
Menikahi Aunty Renata – Reynold & Renata 1
Renata keluar dari kamar pengantin Kaori dan Ken, gadis itu memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Ia harus berkemas-kemas sebelum kembali ke negara A, besok. Sempat tertahan karena celingukan mencari
keberadaan Reynold, Renata menyerah mencari keponakannya itu.
“Mungkin masih makan. Tadi kan bilangnya lapar. Tapi aku juga lapar sich. Makanannya masih ada nggak ya?” gumam Renata sambil berjalan menuju tempat pesta.
Celingukan menatap deretan makanan yang masih terhidang diatas meja dan sepertinya baru saja dipanaskan, Renata memutuskan makan dulu. Beberapa orang yang tersisa disana hanya body guard Ken dan
sopirnya juga. Ada juga petugas catering dan beberapa pelayan dari rumah Ken. Sepertinya Ken menyisakan waktu terakhir agar semua orang benar-benar bisa menikmati pesta pernikahannya.
Wiwin, ART di rumah Alex, mendekati Renata untuk membawakan minuman. Ia ikut duduk bersama Renata setelah gadis itu meminta Wiwin menemaninya. Tubuh gadis itu tidak bisa berhenti bergoyang menikmati
musik yang masih diputar di tempat pesta.
“Win, lihat kak Reynold nggak?” tanya Renata sambil memasukkan makanan ke mulutnya.
“Oppa ganteng tadi sempat kesini, bilangnya mau makan. Tapi waktu tahu non Renata belum makan, oppa ganteng nggak jadi makan,” jelas Wiwin.
Renata tersenyum mendengar Wiwin memanggil Reynold dengan sebutan oppa ganteng. Hatinya bertanya-tanya kenapa Reynold tidak jadi makan cuma gara-gara dirinya. Gelengan kecil menunjukkan kalau Renata tidak tahu jawabannya.
“Trus kemana kak Rey sekarang?” tanya Renata lagi, buru-buru menyelesaikan makannya, ia ingin mencari Reynold dan memintanya makan dulu.
“Oppa ganteng bilang mau siap-siap pulang gitu? Mungkin ada di kamar,” sahut Wiwin.
Ada gunanya juga punya siaran radio yang sangat kepo di rumah, semuanya tinggal tanya Wiwin, pasti dia tahu. Renata mengambil beberapa makanan lagi dalam satu piring, lalu menutupinya dengan beberapa lembar tisu. Piring di tangan kanan dan gelas di tangan kiri, Renata berjalan perlahan kembali ke dalam rumah Alex. Ia ingin membawakan sedikit makanan untuk
Reynold.
Sampai di kamarnya, Renata melihat Reynold sudah duduk di lantai. Wiwin benar juga, Reynold memang kembali ke kamar, ke kamar Renata tepatnya. Koper baru tampak terbuka di sampingnya. Pria itu memindahkan pakaian Renata ke dalam koper dengan hati-hati.
“Kakak sini, makan dulu. Eh, itu bajuku. Nanti aku beresin sendiri, kak,” cegah Renata. Ia mendekati Reynold, setelah meletakkan makanan di atas meja. Beberapa pakaiannya sudah masuk ke dalam koper, tinggal pakaian dalamnya saja.
Tangan Renata tidak sengaja menyentuh tangan Reynold saat gadis itu ingin mengambil celana pendeknya. Belum sempat Renata menarik tangannya kembali, Reynold sudah lebih dulu menggenggam tangannya.
“Kak Rey, kenapa?” tanya Renata.
“Apa tawaran aunty masih berlaku? Cium aku sampai aku puas, baru aku akan cari pacar,” tanya Reynold.
“Emangnya udah ada calonnya? Nanti udah ciuman, taunya kak Rey nyarinya lama banget di kutub utara sana. Aku dong korbannya disini,” sahut Renata nggak mau rugi.
__ADS_1
“Tumben ada cewek yang merasa ciumanku memakan korban. Yang ada ketagihan,”sambar Reynold. “Lagian mana ada cewek di kutub utara, adanya tuch pinguin.” Reynold sudah tidak sabar lagi ingin mencium Renata, tapi ia berusaha bersabar menunggu gadis itu menciumnya duluan.
