Duren Manis

Duren Manis
Bongkar semuanya


__ADS_3

Mia dan Rara masih ngrumpi membongkar rahasiaΒ  antara mereka dengan pasangan masing-masing. Mereka ketawa-ketiwi menarik perhatian para lelaki yang mulai bosan bermain game berdua saja.


Kedua lelaki itu berjalan mengendap-endap mendekati ruang keluarga, dan menguping pembicaraan para istri mereka. Kedua wanita itu tampak berbaring di ruang keluarga yang dihiasi beberapa bantal besar yang nyaman.


Mia : "Ada lagi waktu kita liburan ke kota M. Waktu makan malam, inget gak bibir mama bengkak. Itu papamu yang punya ulah."


Rara : "Mama ciuman sampe bengkak berdarah gitu, gimana ceritanya."


Mia : "Papamu terlalu bersemangat, Ra. Memangnya Arnold gak gitu?"


Rara : "Kalo mas Arnold selalu ninggalin bekas di tempat yang tersembunyi, mah. Mama bisa tahu kok kalau mas Arnold nglakuin itu. Rara pasti pake kemeja ntarnya."


Mia : "Hihi... Suami-suami kita ganas ya."


Alex menatap Arnold meminta penjelasan,


Arnold : "Apa, pah?" Bisik Arnold.


Alex : "Mereka bicara apa?" Alex ikutan bisik-bisik.


Arnold : "Itu saya suka cium Rara di bagian tubuhnya kalo lagi itu. Sampe merah-merah sich, pah."


Alex : "Dimana aja?"


Arnold menunjuk leher, dada, perut, paha, dan juga punggungnya. Ia melakukannya dengan santai tanpa melihat ekspresi Alex yang sulit diartikan.


Setelah melakukan itu, Arnold menyadari kalau ia sedang bicara dengan papa mertuanya. Cengiran lebar menghiasi wajah Arnold. Alex mendengus kesal pada Arnold, dan mereka lanjut menguping.


Rara : "Apalagi, mah? Seru juga dengernya."


Mia : "Waktu malam pertama, kalian ngapain aja?"


Rara : "Malam pertama itu... Mmm... Rara kesakitan, mah. Pokoknya gak nyaman banget, trus mas Arnold berhenti. Nah, besoknya baru tuch... Jebol... Hehehe..."


Mia : "Kamu enak, Arnold bisa nahan. Lah, papamu maju terus pantang mundur. Mama uda jerit-jerit, masih aja di tubruk."


Rara : "Hihi...


Wajah Alex merona mendengar Mia membongkar ulahnya pada putri sulungnya. Ia melirik Arnold yang sibuk menahan tawanya. Alhasil jitakan halus mendarat di kepala Arnold.


Arnold : "Pah, ternyata gitu ya kelakuan papa."


Alex : "Diam kamu."


Mia dan Rara menoleh mendengar suara Alex dan Arnold. Keduanya kompak diam sambil senyum-senyum.


Mia : "Udahan main game-nya? Sapa menang?"


Alex : "Seri. Gitu trus sampe 4 kali tanding. Sebenarnya kamu bisa main gak sich?"

__ADS_1


Arnold : "Maksud papa?"


Alex : "Papa curiga kamu sebenarnya bisa main, cuma gak enak aja ngalahin papa."


Arnold memandang penuh arti pada Rara. Kasi tahu gak ya.


Rara : "Loh, mas Arnold kan pemain game pro, pah. Papa gak tau."


Alex : "Tuch kan. Papa ngrasa ada yang aneh. Kamu bisa dan ngerti dengan cepat cara main game yang baru papa ajarin. Ternyata..."


Arnold : "Rara berlebihan, pah."


Rara : "Aku bilang apa adanya, mas. Kalahin aja papa, biar seru."


Arnold : "Gak ach, ntar dipecat jadi mantu. Kapok."


Rara : "Viral tuch kalo sampe kejadian cuma gara-gara game, mertua pecat menantu."


Mereka bertiga menoleh mendengar suara ngorok Mia. Bumil satu itu sudah tertidur pulas dengan posisi melungker diatas karpet.


