewa?”tanya Elo kali


ini.


“Nggak sich. Wajahnya gak ada ekspresi


gitu. Hadeh, kalo tau gini, aku gak ikutan perawatan deh. Biarin aja kayak


gini. Tapi mikir juga kalo punya anak, ntar anakku ketakutan liat muka bapaknya


kayak hantu.”


“Ngomong-ngomong soal anak, semalem berapa


ronde?”tanya Elo kepo.


“Wah, semalem itu mantap banget. Gak sempet


ngitung berapa ronde. Aku ingetnya baru tidur jam 6 itu, aku denger loh kalian


ngapain di kamar sebelah. Aku gak tau gimana caranya awalnya, thanks to Riri udah ngasi tau caranya


Dion ngomong gak pake filter, lupa ada mertuanya disitu.


“Addooww!!”tiba-tiba Lili datang langsung


menjewer telinga Dion.


“Sakit, yank. Ampun.”


“Gak malu ngomong gitu ada ibu.”


Dio menoleh melihat wajah ibu mertuanya


yang merona, malu mendengar apa yang terjadi di dalam kamar pengantin mereka.


“Hehe... maaf, bu. Lupa.”


Dion menggenggam tangan Lili dan menatap


matanya, “Maaf, ya sayang. Aku takut kamu batalin pernikahan kita kalau tahu


wajahku gini.”


Lili mengusap pipi Dion dan mencubitnya


dengan keras sampai bibir Dion dower. “Awas kalo bohong lagi ya. Gak kasi tau


aku, apa yang kamu lakuin. Aku pergi nich.”


“Jangan, yank! Nanti siapa yang aku peluk?


Malem dingin kalo bobok sendiri, yank.”


Elo dan Riri tidak bisa menahan tawanya


melihat Dion merengek seperti anak kecil di depan Lili. “Mandi sana. Baru

__ADS_1


makan, liat tuch ilermu masih nempel.”


Dion refleks mengelap sudut bibirnya, Lili


cuma bercanda untuk menggoda Dion. “Mandiin, yank.”


“Nggak! Aku laper, tau.”


“Galak banget sich. Udah nikah tuch, manis


dikit sama suami.”


Dion tidak mau mendengar kata-kata Lili


lagi, ia memanggul Lili di pundaknya dan membawanya masuk ke dalam kamar mereka


lagi.


“Loh, gak jadi makan?”kata ibu Lili sambil


geleng-geleng kepala.


“Biarin aja, bu. Kita makan aja duluan. Namanya


juga pengantin baru.”ujar Elo.


Mereka makan siang bersama, tidak peduli


apa yang dilakukan Dion dan Lili di dalam kamar mereka.


“Yank, habis makan, kita keluar yuk. Kamar


mau dipasang peredam suara soalnya.”


“Oh, gitu. Buat apa?”Riri teringat


kata-kata Dion tadi dan nyengir sendiri. “Pantesan aja kak Dion seringan nginep


di kamar Lili ya. Ups, bukan gitu bu. Mereka gak ngapa-ngapain, kok.”Riri jadi


salting karena keceplosan ngomong.


“Gak pa-pa, nak. Lili udah pernah cerita


kok. Ibu sich gak masalah apalagi liat Dion mau tanggung jawab setelah apa yang


menimpa Lili.”sendu ibu Lili mengingat peristiwa memilukan yang dialami Lili.


“Sudah, bu. Yang penting mereka sudah


bahagia sekarang. Berharap semoga mereka cepat dikarunia anak. Jadi ibu bisa


cepat-cepat menimang cucu.”


“Mas, tau gak gimana kabarnya dia?”Riri


menatap Elo yang baru selesai makan.


“Siapa?”


“Itu. Elena.”bisik Riri.


“Gak tau dan gak mau tau. Yang penting dia


gak gangguin kita lagi.”jawab Elo cuek.


Sementara itu di rumah Pak Brian...


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.

__ADS_1


__ADS_2