Makanan diatas meja mengundang indra penciuman Reynold mulai aktif, perutnya sudah berbunyi sejak tadi minta diisi. Renata yang mendengar suara perut Reynold, mengambil piring diatas meja, lalu mulai menyuapi pria besar itu. Kalau sedang fokus pada sesuatu, Reynold sering lupa makan. Renata akhirnya yang harus menyuapi keponakannya itu.
“Kak, nanti kalau udah punya pacar, aku masih boleh suapin kakak nggak?” tanya Renata random.
“Ngapain nanya gitu? Aunty tetap akan jadi prioritasku selamanya,” sahut Reynold sambil terus membuka mulutnya.
Senyum manis malu-malu terbit di bibir Renata. Mungkin inilah yang membuat Renata sangat dekat dengan Reynold. Celetukan pria itu ketika sedang bersamanya, sering membuat Renata sangat tersanjung.
“Yang jadi calon istri kak Reynold nanti, pasti sangat bahagia ya. Soalnya kakak raja gombal,” sahut Renata.
“Udah baper nich? Jadi kapan bisa mulai?” tanya Reynold sambil menaik turunkan alisnya dan memonyongkan bibirnya yang berisi butiran nasi.
“Kak Rey tau kan kalo saudara itu nggak boleh ciuman. Aku bilang gitu, biar kakak mau nyari pacar. Udah ada calon, blum?” tanya Renata lagi sambil mengambil nasi di sudut bibir Reynold.
“Udah,” jawab Reynold sambil melihat sekeliling kamar Renata.
“Dimana?” tanya Renata ikutan celingukan juga, apa benar kalau ada calon istri Reynold di dalam kamarnya.
“Itu, lagi di kamar mandi, depan wastafel,” sahut Reynold cuek.
“Kakak ngajak dia kesini? Kok aku nggak lihat tadi?” tanya Renata.
Masih penasaran, Renata mendorong pintu lebih lebar lalu masuk ke dalam kamar mandi. Ia langsung berdiri di depan wastafel. Bingung mencari gadis yang ia cari, sampai terbungkuk-bungkuk mengintip ke bawah wastafel dan mendongak mencari ke atas. Renata akhirnya menoleh menatap bayangan dirinya di depan cermin.
“Maksudnya aku?” gumam Renata sambil menunjuk dirinya sendiri.
Bibir manyun yang aduhai, senyum manis merekah, seringai jahil, macam-macam ekspresi wajah ditunjukkan Renata di depan cermin tidak berdosa itu. Perilaku random yang sering ia lakukan kalau sedang cemas dan gelisah. Apa yang barusan terlintas dipikirannya seharusnya tidak boleh terlintas. Tapi apalah daya kalau sudah kehendak Tuhan, apapun bisa terjadi.
Gadis super cantik yang hampir berusia dua puluh tiga tahun itu menyentuh permukaan bibirnya dengan telunjuk. Kepalanya menunduk, tidak lagi mau menatap cermin dihadapannya.
“Kenapa aku? Itu nggak boleh kan?” gumamnya lagi tidak yakin.
Perasaan yang entah bagaimana menghangatkan hatinya tapi mendinginkan jemari tangannya. Renata membuka kedua tangannya, mencari sesuatu disana. Entah apa, tidak tahu jawabannya. Saat kepalanya kembali terangkat menatap lurus ke dalam cermin. Samar terlihat senyuman, ah bukan, tapi cengiran khas pria tampan di luar sana.
Kakinya melangkah mundur tanpa mengalihkan pandangan dari cermin, bayangan itu bahkan semakin jelas. Renata menggelengkan kepalanya, ia terus melangkah mundur sampai menabrak lemari gantung di belakang wastafel. Prak! Tak! Barang-barang di atas lemari itu jatuh berserakan ke lantai.
“Aunty, ada apa?” tanya Reynold kuatir.
Renata menoleh kaget melihat Reynold yang tiba-tiba masuk. Lalu menatap barang-barang di lantai. “A—aku nggak sengaja. Biar aku bereskan dulu,” ucap Renata mulai gugup. Saat Renata membungkuk, Reynold juga membungkuk. Kepala keduanya langsung beradu dengan keras. Renata bahkan sampai terjatuh ke lantai.
__ADS_1
“Aoowww!!!” pekik Renata.