Alex : "Uda tidur aja. Kalian tidur sana. Papa juga mau tidur."


Perlahan Alex menyelipkan tangannya di belakang leher dan lutut Mia. Ia menggendong istrinya itu pelan-pelan masuk ke dalam kamar mereka.


Rara bersandar pada Arnold sambil menatap papanya yang menghilang di balik pintu.


Rara : "Papa sayang banget sama mama ya."


Rara mendongak menatap Arnold, ia mengusap dada Arnold dengan jemarinya dan menyusupkan tangannya masuk ke balik kaos suaminya itu.


Arnold : "Apa kamu lagi menggodaku?"


Rara : "Aku cuma mau manja-manjaan, mas."


Arnold : "Masa sich..."


Arnold menunduk ingin mencium Rara, tapi Rara menghindar,


Rara : "Jangan, mas. Ntar ada yang lewat."


Arnold : "Uda pada tidur, sapa yang lewat."


Arnold meraih tengkuk Rara, menciumnya dengan lembut tanpa menuntut pemuasan dahaga pada bibir manis istrinya itu.


Tangan Arnold ikutan menyusup masuk ke dalam kaos Rara, mengusap perut rampingnya. Rara kegelian menerima sentuhan Arnold, tapi ia tidak bisa meronta menjauh dari jangkauan Arnold.


Ciuman Arnold semakin lama semakin dalam dan menuntut, decapan, helaan nafas yang tadinya tiada, perlahan mulai terdengar samar di ruang keluarga itu.


Sedang asyik bercumbu, tiba-tiba, ceklek! Kriet! Nenek keluar dari kamarnya dan berjalan mendekati dispenser. Nenek sempat berhenti, menatap mereka berdua yang membeku dengan posisi intim.

__ADS_1


Mereka melirik nenek yang menatap keduanya tanpa ekspresi, lalu berjalam masuk lagi ke dalam kamarnya. Ceklek! Suara pintu tertutup mengembalikan atmosfer panas yang baru saja mereka ciptakan sendiri.


Rara : "Mas... Hh... pindah... Hh..."


Arnold : "Hayo..."


Arnold tidak melepas ciumannya, ia membantu Rara berdiri sambil tetap mencium bibir Rara. Mereka berjalan berdampingan sangat dekat satu sama lain masuk ke dalam kamar mereka.


🌚🌚🌚🌚🌚


Disuatu tempat yang jauh dari kota Y, di dalam salah satu gedung pencakar langit tertinggi di kota J, seorang pria memberikan sebuah map kepada pria satunya yang sudah menunggu dia.


Pria itu menerima map dan membukanya satu persatu dengan kening berkerut.


Pria 1 : "Kenapa lama sekali? Apa semuanya sudah disini?"


Pria 2 : "Sudah, pak. Penundaan karena saya harus meminta keterangan beberapa dokter ahli terbaik."


Pria 1 : "Bagaimana hasilnya?"


Pria 2 : "Kemungkinan 60% akan muncul komplikasi setelah beberapa bulan."


Pria 1 : "Apa bisa dioperasi?"


Pria 2 : "Kondisi tubuhnya sudah tidak mampu lagi menerima tindakan operasi. Kalaupun memaksa untuk dilakukan tindakan tersebut, akan berakhir dengan kelumpuhan."


Pria 1 : "Tapi akan sembuh meskipun lumpuh kan?"


Pria 2 : "Tidak ada kemungkinan itu, pak. Hanya kematian pada akhirnya."


Pria 1 : "Bagaimana dengan terapi?"


Pria 2 : "Itu hanya memperlambat reaksi komplikasinya. Setelah terapi berakhir, tubuhnya tidak akan sanggup bertahan."


Pria 1 : "Tidak ada jalan lain?"


Pria 2 : "Belum ada sampai saat ini, pak."


Pria 1 : "Kasihan dia."


Pria itu meraba foto Rara yang tersimpan dalam map itu. Pikirannya melayang memikirkan wanita itu.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain β€˜Menantu untuk Ibu’, β€˜Perempuan IDOL’, β€˜Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲🌲


__ADS_2