“Addooww!!” pekik Reynold.
Memicingkan matanya sambil menggosok keras keningnya yang berdenyut, Reynold mendekati Renata. Gadis itu terduduk di lantai dengan tangan memegangi kening dan pinggangnya.
“K—kamu nggak apa-apa kan?” tanya Reynold kuatir.
“P—pusing, kak. Kepala kakak keras banget, sih,” keluh Renata mencoba bangun dari duduknya.
Reynold lebih cepat mengatasi rasa sakitnya, perlahan tubuh Renata terangkat. Gaun putih yang dipakainya sampai sobek memperlihatkan paha mulus gadis itu. Semilir angin dingin AC mengenai pahanya yang kini berada dalam gendongan Reynold. Dibaringkannya perlahan tubuh Renata diatas tempat tidur. Rintihan kesakitan masih keluar dari bibir mungilnya.
“Yah, dressnya sobek. Kak Rey, bisa minta tolong ambilkan selimutku,” pinta Renata.
Dengan segala pikirannya tadi, entah kenapa Renata tidak ingin terlihat terbuka di hadapan Reynold. Selimut menutupi tubuh mungil gadis yang masih menunduk, tidak berani menatap pria tampan di depannya.
“Udah ketemu calon pacarku?” tanya Reynold sambil mengangkat dagu Renata.
“Nggak ada siapa-siapa di kamar mandi, kak,” sahut Renata sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.
“Masa sich?” tanya Reynold kembali menarik dagu Renata.
Wajah merah merona, mengundang untuk menggodanya lebih dan lebih lagi. Untuk apa Renata harus malu-malu seperti itu kalau tidak terjadi apa-apa. Reynold ingin segera memulai ciuman mereka, tapi tidak mau memaksa Renata melakukannya. Sekali lagi meminta persetujuan Renata yang masih ragu-ragu. Gelengan kecil sempat dilihat Reynold tapi perlahan berubah menjadi anggukan.
“Renata, sekali saja. Lihat aku sebagai seorang pria dan bukan keponakanmu,” pinta Reynold berbisik.
“Tapi ini salah. Kak Rey tetap keponakanku,” lirih Renata.
Desakan Reynold, situasi kamar yang sepi, hanya berdua saja, mulai mengaburkan akal sehat Renata. Kedua tangan gadis itu mengeratkan pegangannya pada selimut saat Reynold mendekatkan wajahnya. Renata tidak bisa menghindar lagi, kali ini ciuman yang terjadi bukan karena ketidaksengajaan. Sedikit lagi kedua bibir mereka akan menyatu, tapi Renata menghindar.
“Kak, aku belum gosok gigi,” ucapnya cepat.
Apa Reynold peduli? Tentu aja tidak, dirinya juga belum sikat gigi. Tubuhnya menolak untuk berhenti sekarang, terus menunduk menekan gadis pujaannya. Tiba-tiba seseorang membuka pintu dengan cepat,
“Gimana sich Wiwin itu? Masa nggak tahu Renata kemana... loh, kalian disini toh,” kata Mia yang melihat Renata dan Reynold duduk diatas tempat tidur. Untung saja Reynold cepat-cepat duduk di samping Renata. Keringat dingin menetes di pelipis Renata, ia menutup wajahnya dengan satu tangan, pura-pura menguap.
“Ada apa? Apa mama mengganggu?” tanya Mia melihat keduanya hanya diam menatapnya.
“Nggak kok, mah. Ini kak Rey lagi curhat tentang calon pacarnya,” sahut Renata menahan gugupnya.
“Oh, gitu. Emang udah ada calonnya, Rey? Kok nggak bilang sama oma,” kata Mia dengan senyum manis menggoda.
__ADS_1
“Jangan bilang sama mama dulu ya, oma. Belum mau soalnya, ntar mama ngejer aku suruh ngenalin,” pinta Reynold sambil melirik Renata.
Mia masuk ke dalam kamar itu, memperhatikan wajah keduanya yang jelas-jelas merona merah. Ia sempat mencuri dengar apa yang tadi mereka berdua bicarakan. Akhirnya Mia tahu apa yang membuat Reynold tidak ingin mencari pacar. Selama ini cucunya itu menyukai putrinya, tantenya sendiri.